Pelangi Senja

Pelangi Senja
Debat


__ADS_3

Hari pernikahan Syakila dn Afif semakin dekat, keluarga ayah Mahesa disibukkan dengan berbagai persiapan. Pagi sekali Devan dan Raisya sudah tiba di rumah besar, ia tak ingin mengecewakan bunda untuk yang kesekian kali. Sebagai anak pertama Devan berperan penting dalam acara yang akan digelar besar-besaran tersebut.


"Aku paling tidak suka kalau di rumah berisik," cetus Devan yang baru saja masuk. Semua orang yang ada di ruang tamu menoleh dan menatapnya.


Menjadi pusat perhatian bukanlah hal yang asing bagi Devan, ia suka itu dan terus membuat sensasi untuk mencairkan suasana.


Raisya mundur dan bersembunyi di belakang suaminya, ia tak mau ikut menjadi sasaran empuk dari keluarga karena ulah Devan.


"Tumben pagi sekali, biasanya juga terlambat dua jam,"  sindir Ayah Mahesa yang kali ini langsung menyambut kedatangan Devan dan Raisya.


Bunda tercengang saat melihat Ayah memeluk Devan yang masih mematung di belakang pintu. Tak biasanya ayah bersikap seperti itu, bahkan akhir-akhir ini juga Ayah yang sering menanyakan kabar Devan.


Ada apa dengan ayah?


Itulah pernyataan Devan yang sedang membalas pelukan hangat sang ayah. Namun, ia tak ada keberanian untuk mengatakan secara langsung, baginya mendapat sambutan special saja sudah cukup membuatnya bahagia.


"Sya, kamu harus lebih sabar lagi menghadapi suami kamu," tutur ayah melepaskan pelukannya dan beralih merengkuh menantunya.


Raisya hanya mengulas senyum. Pasalnya, selama menikah hanya itu yang ia lakukan, hingga saat ini bisa mendapatkan hati Devan seutuhnya.


Bunda yang masih dikelilingi anak yang lainnya itu meneteskan air mata, terharu dengan pemandangan yang jarang sekali terjadi.


Syakila, Asyifa, Daffa dan Daffi beranjak dan memeluk bundanya bersamaan.


"Kak, nanti anterin ke butik ya, ngambil baju," pinta Syakila pada Raisya.


Devan menajamkan tatapannya seraya menarik pinggang Raisya.


"Tidak boleh, kan masih banyak orang. Kenapa harus istriku?" protes Devan dengan nada sinis.


Syakila memicingkan bibirnya melihat Devan yang berlebihan.


Bunda maju satu langkah menatap putra-putrinya bergantian.


"Tidak hanya Syakila dan Raisya yang ke butik, tapi semuanya harus ke sana," jelas Bunda.


"Termasuk kakak juga," imbuhnya sembari menatap Devan yang ada di sisi kanan bunda.


Raisya mengatupkan kedua bibirnya menahan tawa saat melihat reaksi Devan yang nampak malas. Apalagi sebelum datang ke rumah Bunda, Devan tak berhasil menjamahnya, dan itu sukses membuat pria itu uring-uringan.


Terpaksa Devan menggiring istri dan adik-adiknya menuju mobil, pertikaian tak hanya di ruang tengah. Faktanya, setibanya di garasi pun mereka saling melempar kunci yang akhirnya diraih oleh Raisya.

__ADS_1


"Lho,  nggak bisa gitu dong, Sayang, biarkan Daffa yang nyetir." Devan mengambil kunci dari tangan Raisya dan menyerahkannya ke arah Daffa. Ia tak terima jika istrinya harus menjadi supir adik-adiknya.


"Kamu saja, aku harus balas chat dari Airin." menyerahkan kuncinya lagi ke arah Daffi. 


"Kakak saja, ya." Daffi tersenyum kecut. 


"Biar bapak saja, Den," sahut seorang supir yang dari tadi melihat perdebatan mereka.


"Tidak usah pak, biar aku saja." Akhirnya yang paling tua mengalah. Devan membuka pintu untuk Raisya, dan hampir saja dirinya masuk, mobil yang sangat familiar nampak dari arah gerbang.


"Ada tante Aida, kalian temui dulu," titah Devan. 


Meskipun paling bandel dan menjengkelkan, Devan tetap menjunjung tinggi apa yang diajarkan kedua orang tuanya.


Baru saja keluar dari garasi, Devan menghentikan langkahnya saat melihat wanita yang baru saja keluar dari mobil om andre.


Alisa, kenapa dia bisa sama om Andre dan tante Aida, sebenarnya ada apa ini.


Raisya yang baru saja keluar dari mobil segera menghampiri Devan dan berdiri di sisinya, matanya mengikuti arah mata Devan memandang.


Bukannya wanita itu yang ada di sosmed bersama kak Devan, kalau dia Alisa kenapa ada di sini bersama tante Aida dan om Andre,  siapa sebenarnya gadis itu. 


Raisya menoleh menatap wajah pucat Devan dari samping, tampak dengan jelas semburat ketegangan di kerutan mata suaminya.


Devan menggeleng cepat. 


Sedangkan Syakila, mematung di depan Devan dan meraih kedua tangannya.


"Kakak jangan pikirkan apapun, ada kak Raisya dan kami yang akan terus berada di samping kakak."


Daffi dan Daffa memeluk Devan dari arah belakang, Asyifa ikut bergelayut manja bersama Syakila dan Raisya.


"Tidak, aku hanya terkejut saja, sekarang kita temui tante Aida dulu, setelah itu baru kita pergi."


Semua saling bergandengan menghampiri keluarga Om Andre yang masih menunggu di samping mobil.


"Pagi, Om," sapa Devan dengan lugas, mengusir semua rasa gugup yang tadi menamparnya.


"Pagi, kok kalian rame-rame, mau ke mana? "


"Kami mau ke butik, Om, Tante. Maaf tidak bisa menemani Om dan Tante," ucap Devan.

__ADS_1


Setelah menyapa saudara dari mertuanya, Raisya beralih mendekati gadis yang belum pernah ia temui.


Raisya mengulurkan tangannya dan tersenyum. 


"Kenalkan, namaku Raisya. Istrinya kak Devan."


Devan ikut mendekati Raisya dan merangkul pundak kecil istrinya.


"Gadis itu menerima uluran tangan Raisya. Namaku Alisa," jawabnya singkat. 


"Nama yang cantik, seperti orangnya," puji Raisya.


"Kak Alisa, maaf aku dan yang lain tidak bisa menemani kakak, kami mau pergi ke butik." Syakila mencairkan kecanggungan antara Devan, Alisa dan Raisya.


"Tidak apa-apa, pergi saja."


Devan membalikkan tubuhnya meninggalnya Alisa. Rasa bersalah itu kembali hadir saat ia dipertemukan lagi dengan gadis itu. Seorang gadis yang sudah rela menemani hidupnya selama lima tahun. Namun, semua itu tinggal kenangan yang harus dihapus bersama dengan berjalannya waktu.


"Biar aku yang nyetir." Daffa membuka pintu mobil bagian kemudi, sedangkan Devan dan Raisya duduk di jok paling belakang. 


Sudah hampir lima menit mobil yang ditumpangi Devan dan saudaranya itu menerobos jalanan, namun tak ada sepatah katapun yang terucap. Hanya keheningan yang ada bersama suara mesin yang mendesing. 


Daffa yang sibuk dengan setirnya itu sesekali melihat kakaknya yang sedang melamun dari pantulan spion.


Tak terasa Raisya menitikkan air mata.  Meskipun Devan tak ada respon apapun pada Alisa, tapi dalam diamnya pria itu seperti memendam sesuatu.


Apa kak Devan masih cinta sama Alisa,  kalau memang benar, kenapa dia terus mengumbar kasih sayangnya padaku.  Bukankah ini tidak adil untukku?


Daffi menoleh ke belakang dan mendekatkan kepalanya ke arah Syakila. 


"Kak Raisya nangis," ucap Daffi berbisik.


Sontak Syakila menoleh ke arah Raisya yang sedang duduk di belakangnya. 


"Kakak…" Suara nyaring Syakila membuyarkan lamunan Devan. 


Pria itu ikut kaget saat pipi Raisya sudah dipenuhi dengan air mata.


"Sayang, kamu kenapa?"


Devan meraih tubuh Raisya dan mendekapnya erat. 

__ADS_1


"Maafkan aku," ucap Devan lirih. 


__ADS_2