Pelangi Senja

Pelangi Senja
Makan malam


__ADS_3

Hampir setengah hari Devan berada di balkon kamarnya. Mengurai kisah-kisah yang pernah ia lewati, hidup yang penuh teka-teki dan misteri kini sudah terjawab sudah. Meskipun tak sesuai ekspektasi, Devan merasa bersanding dengan Raisya adalah Anugerah terbesar dalam hidupnya.


Devan mengeluarkan ponselnya dan masuk ke kamar. Beberapa kali ia mengambil gambar Raisya yang masih terlelap dalam balutan selimut tebal, hanya menampakkan wajahnya yang sangat cantik, apalagi kini Devan merasa tubuh Raisya semakin berisi, dan itu menambah lekukan tubuh wanita itu semakin menggoda.


"Kalau lihat bibirnya pingin aku gigit saja," gumam Devan gemas seraya menempelkan wajahnya tepat di sisi wajah Raisya, hingga keduanya pose bersama.


"Kak," Tiba-tiba saja panggilan disertai dengan ketukan pintu menghentikan aktivitasnya. Devan berdecak dan meletakkan ponselnya di atas nakas lalu membuka pintu.


"Ada apa?" tanya Devan yang hanya membuka pintu selebar wajahnya. Keadaannya yang belum normal membuatnya takut dengan Syakila yang akan menyuntiknya sewaktu-waktu.


"Mas Afif datang, dia ingin bertemu kakak," ucap Syakila malu-malu. Jangan ditanya, saat ini jantungnya berdisko ria setelah tadi sempat ngobrol dengan calon suaminya sejenak.


"Sendiri?" tanya Devan sembari menatap Raisya yang masih terlelap.


"Iya, keluarganya ada di hotel."


"Baiklah, sebentar lagi aku turun." Devan menutup pintunya lagi, mengabaikan Syakila yang masih mematung di depan pintu.


Devan menghampiri Raisya. Tak lupa pria itu memberikan ciuman lembut sebelum meninggalkan kamar.


Di lantai bawah


"Afif terus mengukir senyum saat melihat kesibukan Syakila yang ada di meja makan. Meskipun belum bisa melupakan Raisya sepenuhnya, setidaknya ia sudah menemukan Syakila, gadis yang juga membuatnya jatuh cinta dalam sekejap.


Malam ini akan ada pertemuan dua keluarga di rumah, sebagai penyambutan keluarga baru, ayah mengundang Afif dan yang lain makan malam,  tak asing jika ruangan bawah sangat ramai dengan para pelayan yang melakukan aktivitasnya.


"Sudah dari tadi nunggunya?" tanya Devan membuyarkan pandangan Afif yang masih tertuju ke arah belakang.


"Baru, sekitar sepuluh menit." Tanpa basa-basi,  Afif menyodorkan beberapa berkas di depan Devan.


Setelah memeriksanya, Devan beranjak, baginya ada yang lebih berhak mengurus surat-surat nikah Syakila daripada dirinya.


"Ayah, ada Afif!" teriak Devan sembari mengetuk pintu. 


Ayah keluar dengan wajah malasnya dan mata yang menyipit.


Seketika pandangan Devan teralihkan pada beberapa tanda merah di leher dan dada sang ayah yang hanya memakai sarung dengan telanjang dada.

__ADS_1


"Ayah habis __" ucap Devan mengambang, tangannya menunjuk senjata yang ada di balik sarung. Yang mana mampu menciptakan enam orang anak, termasuk dirinya.


"Sholat Ashar,  kamu pikir apa," Seketika ayah menoyor jidat Devan yang terus berpikir mesum.


Kalau aku punya adik lagi kan lucu juga, nanti anakku dan adikku bisa balapan bareng. Nyatanya Devan hanya berani mengungkap dalam hati.


Devan cekikikan, ia tak bisa membayangkan bagaimana jika sampai itu terjadi, pasti akan sangat lucu.


Hampir saja ia menginjakkan kakinya di anak tangga paling bawah, tiba-tiba kerongkongannya terasa kering. Al hasil Devan  membalikkan tubuhnya menuju belakang.


"Aden mau makan?" tanya salah satu pembantu yang sedang menata makanan di meja makan.


"Tidak Bi, cuma mau ambil minum." Devan membuka lemari pendingin. Mengambil sebotol air putih serta dua gelas dan membawanya kembali ke kamar.


Sedangkan Afif mulai sibuk dengan ayah.


"Dooorrrr…"


Suara yang cempreng mengejutkan Devan yang baru saja membuka pintu.


Ternyata Raisya sudah berada di belakang pintu dengan balutan piyama tertutup.


Sebuah kecupan mendarat di kening Raisya, setelah itu Devan menuangkan air untuk istrinya.


"Kakak dari mana?" tanya Raisya menerima gelas dari Devan. 


Tak biasanya pria itu meninggalkannya saat tidur.


"Ada Afif di bawah, tapi sekarang sudah sama ayah."


Raisya bergelayut manja di pangkuan Devan, entah kenapa akhir-akhir ini ia tak bisa jauh dari pria menyebalkan itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di meja makan kediaman Mahesa Rahardjo.


Hening, hanya ada suara dentuman sendok dan piring yang menggema. Berbagai menu makanan yang tersaji pun sudah memanjakan lidah bagi dua keluarga yang ada di ruangan itu. Mulai dari masakan khas sampai semua kesukaan keluarga ada di sana.

__ADS_1


Sesekali Afif melirik ke arah Syakila yang terus menunduk. Ini bukan pertama kali mereka berkumpul. Namun, Afif dan Syakila masih saja canggung untuk bercengkrama, Sedangkan mamanya Afif menatap Raisya yang makan dengan lahap. Bahkan tak menghiraukan yang lain.


"Kamu hamil, Sya?" seronoh tante Ilma.


Kini semua penghuni meja makan meletakkan sendoknya masing-masing dan beralih menatap Raisya yang sedang mengunyah makanannya dengan pelan. Jika bisa Raisya pun ingin lenyap dari sana saat semua mata tertuju padanya.


Raisya menggeleng pelan. "Nggak tante,  memangnya kenapa?" tanya Raisya dengan gugup,  tangannya turun ke bawah dan saling meremas, rasa malunya kian memuncak saat mereka tak kunjung mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Tidak,  tante hanya menebak saja, dulu waktu tante Hamil Afif ciri-cirinya seperti kamu, banyak makan."


Kenapa harus bahas kak Raisya sih, bukankah dia dulu hanya teman mas Afif. Tapi kenapa mama sangat perhatian, gerutu Syakila dalam hati.


Sebagai calon menantu, Syakila merasa perhatian calon mertuanya itu berlebihan. Afif jadi merasa tidak enak, tapi ia tak bisa melakukan apa-apa selain diam.


Raisya menoleh menatap Syakila yang ada di sisi suaminya, ia tahu perubahan wajah gadis itu yang berbanding balik dari sebelumnya.


"Silakan, Bu. Dimakan lagi!" Akhirnya bunda mencairkan suasana yang sempat hening. Sebab, bunda tahu kalau saat ini ada sesuatu yang membelenggu anak dan menantunya.


Ayah Mahesa ikut menatap Raisya dengan tatapan intens, dan pria yang berada di kursi paling depan itu pun ikut heran dengan pipi Raisya yang sangat gembul.


"Sayang, kamu tadi bilang mau ke rumah mama,  sekarang sudah jam tujuh, apa sebaiknya kita pergi sekarang?"


Sebuah kode yang langsung dipahami oleh Raisya. 


"I----iya,  aku lupa."


"Maaf ya Fif, Om, tante. Aku pamit dulu, takutnya ayah dan mama nungguin."


"Nggak papa Van, kalian hati-hati."


Setibanya di teras depan, Raisya langsung memeluk tubuh kekar Devan, ia tak bisa membendung air matanya yang sudah mengendap memenuhi pelupuknya. 


"Kak, aku takut  kalau Syakila salah paham."


"Sudah, nggak papa. Nanti aku yang akan bicara sama dia, lebih baik sekarang kita tidur di rumah mama,  mungkin akan lebih membuatmu tenang."


Raisya mengangguk,  entah kenapa akhir-akhir ini ia merasa sangat sensitif dengan suatu hal yang menyangkut dengan dirinya.

__ADS_1


Mungkin tante Ilma masih berharap kamu yang menjadi menantunya, itulah kenapa dia masih selalu perhatian, meskipun kamu adalah milikku. 


__ADS_2