
Dari pagi Alisa duduk di samping supermarket. Hampir seminggu keberadaannya di Indo, namun ia belum mendapat tanda-tanda sedikit pun tentang sang ayah. Setiap hari ia hanya berpetualang ke sana kemari untuk mencari sosok Andre Gumilar.
"Apa aku minta bantuan Devan saja, mungkin ia bisa membantuku," gumam Alisa serta membuka ponselnya.
Hampir saja ia melakukan panggilan, Alisa menarik jarinya dan mengurungkan niatnya. Mengingat sikap Devan yang cuek, Alisa takut kalau pria itu mengabaikannya. Juga pesan ayah Emir yang menyarankan untuk melupakan pria itu.
Terdengar suara ribut dari parkiran, Alisa terhenyak dari duduknya, membuang bungkus makanan yang menemaninya selama beberapa jam. Ia menghampiri Paidi yang nampak adu mulut dengan seorang wanita.
"Ada apa ini, Pak?" tanya Alisa antusias, menatap wajah Paidi yang merah padam.
"Maaf, Non. Tadi saya melihat anak ini," Menunjuk gadis yang membenamkan wajahnya di punggungnya, "tidak sengaja menabrak mbak ini, telurnya jatuh dan pecah," ucap Paidi seperti apa yang terjadi.
"Ini telur punya majikan saya, Mbak. Nanti kalau dia tahu, pasti saya kena marah," jawab wanita itu yang tak kalah takutnya.
Alisa menatap cangkang telur yang bercampur aduk dengan isinya, juga seorang wanita yang menunduk dengan mata berkaca. Setelah itu beralih menatap punggung gadis yang sedang menangis di belakang Paidi.
Alisa membuka dompet dan menyodorkan beberapa lembar uang ratusan.
"Maaf mbak, ini aku ganti," ucap Alisa.
Setelah menerima uang dari Alisa, wanita itu kembali masuk ke supermarket.
Alisa mendekati dan mengelus punggung gadis yang masih tenggelam dalam isakannya.
"Sekarang kamu tenang, kakak sudah ganti kok, lain kali hati-hati, untung yang kamu tabrak itu orang, kalau mobil yang berjalan bagaimana, pasti kamu terluka."
Alisa mencoba menenangkan gadis yang belum dilihat wajahnya sama sekali.
"Apa boleh kita kenalan?" ucap Alisa dengan lembut.
Gadis itu mengulurkan tangannya dengan wajah yang masih tersembunyi.
"Mayra."
Alisa mengerutkan alisnya, nama itu sangat tidak asing baginya, bahkan wajahnya pun selalu melintas dalam otaknya semejak kejadian di restoran waktu itu.
"Kenalkan, namaku Alisa. Apa kau masih mengingatku?" goda Alisa seraya menggenggam tangan gadis itu. Ia tak bisa membayangkan bagaimana reaksi Mayra saat melihatnya.
__ADS_1
Perlahan, Mayra merapikan hijabnya dan menatap Alisa yang mematung di sampingnya.
"Ka---Kakak," ucap Mayra gugup.
Alisa melambaikan tangannya dan tersenyum, kini ia bisa menelusuri setiap jengkal wajah gadis yang berdiri di depannya.
"Kamu sama siapa?" tanya Alisa, dadanya semakin berdegup kencang saat ia merangkul pundak kecil Mayra. Seperti ada tali yang mengikat mereka untuk selalu bersama.
Gadis yang nampak pemalu itu menunjuk mobil yang parkir tak jauh darinya.
"Sama ayah, mungkin masih belanja di dalam," ucap Mayra dengan polos.
Akhirnya Alisa dan Mayra menunggu di samping mobil mewah yang berwarna putih. Cuaca semakin panas, sinar mentari berada diatas kepala dan terasa membakar kulit, namun orang yang ditunggu tak kunjung datang. Akhirnya, Alisa memutuskan untuk menyusul ke dalam bersama Mayra. Hitung-hitung ingin berkenalan dengan ayah gadis tersebut.
"Ayah kamu yang mana?" tanya Alisa, matanya terus berkeliling menatap satu-persatu pengunjung yang sedang memilih belanja.
Mayra mengangkat kedua bahunya karena ia pun tak mendapati ayahnya.
"Mungkin ada di sana." Alisa penunjuk tempat sabun dan kembali menggandeng tangan Alisa, menyusuri beberapa rak dan berhenti di sebuah lorong paling ujung.
"Ayah." Mayra melepas gandengan tangannya dan berlari menghampiri seorang pria yang juga sedang berjalan ke arahnya.
"Jadi itu ayahnya Mayra, tapi kenapa wajahnya mirip dengan ayah?" gumam Alisa.
Alisa bergegas merogoh ponsel dan gambar dari dalam tasnya. Ia menatap pria itu dan gambarnya bergantian. Tak diragukan lagi, meskipun buktinya hanya sebuah lukisan, Alisa yakin jika orang yang saat ini berpelukan dengan Mayra adalah ayahnya.
Alisa mengusir kegugupannya, menyapu setiap rasa gelisah yang mulai menyambar, ia tak mau menyimpulkan dan harus memastikan terlebih dahulu.
Mayra dan ayahnya semakin mendekat, di balik bibirnya yang gemetar, Alisa mengulum senyum manis.
"Ayah, kenalin ini temen baru aku," ucap Mayra.
"Kenalkan, aku ayahnya Mayra, namaku Andre Gumilar."
Jantung Alisa berpacu dengan cepat, tubuhnya kaku, tangannya lupa untuk bergerak, tanpa sadar ia tidak menerima uluran tangan pria yang ada di hadapannya. Sejak Alisa tahu bukan anak kandung Ayah Emir, ia memang ingin bertemu ayah kandungnya, tapi saat ini ada rasa takut untuk mengungkap semuanya. Alisa takut jika kehadirannya akan menimbulkan masalah bagi keluarga baru ayahnya.
"Halo, apa kamu mendengar suaraku?" ulang Ayah Mayra.
__ADS_1
Mata Alisa menumpahkan cairan bening, ia tak sanggup lagi membendung rasa yang kini mengendap, antara bahagia dan terharu bercampur aduk memenuhi dadanya.
"Ayah." Tiba-tiba suara itu lolos dari bibir Alisa dengan lugas.
Mayra mendongak menatap ayahnya, sedangkan Andre hanya bisa diam membisu.
"Ayah, maksud kamu apa?" tanya Andre antusias.
Alisa bingung mau memulainya dari mana, di satu sisi ia ingin mendapatkan pelukan hangat seperti Mayra, namun di sisi lain Alisa masih ragu untuk menyusup masuk di tengah-tengah keluarga baru ayahnya.
"Ra, kamu mau kan menunggu di mobil!" pinta Alisa dengan lembut.
Setelah Mayra berlari menuju mobilnya, Alisa dan Andre pun keluar menuju mobil Alisa.
Seketika Alisa memeluk tubuh kekar Andre, ia tahu ini terlalu gegabah, tapi Alisa tak tahan memendam rasa rindu yang ingin diluapkan.
"Ayah, ini aku Alisa, anakmu," ucap Alisa dengan bibir bergetar.
Andre membulatkan matanya, ia teringat dengan cerita ayah Mahesa beberapa hari yang lalu.
"Alisa," ulang Andre.
Alisa mendongak menatap wajah kokoh ayahnya.
"Iya ayah, aku Alisa anak dari Camelia, dan kata mama Ayahku bernama Andre Gumilar, seorang model terkenal yang tinggal di indo. Kalau ayah nggak percaya aku punya buktinya."
Alisa melepaskan pelukannya, mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan beberapa foto kebersamaannya dengan Camelia.
"Apa Ayah masih ingat dengan mama?" Menunjukkan gambar sang mama yang sedang tersenyum.
Andre mengangguk pelan, ia tak pernah lupa dengan wanita yang sudah rela memberikan keperawanannya malam itu, dan ia pun tak lupa dengan model yang saat itu pernah menjadi idaman para lelaki.
Meskipun tak pernah bertemu, Andre tak meragukan jika gadis yang di depannya itu adalah putrinya, selain bukti dari Alisa, ia pun sudah mendengar dari Ayah Mahesa tentang putrinya.
Andre membuka tangannya menyambut kehadiran putrinya untuk pertama kali.
"Peluk ayah."
__ADS_1
Seketika Alisa berhamburan memeluk ayahnya untuk yang kedua kali.
Maafkan ayah, bukan ayah tak mau bertanggungjawab, hanya saja waktu itu mama kamu meninggalkan ayah dan memilih orang lain. Sekarang ayah akan menebus semuanya, ayah akan memperjuangkan kamu.