Pelangi Senja

Pelangi Senja
Hampir putus asa


__ADS_3

Hampir satu bulan kecelakaan yang menimpa Raisya, wanita itu mulai bertanya-tanya dengan keadaan kakinya yang tak ada perubahan sedikit pun. Setiap hari dokter ortopedi dari mancanegara terus memeriksa membuatnya terpuruk, ia tahu kalau semua orang membohonginya. Ia tahu kalau Devan hanya membalut kecacatannya dengan senyuman yang bisa menenggelamkan luka.


Hari ini Raisya sudah tak tahan lagi, dia memang lugu dan sabar, tapi dia bukanlah wanita yang bodoh dan gampang dikelabui. Ia bisa membaca sikap semua orang yang ada di sekelilingnya, juga Devan yang seketika menampakkan wajah suram setelah berbicara dengan Dokter Richard secara tertutup.


"Apa kata dokter Richard, Kak?" tanya Raisya setelah beberapa menit yang lalu diperiksa.


"Tidak ada apa-apa, Dokter mengatakan sebentar lagi kamu sudah bisa berjalan," jawab Devan disusul dengan senyuman, dan itu setiap kali yang Devan lakukan saat Raisya bertanya. 


"Jangan bohong!" teriak Raisya.


Devan membulatkan matanya dengan sempurna. Ia menatap mata Raisya yang sudah digenangi cairan bening. Ini pertama kalinya ia melihat wajah Raisya dipenuhi dengan amarah yang siap diluapkan.


"Aku tidak bohong. Dokter Richard bilang kalau sebentar lagi kamu sudah bisa jalan," ulang Devan meyakinkan.


Raisya menggeleng dan menatap kakinya yang masih terasa kaku.


"Ini patah tulang, Kak." Suara Raisya mulai pelan, semangatnya hilang saat mengingat apa yang pernah ia pelajari, meskipun berprofesi sebagai dokter mata Raisya tahu apa yang  disembunyikan Devan.


"Aku tahu, butuh waktu lama untuk  lsembuh. Aku sangat merepotkan semua orang, aku membuang waktu Kakak, aku tidak berguna lagi, bahkan aku tidak bisa mengoperasi Bu Naimah." Tangis Raisya pecah mengingat pengorbanan Devan dan orang-orang yang menyayanginya, yang selalu menemaninya siang malam silih berganti.


Devan membisu dan memeluk Raisya yang terus memukul dadanya. menyembunyikan kenyataan dari Raisya adalah kesalahan, akan tetapi Devan tak punya pilihan lain selain itu.


"Kenapa kakak tidak meninggalkan aku saja, ucap Raisya di tengah isakannya.


Devan mengelus pipinya, mengusap air mata yang yang terus menerus luruh tiada henti.


"Sudah puas nangisnya?" tanya Devan menggoda, meskipun hatinya ikut teriris melihat kesedihan Raisya, Devan tetap tenang dan berharap bisa menenangkan emosi sesaat wanita itu.


"Sudah," jawab Raisya dengan suara serak, membenamkan wajahnya di dada Devan yang duduk di sampingnya.


"Kamu lihat mereka!" Devan menunjuk beberapa orang yang ada di taman.


Mata Raisya mengikuti ke mana jari Devan mengarah.


"Banyak orang sakit di sini, bahkan salah satu dari mereka di ambang kematian, tapi apa yang keluarganya lakukan? Mereka terus menemani dan memberi semangat."


Raisya menghentikan pandangannya pada seorang kakek yang sangat kurus. Namun, masoh bisa tertawa lepas saat salah satu kerabatnya membuat candaan.

__ADS_1


Bagaimana ia bisa melupakan itu, sebuah nikmat yang diberikan Allah selama ini, dalam keadaan yang terpuruk banyak yang menyayanginya dan memberinya semangat. Rasa Syukur yang terus ia panjatkan seakan lenyap karena sebuah musibah yang menimpanya sehingga pikirannya buntu dan membuatnya lupa akan semuanya.


"Aku mau pulang, boleh kan, Kak?" tanya Raisya dengan manja. 


"Boleh, nanti aku bilang ke ayah untuk mengurus semuanya."


"Tapi aku mau tinggal di rumah  mama Aya." pintanya lagi.


Setibanya di kamar, Devan merogoh ponselnya dan menghubungi David. 


Disaat menunggu David datang, hanya ada keheningan. Raisya masih nampak cemas, tatapannya kosong tiada arah.


"Sayang, jangan di pikirkan lagi, kata Dokter Richard sebentar lagi kamu akan sembuh."


Devan mendekati Raisya yang ada di belakang jendela.


"Tapi bagaimana kalau aku lumpuh. Apa kakak masih setia padaku?" tanya Raisya takut.


"Aku akan setia." Devan membungkuk dan mencium kening Raisya.


"Tapi aku sudah lama tidak melayanimu."


"Hitung saja, berapa lama kamu sakit?"


"Kenapa seperti itu?" tukas Raisya penasaran.


Devan tersenyum lalu menarik kursi roda itu dari depan hingga ia yang duduk di sofa bisa menatap wajah Raisya dengan intens. 


"Nanti kalau kamu sudah sembuh, kamu harus bayar hutang ke aku. Berapa lama kita tidak melakukan itu, dan aku akan menghitung dari awal kamu dirawat. Jika biasanya semalam kita melakukannya dua kali, berarti dalam dua bulan itu __" 


"Kakak…. " teriak Raisya sembari  membungkam mulut Devan yang sudah kebablasan. Ia tak tahu lagi, jika dibiarkan, pasti Devan akan membongkar semua yang mereka lakukan saat di atas ranjang, dan itu sangat memalukan bagi Raisya. 


"Makanya, jangan seperti  itu lagi, kalau kamu masih berani membahas tentang itu, aku pastikan kamu tidak bisa jalan," ancam Devan. 


"Aku takut kakak selingkuh, aku takut kakak menikah lagi." Akhirnya Raisya mengeluarkan uneg-uneg yang terus mengantuinya.


"Dengarkan aku! Bagaimanapun keadaanmu, aku tidak akan pergi, kita akan selamanya bersama. Hanya maut yang boleh memisahkan kita. Aku tidak menyesal karena merawat kamu, tapi aku akan sangat menyesal kalau kamu tidak mau semangat, semua dokter yang memeriksa kamu tidak ada yang bilang kalau kamu akan lumpuh, jadi percaya lah kalau kamu bisa jalan."

__ADS_1


Raisya menunduk, satu bulan di rumah sakit membuatnya bosan dan jenuh. Hingga pikirannya selalu ambyar dan berpikir negatif.


Pintu terbuka tanpa ketukan.


Si kembar datang, dengan wajah yang tampan dan senyum yang menawan kedua pria itu memamerkan giginya di depan Raisya dan Devan.


"Ngapain kalian ke sini?" tanya Devan ketus. Jengkel dengan Dua D yang terus menggoda istrinya.


"Ayah yang suruh, katanya hari ini Kak Raisya pulang, kita diberi tugas."


"Tugas apa?" tanya Devan.


"Kalau aku menggendong kak Raisya," ucap Daffa seketika tanpa ragu yang membuat ubun-ubun Devan menguap.


"Kalau aku __" Daffi menghentikan ucapannya saat Devan menatapnya dengan tatapan sinis.


"Nyetir," lanjut Daffi menyelamatkan diri.


Tak berselang lama David datang bersama Airin.


Tak seperti Daffa dan Daffi yang selalu menghadapi situasi dengan canda, David nampak serius saat menghampiri Raisya yang ada di kursi roda.


"Kakak yakin mau pulang?" tanya David. 


Raisya mengangguk, "Aku bosan di sini, aku kangen rumah," ucap Raisya. 


"Tapi nggak bosan lihat wajah kak Devan kan, Kak?" timpal Daffi tanpa rem.


Raisya mengatupkan bibirnya, menahan tawa melihat kemarahan suaminya.


"Kakak tidak boleh marah, aku tidak pernah bosan melihat wajah, Kakak." Raisya mengelus pipi Devan yang masih nampak merah padam karena kelakuan adik kembarnya.


"Maaf kak, aku cuma bercanda. Akhirnya Daffa dan Daffi mendekati Devan dan memeluknya dengan erat.


"Berani mengulanginya lagi, aku tidak akan mengakui kalian sebagai adikku."


Daffa dan Daffi mengangguk bersamaan dengan jari-jari yang saling terpaut. Ia suka membuat semua orang jengkel, termasuk bunda dan ayahnya. Namun, di akhir kejahilannya, mereka tak lupa selalu minta maaf.

__ADS_1


"Kak David, pinjam adiknya ya, nanti aku antarkan dia pulang." Daffa menarik ujung hijab Airin hingga gadis itu mundur ke belakang. 


"Tidak boleh," jawab David, Devan dan Raisya bersamaan. 


__ADS_2