Pelangi Senja

Pelangi Senja
Penjelasan Afif


__ADS_3

Pintu kamar terbuka. Suara dentuman sepatu dan lantai terdengar semakin dekat, Syakila yang meringkuk di atas pembaringan pun mengusap sisa cairan yang melekat di pipi dan memejamkan matanya. Hatinya masih terasa kalut untuk bisa bersikap seperti biasa, dan mungkin menghindar akan lebih baik, menurutnya.


Afif melepas jas dan melemparnya di keranjang kotor, melepas sepatu dan meletakkannya di rak, sejenak melihat wajah Syakila, ia mendekatinya dan mencium pipinya. Menutupi tubuh wanita itu dengan selimut. Seperti biasa, ia ke kamar mandi membersihkan diri, menghilangkan rasa lelahnya dengan guyuran air shower.


Setelah pintu kamar mandi tertutup, Syakila kembali membuka matanya lalu duduk di tepi ranjang.


"Aku harus bertanya pada mas Afif. Aku harus tahu alasan dia menikahiku."


Tak berselang lama, Afif keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih fresh.


"Kok kamu bangun, apa aku terlalu berisik?" Afif menghampiri Syakila yang nampak cemberut dengan tatapan kosong. Matanya sembab dengan rambut acak-acakan.


Tak ada jawaban, namun wajah Syakila sudah menumpuk beberapa pertanyaan untuknya. 


"Ada apa?" tanya Afif yang ikut duduk di samping Syakila sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.


"Apa Mas mencintaiku?" 


Deg


Jantung Afif berdetak dengan kencang, ia terkejut dengan pertanyaan itu. Meskipun ia belum pernah mengatakan kata itu, namun kesetiannya tak perlu diragukan lagi. 


"Apa maksud kamu?" tanya Afif antusias,  ia melempar handuk yang sedikit basah itu ke arah sofa. Fokus dengan Syakila yang terlihat suram. Menyelipkan anak rambut yang menutupi pipi Syakila di belakang telinga.


"Jawab saja, Mas. Aku hanya ingin tahu," ucap Syakila dengan bibir bergetar, ia tak bisa lagi memendam sesuatu yang bergejolak membuat dadanya sesak.


"Kalau aku tidak mencintaimu, untuk apa aku menikahimu?"


"Untuk membalas kak Devan karena sudah merebut kak Raisya," tukas Syakila diiringi deraian air mata. 


Afif terpaku, sedikit pun ia tak pernah punya niat seperti yang dikatakan istrinya. Akan tetapi itu adalah kesimpulan yang wajar dengan kenyataan saat ini, di mana ia menikahi adik dari suami mantannya.


"Ke...kenapa kamu bicara seperi itu?" tanya Afif gugup, sebagai seorang suami, hatinya berdenyut saat melihat istrinya marah.


Syakila beranjak dari duduknya, berjalan ke arah lemari, membukanya dan mengambil baju yang menjadi salah satu bukti kuat tentang hubungan Afif dan Raisya.


Afif menatap baju yang ada di tangan Syakila. "Kenapa dengan baju ini?" tanya Afif, ia benar-benar tak mengerti dengan maksud Syakila. 

__ADS_1


"Apa hubungan Mas dengan kak Raisya," tanya Syakila dengan sedikit membentak.


Afif menunduk, kini ia tak bisa lagi sembunyikan fakta yang mulai terkuak,  sedalam apapun yang namanya bangkai pasti akan tercium juga, dan itu yang dialami Afif saat ini. 


"Ayo Mas, jawab!" 


Afif menarik tubuh Syakila. Mendekapnya dengan erat, memberikan kehangatan dan kenyamanan untuk wanita itu. Mengurai amarah yang kian menggebu memenuhi dada istrinya.


"Aku akan ceritakan semuanya, tapi kamu tenang dulu."


Beberapa menit berlalu, emosi yang tadinya meluap kini semakin reda,  Afif terus mengelus punggung Syakila yang mulai berhenti bergetar lalu membawa ke pangkuannya. 


"Sekarang kamu dengarkan aku!" pinta Afif, sebelum mengungkap semuanya,  Afif menarik napas dan menghembuskan pelan, sekarang tak ada lagi yang perlu ditutupi, baginya Asyakila pun berhak tahu semuanya sebelum terjadi kesalah pahaman yang lebih dalam. 


"Dulu Raisya adalah calon istriku." Hati Syakila nyeri mendengar ucapan Afif, namun ia mencoba kuat untuk mendengarkan cerita Afif selanjutnya.


"Lima tahun kami bersama, aku berjanji akan menikahinya setelah umur dia genap dua puluh lima tahun, tapi semua itu sia-sia, kami hanya bisa berencana. Raisya memutuskan aku dengan alasan sudah menikah dengan orang lain. Aku sempat tak percaya dan datang ke rumahnya, setelah dia memberi penjelasan, akhirnya aku sadar, kalau jodoh tidak bisa dipaksakan ataupun di pilih. Akan tetapi ada Allah yang berkuasa. Disaat itu aku mulai berpikir, kalau aku tidak akan lagi lama-lama menjalin hubungan tanpa sebuah ikatan, saat aku melihat kamu pertama kali, aku merasa ada sesuatu yang aneh, aku sempat menyangkal, tapi semakin hari aku semakin yakin kalau kamu adalah gadis yang  dipilih Allah untukku. Aku hanya bisa memendam rasa itu dan mulai mencerna, setelah aku sholat istikhoroh, aku semakin yakin dan bertekad untuk melamarmu. Percayalah kalau aku sudah menghapus kenangan bersama Raisya, dia adalah masa laluku dan kamu adalah masa depanku," ucap Afif panjang lebar.


"Tapi aku takut, selama ini Aku tidak pernah menjalin hubungan dengan laki-laki manapun, Aku takut kamu menjadikanku pelampiasan karena rasa sakit hati kamu. Aku takut kamu mencampakkan aku setelah kamu bisa balas dendam pada kakak."


Afif tersenyum dan mengusap air mata Syakila. Baginya itu pemikiran yang sangat konyol.


Syakila membenamkan wajahnya di dada Afif, rasa sesak yang megendap itu lenyap setelah mendengar penjelasan Afif.


Syakila dan Raisya memang tak jauh beda, mereka sama-sama polos dan sensitif, aku harus lebih hati-hati, kasihan dia jika sampai sakit hati karena kecerobohanku.


"Bagaimana operasinya tadi?" tanya Syakila, ia mulai tenang dan tidak memikirkan tentang baju yang kini teronggok di lantai. 


"Alhamdulillah lancar, aku juga sudah izin pindah."


Afif menggeser duduknya dan mengambil ponsel lalu membuka layarnya, menunjukkan beberapa gambar rumah dengan desain eropa modern.


"Ini rumah siapa? Bagus banget." Syakila melihat beberapa gambar rumah mewah berlantai dua.


"Kamu suka yang mana?"


Syakila menatap intens salah satu rumah yang hampir sama dengan punya Devan.

__ADS_1


"Ini bagus, memangnya rumah siapa?" 


"Kamu suka?"


Syakila mengangguk pelan. 


"Ini rumah untuk kita,  aku akan membelinya atas nama kamu, jadi jika sampai aku mengecewakanmu, kamu bisa mengusirku." 


Syakila membuka mulutnya lebar-lebar lalu menutup dengan kedua tangannya, ia masih tak percaya dengan apa yang diucapkan Afif. 


"Mas yakin mau membeli rumah untukku?"


"Hemm… tapi untuk sementara kita bisa tinggal di rumah ayah dulu."


Sebuah kecupan bertubi-tubi mendarat di wajah Afif. Rasa kesalnya berangsur musnah bersamaan dengan kesunyian malam yang semakin dingin. 


"Tapi ayah juga sudah menyiapkan rumah untuk kita."


"Aku suami kamu, dan sudah menjadi kewajibanku memberikan tempat untuk kamu. Nanti biar aku yang bicara sama ayah."


"Mulai sekarang jangan pikirkan apapun selain aku."


Syakila hanya mengangguk kecil.


"Sekarang waktunya kamu ganti rugi."


Afif menaik turunkan alisnya dengan cepat, sedangkan Syakila mengerutkan dahinya.


"Ganti rugi untuk apa?" tanya Syakila.


"Sampo yang kamu pakai."


Syakila menepuk jidatnya dan mengambil dompet yang ada di laci.


"Berapa?" tanya Syakila sembari menghunus uang pecahan lima puluh.


"Bukan pakai uang, tapi pakai itu." Menyungutkan kepalanya ke arah buah dada Syakila yang nampak menonjol.

__ADS_1


"Ganti rugi apa malak?"


__ADS_2