Pelangi Senja

Pelangi Senja
Membantu merawat Alisa


__ADS_3

Hari ini Devan langsung mengantar Raisya ke ruangannya. Setelah kejadian yang menimpa istrinya kemarin, ia lebih posesif dan memastikan kalau Raisya sampai ke ruangannya dengan selamat. Keduanya berjalan bersejajar. Saling menautkan jari-jarinya hingga membuat semua mata yang memandang merasa iri.


"Nanti siang aku mau makan di restoran dengan Syakila, Kakak tidak usah ke sini."  Raisya melepaskan tautannya saat tiba di depan ruangannya.


"Aku tahu kamu lebih bijak menghadapi Syakila yang kekanak-kanakan. Maafkan dia."


"Aku yang minta maaf, ini menjadi pelajaran berharga bagiku, kalau aku tidak boleh menyembunyikan sesuatu sekecil apapun padanya."


"Aku pergi dulu."


Lambaian tangan mengiringi langkah Devan hingga menghilang dibalik pintu lift.


"Pagi, Mas," sapa salah satu suster saat Devan keluar dari lift.


"Pagi, jawab Devan. Ekor matanya tenang menatap lurus ke depan ke arah pintu luar.


Setibanya di mobil, Devan tak sengaja melihat sosok yang tak asing itu ada di taman. Tubuhnya kurus tersorot sinar mentari yang menghangatkan, seorang gadis yang berada di kursi roda dengan balutan syal di lehernya.


"Itu kan Alisa." Tiba-tiba jantung Devan berdegup dengan kencang, hatinya tersayat saat seorang suster membantu memijat tengkuk lehernya. Nampak juga Om Andre dan tante Aida di sana membantu Alisa duduk.


Pintu mobil yang sudah terbuka kini tertutup kembali, kaki Devan bergerak menghampiri wanita yang pernah menjadi pujaan hatinya.


"Alisa," panggil Devan dengan ragu.


Semua menoleh termasuk Alisa. Senyum mengembang di sudut bibir biru gadis itu. Matanya berkaca saat melihat Devan mendekatinya.


"Devan, kamu ada di sini," ucap tante Aida.


"Alisa kenapa, Tante?" tanya Devan menyelidik.


"Alisa terkena maag kronis," jawab om Andre.


"Apa!" Devan terkejut, mengingat kebersamaannya selama lima tahun, ia yang selalu menjadi mesin untuk selalu mengingatkan Alisa dengan makanan yang dikonsumsi.


"Pasti kamu suka makan buah asam dan makanan pedas berlemak seperti dulu. Berapa kali aku bilang, jangan suka makan pedas, nanti saag kamu kambuh."


"Tapi sekarang kamu tidak pernah mengingatkan aku lagi." ucapan Alisa bagaikan sebuah tuntutan untuk Devan yang meninggalkannya begitu saja. Meskipun dengan alasan menikah, Alisa merasa itu tak adil baginya.


"Aku tidak ada pilihan lain."

__ADS_1


Aku tahu,  tapi aku tidak bisa melupakan kamu.


Alisa mengusap air matanya yang membasahi pipi mencoba untuk tetap tegar menerima kenyataan.


"Sekarang kamu makan, kalau tante Camelia tahu kamu sakit, pasti dia marah besar."


"Aku nggak mau makan." Alisa menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan. Tak berselang lama perutnya kembali terasa mual hingga membuatnya menunduk dan muntah.


Tangan Alisa meraih tangan Devan yang berdiri di sisinya, mencengkeramnya erat dan menyalurkan rasa perih yang memenuhi lambungnya, sedangkan tangan yang lain mengimpit perutnya yang semakin terasa nyeri. 


"Van, om mau bicara sebentar sama kamu."


Devan mengangguk mengikuti Om Andre setelah Alisa melepaskan jarinya.


"Ada apa, Om?" tanya Devan.


Om Andre menatap Alisa sejenak.


"Apa kamu mau membantu Om merawat Alisa?"


"Maksudnya?" tanya Devan.


Om Andre mengeluarkan ponsel milik Alisa dan menunjukkan beberapa foto yang tersimpan rapi di sana.


Hati Devan berdenyut, rasa bersalah itu kembali hadir. Dirinya yang sudah membuat wanita cantik itu tak berdaya,  karena keputusannya memilih Raisya yang membuat Alisa kini lemah. Masa depan yang seharusnya cerah menjadi suram hanya karena masa lalu yang pernah terjadi di antara mereka. Tak ada yang bisa yang Devan katakan, dan tak mungkin ia menolak permintaan om Andre yang nampak memohon.


"Aku harus bagaimana, Om?" tanya Devan pada akhirnya. Ia ragu untuk menerima, tapi ia juga tak mungkin bahagia diatas penderitaan Alisa.


"Kamu lihat sendiri kan, kalau Alisa tidak mau makan, tolong bantu om untuk membujuknya."


Devan mengangguk kecil lalu kembali menghampiri Alisa.


Devan duduk di depan Alisa hingga keduanya bisa saling bertukar pandangan.


"Sekarang kamu makan. Aku akan suapi sampai habis," ucap Devan lembut.


Tangan Alisa mengulur dan meraih tangan Devan lalu menggenggamnya erat.


"Benarkah?" ucap Alisa dengan gemetar. Ia memastikan kalau Devan berkata serius.

__ADS_1


Devan mengangguk seraya mengambil mangkuk yang berisi bubur putih itu lalu mulai menyuapi Alisa.


Dua kali suapan, Alisa merasa lidahnya semakin pahit hingga perutnya ingin muntah. Namun, wajah Devan yang ada di depannya mampu menaklukan rasa sakit itu, dada Alisa yang berdebar seolah-olah menjadi lukisan baru untuk melawan penyakitnya.


"Apa tante Camelia tahu kalau kamu sakit?" tanya Devan di sela-sela aktivitasnya. 


Alisa membisu, tak ada yang penting saat ini selain menatap wajah Devan, dan itu yang ia lakukan, tanpa mengindahkan suara-suara yang terus menggema.


•••


Raisya melihat jam yang melingkar di tangannya. Ternyata masih masih ada waktu santai sebelum berkutat dengan pasien yang sudah mendaftar. Raisya teringat dengan Alisa yang juga dirawat. Semenjak pertemuannya waktu itu, ia belum sempat menjenguknya. 


"Suster, tolong jaga di sini, saya turun sebentar," ucap Raisya sembari melangkah ke arah pintu.


"Baik, Dok," jawab suster itu dengan sopan.


Raisya langsung menuju resepsionis dan menanyakan kamar Alisa yang belum diketahuinya.


"Kalau ruangan pasien nomor 11, tapi sekarang dia ada di taman sedang berjemur."


"O, baiklah,  terima kasih, Sus."


"Sama-sama, Dok. Jangan sungkan-sungkan bertanya pada saya juga ya, Dok," sahut Dokter Ihsan dari arah belakang.


Raisya menoleh dan menangkupkan kedua tangannya.


"Lama tak jumpa jadi kangen," goda Dokter Ihsan. 


"Aku juga," balas Raisya, "traktirannya," imbuhnya yang membuat Dokter Ihsan tertawa. 


"Aku kesana dulu ya, Dok." Raisya menunjuk taman, sedangkan Dokter Ihsan hanya membungkuk mempersilahkan. 


Setibanya di halaman, Raisya menghentikan langkahnya saat melihat mobil Devan masih terparkir rapi di tempatnya. 


"Ini kan mobil kak Devan, dia ke mana?" Raisya celingukan mencari sang empu. 


Suara tawa renyah dari arah taman membuat Raisya segera menoleh, dan seketika senyum yang terbit itu meredup saat melihat suaminya duduk di samping gadis yang saat ini berstatus mantan. 


Dadanya terasa sesak, hati dan jantungnya teriris saat dengan jelas ia melihat suaminya menyuapi wanita lain. Cairan bening lolos begitu saja tanpa meminta izin kepadanya. Kakinya lentur sehingga ia harus mencari dinding untuk bersandar.

__ADS_1


Ini nggak mungkin, Kak Devan pasti hanya kasihan pada Alisa, aku tidak boleh suudzon, dia mencintaiku dan akan selalu seperti itu.


Raisya mencoba berpikir positif, mensinkronkan hati dan otaknya yang bertolak belakang. Sebagai seorang istri, wajar jika Raisya cemburu, tapi ia tetap mementingkan orang lain daripada egonya. 


__ADS_2