Pelangi Senja

Pelangi Senja
Minta maaf


__ADS_3

"Kita harus cari bu Naimah ke mana lagi? Sudah tiga hari pak David tidak masuk kantor, siapa lagi yang kita tanya?"


Tiga karyawan David semakin putus asa. Waktu yang dijanjikan Devan tinggal empat hari, sedangkan mereka belum mendapatkan pertanda apapun tentang keberadaan wanita itu.


"Kita berdoa saja semoga ada keajaiban," ucap  salah satu dari mereka meyakinkan, meskipun hatinya mulai waswas akan kehilangan pekerjaan, mereka pun sudah berusaha sekuat tenaga untuk menjalankan hukumannya.


"Apa pak David tidak masuk karena  mencarinya?" tanya yang lainnya.


"Mungkin saja, ini semua salah kita yang terlalu memandang rendah orang lain. Setiap perbuatan pasti ada balasan. Jika kita dipecat dari sini, bukan berarti tugas kita mencari bu Naimah selesai begitu saja, kita harus tetap mencobanya untuk meminta maaf, sekarang kalian kerja."


Kedua karyawan itu kembali ke meja masing-masing.


Air mata membasahi pipi wanita yang bernama Nia, bukan memikirkan pekerjaannya melainkan memikirkan ayahnya yang ada di rumah sakit dan membutuhkan banyak biaya.


Devan datang dengan sejuta pesona, sebagai menantu dari Randu Laksana, ia juga mempunyai tanggung jawab di kantor itu. Dua hari ia mengambil alih tugas David, dan hari ini ia datang untuk mengecek pekerjaan yang kemarin.


"Pagi, Pak," sapa karyawan dengan map di tangannya.


"Jangan laporan ke saya, hari ini pak David sudah masuk."


Deg deg deg 


Jantung wanita itu semakin tak bisa dikondisikan. Detak nya berirama lebih cepat setelah mendengar nama David.


"Baik, Pak" jawabnya gugup.


Devan berlalu, ia hanya mengambil barang yang ketinggalan sekalian membelikan rujak seperti yang diinginkan Raisya. 


Benar saja, setelah Devan keluar dari kantor, mobil David tiba di halaman. Dari Balik pintu kaca transparan, semua pegawai bisa melihat bos nya keluar dari mobil.


David membuka pintu belakang, ia nampak membungkuk dan memasukkan kepalanya ke dalam.


Entah apa yang dilakukannya, hampir lima belas menit dan itu membuat karyawan bertanya-tanya.


"Susan nggak mau masuk."


Pipi Susan sudah dipenuhi dengan air mata. Tak se antusias saat di rumah, kini ia enggan untuk turun. setiap melihat kantor itu ia mengingat kejadian yang membuatnya ketakutan.


"Nggak papa, Sayang. Ada ayah yang akan menemani Susan. Mereka tidak akan marah pada Susan," bujuk David dengan lembut dan mengelus pucuk kepala Susan.


Pagi ini Naimah belum bisa ikut karena masakannya belum matang, sedangkan Susan ngotot ingin ikut bersama sang ayah.


Akhirnya Susan luluh dan mau digendong David untuk keluar.


"Nanti minta dibelikan apa?" tanya David yang baru saja melangkah masuk.

__ADS_1


Susan menggeleng, wajahnya terus menunduk dengan kepala bersandar di pundak ayahnya.


Itu kan Susan, anaknya bu Naimah.


Nia, menjatuhkan dokumen yang ada di tangannya, ia tercengang melihat David yang ada di depan pintu lift.


Jika susan bersama Pak David, itu artinya bu Naimah juga sudah ketemu.


Pintu lift terbuka, David masuk. Nia berlari menghampiri sahabatnya yang ada di ruangan lain.


"Ada apa, kenapa kamu panik begitu?"


Nia mengelus dadanya, "Susan datang  bersama Pak David, tadi baru saja aku melihatnya."


"Beneran?"


Nia mengangguk.


"Kita harus temui pak David sekarang, jangan menunda waktu lagi."


Kedua karyawan itu memanggil satu sahabatnya dan keluar dari ruangannya.


Semoga Pak David mau memberi tahu  keberadaan Bu Naimah.


Kedengarannya sangat tidak sopan, namun mereka tetap akan bertanya mengingat waktunya yang semakin sempit.


Seketika tawa bocah itu menghilang, wajahnya pucat dan bersembunyi di belakang pria yang memegang alat pel.


"Susan jangan takut, tante tidak akan memarahi Susan," ucap Nia dengan lembut, ia berjalan pelan menghampiri Susan yang bersembunyi.


Susan, di sini tidak akan ada lagi yang memarahi Susan, jadi jangan takut dengan siapapun. Anggap saja semua orang itu baik seperti tante Raisya dan Tante Syakila.


Ucapan itu kembali melintas di benak Susan hingga ia berani menggeser tubuhnya, menampakkan wajah imutnya di depan Nia.


"Kita kenalan, yuk!" Nia mengulurkan tangannya di depan Susan.


"Nama tante, Nia."


Susan menautkan sepuluh jari-jarinya, ia masih memikirkan semua ucapan kedua orang tuanya yang selalu menasehatinya.


Lama, hampir lima menit, akhirnya Susan menerima uluran tangan itu dan menciumnya.


"Susan," ucapnya saat mereka bersalaman satu persatu.


Akhirnya ketiga karyawan itu merasa lega, meskipun belum bertemu dengan Naimah secara langsung, setidaknya sudah bisa bertemu dengan Susan.

__ADS_1


"Assalamualaikum…." Suara lembut menyapa dari belakang.


Ketiga karyawan itu menjawab dan menoleh, betapa terkejutnya saat melihat seseorang yang ada di depan pintu lift.


Bu Naimah.


Mereka hanya bisa mengucap dalam hati karena lidahnya kelu.


Naimah menundukkan kepalanya dan teringat saat mereka memperlakukannya dengan tidak adil di sana, dan kini ia dipertemukan lagi dengan orang itu.


Naimah melewati ketiga wanita itu yang masih menatapnya dengan tatapan intens dan mendekati Susan.


Kenapa mereka di sini, apa mereka memarahi Susan lagi, Astagfirullah, aku tidak boleh suudzon.


Naimah tersenyum tipis dan meraih tangan mungil Susan, sedangkan yang satunya memegang rantang makanan.


Bagaikan hujan yang turun di musim kemarau, kedatangan Naimah membuat hati mereka sejuk.


Ketiga wanita itu berlutut di depan Naimah yang membuat sang empu bingung.


"Ada apa ini? Kenapa kalian seperti ini?" tanya Naimah antusias. Ia mundur menjauhi tubuh karyawan itu.


Beberapa pegawai yang melintas pun menatap dengan tatapan aneh.


"Berdiri! Ngapain kalian seperti ini?" pekik Naimah untuk yang kedua kali.


"Bu, saya  minta maaf atas perbuatan saya waktu itu."


Mereka nampak mengiba dan menyesali perbuatannya. Naimah diam, ia tak bisa berbuat apa-apa selain mendengarkan permintaan maaf itu dengan setia.


"Saya sudah memaafkan kalian, sekarang berdiri, saya merasa tidak enak dengan yang lain."


Naimah meletakkan rantangnya dan membantu mereka berdiri.


Mendengar suara berisik, David membuka pintu ruangannya. 


"Lain kali jangan pernah memandang orang dari tampilannya. Saya memang janda, tapi saya  tidak pernah merayu mas David untuk menjadi suami, jadikan ini pelajaran, bahwa kehormatan seseorang itu ada pada dirinya sendiri. Semoga kalian tidak mengalami nasib seperti saya. Saya  juga tidak ingin janda, tapi Allah berkehendak lain, dan satu yang perlu kalian tahu, saya janda karena suami saya meninggal, bukan seperti yang kalian katakan."


Naimah menjelaskan panjang lebar pada karyawan itu, sedikit pun ia tak memiliki dendam, apalagi membencinya.


David tersenyum lalu menghampiri Naimah.


"Semuanya sudah jelas, silakan bekerja kembali, saya tidak mau kejadian waktu itu terulang lagi," tutur David.


...****************...

__ADS_1


Rekomendasi bacaan yang sangat bagus untukmu



__ADS_2