Pelangi Senja

Pelangi Senja
Tidak berani jujur


__ADS_3

Sejak acara lamaran itu, hati Syakila terus berdebar-debar. Ia merasakan sensasi baru dalam hidupnya. Meskipun terpisah jarak yang cukup jauh, Afif terus menunjukkan perhatiannya lewat sambungan telepon.


Hari pernikahan yang ditetapkan satu bulan lagi mampu membuat Syakila semakin yakin dengan cinta Afif. Mereka memang baru saja kenal, akan tetapi kebaikan pria itu tak diragukan lagi, bahkan Afif sudah berani berjanji pada ayahnya untuk menjaga dirinya seumur hidup.


Senyum yang dari tadi terus mengembang itu seketika meredup mengingat keakraban keluarga Afif dengan Raisya. Syakila meletakkan ponsel yang ada di tangannya. Sesaat, ia bertanya-tanya sejauh mana hubungan Raisya dengan calon suaminya tersebut.


"Dulu kak Raisya dan mas Afif kuliah di tempat yang sama, mereka juga berteman. Mungkin karena Mas Afif pernah mengajak kak Raisya main ke rumahnya, jadi Ibunya mengenalnya dengan baik," gumamnya. 


Syakila berusaha meyakinkan hatinya untuk berpikir positif. Selama ini ia pun tak melihat tanda-tanda ada hubungan yang spesial antara Afif dan Raisya selain sahabat lama.


Syakila menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Ternyata jam makan siang, seperti biasa ia memilih keluar dari ruangannya untuk mencari makan diluar daripada harus mendapatkan pelayanan khusus dari pihak rumah sakit.


Sebelum turun, Syakila menatap ruangan Raisya yang tertutup rapat, entah kenapa kakinya bergerak ingin ke sana. 


"Kak," seru Syakila diiringi dengan mengetuk pintu.


"Masuk aja, gak dikunci," sahut Raisya dari dalam.


Setelah mendapatkan izin, Syakila membuka pintu ruangan Raisya. Terlihat kakak iparnya sibuk dengan beberapa kertas di depannya.


"Kakak masih sibuk?" tanya Syakila ikut mengintip beberapa hasil laporan kondisi pasien yang ditanganinya.


"Iya, sih. Ada apa kamu ke sini? Biasanya juga nggak ajak-ajak kalau makan siang," sindir Raisya sambil merapikan beberapa alat kerja yang masih berserakan di mejanya. 


"Biasanya kan kak Devan ke sini,  malahan aku yang sering kecewa karena kakak terus bersamanya." Syakila membalikkan fakta, jika selama ini Raisya lah yang selalu beruntung, sedangkan dirinya harus rela menjadi patung hidup saat melihat kemesraan mereka.


"Hari ini kak Devan nggak bisa kesini, dia lagi meeting sama ayah, kemarin habis kena marah karena nggak serius."


"Itulah suamimu, kak, terima saja."


Syakila beranjak dari duduknya menuju ke arah wastafel, mencuci tangannya dan mengelapnya hingga kering.


"Pertama kali dijodohkan aku sudah menerimanya. Aku tidak pernah memandang keburukannya, tapi aku selalu melihat kak Devan dari sisi baiknya," jelas Raisya.


"Apa dulu kakak berteman akrab dengan mas Afif?"

__ADS_1


Deg


Pertanyaan itu mampu membuat Raisya membeku. Dadanya tiba-tiba sesak bak terhimpit batu besar. Hingga Risya menarik napas dalam-dalam, mensuplai oksigen untuk bisa bernapas dengan benar.


Raisya masih dengan posisi memunggungi Syakila, gadis itu menatap wajah Raisya dari pantulan cermin.


Ya allah, aku harus jawab apa, aku tidak berani jujur pada Syakila, andaikan kak Devan ada di sini, pasti dia mau membantuku. 


"Lumayan."


Akhirnya Raisya bisa memberi jawaban yang mengambang. Entah apa yang dimaksud dengan kata lumayan, yang pastinya itu bisa membebaskan rasa takut dan ragu pada dirinya.


Raisya membalikkan tubuh dan mendekati Syakila yang berdiri dengan bersandar di mejanya. Bukan ingin menyembunyikan kenyataan yang pernah terjadi. Akan tetapi Raisya hanya ingin mengubur semua memori yang pernah terjalin antara dirinya dan Afif, dan baginya Syakila tak perlu tahu.


"Memangnya kenapa?" tanya Raisya.


Syakila memainkan kukunya yang berwarna pink dan mengerucutkan bibirnya.


"Sepertinya mamanya mas Afif sangat menyukai kakak,  apa nanti dia juga akan menyukai aku?"


Raisya tersenyum lebar, "Pasti lah, keluarga mas Afif itu sangat baik. Mereka gampang akrab dengan siapapun, apalagi kamu. Udah cantik, baik, sopan. Aku yakin dalam sekejap kamu bisa merebut hati tante Ilma," ucap Raisya meyakinkan.




Masih di ruangan Raisya, tepatnya jam empat sore


Raisya berhamburan memeluk Devan yang baru saja masuk ke ruangannya. Ia tak bisa menahan rasa kangen yang bercampur aduk mengendap di dadanya dari pagi.


"Hei, kamu kenapa sih?" tanya Devan pelan, menarik dasi yang melilit di lehernya tanpa melepas tangan Raisya yang melingkar, menggiring istrinya menuju ruangan khusus yang ada di belakang ruang kerjanya, lalu membalas pelukan itu dengan hangat.


Tak ada jawaban hingga ruangan itu terasa hening.


Devan mengelus punggung Raisya dan mengecup keningnya, jika diam seperti ini, pasti ada sesuatu yang dipendam istrinya.

__ADS_1


"Sekarang kamu cerita, sebenarnya ada apa?" tanya Devan dengan halus, melepas sepatunya dengan satu kakinya bergantian, lalu duduk di tepi ranjang dengan tubuh Raisya yang berada di pangkuannya.


Raisya melepaskan tangannya memberi ruang untuk Devan bergerak. Seperti biasa, Devan melepas hijab Raisya, menurutnya ia bisa lebih leluasa melihat wajah cantik gadis itu. 


"Kak, aku merasa bersalah sama Syakila, tadi dia sempat bertanya tentang hubunganku dengan mas Afif,  tapi aku tidak jujur. Aku takut, Kak," ucap Raisya manja. 


Devan melepas jasnya dan melemparnya ke arah tengah ranjang. Mengurai rasa lelah yang menyelimutinya seharian ini.


Aroma wangi tubuh yang khas itu langsung menerobos masuk ke rongga hidung Raisya. Hingga wanita itu semakin menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Devan. Beberapa kali Raisya menghirup aroma keringat yang bercampur sisa parfum yang melekat, itu yang saat ini ia sukai dari tubuh suaminya.


"Jangan terlalu larut memikirkan itu, aku yakin Syakila tidak akan membesarkan masalah ini."


Devan meraih botol air mineral yang masih separo dan meneguknya hingga kandas. Suara tegukan itu membuat Raisya mendongak menatap jakun Devan naik turun.


"Itu kan bekasku, kenapa diminum?" protes Raisya.


"Aku haus, kalau nggak minum air ini minum apa?" Matanya melirik ke arah buah dada Raisya yang tertutup jas putih, namun kulit bagian dada yang putih sedikit terekspos. Hingga Devan mendaratkan penglihatannya di sana. 


Raisya mengikuti ke mana arah mata Devan melirik, dan seketika Raisya mendorong dada Devan hingga pria itu terhuyung ke belakang dan berbaring dengan kaki yang ungkang-ungkang ke bawah. 


"Kakak mesum," teriak Raisya dengan mencubit perut Devan.


Devan tertawa saat melihat wajah Raisya yang bersemu merah menahan malu, dan itu baginya sangat menggemaskan.


Devan menarik tubuh Raisya yang masih berada di atas pahanya dan beralih bertumpu di atasnya.


Keduanya saling tatap dengan jarak dekat,  bahkan napas hangat Devan menyapu setiap jengkal wajah Raisya.


Devan mengulur tangannya menarik ceruk leher Raisya dan menautkan bibirnya, dadanya yang bersentuhan saling berpacu dengan kecepatan yang melebihi batas normal.


Raisya  melepaskan ciumannya.


"Kak, ini rumah sakit, bagaimana kalau ada yang masuk?"


Devan beranjak dan berjalan menuju pintu lalu menguncinya. 

__ADS_1


"Ini bukan jam kerja, jadi kita bebas melakukan apa saja, toh ini ruangan pribadi."


Devan membuka kemejanya dan menampakan tubuh atletisnya. 


__ADS_2