Pelangi Senja

Pelangi Senja
Fitting baju


__ADS_3

"Rin, bunda Sabrina datang, katanya ia ingin bertemu dengan kamu." Mama Aya hanya mengatakannya di ambang pintu.


Airin melompat dari ranjang dan menyambar hijabnya. Ia memakainya dengan asal, memakai make up tipis. Mama Aya menghampirinya dan membantunya.


"Sama Siapa, Ma?" tanya Airin antusias.


"Daffa dan ayah Mahesa."


Airin menekan dadanya, jantungnya berirama lebih cepat, antara senang dan grogi akan bertemu calon suaminya, tak pernah terlintas di otaknya jika dirinya akan menikah beberapa hari lagi. Bahkan Airin tak pernah berpikir ke sana sebelum lulus kuliah. Nyatanya, ia malah akan menjadi istri sambil kuliah. Keputusan itu tak bisa ia tolak lagi, mengingat janjinya yang kan selalu patuh seperti Raisya.


"Ma, aku malu," rengek Airin memeluk mama Aya.


"Dulu bunda Sabrina menikah dengan ayah Mahesa juga masih muda, dua puluh tahun kayak kamu, jadi tidak perlu malu." Mama Aya berusaha meyakinkan.


Airin mengelus dadanya lalu keluar, mengikuti mama Ayah yang berjalan lebih dulu. 


Jika biasanya ia langsung berhambur memeluk Bunda Sabrina dengan wajah yang ceria, kini ia menunduk sopan saat menyambut kedatangan wanita itu.


"Kamu tidak mau memelukku, Rin?" goda Daffa setelah Airin memeluk ayah Mahesa.


Ckckck


Airin berdecak dan duduk di samping Daffa dengan jarak hampir satu meter.


Dafa menggeser duduknya, mengikis jarak untuk bisa berdekatan.


"Kakak, jangan mepet-mepet," ujar Airin dengan lantang. 


Semua mata tertuju pada kedua calon pengantin itu.


"Kenapa, aku wangi." Daffa semakin mendekat  hingga keduanya tak ada jarak.


"Daffa, kalau kamu seperti itu terus, Airin semakin takut, cepat pindah!" pinta bunda.


Terpaksa Daffa menggeser tubuhnya lagi, memberi sedikit ruang bagi Airin untuk bergerak.


"Hari ini kalian langsung fitting baju, biar Daffa yang mengantar.  Bunda dan ayah  ada perlu  dengan ayah Randu dan mama Aya."


Ayah membatalkan kunjungannya ke Turki. Mereka saling peduli. Ayah Emir mengalah dan akan memboyong keluarga besarnya ke Indo, saling meringankan beban karena  waktu yang sangat sempit. Apalagi Ayah Mahesa harus mengurus dua orang putra yang sangat merepotkan.


"Sama Kak Daffa doang, Bund?" tanya Airin lalu-malu.


Hmmm 


"Memangnya kenapa?" tanya Bunda menyelidik, ia melihat ada semburat keraguan di wajah Airin.


"Aku tidak akan membawa kamu ke hotel, dan aku juga tidak akan mencium kamu," tukas Daffa.


Ia meraih pucuk baju Airin lalu mengikat di pucuk kemeja nya.


"Seperti ini saja sudah cukup bagiku, Dek." Daffa beranjak dari duduknya. 


Setelah keduanya pamit, Bunda menggelengkan kepala diiringi dengan senyuman tipis melihat kelakuan anaknya.


Tidak akan ada habisnya jika membantah, Airin diam mengikuti langkah Daffa menuju mobil.


Tanpa melepas ikatannya, Daffa masuk lebih dulu lewat pintu samping. Airin yang nampak kesusahan dan merasa ditarik pun tak mau protes dengan tingkah pria itu. Hingga mereka masuk dari pintu yang sama demi menjaga ikatan bajunya.

__ADS_1


"Nanti pestanya mau konsep apa?"


Daffa menyalakan mesinnya, matanya tak lepas dari wajah ayu Airin.


"Terserah kakak saja, aku ikut." 


Sebelum mobil melaju, Daffa mengelus pucuk kepala Airin.


"Pesta mah nggak penting, yang penting kita sah dulu biar lebih bebas."


Airin menatap ke arah luar, ia menyembunyikan wajahnya yang sudah bersemu. 


Setibanya, Daffa membantu Airin melepas seat belt, setelah itu melepaskan ikatannya.


Masih sama, Airin malu-malu kucing saat Daffa terus menatapnya.


Airin, sebentar lagi kak Daffa itu akan menjadi suami kamu, jadi jangan takut. Itulah hati Airin meyakinkan.


Airin turun dan mengikuti langkah Daffa dari belakang. Namun, langkahnya berhenti saat ia melihat beberapa temannya di dalam.


Airin kembali masuk ke mobil.


Kenapa harus bertemu Aila dan Uis di sini, si. 


Daffa yang sadar akan hilangnya Airin itu pun kembali dan membuka pintu mobil.


"Ayo, kita nggak ada waktu lagi lo, nanti kalau bunda marah gi mana?" 


Airin tersenyum simpul.


"Didalam ada teman aku, Kak. Kalau sampai mereka tahu gimana, aku malu."


Kenapa narsisnya gak dihitung.


Airin hanya bisa bicara dalam hati, takut  Daffa menciumnya.


Masih tidak ada pergerakan, Airin menautkan sepuluh jari-jarinya. Ia tampak berpikir keras untuk menghadapi sahabatnya yang pasti akan banyak tanya.


"Ya sudah, kakak masuk dulu, nanti aku nyusul."


"Nggak mau, kita mau menikah masa kayak orang asing."


Hening sejenak, Airin masih mikir-mikir langkah yang akan diambil.


"Ayo dong sayang, aku tu udah gemes sama kamu pingin cium, kalau kamu seperti ini aku makin nggak betah."


"Iya iya," Airin turun, ia berjalan pelan di belakang Daffa seraya menundukkan kepalanya.


Daffa menemui salah satu pegawai butik yang ada di dalam.


"Mbak, saya Daffa Rahardjo, mau fitting baju."


"Silakan, Mas!" Pegawai mengantarkan Daffa dan Airin menuju ke salah satu ruangan. Sebelum sampai, seorang wanita cantik dengan rambut terurai panjang itu memanggil Airin dari belakang.


Gimana ini, apa aku harus jujur? Hello, lalu apa kabar aku besok.


Airin menggigit bibir bawahnya, ia masih belum berani untuk menoleh.

__ADS_1


"Airin… " Suara itu semakin dekat. 


"Sayang, ada yang panggil."


Daffa menatap wanita yang berjalan ke arahnya.


Terpaksa Airin menoleh dan tersenyum kecut. 


"Uis, ngapain kamu di sini? Sama siapa?" Pertanyaan Bertubi-tubi membalut kegugupan Airin.


"Sama Aila. Kamu, ngapain ada di sini?" tanya Uis menyelidik.


Aila yang masih sibuk memilih baju tidak menyadari kedatangan Airin dan Daffa


Airin menoleh, menatap Daffa yang berdiri di sisinya.


Tidak mungkin aku berbohong pada Uis, bisa-bisa pulang dari sini Kak Daffa bawa aku ke hotel.


"Aku mau fitting baju," jawab Airin dengan pelan. 


"Whaaattt…."


Seketika Uis membulatkan matanya. 


"Aku gak lagi mimpi, kan?" Uis menepuk-nepuk pipinya, ia juga meraih tangan Airin dan menempelkan di pipinya.


Daffa mengelus tengkuk lehernya melihat reaksi teman Airin yang nampak kaget.


"Kamu tidak bermimpi, minggu depan aku dan Airin akan menikah," jawab Daffa menjelaskan. 


O, ini calon suaminya Airin, tampan sekali. Nemu di mana ya? 


Setelah tadi sok dengan ucapan Airin, kini Uis kagum dengan wajah Daffa yang kelewat tampan.


"Kenapa dadakan, apa Kalian __" 


"Saling mencintai, bukan karena kecelakaan. Aku dan Airin sudah bertunangan beberapa bulan yang lalu, jadi jangan mikir aneh-aneh."


Mereka kuliah di tempat yang berbeda, itulah kenapa teman Airin tidak mengenal Daffa. Cowok narsis dengan sejuta pesona.


Daffa menoyor jidat Uis, menarik tangan Airin dan berlalu.


"Nanti datang ya," teriak Airin seraya melambaikan tangannya ke arah Uis. 


"Siap!"


Duh, mimpi apa aku semalam, bisa melihat orang setampan itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Rekomendasi bacaan yang sangat bagus untukmu


JUDUL : ROMANSA BIAS DAN ZEE


KARYA : BUBU.id


Zee masuk dalam sekolah unggulan di mana Bias menjadi idola di sana. Zee berbeda, ia memilih berpenampilan jelek di sekolah untuk mengetahui ketulusan orang-orang di sekitarnya. Ya, di masa peralihan itu Zee tidak ingin dikenal menjadi gadis berpenampilan cantik, tetapi Zee ingin dikenal sebagai gadis berotak cerdas.

__ADS_1


Suatu hari Zee mendapat surat tertanda Bias sang idola. Hati Zee tak menentu.


"Mungkinkah kak Bias menyukaiku yang jelek?"


__ADS_2