Pelangi Senja

Pelangi Senja
Ingin sendiri


__ADS_3

Mama Aya menyambut kedatangan Raisya dengan pelukan hangat. Meskipun hampir setiap hari bertemu, wanita yang menjadi ibu sambung Raisya itu sangat bahagia saat putrinya memutuskan untuk tinggal di rumahnya.


Suasana rumah tetap sama seperti waktu Raisya meninggalkannya, hanya saja kakinya yang  belum sembuh membuat senyum yang terus merekah itu semakin menangkup.


"Ini kamar kalian," ucap mama Aya seraya membuka pintu kamar yang ada di lantai bawah. Sebuah kamar tamu yang kini di sulap menjadi sweet room yang sangat mewah.


Tidak ada guratan bahagia yang nampak wajah Raisya, dan masih saja suram saat matanya terus menyusuri sudut kamar itu.


"Kenapa lagi, Nak?" tanya mama Aya yang bisa menangkap sesuatu di wajah cantik itu.


Devan berjongkok di samping Raisya dan menatap wajahnya dengan lekat.


"Kamu kenapa? Masih memikirkan yang tadi?" tanya Devan dengan halus.


Raisya hanya menundukkan kepalanya, entah kenapa rasa bersalahnya sangat besar sehingga ia terus merutuki dirinya sendiri yang tidak bisa berbuat apa-apa.


Ponsel Devan berdering, ia segera mengangkatnya saat melihat nama adik perempuannya yang berkelip di layar.


"Assalamualaikum, La. Bilang ke Bunda kalau aku sudah sampai di rumah ayah Randu."


Suara tawa kecil terdengar dari seberang sana.


"Iya, Kak. Aku sudah tahu dari David, aku cuma mau bilang kalau sebentar lagi kakak akan menjadi paman."


Devan menganga, masih tak percaya dengan ucapan Syakila. Otak cerdas Devan langsung meresapi apa yang dimaksud Syakila.


"Kamu hamil?" ucap Devan dengan lantang hingga membuat semua orang menoleh ke arahnya, termasuk Raisya.


Mama Aya ikut tersenyum renyah mendengar kabar baik itu.


"Iya kak, aku hamil, dan nanti malam bunda akan mengadakan syukuran di rumah."


Devan ikut bahagia akan menambah keluarga baru.


"Baiklah, aku akan datang bersama kak Raisya, sehat-sehat ya bu mil, jangan ngidam aneh-aneh, kasihan Afif."


"Iya Kak, mudah-mudahan saja bayinya bisa diajak kompromi, kalau tidak, ya terpaksa aku harus memenuhi permintaannya, kan," sahut Afif dengan suara berat.


Setelah menutup teleponnya, Devan memeluk Raisya dengan erat.


"Sebentar lagi kita punya keponakan."


Tak seperti Devan, Raisya justru menitihkan air mata dengan derasnya.


Ia tak bisa menahan cairan bening yang dari tadi menumpuk di pelupuk.


"Kamu kenapa lagi?" tanya Devan mengusap air mata Raisya.

__ADS_1


Mama Aya memilih pergi, ia tahu apa yang dirasakan Raisya saat ini hingga membuatnya ikut terluka.


"Tinggalkan aku sendiri, Kak," pinta Raisya dengan nada ketus.


Devan mengerutkan alisnya. "Kamu  mengusir ku?" tanya Devan.


"Iya, aku pengen sendiri dulu, pokoknya kakak jangan masuk kalau aku nggak suruh."


Demi menjaga mood Raisya tetap baik, terpaksa Devan pergi.


Devan mencium setiap jengkal wajah Raisya dengan lembut dan lama. Dari lubuk hatinya yang paling dalam, Devan tak bisa jauh-jauh dari Raisya, tapi tak ada pilihan lain selain menurutinya.


"Nanti kalau butuh sesuatu panggil aku, ya."


"Kakak jangan masuk kalau aku nggak minta."


Gini amat nasibku, udah nggak bisa mengasah senjata, disuruh pergi lagi, yang sabar ya hati, masih ada waktu yang panjang untuk menikmati istri kamu. 


Devan mengelus dadanya dan menutup pintu, meninggalkan Raisya sendiri di kamarnya.


Setelah mendengar pintu tertutup, Raisya mendorong kursinya menuju samping ranjang. Perlahan ia berdiri dan duduk di tepi, meskipun masih bersusah payah, setidaknya Raisya tidak merepotkan orang lain.


Ya Allah, jika musibah ini membuatku menjadi wanita yang lebih kuat, aku ikhlas. 


Raisya meluruskan kakinya dan mengelus perutnya, ia terus mengingat saat Devan mengelus bagian itu, bahkan sebelum tidur tak henti-hentinya Devan mengucap kata-kata manis, doa-doa yang terus di lantunkan karena ingin memiliki momongan. Nyatanya, sebentar lagi mereka hanya akan dipanggil om dan tante, bukan bunda dan ayah.


Raisya membaringkan tubuhnya dan memejamkan matanya, sejenak menghilangkan rasa cemas yang terus menyelimutinya.


Di luar


Sesekali Devan menatap pintu kamar yang tertutup rapat.


Kak tolong aku


Suara itu yang diharapkan Devan saat ini, hingga makanan yang ada di depannya pun tak disentuh sedikit pun.


"Makan dulu, Kak. Nanti kalau kak Raisya lapar pasti juga panggil kakak," ucap David menyodorkan jus jambu kesukaannya.


Devan mendengus kesal dan melahap potongan steak, mengunyahnya dengan cepat lalu meneguk air minumnya yang tinggal separo. 


Saking kesalnya Devan beranjak dan berjalan menuju kamar, tak peduli lagi dengan permintaan Raisya, yang ia inginkan saat ini adalah memeluk wanita itu.


Ceklek


Devan membuka pintu dengan perlahan, matanya menatap ke arah Raisya yang sedang terlelap, dan itu sukses membuat Devan tersenyum lebar.


Devan melepas sepatu yang dipakainya  dan berjalan mengendap menghampiri Raisya lalu mengelus pipinya.

__ADS_1


"Jangan pernah lagi memintaku pergi, karena aku tidak akan sanggup hidup tanpa kamu." Sebuah kecupan mendarat di pipi Raisya hingga gadis itu melenguh.


Seketika Devan membulatkan matanya teringat permintaan yang tadi. Nyatanya, rasa takutnya lebih besar dari egonya.


Gawat, kalau dia tahu pasti marah. 


Akhirnya Devan memilih bersembunyi di bawah samping ranjang bagian sebelah.


Perlahan Raisya membuka matanya dan menatap langit-langit kamarnya, setelah itu menatap pintu yang sedikit terbuka.


"Kak," panggil Raisya dengan suara lantang. 


Devan membisu, takut kalau Raisya marah karena dirinya yang sudah melanggar janji.


"Kakak, aku tahu kamu ada di sini.


Meong


"Nggak ada kucing yang pakai parfum, Kak. Aku memang tidak bisa turun dari ranjang dan mencarimu, tapi aku masih bisa melihat dan mencium," ucap Raisya sembari melirik sepatu yang sedikit nampak ujungnya.


Terpaksa Devan berjongkok dan menyembulkan kepalanya. Seperti maling yang tertangkap basah, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Maaf, aku cuma numpang ke kamar mandi," ucap Devan ragu, ia tak mau terkena marah karena kecerobohnnya.


Raisya memalingkan pandangannya saat Devan ikut naik ke atas ranjang. Pria itu membenamkan wajahnya di bagian leher Raisya yang tertutup hijab, melingkarkan tangannya di perut dan lagi-lagi ingin ikut menyangga kesedihan tiada ujung yang  terus dirasakan Raisya saat ini.


"Kak, selama ini aku tidak pernah minta apapun dari kamu, tapi untuk saat ini aku punya satu permintaan."


Dada Devan mulai bergemuruh, dari nada bicara Raisya, ia tahu dari gelagat yang aneh. 


"Apa?" tanya Devan tanpa melepaskan pelukannya.


"Aku ingin sendiri dulu, aku mohon Kakak tinggalin aku," pinta Raisya seraya mengusap air matanya yang sudah luruh membasahi pipi.


Devan menghembuskan napas pelan.


"Baiklah, kalau itu mau kamu, aku akan tidur di luar, aku tidak akan mengganggumu lagi."


Devan turun dari ranjang dan keluar.


"Maafkan aku, Kak. Tidak seharusnya aku mengusirmu, tapi aku benar-benar ingin sendiri."


Raisya meraih ponselnya dan menghubungi sang ayah.


"Ayah, bawa aku ke tempat yang jauh dari semua orang, aku ingin menenangkan diri." 


"Ayah akan atur semuanya."

__ADS_1


__ADS_2