
Syakila mendesis dan mencengkram selimut yang membalut tubuhnya. Ia menahan perih yang menjalar hingga ke bagian atas. Aksi Afif yang menunjukkan keperkasaannya sebagai pria sejati mampu membuatnya terkapar. Rasa sakit dan nikmat yang ia rasakan semalam kini meninggalkan bekas luka yang terasa ngilu. Hampir semalaman penuh Syakila tak bisa memejamkan mata karena ulah suaminya yang jauh di luar ekspektasinya.
Syakila menggeliat pelan dan menggeser posisinya, ia tak menyangka jika malam pertama terasa nano-nano. Tangan Syakila yang menjulur tak sengaja menyentuh wajah Afif yang masih berada di sampingnya, pria itu masih terlelap dengan napas yang teratur.
Ada senyuman yang terbit di sudut bibir Syakila, meskipun Afif membuatnya tak berdaya, nyatanya Syakila bahagia sudah sah menjadi milik Afif sepenuhnya.
Syakila menyentuh dahi Afif dengan jari telunjuknya. Setelah itu turun ke hidung, mengusapnya dengan lembut dan sesekali menekannya, tak lama berhenti di pipi dan setelah itu berhenti di bibir Afif yang membuat sang empu terusik.
Gawat, mas Afif bangun.
Syakila menarik tangannya dan memejamkan matanya, ia tak sanggup lagi jika Afif melakukan hal yang sama seperti semalam, pasti tubuhnya akan semakin remuk bak dicambuk dengan cemeti seratus kali.
Kasur yang tadinya tenang kini terasa berguncang, sebuah tangan kekar melingkar di perutnya.
Jantung Syakila kembali berdegup kencang, ia tak bisa leluasa untuk bergerak saat Afif membenamkan wajahnya di ceruk lehernya.
Benda kenyal mengecup leher Syakila yang membuatnya terasa geli dan tak bisa menahan tawa.
"Maasss…!" jerit Syakila saat Afif terus mengecupnya.
"Maka nya jangan gangguin macan tidur, kalau dia bangun kamu tahu kan, akibatnya."
"Maaf, aku kira kamu masih tidur." Rasa cinta yang sudah tercurahkan seketika melenyapkan canggung antara keduanya. Syakila semakin terbiasa dengan Afif, begitu juga sebaliknya.
Afif menarik tubuh Syakila, mengikis jarak antara keduanya. Hingga wajah wanita itu menempel di dada bidang suaminya tanpa aling-aling.
"Kata mama besok kita disuruh pulang, mama ingin mengenalkan kamu pada keluarga yang tidak bisa datang ke acara semalam."
Syakila hanya menjawab dengan anggukan tanda setuju.
***
Sinar mentari mulai menyorot di sela-sela tirai. Usai menjalankan kewajibannya, Afif maupun Syakila masih enggan untuk keluar. Mereka memilih berbaring di ranjang dan memainkan ponselnya, membuka chat menumpuk yang belum sempat mereka lihat.
Sesekali Afif tersenyum kecil seraya membalas chat dari sahabatnya. Tak ada yang penting, isi pesan itu hanya sebuah kalimat konyol yang mampu menciptakan tawa.
Syakila meletakkan ponselnya, ia ikut kepo dengan apa yang dibaca Afif saat ini.
"Pesan apa sih, Mas?" Syakila mendekatkan kepala dan menyandarkannya di perut sispek suaminya.
"Baca saja!" Afif menyerahkan ponselnya ke tangan Syakila, dan seketika wanita itu mematikan ponsel suaminya setelah membaca satu pesan yang membuatnya sedikit malu.
"Apa semua sahabat kamu seperti itu?" tanya Syakila antusias.
"Iya, hiburan kalau lagi tidak ada tugas, tapi kalau lagi sibuk, ya nggak ada canda, yang ada serius."
__ADS_1
Berbeda dengan Syakila yang hanya menangani penyakit ringan, Afif yang berstatus dokter bedah itu selalu tegang dalam menghadapi pasiennya.
Baru saja Afif meletakkan ponselnya di nakas, benda pipih itu kembali berdering.
Kali ini Afif langsung mengangkatnya dan mendaratkan jarinya di bibir Syakila.
"Assalamualaikum, Dok." sapa Afif dengan sopan.
"Waalaikum salam. Maaf ya Fif kalau aku mengganggu. Pasti saat ini kamu ada di kamar berdua bersama istrimu, dan posisi kamu di atas ranjang bersamanya. Satu tangan kamu sedang membungkam bibir istri kamu," terka seseorang dari balik telepon dan itu sembari tertawa kecil.
Afif dan Syakila saling mengerutkan alisnya saat mendengar ucapan dokter Ali yang tak meleset sedikit pun.
"Maaf, aku hanya menebak saja, karena aku juga pernah menjadi pengantin baru."
Afif hanya menanggapinya dengan senyuman.
"Ada apa dokter pagi-pagi menelpon saya?" tanya Afif serius.
"Besok ada operasi, dan aku akan libatkan kamu, apa kamu bisa pulang?''
Afif menoleh, menatap Syakila yang masih bergelayut manja di lengannya.
"Saya akan pulang, dan akan saya usahakan untuk membantu, Dokter.''
'' Baiklah, terima kasih, kalau begitu saya tutup lagi, kalian lanjutkan.''
Benar saja telepon tertutup sebelum Afif mengucapkan salam.
"Kamu nggak papa kan, besok kita pulang?"
"Nggak papa dong, kemana pun kamu pergi, aku ikut."
Afif mengusap pucuk kepala Syakila dengan lembut dan mencium keningnya.
"Mas, aku lapar," keluh Syakila.
Ia baru menyadari jika semalam sama sekali tidak makan dan hanya minum segelas susu sebelum dipajang di pelaminan.
"Kita makan di luar, atau di sini?"
"Di luar, aku mau makan bersama kak Devan dan kak Raisya."
'' Baiklah, sekarang kamu siap-siap, biar aku yang ke kamar kak Devan."
Afif keluar dari kamar dan berjalan menuju ke kamar Devan yang berada di ujung. Sebenarnya bisa saja Afif menghubungi lewat telepon, akan tetapi menurutnya itu tidak sopan sebagai seorang adik.
__ADS_1
Afif mengetuk pintu tiga kali.
Tak berselang lama pintu terbuka.
Raisya pelakunya.
'' Mas Afif," cicit Raisya dengan nada pelan, namun itu masih bisa di dengar Devan dengan jelas.
Afif menggaruk alisnya yang tidak gatal, meskipun lama berpisah, nyatanya ia masih kikuk saat berhadapan dengan mantannya yang kini menjadi iparnya.
'' Maaf, aku cuma mau bilang kalau Syakila ngajak makan di luar,'' ucap Afif ragu.
Raisya menoleh, menatap Devan yang meletakkan mushafnya dan beranjak.
'' Ada apa?" tanya Devan basa-basi sambil merangkul pundak Raisya.
''Ini, mas Afif dan Syakila mau ngajak kita makan di luar."
"Bagus dong, itu artinya hari ini kita nggak ngeluarin duit buat makan, ya nggak?'' Devan menaik turunkan alisnya, sedangkan Syakila malah merengut melihat kejahilan suaminya, karena ia sudah mencium bau-bau traktir.
"Baiklah, hari ini aku traktir kakak dan adik-adik sepuasnya," ucap Afif dengan santai.
Setelah Afif pergi, Devan menutup pintu dan menyandarkan punggungnya di dinding, tak lupa Raisya yang ada di pelukannya. Keduanya saling menatap ke depan arah jendela.
"Sekarang Afif suaminya Syakila. Kamu harus terbiasa memanggilnya dengan nama, dan mulai sekarang jangan panggil Alfan dengan sebutan kakak, karena aku mau sebutan itu hanya untuk aku."
Raisya membalikkan tubuhnya dan melingkarkan tangannya di leher Devan.
"Baiklah, Sayang. Apapun yang kamu katakan, akan aku lakukan."
Tangan Raisya mulai aktif menari-nari ke area tubuh Devan. Sontak pusaka yang ada di balik sarung itu terbangun seketika saat jari lentik Raisya menyusup masuk ke dada Devan.
''Sayang, sepertinya kita harus olahraga di ranjang dulu deh."
Tanpa aba-aba, Raisya menepuk lengan Devan.
"Nggak papa, itu pahala, salah siapa semalam nggak jadi?"
Tak ada jawaban. Devan menggiring Raisya menuju ranjang, karena kelelahan semalam mereka libur dan memilih untuk tidur setelah Isya', dan Devan menganggap saat ini Raisya harus membayar hutang.
Raisya perlahan melepaskan mukenanya dan menerima perlakuan lembut Devan.
"Nggak jadi deh, di rumah saja. Nggak enak sama pengantin baru."
"Terima kasih, Kakak."
__ADS_1
Cup cup cup
Saking senangnya, Raisya menghadiahi Devan dengan ciuman yang bertubi-tubi.