
David melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, membelah kerumunan yang berlalu lalang memenuhi sepanjang jalan menuju butik.
Susan yang duduk di jok belakang terus menatap ke arah luar. Naik mobil mewah adalah salah satu mimpi Susan, dan sekarang ini menjadi kenyataan. Dulu saat ayahnya masih hidup, Susan hanya bisa naik angkut, itupun jika ke pasar, selebihnya hanya bisa naik motor matic yang sudah dijual untuk biaya berobat ayahnya.
"Om, kapan-kapan aku mau dong, di ajak ke sana." Susan menunjuk taman yang ada di tengah-tengah kota.
David menatap Susan dari pantulan cermin.
"Iya, tapi jangan sekarang, kamu dan ibu harus ke butik."
David menoleh, beralih menatap Naimah yang duduk di sampingnya. Semenjak dari rumah, wanita itu diam dan menunduk, sepuluh jari-jarinya saling meremas serta wajahnya pucat.
"Kamu kenapa?" tanya David, memelankan laju mobilnya saat di depannya ada truk besar.
"Mas, ini terlalu berlebihan, aku sudah merepotkan kalian," ucap Naimah tanpa menatap David.
"Merepotkan dalam segi apa?" tanya David.
"Aku operasi katarak dua kali, dan sedikit pun tidak mengeluarkan biaya. Aku sudah diizinkan tinggal di rumah Dokter Raisya, dan sekarang tiba-tiba pak Randu dan Bu Aya memperlakukan aku dan Susan seperti keluarga sendiri."
David membelokkan mobilnya yang sudah masuk ke halaman butik lalu menghentikan di sana.
"Tidak ada yang berlebihan, jalani saja alurnya," jawab David singkat.
Ikatan keluarga yang cukup kuat, Bunda Sabrina, bunda Arum serta bunda Sesil menciptakan keluarga yang hangat, hingga tamparan kerikil tak mampu menembus dinding rantai persaudaraan mereka. Meskipun bunda Arum sudah dipanggil Allah lebih dulu, ayah Randu menerapkan apa yang ia pelajari dari wanita itu dan tetap saling menyambung sampai anak-anak mereka.
David turun dan membantu Susan membuka pintu. Naimah yang masih ada di dalam nampak gelisah saat ia tak bisa membuka pintu. Pasalnya mobil itu pengeluaran terbaru dengan desain yang unik hingga membuat Naimah yang masih pemula bingung.
"Gimana cara bukanya?" gumam Naimah menatap David yang menunggunya di samping mobil.
"Biasanya kalau angkut tinggal di dorong langsung terbuka, kenapa ini nggak bisa?"
Merasa sangat lama, akhirnya David membuka pintunya dari luar.
"Kenapa nggak turun?"
Naimah bernapas dengan lega. Dadanya yang sempat bergemuruh kembali tenang saat David membukakan pintu untuknya.
"Nggak bisa buka," jawab Naimah malu-malu.
"O, aku lupa." David menepuk jidatnya mendengar jawaban Naimah. Ingin tertawa takut dosa, akhirnya David mengajari Naimah cara membuka.
Di dalam butik itu banyak pasang mata yang melihat ke arah Naimah juga Susan. Perhatian David pada ibu dan anak itu membuat semua karyawan iri, bahkan dari mereka berbisik-bisik saat David mengambilkan sebuah gamis mewah untuk Naimah.
"Ini cocok untuk kamu." Menyodorkan gamis mewah berwarna pastel.
Naimah tidak ingin menerima ataupun menyentuh baju itu sedikit pun. Ia merasa risih dengan tatapan orang-orang di sana, yang mungkin menganggapnya hanya parasit yang mendekati David hanya demi uang.
__ADS_1
"Mas, tujuan kita ke sini mau bikin baju acara pernikahan, bukan yang lain, kan?"
David berdecak, "Anggap saja apa yang aku katakan itu perintah, dan kamu tidak berhak membantahnya."
Kenapa bisa seperti itu, kalau begini kan namanya memaksa. Nyatanya, Naimah hanya bisa mengucap dalam hati. Ia tak mau membuat David marah dan kesal. Akhirnya ia tak mengindahkan orang lain untuk membuat David senang.
"Siapa yang mau di buatkan baju, Mas." Salah satu desainer menghampiri David.
"Ini, dan ini." Menunjuk Naimah dan Susan bergantian. Sama seperti yang lain, wanita cantik yang berambut sebahu dengan bando hitam itupun menatap Naimah dengan tatapan aneh.
"Nanti malam harus jadi, karena besok mau dipakai."
"Baiklah, silakan, Mbak!"
Setelah semua proses ukur mengukur usai, David mengambil beberapa baju yang ia pesan.
"Kita langsung pulang kan, Mas? Aku belum membersihkan dapur."
"Tidak, kita ke salon dulu, kebetulan tempatnya dekat dari sini."
Tak ingin membantah lagi, Naimah langsung masuk ke mobil.
Hanya butuh waktu lima belas menit, David kembali menghentikan mobilnya di depan salon miliknya sendiri. Salon itu dibuat untuk keluarga, khususnya wanita, sedangkan laki-laki ada di sebelahnya. Tak seperti tadi yang kesulitan, kali ini Naimah sudah bisa membukanya sendiri.
Susan tertidur pulas, David meninggalkannya di dalam, demi kenyamanan bocah itu, ia menyuruh satpam untuk menjaganya.
"Bukan aku yang mau ke salon, tapi kamu."
Naimah membulatkan matanya, ia menunjuk dadanya sendiri lalu menatap wajahnya dari pantulan spion.
Wajahku memang kusam, kalau mas David malu jalan denganku, ngapain mengajakku keluar.
"Aku tidak malu, tapi jika bisa berubah lebih baik, kenapa tidak?" sahut David dari belakang.
Bicara dalam hati pun dia tahu.
"Pasti biayanya mahal, aku nggak mau berhutang, lebih baik uangnya buat yang lain saja."
David menarik ujung hijab Naimah dan menyeretnya masuk, jika terus mendengarkan penolakan Naimah, pasti akan menyita waktu.
"Siang, Mas. Ada yang bisa saya bantu?"
Wanita cantik menyambut kedatangan David dan Naimah.
"Poles dia, tidak usah bertanya, pasti kamu tahu apa yang aku maksud. Terserah kamu, pakai cat atau oli yang penting wajahnya berubah, setelah itu suruh dia pakai ini." David menyodorkan paper bag yang ada di tangannya di depan pegawainya.
Apa setiap orang kaya itu ribet kayak mas David.
__ADS_1
"Baik, Mas. Silakan, Mbak!"
Naimah menatap David sekilas, lalu mengikuti langkah wanita cantik itu. Meskipun jengkel dengan sikap David yang semena-mena padanya, ia tak bisa berbuat apa-apa selain nurut.
"Mbak mau pilih sendiri atau ikut gaya trend saat ini?" Wanita itu menyodorkan buku di depan Naimah yang mulai melepas hijabnya.
Naimah meraih buku itu dan membuka lalu membacanya.
Perawatan wajah di Salon yang Wajib Dilakukan!
Salah satu perawatan wajah di salon yang banyak digemari adalah facial.
Chemical peeling
Totok wajah
Soothing treatment
Perawatan masker wajah.
Aku nggak ngerti ini semua, aku harus gimana kalau aku menolak pasti mas David marah.
"Terserah Mbak saja, yang penting aku nggak mau wajahku berubah, takutnya nanti Susan tidak mengenaliku."
Wanita itu hanya menahan tawa melihat tingkah lucu Naimah.
Naimah meletakkan buku itu dan mulai mengikuti perintah.
Sesekali David melihat jam yang melingkar di tangannya, setelah itu menatap pintu yang masih tertutup rapat, sudah hampir dua jam dia menunggu. Dua cangkir kopi ludes. Namun, Naimah belum juga keluar. Akhirnya David memejamkan matanya.
Baru lima menit tenggelam di alam mimpi, David kembali terusik dengan suara yang sangat familiar. Terpaksa ia membuka matanya kembali, dan bertapa terkejutnya melihat seseorang yang ada di sampingnya.
Jreng.....jreng....jreng
**Halo, sambil nungguin update nya bisa mampir juga ke sini ya
Judul: Antara bintang dan galaksi
Author: Chika ssi
Blurb
“Kamu itu nggak pantas ikut lomba! Berkacalah! Lihat wajahmu yang buruk itu! Dipenuhi bercak putih nggak jelas! Aku rasa itu adalah alasan, kenapa kamu dicampakkan sama keluargamu sendiri!" ~ Bulan Purnama
"Jika bisa memilih, aku juga ingin memiliki wajah cantik sepertimu, Bulan. Mengenai lomba ini aku hanya mengikuti lomba baca puisi! Bukan lomba kecantikan! Apa orang sepertiku tidak pantas memiliki prestasi walau hanya secuil?" ~ Bintang Bellatrix
"Kamu itu tidak aneh, tapi unik! Nggak usah dengerin apa kata orang. Pura-pura tuli dan buta, terkadang bisa menjadi alternatif terbaik untuk menjaga hatimu sendiri. Setiap orang dilahirkan spesial, dan kamu adalah salah satunya!" ~ Galaksi Milkyway
__ADS_1
(Kisah ini berdasarkan pengalaman pribadi author yang didramatisir**)