Pelangi Senja

Pelangi Senja
Hukuman


__ADS_3

Di ruangan itu sangat mencekam. Meskipun Devan belum bicara apapun, tersangka sudah nampak ketakutan, mereka hanya bisa menunduk menatap lantai dengan dua tangan yang saling terpaut.


"Kalian sudah Sholat Ashar?" tanya Devan pada tiga wanita yang mematung di depannya.


"Sudah, Pak," jawab mereka serempak.


Devan melirik sekilas lalu istighfar dalam hati. Dari lubuk hati yang paling dalam, ia enggan berada di posisi itu, tapi demi adik iparnya, Devan mengemban amanah yang dititipkan padanya.


"Ya sudah, tunggu di sini, saya sholat dulu."


Devan melepas jam tangannya dan meletakkannya di atas meja lalu ke kamar, ia menutup pintu dengan keras memberi tanda jika ia sudah berada di dalam.


Hampir saja salah satu berbicara, pintu kembali terbuka.


"Silakan ghibah, kalau mau nambah hukuman."


Pintu kembali tertutup, namun semua masih diam belum berani bicara, takut Devan membuka pintunya lagi, hingga lima menit berlalu mereka membuka suara.


"Kakiku pegel," keluh salah satu dari mereka sembari menghentak-hentakkan kakinya. Mengurai rasa lelah akibat kelamaan berdiri.


"Terima saja, daripada kita dipecat," timpal yang lainnya.


Dua puluh menit berlalu, Devan keluar dari kamar David. Ia kembali duduk di sofa, meraih ponselnya lalu menghubungi Raisya dengan video.


"Assalamualaikum, Kak. Gimana, apa David sudah pulang?" tanya Raisya antusias.


"Waalaikumsalam, sudah Sayang. ini enaknya mereka diapain ya?"


Devan membalikkan layar ponselnya, memperlihatkan wajah wanita itu pada Raisya yang ada di seberang sana.


"Maaf, Kak. Apa aku boleh bicara pada mereka?" tanya Raisya.


"Silakan, Sayang!"


"Mbak lihat saya." Ketiga wanita itu melihat  Raisya dari layar ponsel.


"Kita sama-sama perempuan, seandainya Mbak yang dihina, pasti akan sakit hati juga. Jangan pernah berpikir kalau Naimah yang mengadu, justru dia menutupi kejahatan kalian. Saya hanya ingin mengingatkan jangan sampai mbak mengulanginya lagi, karena saya nggak bisa jamin kalau nasib mbak akan beruntung seperti sekarang, sudah, Kak."


Devan menghadapkan layar ke arah wajahnya.


"Kak cepat pulang, aku pingin makan mangga muda, belikan yang ada di dekat rumah sakit."


"Siap, lima belas menit lagi aku sampai."


"Van," panggil mama Aya lalu menggeser ponselnya. 


Devan menatap mamanya yang bergantian berada di depan ponsel istrinya. 


"Jangan memberi hukuman yang aneh-aneh. Istri kamu hamil, kalau orang jaman dulu apa yang dilakukan orang tua akan berdampak pada anak yang ada di kandungannya, pikirkan istri dan anakmu sebelum memutuskan hukumannya."


"Iya, Ma." Setelah pamit, Devan mematikan sambungannya.


"Untung ada mama, besok kalian harus berterima kasih pada mama mertua, bawakan rendang, setiap orang satu kilo, kirimnya ke rumah saya," titah Devan. 


"Baik, Pak."


Meskipun Devan bercanda, mereka menanggapinya serius.

__ADS_1


"Kesalahan kalian sangat fatal, mungkin jika di perusahaan lain tidak ada pilihan, pasti akan dipecat, begitulah yang sering saya dengar dari orang-orang, tapi beruntung Kalian bekerja di sini, karena ayah tetap memberi pilihan."


"Sekarang pilih, hukuman atau pecat?" 


"Hukuman, Pak," jawab mereka dengan lantang.


Sepertinya Devan memang suka melihat ketakutan mereka dan mengulur waktu untuk mengambil keputusan.


"Itu artinya kalian siap menerima hukuman apapun dari saya."


"Siap, Pak."


Dada Devan semakin bersorak, ia tahu itu dosa, tapi tidak ada salahnya juga menjahili mereka yang sudah berani mengusik keluarganya.


"Saya orangnya baik hati, kalian pasti tahu, hukuman untuk kalian adalah….."


Jantung ketiga wanita itu berdegup kencang menanti ucapan Devan.


"Sepertinya saya haus, tolong bikinin kopi."


Seorang wanita yang berdiri di tengah langsung keluar dari ruangan itu.


"Apa kalian sudah menikah?" tanya Devan dengan tangan yang sibuk mengetik di layar ponselnya. 


"Belum, Pak," jawab kedua karyawan itu yang membuat Devan semakin tertawa menggelitik.


"Sekarang asaya tahu alasan kalian menghina Naimah. Pasti kalian iri padanya yang akan menikah dengan David. Sekarang telepon keluarga Kalian, bilang saja lembur."


Mereka menghubungi keluarganya seperti yang diperintah Devan.


Kenapa jadi seperti ini, mendingan sama pak David daripada pak Devan, mengerikan.


Secangkir kopi hitam datang.


Devan segera menyeruputnya dan mulai fokus pada orang-orang yang ada di hadapannya.


"Kalian mau hukuman apa?" tanya Devan.


Hening, tidak ada yang menjawab malah menundukkan kepalanya.


"Baiklah kalau kalian diam, berarti saya yang harus putuskan."


Devan diam lagi sejenak.


"Gara-gara kalian Naimah pergi dari rumah, dia merasa tidak pantas menjadi istri David. Sekarang hukuman untuk kalian, cari Naimah sampai ketemu, minta maaf pada dia dan dan Susan. Jika sampai ini belum berhasil, siap-siap untuk keluar dari sini."


"Ba… baik, Pak."


Meskipun sangat gugup, ketiga wanita itu mencoba tenang dan menerima dengan lapang keputusan Devan.


"Waktu kalian hanya satu minggu, jika sampai tidak berhasil terpaksa saya harus mengeluarkan kalian."


Devan menyambar jaket dan memakainya. Ia tak mau Raisya menunggunya terlalu lama.


"Gunakan waktu itu dengan baik, karena kesempatan tidak akan datang dua kali."


Devan meninggalkan ruangan itu.

__ADS_1


Semua bernapas dengan lega dan ambruk di lantai. 


Ceklek


Lagi-lagi pintu terbuka di saat tiga wanita itu memijit betisnya. 


"Hai, jangan tidur di lantai, saya nggak mau di anggap menganiaya kalian."


Devan melewati mereka yang belum kuat untuk berdiri, ia mengambil jam tangannya yang ketinggalan di meja.


"Ingat, bawa rendang, cari Naimah dan minta maaf, kalau perlu bawakan kue ulang tahun dan kado untuk dia. Nyawa kalian ada di tangannya, kalau Naimah meminta David untuk memecat kalian, berarti itu keputusan final."


Raut wajah mereka semakin pucat mendengar ucapan Devan yang terakhir, kini nasibnya berada di ubun-ubun dan berharap bisa mendapatkan maaf dari Naimah. 


Seperti permintaan Raisya, Devan langsung menuju ke arah rumah sakit.


Ia memarkirkan mobilnya di depan toko buah yang sudah tutup, hanya menyisakan pintu masuk yang terbuka, itu pun orangnya sudah keluar dan mengunci pintu.


"Bu, tunggu!" teriak Devan sembari berlari menghampirinya.


"Ada apa ya, Mas. Maaf tokonya sudah tutup."


"Bu, saya mau beli mangga muda."


Ibu itu tersenyum dan membuka kembali pintunya. 


"Biasanya saya tidak mau melayani pelanggan kalau sudah tutup, tapi Mas dan keluarga orang baik, dan Saya sudah mengenal keluarga Mas, jadi saya layani."


Tanpa Devan bilang, wanita itu membungkus beberapa mangga muda di dalam kantong kresek.


"Ini, Mas."


Devan menerimanya dan menyodorkan dua pecahan uang seratus ribu.


Namun wanita itu mengembalikan uangnya pada Devan. 


"Tidak usah, saya ikhlas, semoga janin dalam kandungan istri Mas diberi kesehatan."


"Tapi, Bu __"


"Mas, saya tahu kalau mas adalah suami Dokter Raisya, beliau sangat baik pada keluarga kami, jadi mangga itu belum seberapa dibandingkan kebaikan beliau. Salam untuk dokter Raisya, bilang dari Bu Hasna."


Devan mengangguk mengerti dan terima kasih. 


****


Rekomendasi bacaan untukmu


Napen : Emy


Judul : It's me


Alice pernah mengalami kecelakaan, hingha membuat sebagian wajahnya terluka.


Semenjak itu, dia harus menerima cacian dan hinaan dari semua orang. Bahkan samg kekasih pun akhirnya memutuskan hubungan secara sepihak karena wajah buruknya.


Namun, diam-diam ada pria yang selalu membantu Alice.

__ADS_1


Bagaimanakah percintaan Alice selanjutnya?


Apakah pria itu akan menampakan diri dan membantu Alice mengubah takdirnya?


__ADS_2