
Jarum jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Setelah pulang dari restoran, Susan tidur pulas hingga Adzan Ashar, saat ini ia sudah bangun dan ada di ruangan ibunya, sesekali Susan menangis, memeluk Bu Naimah yang berbaring di atas brankar.
Sekelebat bayangan masa kecil Raisya melintas. Ia menangis di gendongan ayah Mahesa saat bunda Arum tak sadarkan diri. Ditinggalkan orang yang disayang dari kecil bukan keinginannya, tapi Allah lebih tahu akan dirinya yang sanggup menghadapi semuanya.
Satu bulir cairan bening lolos membasahi pipinya. Devan yang duduk di sampingnya meraih tubuh Raisya dan meletakkan kepalanya di dada bidangnya.
"Kak, aku pernah berada di posisi Susan, Meskipun nyawa bunda tak bisa diselamatkan, aku jauh lebih beruntung daripada dia."
Devan mengelus punggung Raisya yang bergetar, ia tak menyangka hadirnya Susan mengingatkannya akan masa kecil yang menyedihkan.
"Aku dikelilingi orang-orang yang menyayangiku, sedangkan Susan, dia harus sendiri saat ibunya sakit.
"Ada kita yang akan menyayanginya, kamu jangan bersedih lagi. Fokus pada Bu Naimah, kalau dia sembuh dan bisa melihat pasti Susan akan bahagia."
Devan terus meyakinkan Raisya. Ia tahu, dibalik tegarnya sang istri, dia hanya wanita rapuh yang membutuhkan dirinya dikala seperti ini.
Raisya mengangkat kepalanya, membersihkan cairan bening yang masih menempel di pipinya. Teringat dengan hijab yang tadi ia beli waktu di mall.
"Kak, aku ke ruangan Syakila sebentar, tolong temani Susan," pinta Raisya sembari membuka beberapa paper bag.
Raisya tersenyum saat menemukan apa yang ia cari.
Semoga Syakila suka.
Raisya keluar dari ruangan, berjalan santai menuju ruangan Syakila. Selain memberi hadiah, Raisya juga ingin kembali mengikat tali persaudaraan yang sedikit menguar. Setibanya di depan pintu, ia menghentikan langkahnya, tangannya yang hampir memegang knop tertarik kembali saat mendengar suara canda diiringi tawa dari dalam.
"Itu suara Afif dan Syakila, kalau aku masuk Syakila marah nggak ya?"
Raisya menunduk, menatap hijab warna hitam yang ada di tangannya.
"Aku harus masuk, Aku harus tahu alasan Syakila mengabaikanku." Dengan mengumpulkan segala keberaniannya, Raisya mengucap salam.
Jawaban dari Syakila dan Afif yang bersamaan membuat Raisya lega.
"Kak Raisya,'' sapa Afif yang membuka pintu. Ia tak canggung lagi dan menganggap Raisya sebagai kakak ipar yang harus dihormati, bukan mantan kekasih lagi.
Nampak Syakila sedang duduk di kursi kerjanya dan memainkan ponsel. Sedikit pun tak mengindahkan kehadiran Raisya.
"Aku mau bertemu Syakila," ucap Raisya singkat.
Afif menggeser tubuhnya, memberi jalan Raisya untuk masuk.
__ADS_1
Dinginnya sikap Syakila sudah bisa ditangkap Raisya. Wanita itu tak menoleh sedikit pun dan memilih tersenyum pada benda pipihnya.
"La, tadi aku beli jilbab untuk kamu." Raisya menyodorkan apa yang ia bawa di depan Syakila.
Hening, Syakila hanya melirik sekilas dengan ekor matanya lalu kembali ke ponselnya.
"Letakkan saja di meja! Ngapain kakak kesini? Kan bisa memanggilku?" ucap Syakila ketus.
Raisya memejamkan matanya sejenak, meredakan rasa denyutan nyeri yang mengendap di dadanya.
Mungkin ini belum waktu yang tepat untuk bicara, benar apa kata kak Devan, aku harus fokus pada bu Naimah.
Raisya meletakkan hijab itu diatas meja dan keluar.
Afif kembali menutup pintunya, setelah Raisya menghilang, ia mendekati Syakila yang sedang duduk dengan wajah masamnya.
"Kamu kenapa?"
"Apa mas mau membela kak Raisya?" sergah Syakila seketika.
"Tidak," Afif merengkuh tubuh Syakila dan mendekapnya.
Aku harus bicara pelan-pelan, masa laluku tidak boleh menjadi boomerang pada masa depanku. Kasihan Raisya kalau harus menjadi korban kemarahan Syakila.
Ya Allah, aku tidak ingin dihargai dan dipuji, tapi aku juga tidak bisa diabaikan seperti ini. Jadikanlah aku orang baik seperti orang-orang yang Engkau pilih.
Setelah cukup tenang, Raisya kembali ke ruangannya.
Devan menatap tangan kosong Raisya lalu tersenyum.
"Syakila belum pulang?" tanya Devan.
"Belum, tapi sepertinya sudah hampir pulang."
Raisya menghampiri bu Naimah dan Susan.
"Susan, ikut bu dokter ya, kita sholat dengan om, Susan doakan ibu semoga cepat sembuh."
Tangan Bu Naimah meraba ke arah sumber suara hingga menyentuh tangan Raisya.
"Bu dokter, Saya tidak tahu harus berkata apa, yang pastinya Bu Dokter adalah bidadari yang diturunkan Allah untuk menolong saya. Saya berjanji setelah sembuh nanti saya akan mengabdi pada Bu Dokter."
__ADS_1
Devan merasa terenyuh, selama ini ia tak pernah berpikir akan memiliki istri seperti Raisya. Namun, hidup penuh misteri, dan sekarang wanita bak bidadari tak bersayap itu menjadi pendampingnya.
"Saya tidak mengharap imbalan, Bu. Melihat susan bahagia saja saya ikut senang, ibu berdoa saja, yakinkan hati ibu, semoga nanti operasinya lancar."
Devan merangkul pundak Raisya, "Iya, Bu. Yang penting sekarang Ibu sembuh dulu,'' timpal Devan.
"Terima kasih, Pak," ucap Naimah.
Usai sholat Isya' berjamaah, Raisya memakai seragam khusus berwarna hijau, sedangkan Devan membantu Susan melepas mukenanya dan menghampiri Raiysa. Jika dulu wanita itu selalu meminta doa restu dari kedua orang tuanya, ini pertama kali ia meminta doa pada Devan, suaminya.
"Aku akan selalu berdoa untukmu, semoga berhasil." Sebuah kecupan mendarat di kening Raisya sebelum memasuki ruang operasi.
Devan duduk di kursi yang terbuat dari besi mengkilap sambil memangku Susan, sesekali ia membuat candaan, pengusir rasa bosan yang melanda.
Sudah hampir satu jam terlewati. Namun, masih belum ada tanda-tanda Raisya keluar. Susan merengek menanyakan keadaan ibunya terus-menerus hingga membuat hati Devan tersayat.
Gadis yang kini berubah penampilannya itu meletakan kepalanya di dada Devan seperti yang sering Raisya lakukan.
"Lebih baik Susan tidur, nanti kalau Bu Dokter keluar, om bangunin lagi."
Susan mengangguk dan memejamkan matanya.
Setelah menunggu beberapa menit lagi, Pintu yang ada di depan Devan terbuka lebar, nampak istrinya itu membuka masker dan tersenyum renyah lalu mengangkat jempolnya.
Perlahan Devan menggendong Susan dan mendekati Raisya yang berbicara dengan suster.
"Bagaimana?"
"Alhamdulillah, operasinya lancar, tapi ini baru satu, nanti setelah sembuh akan dilakukan operasi yang satunya lagi."
"O…" Devan hanya ber o ria. Matanya melirik ke arah Raisya yang sibuk melepas sarung tangannya.
"Sekarang kita pulang, aku akan suruh suster untuk menjaga bu Naimah. Aku tidak mau kamu sakit."
Raisya yang terlalu cerdik menatap jam yang melingkar di tangannya. Ternyata baru jam sembilan malam.
"Alasan, bilang saja kalau __"
Devan membungkam mulut Raisya saat ada suster yang melintas.
"Suaranya jangan keras-keras, nanti kalau didengar orang, malu," bisik Devan.
__ADS_1
mampir juga yak ke karya ini