
"Bunda, sekarang di rumah ada Bu Naimah dan Susan. Apa aku boleh membawa makanan dari sini?" tanya Raisya malu-malu.
Semua mata yang ada di ruang makan kini mengarah padanya kecuali Syakila yang sibuk dengan makanan yang ada di depannya. Entah, sikap dinginnya mengalahkan semuanya, bahkan hatinya seakan sekeras batu yang tidak akan hancur walau diterjang badai, itulah Raisya menilainya.
''Siapa bu Naimah?" tanya ayah memelankan kunyahannya. Heran mendengar nama yang belum pernah ia dengar.
Raisya menatap Devan sekilas lalu kembali ke arah ayah Mahesa.
"Dia adalah pasienku, Yah. Aku tidak tega membiarkannya tinggal di rumahnya sendiri dengan anaknya, dan dia juga bilang ingin membantu pekerjaan di rumah setelah sembuh nanti."
Mengingat keinginan seorang janda yang tulus ingin mengabdikan diri padanya, membuat Raisya yang baik hati tak tega untuk menolak.
"Boleh," jawab Bunda saat melihat makanan yang masih banyak. Semua pembantu pun sudah mendapat jatah masing-masing, Sedangkan yang ada di meja lebih dari cukup jika hanya untuk dua orang.
"Benar-benar sempurna, bukan hanya istri idaman, tapi juga bidadari, aku jadi iri sama kak Devan," ceplos Daffa sembari menggelengkan kepalanya, matanya terus menatap wajah Raisya yang mulai bersemu.
Semakin lama Devan semakin risih melihat tingkah adiknya, sebagai seorang suami, ia tak suka dengan pujian yang dilontarkan Daffa dan daffi untuk istrinya.
"Jangan bilang kalau kamu jatuh cinta sama kakak iparmu sendiri?" bisik Daffi yang bisa membaca bola mata Daffa yang berbinar-binar.
Syakila berdecak dan meletakkan sendok nya dengan kasar, hingga semua bisa mendengarnya.
"Kamu kenapa, La?" tanya Bunda dengan lembut, sebagai seorang ibu, akhir-akhir ini ia melihat Syakila sering marah-marah tidak jelas, juga banyak diam.
Hening, tidak ada yang bersuara, karena Raisya mencubit Devan yang sudah membuka mulutnya.
Aku juga tidak tahu apa yang terjadi, tapi aku kesal dengan kak Raisya. Kenapa semua orang sayang padanya sampai saudara-saudaraku sendiri memujinya.
Nyatanya Syakila hanya bisa mengucapkan dalam hati, sedikit pun ia tak mempunyai keberanian untuk mengungkap uneg-uneg yang mengendap dalam hati.
"Mau aku suapi?" tawar Afif.
Tanpa menjawab, Syakila membuka mulutnya tanda mau.
"Kalau kalian ada masalah katakan, siapa tahu ayah bisa bantu," cetus Ayah.
Daffa dan Daffi saling tatap, ini kali pertama mereka melihat Syakila nampak manyun tanpa ekspresi, wajahnya sedatar batu bata yang baru saja kering hingga tak bisa ditebak semua orang.
"Kakak lagi PMS?" seronoh Daffi mencairkan suasana yang sedikit mencengkam.
Raisya mengatupkan bibirnya menahan tawa. Ia ikut terhibur saat dua adik iparnya itu selalu membuat candaan disaat suasana semakin genting.
__ADS_1
"Tidak, cuma kurang enak badan," jawab Syakila ketus.
"Habiskan!" titah ayah Mahesa.
Dengan sigap Daffa menghabiskan steak yang masih separo, setelah itu mengambil lobster lagi saat perutnya masih berteriak lapar.
Aku harus bicara dengan Syakila. Semoga dia mau mengatakan kesalahanku.
"Kak Raisya menginap di sini?" tanya Daffa.
"Bisa nggak sih kalau kamu tidak mengganggu kakakmu," tegas Devan.
Namun, sedikitpun tak membuat Daffa dan Daffi menciut.
"Cemburu, dulu saja nggak mau, sekarang nggak mau rugi," ejek Daffa dalam hati.
Raisya menggeleng sembari memasukkan sepotong cumi buru-buru ke dalam mulutnya hingga meninggalkan saus di bibirnya.
Segera Daffa mengambil tisu dan menyodorkan ke arah Raisya, dan seketika dilihat oleh Devan.
"Kamu mau apa?" tanya Devan ketus sembari menepis tangan adiknya.
Daffa menyungutkan kepalanya ke arah Raisya yang masih belum sadar.
Kok aku semakin tidak nyaman, kenapa dari tadi Daffa dan Daffi lihat aku seperti itu.
Makan malam berlangsung dengan penuh drama. Sebelum pulang Raisya menghampiri Syakila dan Afif yang ada di ruang tengah bersama Asyifa. Bunda dan Ayah masih berada di ruang makan menunggu si kembar yang belum selesai makan.
"La, besok makan siang aku tunggu di restoran samping rumah sakit, ya." ucapnya.
Tanpa menunggu jawaban, Raisya meninggalkan Syakila dan Afif.
Setelah Devan dan Raisya menghilang di balik pintu, Afif merangkul pundak Syakila dan menyandarkan kepala wanita itu di pundaknya.
"Kamu kenapa sih? Sebenarnya ada apa antara kamu dan Kak Raisya?" tanya Afif dengan lembut, ia tak mau menyakiti hati Syakila yang masih sangat labil. Apalagi sebelumnya Syakila belum pernah menjalin hubungan dengan pria lain yang membuatnya harus sabar untuk menghadapi wanita itu.
"Tidak kenapa-napa, Mas. Aku hanya malas bicara saja."
Syakila mengalihkan pandangannya dan mengusap cairan bening yang berhasil lolos membasahi pipinya.
...****************...
__ADS_1
"Assalamualaikum….." seru Raisya sembari membuka pintu utama diikuti Devan dari belakang.
Bu Naimah menjawab sambil meraba tongkatnya yang bersandar di samping meja. Hampir saja berdiri dari duduknya, sebuah tangan memegang bahunya.
"Duduk saja, Bu! Ini ada makanan dari rumah bunda, sekarang ibu dan Susan makan dulu." Devan datang membawa dua piring serta minuman.
"Saya sudah kenyang, Bu. Tidak usah repot-repot."
"Orang sudah berkata kenyang itu kalau sudah makan, ibu dari tadi belum makan, kenyang dari mana," pungkas Raisya.
Susan yang sudah lapar langsung mengambil bergedel dan memakannya. Ia tak lupa menyuapi ibunya seperti yang dilakukan di rumah setelah Bu Naimah tak bisa melihat.
"Dapat salam dari bunda, katanya kapan-kapan bunda ingin bertemu dengan ibu."
Bu Naimah tersenyum haru, ia tak menyangka akan bertemu orang baik seperti Raisya.
Tangan Bu Naimah terangkat hingga menyentuh pipi Raisya.
"Saya tidak tahu harus berkata apa, terima kasih saja tak akan cukup dibandingkan dengan kebaikan bu Dokter. Saya berjanji, setelah sembuh akan bekerja disini."
Devan ikut duduk membantu Susan mengambil nasi. Dulu ia tak pernah peduli dengan siapapun, tapi sekarang Raisya mengajarkan sesuatu yang tak pernah ia lakukan sebelumnya.
"Saya tidak pernah meminta balasan dari Ibu, yang terpenting Ibu sehat dan bisa merawat Susan lagi. Urusan sekolah biar saya dan kak Devan yang mengurusnya. Ibu masih muda, masa depan Ibu masih panjang, kita tidak akan tahu apa yang terjadi nanti, dan saya hanya bisa berdoa semoga Ibu dan Susan mempunyai masa depan cerah."
"Memangnya umur bu Naimah berapa, Sayang?" tanya Devan.
"Dua puluh lima tahun, Kak."
Devan mengernyitkan dahi tak percaya. Dilihat dari wajahnya jauh beda dengan Raisya. Jika istrinya itu sangat cantik jelita, Bu Naimah sudah terlihat tua.
"Jangan heran, Pak. Hidup saya susah, suami saya hanya buruh pabrik, pasti bapak tidak percaya kalau saya masih muda."
Hehehe... senyum kecil.
"Percaya, Bu. Kalau nanti sudah sembuh, Ibu berhijab ya, pasti lebih cantik," pinta Raisya dengan halus.
Bu Naimah mengangguk tanpa suara.
Ini yang membuat aku tidak bisa pergi darimu, tak hanya wajahmu yang cantik, tapi juga hatimu.
mampir juga yuk ke sini dijamin suka
__ADS_1