
Setelah semalam tidur di rumah ayah Mahesa, pagi ini Devan dan Raisya memutuskan untuk pulang ke rumah. Selain risih dengan godaan si kembar, Devan juga ingin menghabiskan waktunya hanya berdua tanpa parasit yang sewaktu-waktu mengganggunya. Mentari yang sangat cerah itu menggambarkan hati keduanya yang akan memulai lembaran baru dengan benih-benih cinta yang mulai bersemi di hati mereka.
Devan turun dari mobil dan membantu Raisya turun. Keduanya berdiri bersejajar menatap rumah mewah hadiah dari sang ayah atas pernikahannya.
"Dari sini kita akan membangun keluarga yang sakinah, aku ingin menjadi imam yang baik untuk kamu," ucap Devan dari hati.
Raisya memutar tubuhnya dan melingkarkan tangannya di leher Devan. Saling bertukar pandangan saat Raisya sedikit menjinjit.
"Allah akan selalu mengabulkan doa orang-orang baik, aku percaya kalau Kakak bisa melakukan itu."
Devan melepas jaket dan melempar ke sembarang arah lalu menghempaskan tubuhnya di atas sofa.
Baru saja memejamkan matanya, Devan kembali membukanya dan menyusuri setiap sudut ruangan yang ia tempati.
"Sayang," teriak Devan seraya berlari kecil menghampiri Raisya yang ada di dapur.
Devan memeluk tubuh mungil Raisya dari belakang dan membenamkan wajahnya di punggung istrinya.
"Kakak kenapa?" Raisya meletakkan kanebo yang baru saja di ambilnya di atas wastafel. Ia terkejut dengan sikap Devan yang nampak ketakutan bagaikan dikejar maling.
"Aku takut, biasanya rumah yang tidak dihuni lama itu ada hantunya, gimana kalau rumah ini ada penunggunya?" Mata Devan mengelilingi sudut dapurnya.
Raisya tertawa lepas dan menepuk lengan suaminya yang bicara konyol.
"Hantunya kamu sendiri."
"Kok aku?" Devan tak terima dan mencubit pipi Raisya.
"Kakak terlalu berlebihan, nggak ada hantu. Tapi adanya Devan yang lebay."
Tanpa aba aba Devan mengangkat tubuh Raisya.
"Kakak " jerit Raisya, memukul dada bidang Devan dan menendang-nendangkan kakinya, namun itu percuma, Devan malah membawanya ke kamar yang ada di bawah.
Dengan pelan Devan membaringkan tubuh Raisya di atas pembaringan, ia melepas sepatunya dengan satu kakinya lalu ikut naik dan menindih tubuh gadis itu. Membantu melepas hijab Raisya dan menarik tangannya hingga merangkul tubuh kekarnya.
"Kapan kamu selesai?" tanya Devan dengan suara parau menahan hasrat yang kian menggebu dan ingin disalurkan.
Raisya menanggapi dengan senyuman.
__ADS_1
"Insya Allah nanti sore aku sudah mandi besar," jawab Raisya yang sudah tak melihat noda merah di pembalutnya.
Bagaikan mendapat hadiah yang istimewa, dada Devan berjoget ria, ia tak bisa mengungkapkan rasa senangnya dengan kata-kata, dan hanya bisa menghujami ciuman di setiap jengkal wajah Raisya.
"Aku mau tiga Ronde, ya," pinta Devan sembari cekikikan.
"Aku nggak mau, ini bukan tinju, masa pakai ronde, si," protes Raisya mendorong tubuh Devan hingga ambruk di sampingnya.
Devan tak menyerah, dalam hatinya terus tertawa geli melihat bibir Raisya yang mengerucut.
"Malam pertama itu harus pakai ronde, Sayang. Nanti kita tinggal atur jaraknya jam berapa saja, yang penting kamu harus siap."
Ini rencana apa sih?
Ucapan Devan semakin membuat Raisya merinding, ia tak bisa membayangkan saat benda yang sempat ia sentuh kemarin menerobos gawang miliknya.
Raisya turun dari ranjangnya dan berjalan menuju kamar mandi, kali ini bukan Devan yang diselimuti rasa takut, melainkan dirinya akan rencana Devan yang tak masuk akal.
Raisya menatap bayangan wajahnya dari pantulan cermin dan berkacak pinggang.
"Kamu harus siap, sekarang Kak Devan sudah memilihmu, itu artinya kamu harus melayaninya dengan baik, berikan kenyamanan padanya supaya tidak melirik wanita lain."
Raisya keluar dari kamar mandi dan menghampiri Devan yang masih berbaring dan menggunakan kedua tangannya sebagai bantal.
Raisya duduk di atas paha Devan dan menyandarkan kepalanya di dada suaminya. Dan itu sukses membuat burung yang sedang semedi terbangun, hanya saja tak seperti kemarin, kali ini tak bisa dipegang karena terbungkus dengan rapat.
"Aku siap, dan malam ini aku akan menjadi milik kakak sepenuhnya," ujar Raisya malu-malu.
Baru saja Devan menikmati kebersamaannya, suara bel berbunyi.
Devan melepas pagutannya dan mengusap bibir Raisya.
"Kayaknya ada tamu. Kamu tunggu di sini, biar aku yang buka pintu."
Devan mengancingkan bajunya dan merapikan rambutnya. Sedangkan Raisya meraih hijabnya dan memakainya asal.
Devan membuka pintu dan berdecak kesal saat melihat seseorang yang mematung di depannya. Ternyata sopir ayahnya yang datang.
"Ada apa bapak kesini?" tanya Devan ketus, karena pria itu sudah membuyarkan kemesraannya yang baru saja terjalin.
__ADS_1
"Maaf Den, saya cuma menjalankan amanah dari pak Mahesa, kalau nanti malam aden dan non Raisya disuruh makan malam di rumah."
Devan mengerutkan alisnya. "Memangnya ada acara apa?" tanya Devan antusias.
"Keluarga Bu Aida mau datang ke rumah."
"Hanya itu?" Devan semakin kesal, kalau begini caranya rencana yang baru saja diracik pasti ambyar dan tertunda lagi.
"Ada apa, Kak?" sahut Raisya dari arah belakang.
"Bunda nyuruh kita datang ke rumah, katanya tante Aida mau datang," ucap Devan datar.
Raisya mendekati sang supir yang masih berdiri di depan pintu.
"Baik pak, bilang sama Bunda dan Ayah, kami akan datang."
Devan menggigit pundak Raisya yang menyetujui permintaan bundanya. Setelah supir itu pergi, Devan kembali mengunci pintunya.
"Itu artinya malam ini kita gagal dong," keluh Devan, wajahnya suram dan tak ada semangat sedikit pun.
"Masih ada banyak malam-malam lainnya, dan kapanpun aku akan selalu siap."
Raisya menggiring Devan menuju lantai atas. Seperti ucapannya kemarin, hari ini Devan akan membuang bajunya yang tak disukai Raisya.
"Aku yakin bunda memang sengaja menguji kesabaranku." Devan membongkar isi lemarinya dan melempar bajunya itu ke sembarang arah.
Raisya memungut baju-baju yang teronggok di lantai dan meletakkannya di keranjang.
"Buah dari kesabaran itu sangat indah, Kak. Yakinlah, setelah ini pasti kakak mendapatkan apa yang kakak inginkan."
Raisya menjewer sebuah kaos oblong yang berwarna putih, ia fokus pada gambar yang ada di baju itu. Gadis manis yang beberapa waktu lalu ia lihat di sosmed bersama dengan suaminya.
"Kak kalau yang ini mau disimpan apa dibuang?" tanya Raisya dengan ragu.
Devan menoleh menatap baju yang ada di tangan Raisya. Sebenarnya ia masih sayang dengan baju yang baru dipakai beberapa kali tersebut, tapi Devan tetap pada pendiriannya dan akan terus meyakinkan Raisya.
"Dibuang saja, aku ingin melupakan semua tentang Alisa," ujar Devan dengan serius.
Bagaimana keadaan Alisa sekarang, semoga dia mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik dariku, selamat tinggal, kini tak hanya cintamu, tapi semua tentangmu akan aku hapus dari hidupku.
__ADS_1
Burung Aa Devan otw ke sarang ya, ikuti terus kelanjutannya