Pelangi Senja

Pelangi Senja
(Bonus chapter) Resepsi pernikahan David dan Naimah


__ADS_3

"Ya ampun, kenapa wajah pak RT pucat?" tanya Daffa antusias, ia mengambil tisu dan segelas sirup lalu menyodorkan di depan pak RT. 


Daffi menggandeng tangan pak RT dan mengajaknya masuk.


Acara resepsi sudah hampir dimulai, selain tamu dari kerabat dan rekan ayah Randu, warga kampung pun sudah tiba di sana.


Seperti janjinya, bunda mengundang warga kampung di acara resepsi pernikahan David dan Naimah, ayah Randu menyediakan beberapa bus bagi mereka yang mau datang untuk meramaikan acara yang digelar di hotel berbintang.


"Tadi pak RT mabuk," jawab Mumun mengejek, ia menyunggingkan bibirnya seraya melewati tubuh tegak pak RT yang masih lemas.


Tak seperti biasanya, Mumun berpenampilan lebih sopan, wanita itu memakai dres selutut berwarna hitam dan kerudung yang membelit lehernya. 


"Bus nya terlalu dingin, jadi aku masuk angin," kilah pak RT dengan raut wajah malu. 


Daffa dan Daffi tertawa keras melihat pria tua itu. Pertemuannya di kampung membuat mereka lebih akrab karena saling kocak. 


Daffa mendekatkan bibirnya di telinga pak RT dan berbisik. 


"Katanya mau kawin lagi, masa naik bus saja mabok, malu sama Mumun, nanti  kalau nggak kuat malam pertama gimana? Burungnya masih bisa berdiri nggak?" ucap Daffa tanpa filter. Ia meremehkan kejantanan pak RT yang kini mempunyai tiga anak. 


Pak RT menatap beberapa tamu yang baru saja masuk, ia terpesona dengan orang kota yang nampak bening mengkilap. 


"Calonnya kan sudah nikah," cetus pak RT menghabiskan sirup yang tinggal separo. 


"Mumun masih single," tukas Daffi menatap jalan Mumun yang megal-megol menirukan gaya bebek. 


"Nggak mau ah, kemarin aku lihat dia main sama Mang Asep di semak-semak belakang rumah."


"What…"


Daffa nyengir lalu menatap wajah Mumun yang mengedipkan satu mata ke arahnya. 


"Main apa, Pak?" tanya Airin yang baru saja datang, ia penasaran dengan pembahasan Daffa dan pak RT yang nampak sangat serius. 


Daffa menoleh menatap Airin yang nampak cantik dengan balutan gamis berwarna pastel. 


"Main nganu," jawab pak RT tanpa berkedip, sama seperti Daffa yang jatuh cinta pada gadis manis itu, pak RT pun langsung jatuh cinta pada pandangan pertama.


"Nganu?" ulang Airin menyelidik. 


"Lebih baik kamu sama Asyifa, nanti kalau mendengar penjelasan pak RT bisa  kesambet," pinta Daffa menggiring Airin menuju tempat duduk yang ada di depan pelaminan. 


Daffa kembali menemui pak RT. Selang satu bulan ia rindu dengan kegaduhan yang terjadi di rumah Naimah, dari kursi yang ambruk hingga kejadian di rumah pak RT. 


"Terus gimana sekarang? Rencananya pak RT mau kawin sama siapa?" tanya Daffa memastikan. 


"Pak RT menatap istrinya yang membaur dengan tamu yang lain, lalu menatap Daffa dan Daffi yang duduk di sisi kiri dan kanan. 


"Gadis itu anak siapa?" tanya Pak RT menunjuk punggung Airin yang masih terlihat. 


Seketika Daffa meninju perut Pak RT dengan pelan. 


"Itu calon istriku, nggak boleh." 


Pak RT manggut-manggut mengerti. 


"Kalau calon istri kamu mana?" tanya pak RT pada Daffi. 


Daffi menunjuk Alara yang ada di samping Alisa yang membuat pak RT langsung geleng-geleng. 


"Kalau gitu aku nggak jadi kawin."


Daffa dan Daffi terkekeh melihat pak RT yang putus asa.

__ADS_1


Suasana pesta semakin meriah, warga kampung nampak bahagia dengan jamuan yang serba istimewa. Tampilan artis papan atas membuat mereka kagum dan meminta foto bersama, bahkan salah satu dari mereka menganggap ini adalah pesta termewah yang didatangi. 


Jika yang lain sibuk menikmati acara yang silih berganti, si kembar sibuk mengintimidasi pak RT yang masih linglung. 


Tak hanya sampai di situ, kekocakan mereka pun dibawa ke panggung, si kembar memaksa pak RT yang mempunyai suara fals untuk menyanyi, hingga semua tamu tertawa melihat penampilan pria itu. 


Kali ini Daffa dan Daffi menampilkan sebuah lagu khusus untuk Airin dan Alara. 


"Lagu ini dipersembahkan untuk calon istri kami berdua." Daffa menunjuk dirinya dan Daffi bergantian. 


Ia menghampiri pemandu musik lalu kembali berdiri di depan tamu undangan.  


"Judulnya, Cinta sampai mati." 


Duhai engkau, sang Belahan Jiwa


Namamu terukir dalam pusara


Di setiap langkah, ku selalu berdoa


Semoga kita bersama


Duhai engkau, tambatan hatiku


Labuhkanlah cintamu di hidupku


Ku ingin kau tahu betapa merindu


Hiduplah engkau denganku


Dengarkanlah


Di sepanjang malam, aku berdoa


Bersujud dan lalu aku meminta


Semoga kita bersama


Dengarkanlah


Di sepanjang malam, aku berdoa


Dan aku pasti setia


Ho-oh-oh


Ho-wo-oh-ho-oh-wo-wo-ho-oh


Ho-wo-uh-wo-oh-uh


Duhai engkau, tambatan hatiku


Labuhkanlah cintamu di hidupku


Ku ingin kau tahu betapa merindu


Hiduplah engkau denganku


Dengarkanlah


Di sepanjang malam, aku berdoa


Bersujud dan lalu aku meminta

__ADS_1


Semoga kita bersama


Dengarkanlah


Di sepanjang malam, aku berdoa


Dan aku pasti setia


dengarkanlah


(Di sepanjang malam, aku berdoa)


Ku berdoa (bersujud dan lalu aku meminta)


Dan meminta (semoga kita bersama)


Wo-oh, dengarkanlah


Di sepanjang malam, aku berdoa


Dan aku pasti setia


Ku setia


Suara tepuk tangan mengiringi si kembar yang turun dari panggung. Hampir semua kaum hawa mencubit pipi si kembar hingga pria itu meringis.


Daffa dan Daffi menghampiri Airin dan Alara yang duduk diantara tamu yang lain. 


"Lagi apa?" tanya Daffa tanpa permisi. 


"Lagi dengerin suara kakak, merdu banget, tapi bukan itu yang membuat aku bahagia."


"Lalu apa?" tanya Daffa meminum jus milik Airin yang masih separo. 


"Arti dari lagunya, aku terharu."


"Apa aku boleh duduk di sini?" tanya Daffi menatap Alara yang sedikit menunduk. 


"Silakan," jawab Alara malu-malu, ia nampak ragu untuk menatap wajah Daffi, meskipun ada rasa rindu yang mengendap, faktanya ia tetap saja canggung.


"Suara kakak bagus, tapi aku lebih suka jika kakak menyanyikannya dengan hati." 


Daffi tersenyum, "Itulah isi hatiku, aku berharap kita bisa bersama, meskipun kamu jauh, aku akan tetap menjaga hatiku untukmu," ucap Daffi tak kalah romantis. 


"Gimana kabarmu?" tanya Daffi basa-basi. 


"Alhamdulillah baik."


"Aku juga baik, tapi akan lebih baik jika dekat kamu," ucap Daffi mulai menggombal, dan seketika membuat Daffa terpancing untuk melakukan  kekonyolan yang lebih. 


Daffa menjulurkan lidahnya, meremehkan kembarannya yang mulai jago membual. 


"Lihat aku ya, gini cara gombalin cewek."


Daffa menatap Airin dengan lekat.


"Sayang, kok kamu cantik sih, pakai bedak apa?" tanya Daffa menaik turunkan alisnya. 


Meskipun suara musik itu sangat bising, tak menyurutkan Daffa dan Daffi untuk membuat pacarnya itu tersipu. 


"Memangnya kenapa tanya-tanya?" tanya Airin balik. 


"Aku akan beli pabrik bedak yang kamu pakai."

__ADS_1


Airin mengatupkan bibirnya, ia tersipu mendengar bualan calon suaminya. 


Ah, bualan anak sultan yang sangat menggiurkan, namun Daffa dan Daffi tak sembarang menggombal pada seseorang, dan satu-satunya wanita yang menerima itu adalah Airin dan Alara. 


__ADS_2