Pelangi Senja

Pelangi Senja
Awalku memilihmu


__ADS_3

Menikah dengan Raisya bukanlah harapanku. Dua puluh hari kami terikat dalam sebuah pernikahan yang sah di depan agama dan negara, disaat itu aku belum memberikan apa-apa padanya termasuk nafkah batin. Aku tahu itu dosa besar. Tapi apa daya, keadaanku masih terjerumus dalam cinta dan janji pada wanita lain. Aku terperosok dalam sebuah lubang yang membuatku enggan untuk bangkit lagi. Kenyamanan yang Alisa berikan mampu menjerat bayang-bayang hidupku untuk terus menatapnya tanpa berpaling. 


Aku menyaksikan Raisya saat memasak dari meja makan, bibirnya selalu mengulas senyum seperti tak mengemban beban sedikit pun. 


Dia datang dan menyuguhkan nasi goreng di depanku, lengkap dengan lalapan dan telur mata sapi kesukaanku. 


"Silahkan di makan, Kak. Kalau rasanya kurang, nanti bilang, biar besok aku tambahi bumbunya," katanya dengan sopan. 


Meskipun aku selalu bersikap cuek, dia tak henti-hentinya menciptakan suasana baru.


Aku mulai menyuap satu sendok dan mengunyah pelan, lalu aku merasakannya sedikit demi sedikit.


Dia menatapku dengan tatapan sendu, kedua alisnya terpaut seperti menahan rasa takut. 


"Kenapa, Kak? Kalau rasanya tidak enak biar aku buang." Raisya meraih piringku, seketika aku mencegahnya.


"Enak, seperti masakan bunda," kataku. 


Akhirnya aku memakannya lagi sampai habis.


Raut wajah nya nampak bahagia, padahal itu hanya pujian kecil yang sebelumnya tak pernah aku sematkan.


Dia meraih tanganku dan menggenggam ya.


"Kak, jika kita berpisah nanti, aku ingin Kakak mengantarku ke rumah ayah dengan baik-baik, aku ingin tetap menjalani hubungan kita seperti dulu. Seperti sebelum kita menikah."


Ucapannya itu membuat hatiku tersayat dan sakit, dia yang aku abaikan bisa menerima keadaan yang sangat sulit itu, sedangkan aku masih kekanak-kanakan dan terus membuatnya menangis.


Aku menunduk menatap piring yang sudah kosong.


"Tapi bagaimana dengan ku, pasti ayah dan bunda akan memarahiku?" 


Dia beranjak, jari lentiknya menyentuh pundakku.


"Aku akan membantu kakak menjelaskan pada bunda dan ayah, sekarang kakak tidak perlu khawatir lagi," katanya menyejukkan, tapi itu malah membuat hatiku terbakar dengan ucapanya, jika ia santai, itu artinya dia tidak mencintaiku, itu pikirku.


Dia mengambil piring dan membawanya ke belakang. Aku beralih ke ruang keluarga, rumah sangat sepi hingga aku sering keluar meninggalkannya saat libur.

__ADS_1


"Kakak tidak keluar?" dia berteriak dari ruang makan, seperti mengingatkan kebiasaanku.


"Tidak," jawabku dengan nada tinggi.


Aku menoleh, menatapnya yang sedang sibuk menyapu.


Aku pun menghampirinya dan meraih sapu yang ia pegang. Rasanya ingin menjahilinya.


"Tidak usah, Kak. Aku juga libur," katanya mengambil sapunya kembali. Watakku yang lebih keras tak mau kalah, aku merebut sapu dari tangannya dan membawanya lari ke ruang tengah.


Dia berkacak pinggang, baru pagi itu aku melihat wajahnya sangat manis, bocah cilik yang aku sering lihat itu telah berubah menjadi gadis cantik yang berhijab dan baik.


"Bantu aku, sini!" Aku melambaikan tangan ke arahnya yang mematung di tempat.


Dia mendekati aku lalu mengambil beberapa bungkus snack yang berserakan.


"Ini kapan makannya? Pantasan, kulkas sering kosong, aku kira ada tikus yang masuk."


Aku terkekeh saat melihatnya jengkel. Wajahnya semakin menggemaskan.


"Ternyata kakak," imbuhnya, dia berjongkok, kepalanya mendongak menatapku dengan tatapan kesal.


"Nggak papa __" jawabnya terpotong saat ponselku yang ada di meja itu berdering. 


Aku dan Raisya sama-sama menatap nama yang berkelip di layar, ternyata nama Alisa. 


"Permisi…" Raisya beranjak lalu pergi meninggalkanku.


Aku meraih ponsel itu dan menatap punggung Raisya yang semakin menjauh. Aku sontak, teringat pada bunda Arum yang dulu sangat menyayangiku.


"Aku sudah menyakiti anak Bunda," kataku lirih, aku meletakkan ponselku kembali tanpa mengangkatnya.


Air mataku menetes membasahi pipi. Aku menganggap diriku anak durhaka yang sudah berani melawan bunda dan ayah juga orang-orang terkasih.


Raisya kembali menghampiri ku dan membawakan kopi hitam untukku.


"Kakak nangis?" tanya nya sembari mengusap pipiku.

__ADS_1


Aku menatapnya lagi, untuk yang kesekian kali dia terus tersenyum di depanku.


"Tidak," jawabku memalingkan wajah. Aku malu saat dia nampak mengejekku.


"Cengeng," katanya, padahal aku tahu hati seorang wanita lebih rapuh, dan ia hanya berusaha kuat saat di depanku.


"Sebenarnya apa yang kamu harapkan dari pernikahan ini, sedangkan kamu tahu kalau aku tidak mencintaimu."


"Ibadah, aku ingin membahagiakan orang tuaku, banyak di luaran sana yang nikah tanpa saling cinta. Tapi, akhirnya mereka diberi anugerah dan bisa saling mencintai, awalnya aku juga berharap seperti itu, tapi sekarang  tidak, aku tidak akan mengharapkan cinta dari kakak. Aku rela menjadi janda asalkan tidak membebani orang lain dalam hidupku," Katanya yang sangat menusuk kalbu.


Dia pergi lagi, kali ini tidak ke belakang, melainkan ke kamar. Aku lihat matanya berkaca, dan pasti dia menumpahkannya di belakangku.


Aku langsung meletakkan secangkir kopi itu dan pergi dari rumah. Aku ke rumah bunda untuk meminta pencerahan.


Aku memeluk Bunda yang duduk di taman, beliau menatap ke arah matahari yang mulai meninggi.


"Ada apa, Van? Mana Raisya?" tanya Bunda. 


"Dia tidak ikut," kataku dengan nada rendah.


Bunda menghela napas panjang lalu menepuk-nepuk tanganku.


"Bunda tahu, kalau kamu tidak mencintai Raisya, bunda tahu kalau pernikahan ini membuatmu tersiksa, tapi harus kamu tahu, bunda pernah berada di posisi Raisya. Apa kamu mau mendengar cerita bunda?"


Aku mengangguk, karena selama ini yang aku tahu bunda dan ayah itu bahagia dan tidak pernah mendapat masalah. 


"Bukan maksud bunda membuka aib ayah, bunda hanya ingin memberi pelajaran buat kamu."


Aku diam dan mulai meresapi setiap perkataan bunda. 


"Dulu bunda menikah dengan ayah juga tidak saling cinta, bahkan ayah dengan sengaja menikahi orang lain tanpa persetujuan bunda, rasanya sangat sakit, ayah sering bermesraan dengan istri mudanya, dia mengabaikan bunda dan kamu yang waktu itu masih ada dalam kandungan. Setiap malam bunda hanya berselimut dingin tanpa belaian seorang suami, tapi bunda harus kuat demi kamu, seandainya kamu tahu waktu itu, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Bunda seperti mengujiku. 


Aku tidak menjawab, aku merasa seakan ada di posisi ayah yang sangat jahat. 


"Tapi aku tidak mencintai Raisya, bund," kataku. 


"Bukan tidak, tapi belum, percayalah pada Bunda, kalau Raisya adalah gadis yang sangat sempurna untuk melengkapi hidupmu."

__ADS_1


Sejak saat itu aku mulai berpikir jernih, aku menyisipkan nama Raisya di dalam hati, hingga akhirnya aku memilihnya untuk menemani hidupku, dia adalah pelangi senja yang hanya mewarnai hidupku. 


__ADS_2