
Alfan tidak main-main dengan ucapannya. Selain berani mengatakan lamarannya langsung di depan om Andre dan tante Aida, Ia pun mengatakan di depan Camelia dan ayah Emir, tak ada rasa canggung sedikit pun baginya, malah ini kesempatan yang sangat bagus untuk segera melangsungkan pernikahan. Membuktikan jika dirinya serius.
"Kok buru-buru sekali, apa kamu dan Alisa sudah __"
"Tidak, Tante," tukas Alfan seketika memotong ucapan Camelia.
"Aku ingin merawat Alisa dengan cara yang halal. Aku tidak mau ada jarak di antara kami. Bukankah itu lebih baik, Bunda?"
Bunda Sesil tersenyum dan menatap dokter Agung sekilas, itu yang selalu ia ajarkan pada Alfan. Tidak boleh sembarangan dengan perempuan yang bukan mahram, apalagi sampai melewati batas, meskipun terkadang menjengkelkan karena sudah bergonta-ganti cewek, setidaknya pria itu masih menggenggam sebuah pesan yang sangat berarti.
"Iya, tapi bunda ingin mendengar langsung kalau Alisa menerima kamu."
Kini semua mata beralih menatap Alisa yang ada di atas brankar.
"Tidak baik menggantung, Nak. Jawab saja, kami semua tidak akan memaksa." Ayah Emir pun membuka lampu hijau, tapi tetap harus Alisa sendiri yang memutuskan.
Alisa menatap Devan dan Raisya yang ada di depan pintu. Mereka tersenyum dan mengangkat kedua jempolnya. Lalu menatap Alfan yang duduk di antara bunda Sesil dan dokter Agung yang terus cengengesan.
Baru saja membuka mulut, Alfan mengangkat tangannya ke atas hingga mengurungkan niat Alisa yang ingin membuka suara.
"Pertanyaan untuk Alisa diganti."
Semua orang mengangkat bahu, bingung dengan Alfan yang penuh dengan teka-teki.
"Apalagi?" tanya dokter Agung yang kali ini tak bisa membaca keinginan putranya.
Alfan berdiri dan berjalan menghampiri Alisa.
"Apakah kamu mau menikah denganku sekarang?" tanya Alfan.
"Maksud kamu?" Sontak Alisa mengerutkan alisnya.
"Maukah kamu menikah denganku sekarang juga?" ulang Alfan untuk yang kedua kali, dan berharap Alisa tidak bertanya lagi.
Deg deg deg
Jantung Alisa berirama lebih cepat seakan mau loncat. Ia tak tahu lagi harus menjawab apa, pertanyaan Alfan terkesan memaksa, sedangkan ia belum siap lahir batin untuk menjadi seorang istri dari pria yang belum ia kenal sepenuhnya.
__ADS_1
"Tapi aku belum siap. Bukankah ini terlalu cepat?"
"Kamu dan Devan berhubungan sangat lama, bahkan sampai lima tahun. Apa yang kamu dapatkan? Hanya kenangan manis yang kini kamu kubur. Sakit hati karena tidak berjodoh, melupakan seseorang yang kini menjadi milik orang lain. Pasti semua itu sulit bagimu."
Sialan, kenapa hubunganku di bawa-bawa, dasar playboy cap kutu, gerutu Devan dalam hati, ia tak mau Raisya mendengar ucapannya yang masuk dalam daftar tidak sopan.
"Aku tahu ini terlalu cepat, aku hanya ingin menyembuhkan luka kamu dengan cara menemani hari-harimu, aku tidak akan menuntut hak sebagai seorang suami, dan percayalah kalau aku tidak akan membuatmu terluka lagi."
Bunda Sesil menitihkan air mata, ia terharu dengan putranya, meskipun Alfan sangat buru-buru dengan keputusannya, ia tahu niat dari putranya sangat mulia. Apalagi Alfan sudah mempunyai pekerjaan yang mapan dan sudah cukup umur untuk membina rumah tangga.
Aku harus jawab apa, kalau aku menolak Alfan, belum tentu ada lagi pria yang setulus dia. Mama dan ayah kelihatannya juga menyukainya. Keluarga Alfan juga sudah mengenal mama, tapi bagaimana kalau aku tidak bisa mencintainya.
"Beri aku waktu lima belas menit untuk berpikir, dan tinggalkan aku sendiri."
Semua keluar dari ruangan itu, menyetujui permintaan Alisa.
"Aku tunggu."
Sementara di luar semua orang saling berbincang, Alisa memutar otaknya. Ia benar-benar bingung dengan permintaan Alfan.
Alisa turun dari ranjang, berjalan pelan menuju jendela depan, cuaca yang sangat cerah membuatnya bisa berpikir tenang.
Alisa mengusir rasa ragu yang bersemayam dalam hatinya, ia merapikan rambutnya, berjalan menuju pintu dan membukanya.
Alfan yang dari tadi ngobrol dengan Devan langsung menghampiri Alisa yang mematung di ambang pintu.
"Apa kamu sudah bisa menjawab sekarang?" tanya Alfan antusias.
Alisa mengangguk pelan, meskipun ia masih sedikit gugup, Alisa tak bisa menghindar lagi.
"Apa jawaban kamu?" Alfan semakin tak sabar dengan jawaban Alisa.
"Aku setuju," jawab Alisa dengan lugas.
Semua mengucap hamdalah dengan serempak dan tiba-tiba saja si kembar datang dengan pria tua yang memakai jas.
Ayah Mahesa mengernyitkan dahinya melihat kedua putranya kompak menggandeng pria itu.
__ADS_1
"Ini kak, penghulunya."
"Ya Allah Daffa Daffi, kalian dari mana saja?" tanya bunda Sabrina.
"Dari KUA, kami disuruh kak Alfan menculik pak penghulu," ucap Daffa jujur, karena itulah yang diminta Alfan sepuluh menit yang lalu. Bukan hanya penghulu, Daffa juga membelikan cincin kawin untuk Alfan.
Ayah Mahesa menepuk jidatnya, ia tak habis pikir dengan si kembar yang sudah bertindak konyol.
"Sebenarnya ini ada apa, Pak? Kenapa saya di bawa ke sini?" tanya Penghulu menatap semua orang bergantian.
Ayah Mahesa tertawa kecil, malu dengan kelakuan anaknya yang di batas kewajaran.
Raisya Dan Devan hanya cekikikan melihat adiknya yang nampak polos. Namun, jangan ditanya lagi, kalau masalah cewek, mereka maunya polosan.
"Maafkan anak saya, Pak. Mereka memang seperti itu, di sini ada yang mau menikah, bapak tolong nikahkan mereka." Menunjuk ke arah Alfan dan Alisa bergantian.
"O, penghulu itu hanya manggut-manggut mengerti.
Hanya memakai kemeja kotak dan celana jeans berwarna hitam, Alfan sudah duduk di depan om Andre dan penghulu, sedangkan Alisa pun masih mengenakan baju rumah sakit, dengan rambut yang terurai panjang, wajah tanpa balutan make up, namun tetap terlihat cantik, Alisa siap menjadi istri Alfan.
Detik-detik acara sakral dimulai, dan itu membuat Alisa semakin gugup. Meskipun Alfan sudah berjanji akan setia, masih ada rasa takut pada diri Alisa yang pernah patah hati.
Ya Allah, ridhoilah hubunganku dan Mas Alfan.
Penghulu mengucapkan ijab dengan lugas, dilanjutkan ucapan qabul dari Alfan hingga suara sah menggema dari saksi dan semua orang yang hadir termasuk beberapa dokter yang menyaksikan pernikahan itu.
Acara yang terakhir sang penghulu berdoa untuk kedua mempelai.
"Alhamdulillah, semoga pernikahan mas Alfan dan mbak Alisa langgeng," doa penghulu.
"Aamiin."
Alfan menghampiri Alisa dengan sebuah kotak di tangannya. Ia menyematkan cincin berlian tanda ia sudah mengikat Alisa secara sah. Bergantian, Alisa juga memakaikan cincin di jari manis Alfan.
"Sekarang jangan ragu meminta apapun padaku. Aku suami kamu."
Alfan mencium kening Alisa dengan lembut dan lama.
__ADS_1
Ini bagaikan sebuah mimpi di siang bolong, itulah Alisa mengartikannya. Dalam sekejap Alfan mampu mengubah statusnya menjadi seorang istri.