
Daffa tersenyum menang. Wajah manusia otak kancil, itulah yang pantas disematkan untuk si kembar, terutama Daffa. Pikirannya sangat lincah dan mampu membalikkan keadaan dalam sekejap.
"Aku maafkan kakak, sekarang lepaskan."
Daffa mengendurkan pelukannya. Meskipun enggan, ia tetap menepati janjinya.
Airin kembali ke sofa diikuti Daffa dari belakang.
"Ini jaket, kenapa dibuang?"
"Mama yang suruh, ngapain membelikan kado untuk orang yang egois dan mementingkan diri sendiri, tidak mau bertanya dulu langsung marah, cemburu tak jelas, cuek, bikin orang gedeg."
Airin menirukan ucapan mama Aya tadi sore.
"Calon istriku pinter banget ngomongnya, mau jadi calon penceramah, ya?"
Airin mengatupkan bibirnya, menahan tawa melihat Daffa yang terus mengusap wajah di pangkuannya.
"Aku janji, tadi yang pertama dan terakhir." Daffa mengangkat dua jarinya ke atas.
"Jangan janji doang, tapi harus ditepati."
Airin menguap, karena kepalanya sedikit pusing membuatnya ngantuk.
Airin membaringkan tubuhnya, kepalanya tepat berada di belakang kepala Daffa yang duduk di bawah.
"Terus kenapa tadi nggak balas chat ku?"
"Nggak boleh sama mama, mama bilang kalau aku nggak boleh peduliin kakak lagi," ucap Airin dengan suara pelan.
Ah, Mama mertua, kenapa gitu si, sama menantunya.
Tangan yang tadinya mengusap rambut Daffa kini sudah turun dan bersandar di pundak.
"Tadi kamu mengadu pada mama kalau aku cuekin?" tanya Daffa tanpa menatap Airin, ia sibuk memainkan game yang hampir finish.
Tak ada jawaban, hanya suara tv yang menghiasi telinga Daffa.
Yesss
Daffa melayangkan pukulan ke atas saat permainannya berakhir dengan sempurna.
Ia meletakkan ponselnya di sela-sela bungkus snack dan beberapa toples lalu menoleh. Senyum mengembang di bibir Daffa saat melihat sang kekasih yang terlelap.
Cepet banget tidurnya.
Daffa ikut berbaring di bawah, berharap Airin jatuh dan menimpa dirinya. Akal bulusnya langsung bereaksi saat ada kesempatan.
Sudah hampir dua jam Daffa menemani Airin, dan belum ada tanda-tanda ayah Randu dan mama Aya pulang. Daffa semakin betah di sana, meskipun Airin tidur, setidaknya ia bisa melihat wajah cantik gadis itu.
"Aku tidak bermaksud menyakitimu, aku hanya cemburu melihatmu dekat dengan laki-laki lain," gumam Daffa, ia terbangun, beranjak dari duduknya dan meraih jaket yang dikenakan lalu menutup tubuh Airin.
Daffa kembali duduk, ia sudah menghabiskan secangkir kopi ditemani cemilan yang ada di meja lalu memainkan ponselnya kembali. Beberapa pesan dari Daffi masuk, namun tak ia hiraukan.
Napas Airin sudah teratur, pertanda jika gadis itu sudah terbang ke alam mimpi.
__ADS_1
Kalau aku cium beneran gimana ya, apa Airin akan marah padaku atau bakal ketagihan.
Daffa mendekatkan wajahnya di wajah Airin hingga berjarak beberapa senti saja.
Ehem
Suara deheman dari belakang menggema.
Daffa menelan ludahnya dengan susah payah dengan mata terbelalak.
Apa ini suara Mister Randu, cepet banget pulangnya, kenapa nggak nginep sekalian.
"Kamu mau apa?"
Sebuah tangan menyentuh telinga Daffa dari arah samping.
Hehehe
Daffa cengengesan, ternyata Mama Aya dan ayah Randu sudah berada di belakangnya. Entah kapan datangnya, mereka bagaikan jelangkung.
Nanda berlari ke kamar.
"Maaf Ma, aku khilaf," cicit Daffa memelas.
"Mau cari kesempatan dalam kesempitan."
Daffa mengangguk yang membuat mama Aya semakin geram.
"Nggak papa, itu normal, kalau tidak suka sama perempuan itu yang meresahkan."
Mama Aya hanya melotot, namun ia tak bisa berbuat apa-apa selain mengalah apa kata suaminya.
Semua laki-laki sama saja.
"Ayah…."
Daffa mendekati Randu dan menggoyang-goyangkan tangannya seperti anak kecil yang minta beli mainan.
"Apa?" tanya ayah Randu merangkul Daffa. Menunjukkan keakrabannya di depan mama Aya.
"Minggu depan aku wisuda. Aku berencana langsung mau menikahi Airin."
Mama Aya mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Daffa.
"Tidak bisa begitu, Fa," tolak mama Aya lembut.
"Bisa, Ma." Seketika ayah Randu membela calon menantunya.
"Tunggu apa lagi, daripada anak kita dijajah sama dia sebelum halal, mendingan nikah."
Ayah Randu mengimpit kepala Daffa hingga pria itu susah bergerak, namun hatinya berbunga-bunga setelah mendengar persetujuan ayah Randu.
"Tapi, Mas__"
"Ma, " Lagi-lagi ayah Randu memotong ucapan Mama Aya.
__ADS_1
"Menurut ayah lebih baik mereka segera menikah, mau nunggu apa lagi, toh Daffa sudah siap."
Daffa tersenyum manis, untuk yang kesekian kali ia merasa lega sudah dibantu ayah Randu.
"Terserah deh, mama nggak ikut-ikutan."
Seharusnya memang begitu, karena ibu-ibu itu lebih ribet.
Mama Aya meninggalkan Daffa dan Ayah Randu yang saling tertawa.
Ayah Randu menatap putrinya lalu menggiring Daffa menuju ruang tamu.
"Kita harus bicara sebagai calon menantu dan mertua."
Daffa membenarkan kerah bajunya dan merapikan rambutnya, ia duduk di depan ayah Randu terhalang meja.
"Jangan bercanda," pesan ayah Randu sebelum memulai diskusi yang serius.
"Kenapa kamu ingin cepat menikahi Airin?" tanya Ayah Randu.
"Yang pertama, aku tidak mau terjerumus dalam dosa, karena setiap melihat wajah Airin pusaka ku ingin lepas. Aku juga tidak mau Airin diambil orang lain, dan yang terakhir, karena mengikuti sunnah rasul."
Ayah menatap bagian sensitif Daffa yang tertutup celana lalu manggut-manggut.
Sangat normal dan bisa membuatkan cucu untuk ku.
"Lalu apa yang ingin kamu berikan untuk putriku?"
"Cinta dan kesetiaan, karena harta saja tak cukup untuk memabngun rumah tangga yang bahagia."
"Kenapa kamu memilih Airin, padahal banyak wanita cantik di luaran sana."
"Airin mampu membuat jantungku berdegup kencang, dan hatiku berdebar-debar, jika di dekatnya aku merasa tenang dan nyaman."
Wih, anaknya mas Mahesa yang ini tak kalah hebat.
Ayah Randu menyanjung Daffa dalam hati, karena ia tak mau calon menantunya itu sombong jika mendengar pujiannya secara langsung.
"Ayah tidak akan menuntut apa-apa dari kamu, karena ayah yakin kamu sudah paham cara menjadi imam yang baik." Ayah Randu menepuk-nepuk punggung lebar Daffa.
"Jadi gimana, Yah? Apa aku boleh menikahi Airin setelah wisuda nanti?"
Hening, meskipun tadi sudah jelas ayah Randu setuju, pria yang ada di depan Daffa itu nampak mengulur waktu yang membuat Daffa tak sabar.
"Boleh, ayah bangga sama kamu karena sudah berani bicara sendiri."
Sekujur tubuh Daffa bagaikan tersiram air dingin, sangat sejuk mendengar ucapan ayah yang terakhir.
Saking senangnya, Daffa langsung berlari ke ruang keluarga, mengangkat tubuh Airin dan membawanya ke kamar.
Ayah Randu mengikutinya dari belakang dan membantu membuka pintu.
Daffa membaringkan tubuh Airin dengan pelan lalu tersenyum.
Minggu depan kamu milikku.
__ADS_1
Daffa menyelimuti tubuh Airin lalu keluar.