
"Ini resep yang harus Bapak tebus?" Raisya menyodorkan selembar kertas kecil di depan pasiennya yang terkena pterigium.
Pterigium adalah penyakit mata yang ditandai dengan tumbuhnya selaput pada bagian putih bola mata yang bisa mencapai kornea. Kondisi ini dapat terjadi pada salah satu mata saja atau kedua mata sekaligus, dan yang terjadi pada pasien kali ini hanya satu mata.
Dengan sabar Raisya menjelaskan pada pasiennya dengan apa yang harus dilakukan dan tidak. Meskipun hatinya merasa cemas dengan kejadian tadi pagi, ia tetap profesional dan tidak mau mencampur adukkan masalah pribadi dan pekerjaan.
"Terima kasih, Dok," ucap pria itu mendorong kursinya dan beranjak.
Setelah orang itu menghilang bersamaan pintu yang tertutup rapat, Raisya menghampiri suster Ely yang sedang mencatat laporan.
"Sus, apa penyakit pasien yang bernama Alisa itu parah?"
Suster Ely mendongak dan mengingat-ingat nama yang diucapkan Raisya.
"Sepertinya begitu, Dok. Dari data yang saya catat, ia harus menjalani perawatan yang intensif. Dia terkena maag kronis.
Ya Allah semoga Alisa cepat sembuh.
"Apa ada pasien yang harus ditangani lagi?" tanya Raisya.
"Tidak, Dok. Seharusnya ada, tapi tadi dia konfirmasi lagi tidak bisa datang, dan dia daftar besok saja."
"Alhamdulillah, Sus, saya ingin bertemu dengan Alisa. Tolong temani saya!"
"Dengan senang hati."
Kehadiran Raisya adalah warna baru bagi Suster Ely. Selain ramah, Raisya juga menganggap semua orang teman, tak ada atasan maupun bawahan, semua sama hingga seriap kalangan tak canggung untuk menyapa.
Setibanya di bawah, Raisya mengulas senyum melihat seseorang yang baru saja turun dari mobil. Meskipun kejadian tadi pagi mengusik hatinya, Raisya tetap pada pendiriannya untuk tidak menoleh ke samping.
"Kak Devan ke sini? Kenapa dia tidak bilang dulu?" Hatinya kembali berdebar-debar saat melihat suaminya membawa dua kantong kresek makanan di tangannya.
"Itu pasti untukku," terka Raisya dalam hati.
"Sus, jangan bilang kalau aku di sini ya," pinta Raisya. Ia berlari kecil ke arah belakang dan bersembunyi di balik pintu ruang tunggu. Ia ingin memberi kejutan dan melihat reaksi Devan setelah mengetahui ruangannya kosong.
Tak seperti biasanya yang langsung menuju lift, kali ini Devan berjalan ke arah resepsionis.
"Sus, ruangan atas nama Alisa di mana?" tanya Devan.
__ADS_1
Duarrrr
Bak tersambar petir di siang bolong, tubuh Raisya lemas seketika. Suster Ely yang ada di depan pintu segera berlari menghampiri Raisya yang hampir saja rubuh.
"Dokter tidak apa-apa?" tanya suster Ely pelan, takut Devan yang masih ada di depan itu mendengar suaranya.
Seketika Raisya menumpahkan air matanya dan merangkul erat suster Ely.
"Sus, apa suster mendengar ucapan kak Devan tadi? Dia menanyakan ruangan Alisa, bukan aku?"
Suster Ely hanya mengangguk, ia tidak tahu masa lalu Raisya dan Devan. Akan tetapi, sebagai wanita yang bersuami bisa menangkap guratan cemburu di wajah Dokter cantik itu.
"Sus, saya juga ingin ke kamar Alisa, saya hanya ingin tahu apa yang dilakukan kak Devan di sana."
"Baik, akan saya antar."
Suster Ely menggandeng tangan Raisya menuju ruangan Alisa. Tangan yang tadi terasa tenang itu berubah drastis. Gemetar dan dingin hingga mencengkeram jemari suster Ely dengan kuat.
"Ini ruangannya, Dok. Menunjuk salah satu ruangan VIP yang ada di ujung.
Pintu sedikit terbuka. Raisya menghentikan langkahnya. Menyandarkan punggungnya di dinding tanpa ingin masuk ataupun mengetuk pintu.
"Apa yang kamu bawa?" tanya Alisa dengan suara lemah.
"Kak Raisya mana, Kak?" Suara Mayra pun ikut menggema.
"Aku baru datang langsung ke sini. Tadi dia bilang mau makan siang dengan Syakila, dan mungkin sekarang dia sudah ada di restoran."
Raisya menahan dadanya yang bergemuruh hebat. Mengusir rasa cemburu yang menyeruak memenuhi dadanya, ia tak boleh egois dan terus berpikir positif.
"Aku akan menghubungi kak Devan. Kalau dia jujur, itu artinya dia memang hanya sekedar menjenguk Alisa, tapi __"
Raiya menggeser tubuhnya hingga berada di ujung lorong kemudian merogoh ponselnya yang ada di jas, sedangkan suster Ely yang masih berada di sampingnya hanya mengikuti pergerakan Raisya.
Tersambung
"Assalamualaikum, Sayang. Tumben kamu telepon, ada apa?" Suara manis menyapa, jika biasanya Raisya merasa bahagia, kini suara itu tak memberi respon apapun.
"Waalaikumsalam, Kakak ada di mana?"
__ADS_1
Raisya berkata dengan nada tenang, ia tak mau kalau Devan curiga.
"Aku sudah ada di bawah, sebentar lagi mau ke ruanganmu."
"Tepatnya di mana?" tanya Raisya selanjutnya.
Hening, Dari napas yang sedikit memburu, Devan pasti bingung untuk berkata, itulah menurut Raisya.
"Tidak usah di jawab, aku masih di luar kok, aku hanya takut kakak kecewa kalau menunggu lama-lama," ucap Raisya lalu menutup teleponnya tanpa salam.
Raisya mencoba mempertahankan keparacayaan yang sudah di bangun kokoh. Ia tak mau terlena dengan satu kata, yakin dan yakin akan cinta Devan padanya meskipun rasa sakit itu menembus ulu hati.
"Sus, temani saya ke restoran, saya ingin mendinginkan pikiran."
Suster Ely berdiri di depan Raisya dan menatap wajahnya yang sudah memerah, matanya digenangi air mata hingga sangat terlihat kalau wanita itu rapuh.
"Yang sabar, saya yakin mas Devan hanya menjenguk Alisa."
Raisya tersenyum getir dan menepuk pundak suster Ely.
"Saya terlalu berlebihan, seharusnya saya tidak mikir terlalu jauh, kak Devan mencintaiku, dan saya yakin akan selamanya seperti itu."
Raisya dan suster Ely meninggalkan rumah sakit. Seperti yang dikatakan tadi, ia langsung ke restoran yang ada di samping rumah sakit.
Di sana sudah ada Syakila yang duduk di tempat paling pinggir.
"Sudah lama, La?" tanya Raisya.
"Sudah, jam makan siang kan sudah setengah jam yang lalu, Kakak saja yang terlambat," ucap Syakila ketus.
"Maaf, aku banyak pasien, jadi baru bisa ke sini."
"Aku sudah pesan makan," ucap Syakila tanpa menatap.
Akhirnya Raisya menyerahkan buku menu pada Ely yang duduk di kursi sebelah. Baru beberapa menit singgah, makanan yang di pesan Syakila sudah datang. Menu kesukaan Raisya tersaji dengan lengkap. Namun, saat ini lidahnya terasa hambar, dan tak ingin menyentuhnya. Syakila menatap Raisya, sebagai teman dan ipar ia tahu ada sesuatu yang tersembunyi di balik wajah kusut itu.
"Kakak mau bicara apa?" tanya Syakila membuyarkan lamunan Raisya.
Tak ada jawaban, Raisya hanya tersenyum kecut dan kembali sibuk mengaduk-aduk makanannya tanpa ingin memakannya yang membuat Syakila semakin kesal.
__ADS_1
"Kalau tidak ada yang ingin kakak bicarakan, lebih baik aku pergi," ucap lagi Syakila.
Masih sama, tak ada reaksi apapun dari Raisya. Sehingga Syakila benar-benar beranjak dari duduknya dan pergi.