
Setelah beberapa hari menjalani perawatan di rumah sakit, akhirnya Syakila dan bayi Fairuz sudah dibawa pulang. Seperti rencana keluarga, malam ini akan ada acara makan bersama di rumah tersebut, itung-itung untuk mempererat tali silaturahmi dengan keluarga Afif yang jarang datang.
Seperti biasa, bunda tampil di dapur. Ia selalu menjamin makanan yang akan dimakan oleh seluruh keluarganya itu berkualitas. Meskipun banyak pembantu, bunda tak lepas tangan begitu saja dan terus ikut campur.
Sebagian keluarga sudah datang, hanya ada beberapa yang ketinggalan termasuk Devan yang hari ini lembur.
Si kembar sudah pasti lebih dulu di sana, kedua pria itu sangat tampan dengan baju kemeja kotak dan celana jeans berwarna putih. Mereka menjadi panitia menyambut para tamu yang datang silih berganti.
"Wah, pengantin usang datang juga." Daffa memeluk Alfan yang baru saja tiba.
"Se usang-usang nya aku, lebih usang kalian yang belum laku," cetus Alfan tak mau kalah.
Daffa menyunggingkan bibirnya.
"Kita bukan nggak laku, tapi memang belum. Lihat saja nanti, pasti kalian akan iri."
"Tapi sayang, malam ini Airin nggak bisa datang," sahut mama Aya dari arah ruang tamu.
Daffa menunduk, senyumnya langsung meredup saat mendengar kata itu.
"Dia kenapa, Ma?" tanya Daffa dengan pelan.
Alfan cekikikan dan tertawa.
Sukurin, emang enak, begitulah hati Alfan bersorak kegirangan.
"Kasihan deh lo, nggak ada pasangan." Alfan dan Alisa meninggalkan Daffa yang nampak suram.
"Nggak tahu, katanya kurang enak badan," jelas mama Aya.
Daffa menghampiri mama Aya dan berlutut di depannya.
"Mama serius?" tanya Daffa memastikan.
Mama Aya mengangguk tanpa suara.
Suasana semakin ramai, suara tawa riuh menggema menghiasi telinga. Mereka saling berbincang di setiap sudut ruangan besar rumah Afif. Namun, hati Daffa terasa hampa, ia merasa bersalah pada Airin yang saat ini ada di rumah, pesta acara yang seharusnya menciptakan bahagia itu malah membuat hati Daffa berdenyut karena ketidakhadiran Airin di sana.
"Apa aku telepon saja?"
Daffa membolak-balikkan ponsel yang ada di tangannya dan sesekali menggigitnya, ia memilih keluar untuk mencari ketenangan.
Saking tidak sabarnya, akhirnya Daffa benar-benar menghubungi Airin.
Tersambung
Daffa mengabsen lantai dan berdecak saat Airin tak menjawab teleponnya.
"Apa dia balas dendam padaku?"
Daffa mengirim pesan.
1.Assalamualaikum
Kenapa kamu nggak jawab telepon dariku
__ADS_1
Aku kangen sama kamu
Maafkan sikapku tadi siang
Kamu sakit apa, cepat sembuh ya
Aku mencintaimu
Beberapa pesan terkirim. Namun tak ada satupun yang dibalas yang membuatnya semakin cemas.
Dada Daffa bergemuruh, jantungnya berirama lebih cepat, ia tak mengerti apa yang menyelimutinya saat ini. Yang pastinya hatinya merasa tak tenang dengan balasan Airin.
Daffa menghampiri ayah Randu yang duduk bersama ayah Mahesa.
"Datang saja, di rumah ada bibi," ucap Ayah Randu.
Daffa menyambar jaketnya menghampiri Bunda yang ada di ruang makan.
"Bunda, aku mau jenguk Airin, katanya sakit."
"Hati-hati! "
Mama Aya hanya tersenyum kecil melihat kegelisahan Daffa.
Airin, maafkan aku
Hanya kata itu yang mengiringi Daffa saat membelah jalanan yang gelap. Selang tiga puluh menit, akhirnya Daffa tiba di depan rumah Ayah Randu, bertepatan dengan ia turun, Airin keluar dari rumahnya dan membuang sesuatu di tong sampah.
Sejenak gadis itu menatap Daffa yang masih mematung di samping mobil. Namun, Airin langsung kembali masuk tanpa menyapa.
"Ternyata dia marah sama aku."
Daffa melangkah dan berjalan menuju teras, matanya langsung menatap tong sampah yang ada di sisi pot bunga.
Ia melihat kotak yang berukuran sedang di sana, saking penasarannya, Daffa mengambil kotak itu dan membukanya, ternyata isinya sebuah jaket kulit kesukaannya.
Kenapa ini di buang? Kenapa tidak diberikan padaku? tanya Daffa dalam hati.
Daffa mengetuk pintu sembari membawa kotak tadi.
Bibi yang membuka, dari jauh ia melihat Airin duduk di ruang keluarga.
"Bi, aku mau bertemu Airin, tadi sudah izin sama ayah."
__ADS_1
Suara dentuman sepatu dan lantai semakin terdengar nyaring.
Airin menekan-nekan remot yang ada di tangannya, sedangkan yang satu lagi sibuk mengambil keripik kentang yang ada di toples.
"Rin," sapa Daffa.
Airin diam, ia tak peduli dengan Daffa yang mematung di sampingnya.
Hahahaha
Airin tertawa renyah saat melihat adegan lucu pada film yang diputar.
Mata Daffa ikut menatap tayangan tv lalu kembali pada wajah Airin.
"Rin, kamu dengar suara ku, kan?" ucap Daffa yang kedua kali.
Airin menunduk. "Dengar," jawab Airin dengan pelan.
"Kenapa tadi kamu tidak menjawab teleponku, aku khawatir sama kamu," ungkap Daffa dari hati.
Airin mendongak, menatap wajah Daffa dengan lekat.
"Aku kenapa, kakak yang kenapa? Tadi siang kakak diam, sekarang datang, apa maunya?" ucap Airin dengan nada tinggi.
"Kata mama kamu sakit, aku mau jenguk," jawab Daffa.
"Nggak usah, aku nggak butuh dijenguk." Airin melewati tubuh Daffa dan berlalu. Baru beberapa langkah, Daffa mendekapnya dari belakang. Pria itu memeluk tubuh langsing Airin dengan erat hingga sang empu panas dingin.
"Mama, ayah, tolong aku," teriak Airin sekencang-kecangnya, bibi yang ada di belakang pun tak datang menolong malah cekikikan.
"Nggak ada yang bisa nolongin kamu, semua orang nggak ada di rumah," ucap Daffa tepat di telinga Airin.
Gimana ini, mama rencana kita gagal, teriak Airin dalam hati.
Wajah Airin semakin pucat, ia bisa merasakan hembusan napas Daffa yang menyandarkan dagu di pundaknya, meskipun itu adalah kesalahan besar, Daffa tak peduli, yang penting baginya saat ini harus mendapat maaf dari Airin meskipun dengan cara memaksa.
"Maafkan aku," ucap Daffa mengiba.
"Aku gak mau, pokoknya kita putus," pinta Airin.
Bukan Daffa jika tak punya seribu cara membuat Airin luluh.
"Tidak bisa, pilihan kamu cuma dua, maafin aku dan aku akan lepaskan kamu, atau aku cium."
Airin menutup bibirnya dengan hijabnya dan menggeleng.
''Ancamannya tidak bermutu, kalau kakak nyium aku, paling ayah Mahesa yang bakalan marahin Kakak."
Disaat kondisi sudah genting, Airin masih mencoba memenangkan egonya.
"Biarin, kalau kita berciuman, pasti ayah bakal menikahkan kita, dan kamu tidak bisa lari dariku."
Airin menghentak-hentakkan kakinya. Ia semakin jengkel dengan Daffa yang tidak mau melepaskan pelukannya.
"Kakak, aku mohon lepaskan aku, ini salah. Nanti kalau ayah tahu pasti marah."
"Biarin, aku nggak takut, sebelum kamu memaafkan aku, kita akan tetap seperti ini.
Dasar kepala batu.
Tak ada jalan lain, demi menyelamatkan dirinya dari dosa, akhirnya Airin mau memaafkan Daffa.
__ADS_1