
Hampir dua jam setelah kembali dari restoran, hati Syakila tak bisa tenang. Ia dihantui bayang-bayang yang menjerumuskannya pada kesalahpahaman. Wajah Raisya terus melintas di otaknya. Tatapannya yang sendu tadi, matanya yang merah seakan adalah simbol hancurnya keadaan Raisya.
"Apa kak Raisya bersedih karena sikapku?"
Setelah puas mengabsen lantai ruangannya, Syakila duduk menggigit jari jari lentiknya bergantian. Rasa waswas semakin menggebu mengingat sikapnya yang acuh tak acuh beberapa hari ini dengan alasan yang tidak jelas.
Afif masuk dengan wajah lelahnya, hari ini pria itu pun sibuk dengan aktivitasnya. Tugasnya yang sangat padat hingga tak sempat bertemu Syakila, belum lagi ada salah satu rumah sakit yang memanggilnya.
"Mas, kamu sudah datang." Syakila berhamburan memeluk Afif. Memberikan sambutan hangat, mencurahkan rasa gundah yang dialaminya saat ini.
"Ada apa?" tanya Afif dengan suara berat. Membalas pelukan Syakila, mengurai rasa lesu yang seharian ini mengendap.
"Aku ingin bertemu dengan kak Raisya," ucap Syakila dengan bibir bergetar, menahan air mata yang hampir luruh.
Afif mengernyitkan dahi, "Bukankah tadi kamu sudah bertemu dengannya? Apa kamu dan dia tidak jadi bertemu?" tanya Afif bertubi-tubi.
"Kami bertemu, tapi karena kak Raisya tidak mau bicara, jadi aku tinggalin dia di restoran."
Afif mendesah, "Lain kali jangan egois. Aku sangat mengenal Raisya. Dia tidak mungkin melakukan apa yang kamu takutkan. Juga tidak mungkin mengambil posisi orang lain, dan dia tidak akan merebut apapun yang kamu miliki, termasuk aku" jelas Afif panjang lebar yang langsung diresapi Syakila. Seolah-seolah semua kesalahan memang ada pada dirinya gegara terus mengikuti hatinya yang sempit.
"Aku tahu, tapi semua sudah terlanjur, sekarang aku ingin minta maaf padanya. Mas harus menemaniku!"
"Sebentar, aku mandi dulu." Afif merenggangkan pelukannya dan ke kamar mandi.
Syakila menyambar ponsel yang ada di meja kerjanya dan menghubungi Raisya.
Tersambung, namun tidak diangkat. Syakila mengulanginya dua kali. Tetap sama, tak ada jawaban dari seberang sana.
Akhirnya Syakila mengirim pesan chat.
Kak, aku minta maaf, aku sudah salah menilai kakak, sekarang kakak ada di mana, apa kita bisa bertemu?
Pesan masuk, Syakila tersenyum renyah dan berharap Raisya membacanya.
Hampir lima menit, tanda dua centang yang berwarna abu-abu itu tak kunjung berubah juga membuat senyum Syakila yang sempat terbit itu meredup kembali.
"Kak Raisya tidak mau membaca pesanku, sekarang aku tahu bagaimana rasanya diabaikan," gumam Syakila.
__ADS_1
Syakila semakin tak sabar ingin bertemu Raisya, sampai ia menggedor-gedor pintu kamar mandi yang tertutup rapat.
"Sebentar, Sayang," jawab Afif sembari membuka pintu.
"Cepetan, nanti keburu kak Raisya pulang," rengek Syakila dengan manja.
Adzan menggema menandakan waktunya sholat Ashar, terpaksa Afif dan Syakila menjalankan kewajibannya sebelum bertemu dengan Raisya.
Suara lantunan Adzan yang merdu pun menghiasi telinga Devan yang sedang menunggu. Setelah bertemu dengan Alisa, ia memutuskan ke ruangan Raisya, selain ingin membicarakan tentang dirinya yang membantu Alisa, ia juga merasa tidak enak karena tidak jujur pada istrinya.
"Syakila dan Raisya kemana sih, kenapa sampai jam segini belum kembali?"
Seperti Syakila, Devan pun tak kalah khawatir, hampir dua puluh panggilan tak dijawab. Sepuluh pesan pun hanya masuk tanpa dibaca. Akhirnya devan melakukan video call, dan kali ini ponsel Raisya malah tidak aktif.
"Seharusnya tadi aku langsung jujur, kalau seperti ini, aku merasa bersalah. Sayang, kamu di mana sih?" gerutu Devan mengetuk-ngetuk meja menggunakan jari telunjuknya.
"Kak, buka pintunya!"
"Itu kan suara Syakila." Devan melompat dari kursi dan membuka pintu.
"La, di mana kakakmu?" tanya Devan tanpa basa-basi, ia mengedarkan pandangannya, menyapu seluruh lorong yang ada di depan ruangan istrinya.
"Dia belum kembali." Devan semakin frustasi. Ia masuk, lalu duduk dan kembali menghubungi Raisya, sendangkan Afif dan Syakila mengikutinya dari belakang.
"Nomornya nggak aktif, La. Ke mana dia?"
Syakila ikut panik, pikirannya buntu dan memilih untuk menumpahkan air matanya di pelukan Afif.
"Tadi dia ke restoran bersama suster Ely," ucap Syakila tersendat, ia merasa bersalah pada Raisya dan Devan.
Devan menekan tombol telepon.
"Halo, ini aku Devan. Tolong penggilkan suster Ely, suruh dia ke ruangan dokter Raisya, sekarang!" ucap Devan dengan tegang.
Selang beberapa menit, suara ketukan menggema, suster Ely masuk membawa seporsi makanan di tangannya.
"Permisi, Mas, Dok, ada apa ini? Kok ramai," tanya suster Ely meletakkan makanannya di meja makan kecil yang ada di samping kamar pribadi Raisya.
__ADS_1
Devan menghampiri suster Ely, wajahnya semakin memucat saat rasa gelisah itu semakin membuncah di ubun-ubun.
"Kata Syakila, tadi suster bersama Raisya?"
Suster Ely menunduk, meremas kedua tangannya yang mulai berkeringat.
Di bawah, ia pun terus cemas saat meninggalkan Raisya yang nampak termenung. Akan tetapi, suster Ely tak bisa menolak permintaan Raisya dikarenakan pekerjaan di rumah sakit yang melambai menunggunya.
"Ma… maaf, Mas. Tadi memang saya keluar dengan dokter Raisya, tapi setelah makan, beliau menyuruh saya balik duluan, dan saya kira dokter Raisya sudah balik. Jadi saya membawa makanan untuknya."
"Terus, itu kenapa kamu membawa makanan?" tanya Devan menyelidik, menunjuk soto kesukaan Raisya.
"Tadi di restoran, katanya dokter Raisya tidak selera makan dan menyuruh saya untuk menyiapkan makanan di sini."
Devan semakin frustasi, ia menjambak rambutnya dan terus berdecak. Merutuki kebodohannya sudah mengambil keputusan yang salah.
"Kamu ke mana sih, Sayang?" Hanya kata itu yang terus diutarakan.
Syakila, yang ada di pelukan Afif pun menangis tersedu-sedu, ia tak menyangka egonya yang tinggi membawanya pada rasa bersalah yang semakin dalam.
"Apa mungkin dia masih ada di restoran?" terka Afif. Devan membuka pintu ruangan dan keluar, tak peduli dengan sapaan orang-orang yang melintas, baginya saat ini menemukan Raisya lah yang terpenting.
Devan menyusuri ruas jalan menuju restoran, matanya terus berkeliling ke arah sekitar yang sangat ramai. Setibanya di tempat, ia langsung masuk dan bertanya pada penjaga dengan menunjukkan foto Raisya yang ada di ponsel miliknya.
"Dokter cantik ini," Menunjuk gambar Raisya yang ada di ponsel Devan, "Tadi kayaknya keluar pakai mobil, malah supirnya dilarang ikut, disuruh naik taksi."
Lagi-lagi Devan terkejut mendengar penjelasan satpam restoran itu.
"Jalannya ke arah mana, Pak?" tanya Devan.
Satpam itu menunjuk ke arah kiri, di mana itu adalah jalan rumahnya.
Semoga Raisya sudah sampai rumah. Aku harus jujur, aku tidak boleh menyembunyikan apapun darinya.
Suara ambulans menggema memasuki pintu gerbang rumah sakit. Devan menghentikan langkahnya dan menatap beberapa suster dan dokter berhamburan menyambut mobil itu. Mobil polisi pun menyusul di belakangnya. Salah satu suster menunjuk Devan yang masih berada bibir jalan, hingga seorang polisi menghampirinya.
"Apa betul mas yang bernama Devan, suami dokter Raisya?"
__ADS_1
Devan mengangguk tanpa suara.
"Saya hanya mau menyampaikan kabar duka, Dokter Raisya kecelakaan," ucap polisi dengan jelas.