Pelangi Senja

Pelangi Senja
Hamil


__ADS_3

Devan melepas sepatu dan melempar tasnya ke sembarang arah. Seperti biasa, sebelum menyentuh istrinya ia mencuci tangan dan kakinya.


"Sejak kapan dia mual dan pusing, Sus?" tanya Devan dengan napas ngos-ngosan.


"Satu jam yang lalu, Mas," jawab suster Ely yang mematung di samping ranjang.


Devan naik ke atas kasur dan merengkuh tubuh Raisya dari belakang lalu menempelkan punggung tangannya di kening Raisya.


"Nggak panas." Devan beralih menempelkan tangannya di dada Raisya yang tertutup hijab, dan ternyata sama, suhunya sangat normal.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Devan berbisik sembari mengelus pipi Raisya dengan lembut.


"Tidak kenapa-napa, Kak. Cuma pusing dan mual." Meskipun mulutnya berbicara, tapi mata Raisya tetap terpejam untuk menahan isi perutnya yang terasa ingin naik.


"Sus, panggilkan Syakila, sekarang juga!"


Raisya menarik tangan Devan saat rasa mual itu mulai menyeruak.


''Kakak, aku mau ke kamar mandi," ucap Raisya sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Devan beranjak dan mengangkat tubuh mungil itu, sedangkan Suster Ely membantu membukakan pintu setelah menghubungi Dokter Syakila.


Hoeeekkk…. Hooeek….


Devan memijat tengkuk leher Raisya dengan lembut, ia ikut merasa ngilu melihat cairan bening yang terus keluar dari mulut Raisya.


"Sus, kapan terakhir dia makan?" tanya Devan.


Dokter Raisya tidak mau makan, Mas. Tadi cuma minta di beliin susu kedelai sama keripik kentang, itupun hanya di makan sedikit."


Devan mendengus kesal, bukan pada Raisya, tapi pada dirinya sendiri yang lupa mengingatkan Suster Ely, karena tadi pagi Raisya pun tak sarapan, hanya minum susu dan sepotong roti bakar.


Syakila datang dengan wajah cemasnya, ia langsung menerobos masuk ke kamar mandi.


"Kak Raisya kenapa, Kak?" tanya Syakila antusias. Perutnya yang sudah mulai membuncit tak menyurutkannya untuk tetap semangat bekerja.


"Aku juga baru datang, katanya pusing dan mual."


Setelah isi perut itu kosong, Raisya kembali bersandar di dada Devan. Tubuhnya semakin terasa lemas dan tak kuat untuk berjalan.


Setibanya di ranjang, Syakila langsung memeriksa Raisya dengan teliti.


"Tekanan darahnya normal. Kak Raisya juga tidak demam, apa mungkin __"


Syakila merogoh ponselnya lalu menghubungi Dokter Mila, salah satu dokter yang bertugas di rumah sakit itu.


"Apa kakak sudah kasih tahu bunda dan ayah?" tanya Syakila, ia terus menggenggam tangan Raisya yang masih terasa dingin.


"Belum," jawab Devan singkat, untuk saat ini tak ada yang ia pikirkan selain Raisya yang ada di depannya.


Syakila keluar dan menghampiri Afif yang duduk di ruang kerja Raisya.

__ADS_1


"Mas, telpon bunda dan ayah, juga ayah Randu dan mama Aya, tapi jangan bilang kalau kak Raisya sakit, katakan kalau ada sesuatu yang ingin dibicarakan."


Afif mengangguk tanpa suara.


"Permisi, ada yang bisa saya bantu?" Dokter Mila datang dan langsung menghampiri Syakila yang duduk di ruang kerja Raisya.


"Kak Raisya mual, Dok. Apa mungkin dia hamil, tadi aku sudah memeriksanya, dan  semuanya normal."


"Baiklah, akan saya periksa.


 


Dokter Mila masuk ke kamar Raisya disusul Syakila, sedangkan Afif keluar menunggu keluarganya datang.


Baru saja memesan kopi, bunda Sabrina dan yang lain sudah tiba.


"Ada apa, Fif? Kenapa bunda dan ayah disuruh ke sini?" tanya bunda antusuas. 


"Kak Raisya tadi mual, sekarang lagi diperiksa sama dokter Mila."


Ayah Mahesa tersenyum, ia sudah hafal dengan dokter itu yang artinya akan  membawa kabar baik untuk keluarganya.


"Bagaimana keadaan Raisya, Sus?" tanya Bunda semakin cemas saat mendengar suara Raisya yang kembali muntah.


"Tenang saja, Bu. Dokter Raisya pasti baik-baik saja." Suster Ely tersenyum melihat kepanikan seluruh keluarga hangat itu.


"Kenapa aku tidak boleh masuk, Kak?" protes Daffa menunjuk dirinya dan Daffi bergantian.


"Di Dalam sudah penuh, apa kalian mau diusir kak Devan?" ujar Afif meyakinkan. 


Halah, bilang saja kalau anda butuh teman, Pak Dokter. Untung aku bukan ahli bedah, kalau itu sampai terjadi, aku cincang kamu, meskipun kakak iparku sendiri, gerutu Daffa dalam hati. 


Jadiin sate, timpal Daffi dalam hati pula.


Daffa mendengus lalu duduk di kursi yang terbuat dari besi mengkilap itu.


Dokter Mila ikut ke kamar mandi dan mendekati Raisya yang semakin lemah.


"Dok, saya bawa testpack. Sepertinya dokter sedang hamil."


Devan mengerutkan alisnya.


"Kok sepertinya?" 


"Umur kandungan dokter Raisya masih dini, jadi lebih baik tes dulu biar lebih akurat, setelah itu nanti baru di USG." Menyodorkan testpack di depan Devan.


Raisya diam, ia mengingat-ingat kapan terakhir kali menstruasi, dan kapan awal berhubungan intim dengan Devan.


Dokter Mila keluar dari kamar mandi, dan kini di tempat itu hanya ada Devan dan Raisya.

__ADS_1


"Kakak juga keluar!" pinta Raisya dengan nada lemah.


"Sayang, kamu itu masih lemes, nanti kalau jatuh gimana, lagi pula kita kan sering di kamar mandi berdua."


"Tapi aku malu."


"Kenapa harus malu. Aku kan sudah sering melihat sekujur tubuhmu, bahkan  waktu itu sempat lihat kamu ganti baju di depanku," goda Devan yang membuat wajah Raisya merona.


Daripada meladeni Devan yang tidak ada habisnya, Raisya melakukan apa yang diperintahkan Dokter Mila di depan Devan.


Ya Allah, apapun hasilnya, hamba yakin ini adalah yang terbaik. 


Selang beberapa menit, pintu kamar mandi terbuka. Semua berhamburan menghampiri Devan yang sedang menuntun Raisya keluar.


"Gimana, Nak?" tanya Bunda serius.


"Penasaran, kan?" Devan menunjuk satu persatu yang ada di sana, mulai dari ayah Mahesa hingga Naimah yang berada paling pinggir.


Semua nampak tegang, matanya menatap kedua bibir Devan yang saling mengatup dan terus mengikutinya hingga ke ranjang.


"Ayah, Bunda, Mama, Ayah, Raisya hamil."


Seketika tangis bahagia itu pecah. Mama Aya berpelukan dengan bunda Sabrina, sedangkan ayah Mahesa berpelukan dengan ayah Randu. Saling mencurahkan rasa Syukur atas Anugerah yang diberikan Allah.


"Ini hasilnya." Devan menunjukkan testpack yang ditandai dua garis merah itu kepada bunda.


"Devan, ayah ingin bicara sebentar."


Ayah Mahesa mengusap air matanya yang sempat lolos lalu keluar meninggalkan tempat itu.


"Istirahat dulu ya, nanti aku kembali."


Sebuah kecupan mendarat di kening Raisya sebelum ia meninggalkan wanita itu.


Ayah berhenti di sebuah balkon rumah sakit, tepatnya di samping salah satu ruangan khusus untuk rapat. Pria itu langsung membalikkan tubuhnya dan menatap  Devan yang masih berjalan ke arahnya. 


"Ayah pasti mau mengucapkan selamat untuk aku?" tebak Devan. 


Ayah langsung memeluk Devan dengan erat, menepuk-nepuk bahu lebarnya dan kembali menitihkan air mata. Pasalnya lidahnya kelu dan tidak bisa mengucap sepatah kata pun selain rasa Syukur atas kehamilan menantunya.


*****


Rekomendasi bacaan untukmu


Author : Novi putri ang


Judul: Kembaranku Maduku


Melati Atmaja dan Mawar Atmaja adalah saudara kembar yang terpisah sejak mereka kecil. Mereka dipertemukan kembali setelah dewasa. Diam-diam Mawar mencintai Rafael suami dari kakak kembarnya sendiri. Melati yang di anggap mandul dan tidak bisa memberi keturunan selalu dihina oleh ibu mertuanya. Hingga Mawar merebut suami kakaknya dan didukung oleh ibu mertuanya, karena saat itu Mawar sedang mengandung anak Rafael, setelah mereka melakukan hubungan terlarang itu. Bagaimana kisah hidup Melati selanjutnya, setelah saudara kembarnya menjadi penghancur rumah tangga dalam hidupnya?

__ADS_1


__ADS_2