Pelangi Senja

Pelangi Senja
Rencana tugas


__ADS_3

Tak seperti yang direncanakan, Sholat Dhuhur, makan lalu istirahat, kenyataannya tidak seperti itu, usai menyantap hidangan bersama keluarga besar, Fadhil langsung dikeroyok keponakannya. Keluarga Fadhil dan Asyifa berkumpul sehingga suasana hotel sangat ramai.


Raisya mendekati Fadhil dan anak-anak yang ada di samping tempat makan. Mereka terus tertawa saat Fadhil menggerakkan tangannya menurunkan holikopter yang tadi ia tumpangi bersama Asyifa.


"Hei, sayang biarin om Fadhil istirahat."


Raisya melarang Farid dan Farhan yang berhamburan memeluk Fadhil. Ia mencoba membawanya pergi, namun bocah itu tetap kekeh dan ingin bermain dengan Om nya.


"Nggak papa kak, biarin saja." 


Fadhil mencium keponakannya bergantian, meskipun berulang kali Asyifa memberi tahu nama mereka, ia masih bingung dan keliru saat menyebut nya. 


"Tapi mereka itu sangat merepotkan, nanti kamu capek," imbuh Raisya.


"Beneran kak, nggak papa, lebih baik kakak dan Kak Devan saja yang istirahat, kasihan dedek bayinya, dari pagi di lapangan." 


Mendengar kata itu, otak mesum Devan langsung bereaksi, ia tak tahan jika tidak memanjakan istrinya di ranjang, sehari saja tak melakukan itu, ia merasa ada sesuatu yang kurang. Apalagi acara tadi sangat menguras tenaga dan pikiran, ia butuh refreshing untuk menenangkan diri.


"Bener kata Fadhil, mendingan kita istirahat, nanti biar dia yang antar anak-anak." 


Seketika Raisya mencubit pinggang Devan. 


"Itu maunya kamu," cetus Raisya pada Devan. 


Asyifa datang membawa potongan buah, seperti biasa, Fadhil selalu makan itu setelah selesai makan siang. Sebelum menikah, Asyifa sudah menghapalkan  semua keperluan Fadhil saat di rumah termasuk, makanan kesukaan dan baju.


Hampir tiga puluh menit bermain, akhirnya Farid menguap, matanya menyipit dan tubuhnya mulai ambruk di dada Fadhil, sedangkan yang lain ikut diam karena kelelahan.


Bunda Sabrina menghampiri Fadhil lalu menggendong Farida. 


"Nanti malam kamu dan Syifa tidur di sini, kalau di rumah takutnya diganggu anak-anak lagi," tutur bunda.


Fadhil tersenyum, ia memindahkan tubuh mungil Zahra di sofa lalu mengangkat Fairuz.


"Mereka tidak mengganggu, Bunda. Hanya main saja," tukas Fadhil. 


Ponsel yang ada di meja berdering, dan itu adalah milik Fadhil. Ia segera meraih ponselnya dan membawanya pergi. 


Fadhil masuk ke kamarnya tanpa menutup pintu, ia menempelkan benda pipihnya di telinga dan duduk di tepi ranjang. 


"Selamat siang komandan," sapa Fadhil dengan lugas, jauh berbeda saat berbicara dengan bunda, Ia menunjukkan ketegasannya. 

__ADS_1


"Siang, minggu depan ada tugas, jadi saya hanya mengingatkan, kamu jangan sampai lupa."


"Siap komandan, saya tidak akan lupa."


"Tapi kali ini akan lama, mungkin sampai tiga bulan."


Seketika mata Fadhil membulat sempurna.


"Tiga bulan," ulang Fadhil memastikan.


"Iya, hanya kamu yang bisa diandalkan."


Mata Fadhil berkaca, jika sebelumnya itu waktu yang sangat singkat, tidak untuk saat ini baginya yang sudah memiliki istri. 


"Siap komandan," jawab Fadhil pelan.


Sambungan terputus, Fadhil meletakkan ponselnya di ranjang lalu memijat pangkal hidungnya. 


Asfiya yang sengaja mendengarkan dari samping pintu itu pun ikut berderai air mata, namun sebelumnya ia sudah  berjanji dan siap dengan konsekuensinya menjadi istri seorang TNI.


Asyifa masuk dengan senyuman manis. 


Fadhil tersenyum lalu membuka hijab istrinya. 


Setelah tadi hanya bisa memandang wajah cantik Asyifa tanpa hijab, kini ia bebas mencium dan memeluknya.


"Minggu depan ada tugas, jadi kita akan berpisah."


Asyifa tidak bisa lagi membendung air matanya, ia memeluk Fadhil dan menumpahkan cairan bening di dada pria itu.


Fadhil tersenyum, meskipun hatinya terasa nyeri akan meninggalkan wanita yang dicintainya, ia harus tetap semangat karena itu juga kewajibannya sebagai abdi negara.


"Jangan nangis dong, biasanya aku juga sering pergi, kan. Tiga bulan adalah waktu yang sangat sebentar, dan setelah itu aku pulang."


Fadhil mengelus punggung Asyifa yang bergetar. Ia terus mencium pipi wanita itu dengan lembut, dan sesekali memberikan pesan, apa saja yang wajib dilakukan saat dirinya pergi.


Tangisan Asyifa sedikit mereda meninggalkan isakan yang sesekali membuat Fadhil tertegun. 


"Sebelum aku pergi, kamu minta apa?" ucap Fadhil menenangkan.


Asyifa melepas pelukannya. Ia menatap kedua bola mata Fadhil dengan lekat.

__ADS_1


"Aku hanya minta waktu. Kakak jangan pernah meninggalkanku, satu minggu kakak harus menemaniku, tidak boleh ke manapun."


Fadhil mencubit hidung Asyifa yang nampak manja, "Baik sayang, satu minggu waktuku hanya untukmu, tidak akan ada yang bisa mengganggu kita." 


Fadhil meraih ponselnya dan mengetik sesuatu di sana.


Kak, minggu depan aku ada tugas, selama seminggu ini  aku belum bisa pulang, kasihan Asyifa.


Baiklah, silakan menikmati hari pengantin kamu,  biar aku yang jaga ibu.


Setelah mendapat balasan, Fadhil langsung menyatukan bibirnya. Ia sudah tak tahan menahan rasa yang mengendap.


Sejenak, ia melepas tautan bibirnya lalu menatap ke arah pintu. 


"Pintunya sudah di kunci?" tanya Fadhil. 


Asyifa mengangguk tanpa suara. 


Fadhil membaringkan tubuhnya di atas ranjang, ia membiarkan Asyifa berada di atasnya, bibir keduanya masih saling terpaut, satu tangan Fadhil merengkuh punggung Asyifa, sedangkan yang satunya sibuk melepas kancing baju istrinya.


Jika biasanya Fadhil pemanasan di lapangan sebelum latihan menembak, kini ia harus melakukan itu di atas ranjang. Melihat Asyifa yang sudah siap, Fadhil langsung memulai aksinya, ia mengambil apa yang menjadi haknya.


Tak sesuai ekspektasi nya dan tak semudah melepaskan peluru, Fadhil harus bersusah payah saat menembus gawang, bahkan keringat terus bercucuran mengiringi pergulatan panas itu.


Dalam hitungan menit, Fadhil mampu menguasai tubuh Asyifa, gadis itu nampak menikmati permainannya, meski tak seberapa lihai. Nyatanya, Fadhil sukses membawa istrinya terbang melayang.


Rasa sakit yang seketika berubah menjadi sebuah kenikmatan yang tiada tara, mungkin itulah yang dirasakan Asyifa hingga ia tak bisa berkata apa-apa. 


Fadhil kini sudah mengambil satu-satunya harta Asyifa yang paling berharga, pria yang beruntung mendapatkan putri bungsu seorang Mahesa Rahardjo, bahkan sekian laki-laki yang menyukainya, hanya Fadhil yang mampu menembus dan bersemayam di hati Asyifa, meskipun dia terlahir dari keturunan menengah, tak menjadi penghalang ayah Mahesa untuk tetap menjadikannya menantu. 


Ucapan terima kasih dengan suara lirih menghiasi telinga Asyifa, wanita itu menahan rasa perih namun juga merasakan sesuatu yang berbeda usai pelepasan.


Asyifa segera bangun dan menyibak selimutnya, tangannya meraba di bagian bawah sana. 


"Kak, tadi kayaknya kau pipis, tapi kok nggak basah," tanya Asyifa polos. 


Fadhil tersenyum, ia meraih tubuh Asyifa hingga jatuh ke pelukannya. 


"Itu bukan pipis, Sayang. Jadi tidak usah khawatir, nanti kalau kita melakukan itu lagi kamu akan merasakan hal yang sama," jelas Fadhil yang membuat Asyifa manggut-manggut. 


Untung tadi aku nggak jadi bilang, memalukan. 

__ADS_1


__ADS_2