
Dalam hitungan lima belas menit, Aula sudah dipenuhi seluruh pegawai, tak terkecuali. Mereka saling bertanya ada apa? Tumben pak David mengumpulkan kita? Apa ada yang melakukan kesalahan? dan berbagai pertanyaan muncul dalam benak masing-masing, ada yang merinding, ada yang yang berpikir akan mendapatkan bonus dan lainnya.
Devan membuka pintu sedikit lalu menyembulkan kepalanya.
Siap-siap kalian, macam-macam sama David Laksana Putra, meskipun pendiam dia juga bisa jadi harimau garang kalau dibangunkan hahahaha, kok aku penasaran gimana David kalau lagi marah.
Devan menutup pintunya kembali, tak pernah terlintas di otaknya jika David akan semarah ini, pasalnya sekalipun ia tak pernah melihat seorang David itu membentak, apalagi marah, pasti perusahaan akan goncang.
Devan berjalan pelan menghampiri David yang masih duduk dengan mata terpejam.
"Gimana, Vid? Semua karyawan sudah berkumpul di depan, mereka menunggu kamu," kata Devan.
David menghela napas panjang lalu menghembuskannya pelan.
"Iya Kak, aku akan menemui mereka."
Ting tung
Ponsel Devan berdering, itu tanda pesan masuk. Sebelum keduanya keluar, Devan membuka ponselnya dulu.
Kak, aku tahu David pasti marah, tolong kakak kondisikan dia. Jangan sampai dia melewati batas.
Oke
Hanya jawaban itu yang ditulis Devan lalu dikirim ke nomor Raisya.
David beranjak dari duduknya, ia menahan dadanya yang terasa meletup-letup mengingat apa yang ia lihat di cctv.
"Kamu jangan marah, nanti kalau Kak Raisya tahu bisa sok," pesan Devan sebelum David membuka pintu.
David masih bisa tersenyum di atas darahnya yang mendidih.
"Tenang Kak, aku tidak akan marah. Aku cuma memperingatkan mereka supaya mau mengakui kesalahannya. Lagipula mana mungkin kak Raisya tahu kalau kakak nggak bilang," cetus David.
Bener juga ya, ah kenapa pikiranku jadi oleng sih.
Devan mengangguk lalu mengikuti David dari belakang.
Ceklek
Semua karyawan menunduk saat mendengar pintu terbuka. Sebagian ada yang menyapa, sebagian lagi mereka masih bingung dengan perintah David kali ini.
David berdiri di depan, wajahnya tampak pias dengan tangan mengepal. Namun, ia teringat sesuatu hingga sesekali mengurai kepalan tangannya.
"Apa kalian tahu, apa tujuan saya mengumpulkan kalian di sini?" tanya David basa-basi.
"Tidak. Pak." Semua menjawab dengan serempak.
__ADS_1
"Kalian semua di sini untuk apa?" tanya David lagi.
"Bekerja," jawab semua singkat.
David menahan amarah yang semakin membuncah, sebagai atasan ia tidak boleh gegabah dalam berucap, apalagi di depan karyawannya sendiri.
''Apa kalian nyaman bekerja di sini?"
"Sangat nyaman, Pak."
Devan mematung di belakang David, ia menyaksikan David yang mondar-mandir dengan kedua tangan saling terpaut ke belakang.
"Tapi saya merasa tidak nyaman atas perlakuan salah satu dari kalian."
Semua saling tatap dan saling mengangkat bahu. Mereka tak berani bicara saat wajah David tampak semakin merah padam.
"Saya merasa tidak nyaman karena ada yang ikut campur urusan pribadi saya."
Deg deg deg
Jantung ketiga wanita yang berada di urutan paling belakang itu berirama dengan cepat. Mereka mulai mencium bau yang tidak sedap dengan apa yang mereka lakukan pagi itu.
"Sangat disayangkan jika orang yang berpendidikan tapi bicara yang tidak mendidik. Apa kalian sengaja menggunakan kepintaran hanya untuk menghina orang? Apakah begitu aturannya?"
"Tidak, Pak."
David menepuk pundak salah satu staf yang paling setia, meskipun tidak merasa membuat kesalahan, tubuhnya tetap gemetar saat David berdiri di sampingnya.
"I iya pak," jawab pria itu gugup.
Tangan ketiga wanita itu semakin gemetar, keringat dingin mulai bercucuran menembus pori-porinya. Mereka semakin takut namun tidak berani untuk bicara.
"Tapi kenapa masih ada yang seperti itu? Apa kalian tidak membaca pengumuman atau sengaja ingin dikeluarkan dari kantor ini?" tegas David semakin lantang.
Semua menundukkan kepalanya.
"Target kalian salah, jika ingin menghina orang lain terserah, itu hak kalian, tapi asal kalian tahu, yang kalian hina adalah calon istri saya, apa saya harus diam saja melihat ini. Saya tidak pernah ikut campur urusan pribadi kalian, tapi kenapa kalian berani mengusik hidup saya, kenapa kalian ikut campur masalah pribadi saya?"
David membelakangi semua karyawan dan mengusap air matanya, membayangkan bagaimana malunya Naimah saat itu.
"Jangan ada yang mengaku di sini, karena saya tidak mau nama kalian jelek dimata yang lain," ucap David tanpa menghadap.
"Saya tidak mau bicara panjang lebar, saya tunggu itikad baik orang yang sudah menyakiti hati calon istri saya."
David menjeda ucapannya sejenak lalu melihat jam yang melingkar di tangannya.
"Tapi jika kalian memang tidak ada niat memperbaiki kesalahan, siap-siap untuk kehilangan pekerjaan. Saya tunggu satu jam. Selamat sore dan silakan pulang bagi yang tidak merasa tersindir."
__ADS_1
David kembali masuk ke ruangannya, kali ini ia langsung menghempaskan tubuhnya di sofa.
Devan ikut masuk dan menggelengkan kepalanya melihat kebijakan David, ia tak menyangka jika adik iparnya mampu menahan amarah yang menyelimutinya.
"Minum dulu, Vid."
Devan menyodorkan segelas air putih yang tersedia di mejanya.
David meminumnya hingga tandas, ia merasa lega setelah mengurai sedikit uneg-uneg yang menjanggal dalam hati.
''Kalau aku jadi kamu, pasti langsung aku pecat mereka
Ngapain dikasih ampun," ujar Devan yang duduk di samping David. Sebenarnya dari hati bukan maksud Devan seperti itu, ia hanya menyulut emosi David supaya menyala.
"Mereka punya keluarga, kasihan kak, aku tidak pernah melihat wajah bunda, tapi ada beberapa pesan dari beliau, kata ayah itu disampaikan untukku setelah bunda tahu janinnya laki-laki."
"Jangan pernah memutus rejeki orang lain, secara tidak langsung kamu sudah mengambil hak orang dengan paksa."
Devan ikut menyahut.
"Telingaku sampai gatal kalau dengar itu dari bunda."
Tok tok tok
Suara ketukan pintu menggema, kali ini bukan Devan yang menjadi bos, akan tetapi dia sebagai asisten yang dengan sigap langsung membuka pintu.
Tiga wanita berdiri di depan pintu.
"Kalian cari siapa?" tanya Devan ketus. Ia hafal dengan wajah-wajah wanita itu.
"Ka….kami cari Pak David, Pak," jawab salah satu mewakili ketiganya itu dengan gugup.
Devan membuka pintu lebar-lebar dan mempersilakan ketiga wanita itu masuk.
David memainkan ponselnya. Ia malas melihat wanita yang saat ini sudah mematung di depannya.
"Apa aku memanggil kalian?" tanya David, matanya masih tak teralihkan dari benda pipihnya.
"Pak, kami minta maaf atas apa yang kami lakukan, bapak boleh menghukum kami, asalkan jangan pecat kami."
"Ada kak Devan yang akan mengurus kalian."
David beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiri Devan yang mengerutkan alisnya.
"Aku ada urusan yang lebih penting, kakak urus mereka."
Devan hanya bisa tertawa dalam hati. Ia sudah geli ingin menghukum pelakunya, dan ternyata David memasang umpan yang sangat empuk.
__ADS_1