
"Mbak, di mana kamar kak Devan?" tanya Daffa dengan mata yang sedikit menyipit. Daffi yang ada di belakangnya menguap untuk melepas rasa kantuk.
"Di lantai tiga kamar nomor 333, Mas," jawab resepsionis itu.
Mendengar suara lembut, mata si kembar terbuka lebar, kedua pria tampan itu menelan ludahnya dengan susah payah saat melihat gadis cantik yang tersenyum padanya.
"Ning, sudah punya pacar belum?" Pertanyaan Absurd Daffa meluncur dengan lugasnya.
Gadis itu tersenyum lagi, wajahnya bersemu saat tatapan si kembar terus tertuju padanya.
Ponsel Daffa berdering hingga membuyarkan gombalannya pada penjaga itu.
Jam menunjukkan pukul tiga pagi. Akan tetapi, Bunda sudah membangunkan si kembar dan memintanya untuk pergi ke hotel mengantarkan koper. Bukankah itu hal yang menyebalkan?
"Apa, Kak?" tanya Daffa, ternyata Devan yang menelpon ya.
"Mana bajuku? Kenapa kalian lama sih?" gerutu Devan dari balik ponsel.
Daffa memiringkan bibirnya dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana.
"Fi, kak Devan suruh kita cepet."
"Dasar kakak nyebelin, udah semalam membuat kita jadi santapan nyamuk, pagi-pagi gini gangguin tidur." Daffi tak kalah kesal mengingat ia dan Daffa yang menunggu Devan di sirkuit hingga jam sepuluh malam.
Setelah melewati lift dan beberapa lorong, akhirnya si kembar tiba di depan kamar nomor yang di sebut resepsionis tadi.
Tanpa kata, Daffa langsung mengetuk pintu dengan keras.
Ceklek
Pintu terbuka sedikit.
Devan menyembulkan kepalanya keluar serta mengulurkan tangannya. Daffi dan Daffa saling pandang dengan tingkah aneh Devan.
"Mana bajuku?" pinta Devan tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Kakak apa-apaan sih? Katanya tadi malam mau datang ke sirkuit, tapi kenapa nggak jadi, aku dan Daffa sampai bentol-bentol." Daffi membuka jaket kulit yang dipakainya, menunjukkan tangan dan kakinya yang dipenuhi tanda merah.
Ingin tertawa tapi takut disumpahin adik-adiknya, akhirnya Devan mengatupkan kedua bibirnya.
"Ya sudah, kalau begitu motor itu untuk kalian saja, aku ikhlas."
Daffa mengernyit dan menatap leher Devan.
"Kakak menginap di sini sama siapa?" tanya Daffa menyelidik, ia terus menatap tanda merah di leher Devan. Meskipun belum pernah melakukan sesuatu yang lebih pada perempuan, Daffa tahu itu adalah tanda cinta.
Devan menoleh ke belakang sejenak, lalu kembali menatap adik-adiknya yang ada di depan pintu.
Sepertinya mereka juga tidak tahu kalau Raisya sudah pulang, jadi bunda dan mama benar-benar menyembunyikan ini dari semua orang.
__ADS_1
"Memangnya kenapa? Bukan urusan kalian," jawab Devan ketus.
"Astagfirullah, Kak. Jangan bilang kalau kakak __"
Daffi memotong ucapannya saat pikirannya mulai traveling ke mana-mana.
"Jangan mikir yang aneh-aneh, Sini Kopernya!"
Daffa menggelengkan kepalanya.
"Kalau sampai bunda dan ayah tahu, Kakak pasti di cincang, kali ini maaf ya kak, aku dan Daffi tidak bisa menolong kakak lagi."
Devan berdecak kesal dan menoyor jidat si kembar bergantian.
"Jangan mikir terlalu jauh, aku bukan laki-laki gampangan yang mau tidur dengan wanita sembarangan.
Akhirnya Devan menarik gagang koper dan membawanya ke dalam.
"Sekarang kalian pulang, terima kasih sudah mengantarkannya."
Devan menutup pintu pelan, takut Raisya terbangun.
Daffa menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu duduk di kursi yang ada di depan kamar itu, sedangkan Daffi mondar-mandir dengan pikirannya yang masih berkelana.
Tak berselang lama, ada seorang wanita cantik dengan pakaian seksi keluar dari kamar sebelah.
Daffa dan Daffi hanya menatap wanita itu yang tersenyum padanya.
Daffa mengerutkan alisnya.
"Giliran apa, Mbak?" tanya Daffi antusias.
"Ah, jangan sok polos, ya giliran itu, kalau kelamaan boleh dong sama gue."
Seketika Daffi melepas sepatunya.
"Pergi nggak! Atau mau aku timpuk pakai ini."
Sontak wanita itu berlari terbirit-birit melihat kemarahan Daffi.
Daffa hanya tertawa melihat tingkah kembarannya. Tak disangka, Daffi yang lebih pendiam bisa mengusir wanita yang nampak garang.
Devan meletakkan kopernya di depan lemari lalu kembali ke ranjang, sayup-sayup suara Adzan mulai menggema membuatnya terpaksa harus membangunkan Raisya.
"Sayang, sudah subuh, kita mandi yuk!" Tangan Devan mengelus kening Raisya dengan lembut.
Tak ada respon, Raisya masih tenggelam dengan mimpinya. Pergulatan semalam yang menguras tenaga dan waktu membuat Raisya enggan untuk bangun.
"Sayang, aku mandiin ya." Devan kembali berbisik, dari lubuk hati yang terdalam, ia kasihan pada Raisya yang pasti kelelahan. Namun, ia tak bisa membiarkannya begitu saja, hingga Devan terpaksa mengangkat tubuh Raisya ke kamar mandi.
__ADS_1
Merasa tubuhnya melayang, Raisya membuka mata meskipun berat.
"Sudah pagi ya, Kak?" Tanya Raisya dengan suara serak.
Hemmm
Devan mendudukkan Raisya dan menyalakan shower, setelah itu kembali menghampiri Raisya dan menarik baju yang dipakainya.
“Kakak mau ngapain?" Raisya menyilangkan kedua tangannya di dada, ia mulai sadar jika Devan sudah melucuti setengah bajunya.
"Bantuin kamu mandi."
Raisya menggeleng, "Tidak usah, aku bisa mandi sendiri." Kakak keluar saja."
Mendorong tubuh kekar Devan hingga ke arah pintu. Terpaksa Devan keluar daripada harus debat yang menyita waktu.
Semua terasa baru, tidur bersama, sholat berjamaah bersama, benar-benar ini adalah meeting terindah bagi Devan.
Usai menjalankan kewajibannya, Devan memutar tubuhnya dan menatap Raisya yang masih memakai mukena.
"Kak, aku mau pulang. Aku kangen sama semua orang, aku ingin tahu kabar Syakila, pasti perutnya sudah besar." Raisya mengucapkannya dengan nada rendah.
Devan meraih tubuh Raisya dan memeluknya, tak ada bosannya ia melayangkan ciuman untuk wanita itu.
"Kita akan pulang, tapi jangan pernah berniat untuk meninggalkanku lagi."
Raisya mengangguk tanpa suara.
Raisya memilih gamis berwarna hitam, sudah lama ia tak mengenakan baju yang terlalu longgar seperti itu, semenjak kakinya patah, Raisya hanya memakai rok, itupun yang simple, dan kali ini ia mulai dengan tampilannya seperti dulu.
"Kok pakai itu?" Devan menunjuk sepatu yang baru saja diambil Raisya.
"Aku belum bisa pakai high heels, masih takut."
Akhirnya Devan menyimpulkan keadaan kaki istrinya yang pernah terluka. Pelan-pelan Devan membantu Raisya memakainya, ia bisa melihat dengan jelas bekas jahitan yang memanjang di betis wanita itu.
Setelah siap, Devan membuka pintu kamarnya. Betapa terkejutnya melihat si kembar yang masih ada di sana.
"Daffa, Daffi, kalian ngapain disini?" tanya Devan.
Daffa membisu, ia menatap Raisya dengan mata berbinar-binar.
"Kak Raisya!" pekik Daffa dan Daffi bersamaan, mereka merentangkan tangannya untuk menyambut kakak iparnya.
"Mau apa, kalian?" Devan berdiri tepat di depan Daffa, menghalangi pria itu yang akan memeluk istrinya.
"Ya elah, Kak. Aku kangen sama Kak Raisya, peluk sedikit saja, masa nggak boleh sih." Daffa memohon.
"Nih, peluk!" Menyodorkan koper yang dibawa tadi.
__ADS_1
"Pelit," cetus Daffi saat melihat Devan merangkul pinggang langsing Raisya.