Pelangi Senja

Pelangi Senja
Fairuz Rahardjo


__ADS_3

Syakila mengelus perut buncitnya yang sedikit terasa nyeri. Usia kandungannya sudah berumur sembilan bulan lebih lima hari. Akhir-akhir ini ia enggan untuk bergerak. Namun, rasa sakit yang menyeruak membuatnya tak bisa tidur dan sesekali mendesis.


Syakila menoleh, menatap Afif yang terlelap. Sudah beberapa hari Afif sering lembur dan keluar kota hingga ia tak tega untuk membangunkannya.


Sepertinya aku mau melahirkan.


Syakila bangun dan turun dari ranjang. Rasa nyeri yang tadi melanda kini lenyap saat Syakila berjalan menuju kamar mandi.


"Aku harus telepon bunda," ucapnya sembari menatap jam. Ternyata jam tiga pagi, dan itu bertepatan bunda yang biasa sholat malam.


Tak berselang lama, suara serak ayah menyapa. 


"Ayah, Bunda mana?"


Syakila meringis menahan rasa sakit yang kembali hadir bersamaan dengan gerakan kecil anaknya yang berjenis laki-laki.


"Bunda masih sholat, ada apa?" tanya Ayah dengan nada cemas.


"Ayah, perutku sakit, sepertinya aku mau melahirkan."


Syakila menggigit bibir bawahnya lalu menyandarkan punggungnya di dinding samping kamar mandi.


"Iya sayang, kamu tahan, bilang sama Afif dan cepat ke rumah sakit. Bunda dan ayah tunggu kamu di sana."


Syakila duduk di lantai dan meletakkan ponselnya dengan asal, kakinya sudah lentur dan tak kuat menopang tubuhnya.


"Mas," teriak Syakila dengan suara lemah. 


"Mas tolong aku!" teriak Syakila yang kedua kali.


Afif menggeliat, tangannya meraba di sampingnya yang ternyata kosong, akhirnya ia mengucek dan membuka mata, betapa terkejutnya saat melihat Syakila yang sudah duduk selonjoran di bawah.


Afif meloncat dari pembaringan dan berlari menghampiri Syakila.


"Mas, perutku sakit. Sepertinya aku mau melahirkan," ucap Syakila, seluruh tubuhnya sudah dipenuhi dengan keringat.


Tanpa aba-aba Afif mengangkat tubuh Syakila dan membawanya keluar dari kamar.


Afif menurunkan tubuh Syakila pelan dan membuka pintu bagian belakang.


"Tiduran nggak papa, tahan sebentar."


Afif mendaratkan ciuman di kening Syakila lalu menutup pintunya kembali.

__ADS_1


Hampir tiga puluh menit, akhirnya mobil Afif sudah tiba di depan rumah sakit.


Bunda dan ayah juga si kembar sudah ada disana menyambut kedatangan Syakila. Beberapa suster dan dokter pun sudah siaga dengan brankar dan kursi roda.


Bunda menuntun Syakila keluar dari mobil dan pembantunya naik kursi roda, sedangkan ayah dan yang lain mengikutinya dari belakang.


Setibanya di depan ruang bersalin, bunda membungkuk dan mencium kening Syakila dengan lembut, menyalurkan ketegaran untuk menghadapi persalinan.


"Sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ibu, kamu harus kuat."


Syakila mengangguk tanpa suara.


Si kembar ikut berlutut di depan sang kakak.


"Keponakan om jangan nakal ya, jangan bikin Bunda sakit." Kedua pria itu mengelus perut Syakila secara bergantian.


"Doain kakak ya," pinta Syakila pada si  kembar. 


Daffa merengkuh tubuh Syakila disusul Daffi.


"Semoga diberi kelancaran."


"Aamiin…."


Dokter Meta mendorong kursinya ke dalam. bunda menepuk lengan Afif sebelum ikut masuk.


Untuk yang kesekian kali ayah tersindir dengan ucapan bunda, meskipun tak sengaja, itu bagaikan olokan untuk dirinya di masa lampau.


Pintu ruangan tertutup, Bunda, Ayah dan Si kembar menunggu di luar.


"Ayah, jangan hubungi Raisya dan Devan dulu, kasihan dia."


Hamil lima bulan dengan tiga bayi yang bersemayam membuat ayah dan Bunda sedikit posesif pada Raisya. Pasalnya wanita itu sering mengeluh dengan posisinya saat tidur, kakinya sering bengkak dan postur tubuhnya yang kini beranjak naik dua kali lipat. Gerakan bayinya sering membuatnya kewalahan dan kesakitan hingga Raisya kini harus cuti dari pekerjaannya.


Ayah dan bunda duduk di kursi panjang yang terbuat dari besi mengkilap. Daffa dan Daffi sibuk dengan satu ponsel. Ke mana pun ayah dan bunda pergi, kini mereka yang menjadi supir kedua orang tuanya. Selain ingin mengikuti jejak David,  Daffa dan Daffi pun ingin berjasa pada ayah dan Bunda setelah Devan.


Sebagai seorang dokter, Afif sering melihat orang yang terkapar di atas ranjang rumah sakit. Mereka berbeda-beda, ada yang menjerit karena sakit, ada pula yang merintih seperti Syakila saat ini. Namun, hanya istrinya  yang mampu membuatnya menangis sesenggukan.


Afif menggenggam erat tangan istrinya dan menciumnya. Setetes darah yang sekilas ia lihat dari sarung tangan dokter Meta membuat hatinya tersayat.


Dokter Meta tersenyum melihat Afif yang sesenggukan.


"Dokter Afif tidak perlu khawatir, sudah pembukaan tujuh, sebentar lagi pasti bayinya lahir."

__ADS_1


Hampir satu setengah jam Syakila berada di ruang bersalin, dan itu semakin membuat jantung bunda deg degan, lantunan doa untuk Syakila terus di panjatkan dalam hatinya.


"Kok lama sekali ya, Yah?" ucap Bunda dengan cemas.


Ayah merangkul pundak bunda dan mengelus lengannya.


"Dulu Bunda waktu melahirkan Syakila juga lama, bahkan hampir dua jam." Ayah mengingatkan kala ia juga bosan melihat istrinya menangis di atas brankar saat detik-detik lahirnya Syakila.


Sebenarnya hati ayah tak kalah gelisah, namun ia masih bisa membalut dengan senyuman, meyakinkan bunda untuk tetap tenang.


Disaat Hening, tiba-tiba saja tangisan bayi menggema membuyarkan semuanya. Daffa dan Daffi saling berpelukan, Begitu juga dengan Ayah dan bunda. Ucapan hamdalah terus terucap dari bibir masing-masing.


"Mas, aku mau menghubungi mbak Ilma dulu." Bunda mengambil ponselnya dan menempelkan benda pipih itu di telinganya.


Bukan hanya bunda, ayah dan Si kembar pun menghubungi seluruh anggota keluarganya, termasuk Devan dan David.


Pintu ruangan terbuka. 


Bunda menghampiri Afif yang keluar dari sana dengan bayi mungil yang ada di gendongannya.


"Cucu bunda sudah lahir, ucap Afif lalu mencium pipi gembul putranya.


"Selamat ya, akhirnya kamu menjadi seorang ayah." Ayah Mahesa menepuk-nepuk punggung lebar Afif yang masih sibuk menoel pipi putranya.


"Cucu nenek." Bunda Sabrina ikut mencium pipi bayi itu, aroma khas bayi dari cucu pertama nya tercium hingga membuat dadanya lega.


"Bagaimana dengan Syakila?"


"Alhamdulillah, Syakila baik-baik saja sekarang sedang dibersihkan."


"Kamu kasih nama siapa, Fif?" tanya ayah.


"Ini cucu pertama di keluarga Ayah, jadi  ayah saja yang kasih nama."


Bunda dan ayah saling tatap.


"Kalau begitu nama cucu pertama kita  Fairuz Rahardjo."


"Bagus, yah. Semoga menjadi anak yang berbakti pada orang tua berguna bagi bangsa dan agama."


Disaat semua sibuk dengan nama bayi pertama pasangan Syakila dan Afif, Daffa dan Daffi sibuk mengabsen setiap jengkal wajah bayi mungil yang terlelap itu.


"Kenapa, Fa? Ada yang aneh dengan bayi kakak?" tanya Ayah menyelidik, ia tak habis pikir dengan tingkah putra kembarnya.

__ADS_1


"Nggak aneh sih Yah, kok lebih tampan dia daripada aku dan Daffi, kalau begini caranya aku kalah saing, dong."


Afif hanya bisa menahan tawa melihat wajah kedua adik iparnya yang tampak suram. 


__ADS_2