
Lampu hijau sudah menyala. Devan mencium ubun-ubun Raisya dan melantunkan doa, ia beralih mencium kedua mata gadis itu, lalu dilanjutkan kedua pipinya bergantian, terakhir Devan menautkan bibirnya di bibir Raisya, seperti biasa ia melakukannya dengan lembut penuh cinta.
Jantung Raisya mulai berdegup dengan kencang saat Devan menempelkan dadanya, ia tak tahu harus berekspresi seperti apa, antara malu dan takut semua mengendap memenuhi dadanya, seakan saat ini ia sedang menghadapi seekor harimau yang siap menerkamnya.
"Kata temen aku, kalau pertama kali itu sakit," ucap Raisya dengan suara pelan saat Devan melepas pagutannya dan melepas hijabnya.
Devan hanya mengulas senyum, menahan sesuatu yang sudah mulai menegang. Sama seperti Raisya yang gerogi, tangan Devan pun sedikit gemetar, semua tak sesuai ekspektasinya yang akan lancar, ternyata ia juga merasa gugup saat memulai ritualnya.
Devan kembali menyusuri setiap tubuh Raisya dengan bibirnya, memberikan beberapa maha karya yang menghiasi leher istrinya, menciptakan sensasi yang luar biasa hingga sesekali membuat Raisya merasakan sesuatu yang aneh di seluruh tubuhnya.
Aku harus mulai dari mana?
Devan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia melepas tiga kancing baju Raisya bagian atas, lalu menggunakan kedua lututnya untuk menopang tubuhnya. Devan berkacak pinggang saat kebingungan itu melanda.
"Kenapa, Kak?" tanya Raisya saat Devan kembali duduk diatas pahanya dan menatap wajahnya dengan lekat, lampu remang-remang ternyata masih bisa membuat Raisya melihat wajah Devan yang nampak gelisah.
"Tidak ada apa-apa." Devan kembali melanjutkan aksinya, ia melucuti baju Raisya hingga menyisakan baju dalam. Setelah itu Devan melepas bajunya, menampakkan tubuh atletisnya yang tak pernah Raisya lihat.
Raisya memejamkan mata dan melengos, kedua tangannya mulai mencengkram sprei saat Devan terus meraba tubuhnya.
"Kak…" Tiba-tiba suara menggoda itu lolos dari sudut bibir Raisya, ia tak menyangka terbuai dengan sentuhan lembut Devan.
Devan tersenyum dan menatap Raisya yang saat ini menggigit bibir bawahnya, ia masih berusaha merenggangkan kaki Raisya yang terus merapat.
"Jangan takut, aku akan melakukannya dengan pelan." Devan meyakinkan Raisya untuk tetap tenang.
Terakhir Devan melepas baju yang menutupi dua gunung kembar istrinya dan penutup area sensitifnya, kini keduanya polos tanpa sehelai benang, Devan meraih selimut untuk menutupi tubuh keduanya.
Raisya merasakan sesuatu yang keras itu menyentuh pahanya, ia berpikir jika itu adalah sesuatu yang sempat dipegang kemarin.
"Apa kamu sudah siap?" tanya Devan dengan suara parau.
Raisya mengangguk pelan dan membuka kedua kakinya ke arah masing-masing.
__ADS_1
Devan meraih tangan Raisya dan meletakkan di punggungnya.
Setelah merasa nyaman, Devan mulai aksinya, ia mendorong senjata antiknya untuk menerobos gawang milik istrinya.
Seketika Raisya menjerit saat merasakan perih di bagian bawah. Satu buliran bening mengalir membasahi pelipis Raisya.
Devan tersentak kaget dan mengusap air mata istrinya, ia merasa iba pada Raisya. Akan tetapi tak menghentikan aksinya, justru Devan mendorong semakin keras lagi.
Raisya merasa tak kuat, setelah puas mencakar punggung Devan, ia beralih menjambak rambut pria itu, meskipun Devan mencoba menghilangkan rasa sakit yang merambat, Raisya tak bisa menahan tangisnya, hingga hentakan yang ketiga mampu menjebol gawang.
Ruangan yang dingin itu berubah panas, keduanya bertukar peluh, saling mengutarakan cinta lewat penyatuan tubuh. Perlahan rasa sakit yang tercipta beberapa saat itu hilang, dan kini hanya ada rasa nikmat. Devan tak bisa mengucapkan sepatah kata pun, ia terbawa suasana untuk terus menikmati malam yang penuh dengan gairah itu.
Selang beberapa menit, Devan menyemburkan lahar panasnya dan ambruk tepat di atas Raisya. Keduanya mengatur napas yang masih tersengal karena kerja keras yang menguras tenaga, Devan mengusap keringat yang ada di kening istrinya.
"Terima kasih," ungkap Devan diiringi dengan sebuah kecupan.
Raisya hanya diam dengan mata terpejam, ia masih belum sanggup untuk menjawab pertanyaan Devan.
"Maafkan aku kalau kakak merasa tidak puas," ucap Raisya merasa bersalah seraya membenamkan wajahnya di ceruk leher suaminya. Ia masih menahan rasa perih yang menjalar hingga ke seluruh organ tubuhnya.
Devan memiringkan tubuhnya dan mendekap erat Raisya.
"Aku yang minta maaf karena sudah menyakitimu, aku tadi terlalu bersemangat."
Aku sudah menunaikan kewajibanku sebagai seorang istri, semoga setelah ini kak Devan benar-benar melupakan Alisa, dan hanya ada aku di hatinya.
Sebagai seorang istri, itulah yang diinginkan Raisya, ia tak mau membagi cinta suaminya dengan orang lain.
"Kak, aku mau ke kamar mandi."
Devan meraih bajunya yang teronggok di lantai lalu memakainya, kali ini ia tak memakai celananya lagi melainkan mengambil sarung yang ada di lemari. Sebab, hanya kain itu yang membuat burungnya leluasa bergerak.
Raisya terbangun dan menyeret tubuhnya ke tepi ranjang. Saat menurunkan kakinya, ia meringis merasakan perih itu semakin menyeruak.
__ADS_1
"Sebentar Sayang, jangan bergerak dulu, aku akan bantu kamu."
Setelan rapi dengan bajunya, Devan menghampiri Raisya, dengan sigap Devan mengangkat tubuh Raisya yang masih berbalut selimut tebal dan membawanya ke kamar mandi.
"Apa ada yang bisa aku bantu?"
Devan mengisi bak mandi dengan air hangat dan menarik selimut yang dipakai Raisya.
"Tidak usah, kakak keluar saja! Aku bisa sendiri."
Raisya menyilangkan kedua tangannya di dadanya yang terekspos, tak seperti lampu kamar yang sedikit gelap, cahaya di kamar mandi itu sangat terang hingga Raisya semakin malu.
Devan berjongkok di depan Raisya.
"Jangan malu, waktu kamu sakit, aku yang membuka bajumu, dan kita melakukan metode skin to skin, jadi sebelumnya aku sudah melihat tubuh kamu," jelas Devan.
Raisya membulatkan matanya, wajahnya semakin bersemu saat Devan terus cekikikan.
Percuma dong aku selalu menutup aurat dengan rapat, ternyata kak Devan sudah pernah melihatnya, gerutu Raisya dalam hati.
Setelah membersihkan area sensitifnya, Raisya berdiri memunggungi Devan, sedangkan pria itu langsung meraih jubah mandi dan memakaikannya.
Seperti waktu datang, Devan pun mengangkat tubuh Raisya saat keluar menuju kamarnya.
"Kak aku haus," ucap Raisya.
"Aku akan ambilkan minum, kamu tunggu di sini."
Devan mendudukkan Raisya di tepi ranjang dan menyalakan lampu utama, ia memungut baju yang berserakan dan meletakkannya di keranjang, tak sengaja Devan melihat noda merah yang menghiasi sprei.
Tidak merasa bersedih dengan luka yang diberikan, Devan justru bangga karena sudah membuat Raisya menjadi mantan perawan.
Raisya Putri Laksana, tidak sengaja kita terikat dalam hubungan suci, dan mulai malam ini kamu adalah milikku, meskipun badai menerjang, aku akan tetap mencintaimu. Pelangi senja, engkau hanya akan hadir untukku, yang akan mewarnai duniaku. Membawaku ke tempat yang indah, kita akan mengarungi samudra bersama selamanya.
__ADS_1