Pelangi Senja

Pelangi Senja
Pertanda


__ADS_3

"Bunda…. Bunda, aku mau ikut bunda," ucap Raisya dengan mata terpejam.


Tangannya menjulur ke atas seperti ingin menggapai sesuatu. Kepalanya terus menggeleng, keringat bercucuran menghiasi seluruh tubuhnya. Air mata mengalir pun ikut membasahi pelipisnya.


Setelah beberapa kali suara itu menggema, Devan yang ada di sisinya membuka mata dan menoleh, menatap istrinya yang terus memanggil nama bunda Arum.


"Sayang…" Devan menyibak selimutnya dan menepuk pipi Raisya dengan lembut. 


"Bangun," ucapnya lagi untuk yang kesekian kali.


"Bunda…" Raisya semakin menjerit.


Devan memeluk tubuh Raisya dari samping, ia melantunkan doa di telinga wanita itu, dan seketika Raisya terbangun dengan napas tersengal. 


"Kakak!" Rasya ikut terbangun dan memeluk Devan.


"Kamu mimpi buruk?" tanya Devan seraya mengelus punggung Raisya.


Raisya mengangguk pelan, lalu mengelus perut buncitnya.


Waktu terus berputar, kini usia kandungan Raisya berumur sembilan bulan lebih dua hari, Devan lebih posesif. Apalagi akhir-akhir ini Raisya sering bersikap aneh yang membuat pria itu kadang bertanya-tanya. 


Setelah beberapa menit, Raisya melepas pelukannya dan menatap wajah Devan dengan lekat. 


"Kakak, jangan pernah ninggalin aku!" 


Kata-kata Raisya membuat jantung Devan berdenyut, itu yang selalu di ucapkan Raisya padanya. 


"Sampai kapanpun aku tidak akan meninggalkan kamu," ucap Devan meyakinkan dan meletakkan kepala Raisya di pundaknya. 


Devan menatap jam dari layar ponselnya, ternyata baru jam satu pagi. 


"Tadi kamu mimpi apa?" tanya Devan penasaran, pasalnya ini pertama kali Raisya harus terbangun karena mimpinya. 


"Bertemu bunda." 


Deg 


Devan mengingat kejadian yang sudah lampau, di mana bunda Arum meninggal saat melahirkan.


Kenapa harus bertepatan seperti ini?


"Bu… bunda siapa?" tanya Devan gagap, ia pura-pura tidak tahu, meskipun sudah mendengar nama yang disebut Raisya dengan jelas.


"Bunda Arum."


"Kamu sering mimpi bunda, kan?" tanya Devan, ia menahan dadanya yang mulai bergemuruh, meskipun ia menepis nya, pikirannya tetap menjanggal.

__ADS_1


"Nggak juga," jawab Raisya sembari mengingat-ingat.


"Apa kakak ingin mendengarkan mimpiku?"


Bulu halus Devan semakin merinding, namun ia tetap mengangguk.


"Tadi aku melihat bunda memakai jubah berwarna putih, dia memanggilku di sebuah tempat yang sepertinya tidak pernah aku kunjungi, indah banget. Kami duduk berdua di sebuah kursi empuk. Bunda bercerita banyak, entah tentang apa, aku lupa karena terlalu fokus pada wajah bunda, aku memeluknya, aku mencium pipinya."


Raisya mulai terisak di pelukan Devan. Ia tak tak sanggup lagi menahan air matanya yang menumpuk di pelupuk.


"Aku juga bercerita, kalau sebentar lagi dia punya cucu kembar tiga. Bunda mengelus perutku. Kebersamaan kami sangat lama, sampai ada seseorang yang memanggil bunda. Bunda berdiri dan menoleh, saat itu bunda bertanya padaku. Apa kamu ingin ikut bunda?" 


Raisya menirukan ucapan bunda dalam mimpi. 


"Aku langsung mengangguk, disaat itu pula kakak dan tiga anak kecil datang menghampiriku. Anak-anak itu merengek di kakiku dan kakak memelukku dari belakang. Kakak bilang padaku, jangan ikut bunda, aku dan anak-anak membutuhkanmu. Lagi-lagi bunda mengajakku dan melambaikan tangannya, aku meraih tangannya, tapi kakak tidak melepas pelukan itu, sampai bunda pergi dan keluar dari sebuah pintu yang bercahaya. Aku membentak kakak, dan akhirnya kakak melepaskan pelukanku, aku berlari ke arah bunda. Anak itu menangis yang membuat langkahku berhenti. Tapi setelah mendengar suara bunda, aku tidak menghiraukan anak itu lagi. Saat aku berlari tiba-tiba bunda hilang, entah ke mana."


Mimpi macam apa itu


Devan semakin takut, tangannya gemetar dan dingin mengalahkan rasa takut yang menyelimuti Raisya.


"Mimpi hanya bunga tidur, tidak akan terjadi apa-apa, apa tadi kamu lupa berdoa?" tanya Devan dengan bibir yang bergetar.


"Kan, kita berdoa bersama, apa kakak lupa?"


Devan menggeleng, ia semakin salah tingkah. Devan turun dan mengambil segelas air yang ada di meja, ia memberikannya pada Raisya.


Ya Allah, semoga semua baik-baik saja, doa Devan dalam hati.


Ia langsung ke kamar mandi dan mengambil wudhu.


Setelah Sholat dua rakaat, Devan menghampiri Raisya yang duduk di tepi ranjang. 


"Kenapa nggak tidur?" tanya Devan mengelus pucuk kepala Raisya yang sudah dibalut hijab putih.


"Kak, aku ingin keluar."


Devan menuntun Raisya, disaat membuka pintu, Daffa pun keluar dari kamarnya.


"Kakak, kok belum tidur?" tanya Daffa mendekati Raisya dan Devan. 


"Kamu sendiri, kenapa jam segini belum tidur?" tanya Devan balik.


"Haus, tadi lupa bawa air," jawab Daffa. 


"Ya sudah, aku mau turun."


Raisya memegang pinggangnya yang terasa pegal.

__ADS_1


"Apa kak Raisya mau melahirkan?" tanya Daffa mengikuti Devan yang menyusuri tangga. 


"Tidak, Fa. Kamu tidur saja," jawab Raisya dengan cepat. Terpaksa Daffa kembali ke kamar.


Tiga bulan menikah, Daffa memutuskan tinggal di rumah bunda, sedangkan Devan sudah tinggal di rumah itu sebulan yang lalu atas permintaan bunda juga.


Setibanya di ruang keluarga, tiba-tiba saja Raisya merasakan nyeri yang hebat pada perutnya.


"Kak, perutku sakit," keluh Raisya sembari meringis.


Devan panik dan membantu Raisya duduk.


"Apa kamu mau melahirkan?" tanya Devan antusias.


"Mungkin, rasanya sakit banget, Kak." Raisya mencengkeram erat tangan Devan.


Devan melepaskan tangan Raisya lalu menyalakan lampu utama. Baru saja beberapa langkah, Bunda sudah keluar dari kamarnya. 


"Ada apa, Van?" tanya Bunda.


Bibir Devan kelu, ia hanya menunjuk Raisya yang duduk duduk di sofa.


Bunda tak menjawab, ia langsung berlari menghampiri Raisya.


Devan memanggil Ayah, keduanya berlari menghampiri Raisya yang masih meringis kesakitan.


Daffa yang dari tadi curiga itu pun turun bersama Airin, disusul Asyifa bersama Daffi dan Alara juga.


"Aku siapkan mobil." Daffa keluar dari rumah tanpa mengganti bajunya.


"Bunda akan menemani kamu, yang kuat. Setiap ibu pasti akan melewati masa seperti ini, jangan takut, percayalah semua akan baik-baik saja."


Ayah membungkuk dan mengangkat tubuh Raisya. Bukan tanpa alasan, tapi ayah tahu jika saat ini Devan sedang rapuh melihat keadaan Raisya yang tak berdaya.


"Kamu temani Raisya, biar ayah yang menghubungi ayah Randu," ucap Ayah menepuk bahu lebar Devan yang sudah duduk di sisi Raisya.


"Kakak yang tenang, semua akan baik-baik saja, percaya itu," ucap Airin yang duduk di samping Raisya, sedangkan di samping Daffa yang mengemudi ada Daffi. 


Alara ikut bersama bunda dan ayah serta Asyifa yang menyusul dari belakang.


Raisya mengelus rahang kokoh Devan dan tersenyum.


"Kak, aku minta maaf, selama ini aku sudah membuat kakak jengkel. Sering merepotkan kakak, dan sering menganggu kakak saat tidur."


Seketika Devan menutup bibir Raisya dengan telapak tangannya.


"Cepat sedikit, Fa!"

__ADS_1


__ADS_2