Pelangi Senja

Pelangi Senja
Curiga


__ADS_3

Hampir sepuluh menit Afif membujuk Syakila untuk keluar dengan tubuh polosnya, namun sedikitpun gadis itu tak goyah dan memilih berdiam diri di kamar mandi. Terpaksa Afif mengambilkan jubah mandi untuk istrinya.


Tak menyerah begitu saja, setibanya di depan kamar mandi, Afif tak langsung menyerahkan kain yang berwarna putih tersebut.


"Cium dulu, dong!" pinta Afif membungkukkan tubuhnya, mensejajarkan kepalanya di depan wajah Syakila lalu menunjuk pipinya dengan jari telunjuk.


Sebuah kecupan mendarat dengan lembut di pipi Afif __ yang mana membuat rambut Syakila yang masih basah mengenai pundak suaminya.


"Kamu pakai shampoku?" goda Afif dengan kening berkerut. 


"Nggak ada shampo lain, jadi aku pakai."


"Ganti rugi." Afif menengadahkan tangannya di depan Syakila tanpa ingin menyerahkan jubahnya.


''Iya, nanti aku ganti, kasih jubahnya dulu." Syakila meletakkan tangannya di atas tangan Afif.


Suara ketukan yang menggema membuat Afif mengalah dan memberikan jubah pada Syakila.


" Siapa sih, gangguin saja," gerutu Afif sembari menyambar baju dan memakainya tanpa mengancingnya.


''Abang," seru Afif terkejut, ternyata bang Edo yang datang. Kakak ipar Afif. Dia suaminya Sisi.


"Cepetan turun, sudah ditungguin sama yang lain. Mana Syakila?" tanya bang Edo menyelidik.


"Masih di kamar mandi, sebentar lagi aku turun."


Dengan sigap Afif menutup pintunya, tak menghiraukan Bang Edo dengan mulut menganganya.


Afif kembali mendekati Syakila yang masih ada di balik pintu.


"Sayang, kita harus turun, sebentar lagi aku juga mau ke rumah sakit.''


Syakila keluar dan mengambil bajunya yang ada di koper. Sementara Afif membuka lemarinya sekalian mengambil baju dinas.


"Biar aku bantu." Syakila meraih baju Afif dan memakaikannya. Ini pertama kalinya ia melihat Afif memakai jas putih khas rumah sakit.


Setelah Afif siap, kini beralih membantu Syakila mengeringkan rambut, sedangkan sang empu memakai baju di depan Afif untuk menyingkat waktu.


Seksi amat istriku. 


Afif mengatupkan bibirnya, menahan tawa saat Syakila kesusahan memasang resleting bagian depan.

__ADS_1


Afif meletakkan hair dryer lalu memutar tubuh Syakila hingga keduanya bersitatap.


"Biar aku yang pasang, lain kali nggak usah sungkan-sungkan untuk minta bantuan, kapanpun aku siap, Sayang."


Syakila menunduk, ia tersipu saat kata 'sayang' mulai tersemat untuk dirinya.


Tangan Afif menyentuh resleting, namun matanya menjurus ke arah dada putih milik Syakila yang terekspos.


Merasa ada yang mengganjal dengan tangan Afif yang tak bergerak, akhirnya Syakila mendongak.


"Mas, katanya mau bantuin?" bentak Syakila kesal.


"O iya lupa," ucap Afif gugup.


Bantuin lihat itu maksudnya, batin Afif cekikikan. 


"Mana jilbabnya?"


Syakila membongkar isi kopernya, mencari warna hijab yang senada, dan ternyata berada di bagian yang paling bawah.


"Baju kamu aku beresin nanti saja, sekalian buang baju aku yang tidak dipakai lagi."


"Lemari yang itu sudah aku kosongkan." Menunjuk lemari yang berada bagian kanan.


Di bawah


Khususnya di ruang makan itu sudah dipadati penghuni, tinggal dua kursi kosong yang kini ditempati Afif dan Syakila yang baru tiba. 


"Kamu yakin mau ke rumah sakit?" tanya mama Ilma. 


"Iya Ma, aku sudah janji mau bantuin operasi hari ini."


"Hati-hati, tante doakan semoga operasinya lancar." 


Semuanya menjawab Aamiin dengan serempak.


Hanya beberapa suap nasi yang masuk ke dalam mulut Afif, namun pria itu sudah mendapat telepon dari pihak rumah sakit. Al hasil Afif meninggalkan ruang makan yang masih ramai.


"Mohon maaf semuanya, aku pergi dulu. Pa, Kak, Ma, Tante, titip Syakila sebentar."


Mama Ilma mengangkat jempolnya diiringi dengan senyuman. "Tanpa kamu minta pun, kami akan menjaga Syakila," timpal yang lainnya.

__ADS_1


"Aku pergi dulu." Ada rasa berat yang menyelimuti Afif. Namun, demi tanggungjawab ia harus rela berpisah dengan Syakila untuk sementara waktu.


Syakila mengangguk, menerima ciuman lembut di keningnya. Melambaikan tangannya ke arah Afif yang sudah masuk mobil.


"La, aku juga mau pulang, Insya Allah besok ke sini lagi," pamit Sisi yang juga sudah ada di teras.


"Iya, Kak." Syakila mencubit pipi gembul Naina yang ada di gendongan bang Edo. 


"Kak, kak Alia kok nggak ada, di mana ya?"


"Alia ikut suaminya ke luar negeri, ada kerjaan yang harus diurus. Mereka pergi setelah pulang dari acara pernikahanmu kemarin."


Syakila manggut-manggut mengerti.


"Kami pulang dulu, kamu betah-betahin di rumah ini, biar mama dan papa tidak kesepian," imbuh Edo.


Setelah mobil Sisi menghilang di balik pintu gerbang, Syakila masuk menghampiri mama Ilma dan papa Toha serta tante lainnya yang ada di ruang keluarga.


"La, kamu istirahat saja, kalau ada operasi  biasanya hampir lima jam Afif baru pulang."


"Iya, Ma." Syakila kembali ke kamar, mengingat isi kamar yang persis kapal pecah karena  bajunya yang berantakan. 


Seperti yang diucapkan Afif, Syakila membuka lemari  kosong dan  memasukkan bajunya ke sana hingga semua yang ada di koper kini sudah pindah di lemari. Setelah itu ia beralih membuka lemari milik suaminya.


"Ya ampun, ternyata mas Afif suka koleksi baju juga." Syakila melihat berbagai jaket yang berjejer rapi di gantungan. Celana dan kaos oblong yang juga menggantung di tempat yang saling bersebelahan. Di sisi kiri ada baju dinas yang terkumpul. Sebagai seorang laki-laki lajang, tempat itu terbilang rapi daripada punya saudaranya sendiri.


Tak sengaja tangan Syakila menyentuh kemeja panjang berwarna navy. Baju kotak itu tak asing, bahkan Syakila ingat ada seseorang yang pernah memakainya selain Afif. Meskipun  di luar banyak yang sama, satu tanda yang ada di saku itu yang membuat Syakila semakin yakin dengan terkaannya. 


"Afsya, nama siapa ini?" gumam Syakila, saking penasarannya, ia membawa baju itu ke atas ranjang dan terus mengingat-ingat sang pemilik. 


"Oh iya, aku ingat, ini seperti baju kak Raisya yang waktu itu kena tumpahan sirup di rumah, kenapa mereka bisa punya baju dengan tulisan yang sama, jangan-jangan mereka __“ Syakila memotong ucapannya sejenak. 


"Tidak, ini tidak mungkin. Mereka hanya sekedar teman." Syakila menepis perasaannya, ia tak mau suudzon dengan apa yang sekelebat melintas dalam otaknya. 


"Mungkin ini memang seragam kampus mereka atau sekedar club. Tidak mungkin kan mereka pernah punya hubungan spesial? Jika benar, kenapa mas Afif dan kak Raisya nggak pernah cerita?"


Meskipun mencoba yakin, hati Syakila tetap merasa gelisah, rasa takut menyambar menyelimuti relung hatinya. 


"Aku harus pastikan kalau mereka tidak pernah ada hubungan."


Syakila meletakkan baju itu di tempat semula. Ia tak mau gegabah dalam mengambil langkah, dan ingin tahu semuanya dengan jelas dari Afif sendiri.

__ADS_1


__ADS_2