
Seketika tubuh Devan gemetar hebat, matanya menatap brankar yang semakin menjauh melewati pintu depan.
Ucapan polisi itu mampu memutuskan saluran nadinya, membunuh seluruh organ tubuhnya hingga tak berfungsi. Kakinya terpahat di atas paving dan tak bisa melangkah sedikit pun.
"Raisya kecelakaan," ucapan itu terus terngiang-ngiang di telinganya bagaikan sebuah mimpi buruk yang mengguncangkan jiwanya.
"Tidak, pasti Bapak salah orang," ucap Devan menarik kerah baju polisi itu. Matanya menyala menunjukkan kesedihan dan kemarahan yang bercampur aduk.
Polisi mengeluarkan beberapa bukti, dari dompet, ponsel dan kartu nama yang di temukan di mobil korban.
"Namanya Raisya Putri Laksana."
Sontak Devan merebut barang-barang yang menggantung di tangan polisi, lalu melihat apa yang ada di dalamnya. Benar, ponsel dan kartu identitas itu adalah milik Raisya.
Devan melempar benda itu dan berlari masuk, membelah semua orang yang melintas hingga beberapa orang jatuh tersungkur karenanya.
Berulang-ulang Devan menekan tombol lift mengikuti brankar yang tadi masuk. Namun, tidak ada tanda-tanda pintu lift itu terbuka yang membuat Devan berlari menuju tangga darurat.
Sesampainya di ujung, Devan mengedarkan pandangannya ke arah depan, di mana beberapa dokter sedang berdiskusi.
Devan berlari menghampirinya, "Di mana istri saya?" tanya Devan dengan bibir bergetar.
Dokter menunjuk ruangan yang masih terbuka lebar.
Devan mengikuti ke mana arah jari dokter itu, seketika cairan bening luruh begitu saja membasahi pipinya, ia tak bisa membendung air mata yang menumpuk di pelupuk.
"Ini tidak mungkin." Ia menyeret kakinya yang terasa berat untuk mendekati brankar. Ada beberapa suster memasang alat medis dan membersihkan noda merah di bagian kaki Raisya yang terluka.
"Mas tunggu di luar, kami akan melakukan yang terbaik untuk dokter Raisya." Salah satu suster menghalangi jalan Devan yang hampir tiba di dekat pembaringan istrinya.
"Dia istriku, aku ingin melihatnya," ucap Devan mengiba.
"Tapi, __" ucapan suster itu terpotong saat dokter Ryan yang ada di ambang pintu mengangkat tangannya.
"Mas hanya punya waktu lima menit, setelah itu mohon keluar dari sini, karena kami akan segera menangani dokter Raisya," ujar pria itu menjelaskan.
Devan mengelus pipi Raisya dengan lembut.
"Sayang, bangunlah! Aku minta maaf, seharusnya aku jujur padamu, seharusnya aku tidak menyembunyikan semua ini darimu," ucap Devan berbisik, ia memeluk tubuh Raisya yang terbujur tak sadarkan diri, menciumi pipinya yang berbau amis karena darah yang masih bercucuran.
"Sekarang, silakan Mas Devan keluar!" pinta Dokter Ryan.
__ADS_1
Pelangiku, teruslah berwarna untuk semua orang yang menyayangimu.
Devan mencium punggung tangan Raisya lalu melepasnya, mengusap air matanya dan keluar mengikuti ucapan dokter.
Pintu ruangan tertutup rapat. Devan menyandarkan punggungnya di dinding dan merosot, menjambak rambutnya dan membenturkan kepalanya. Penyesalan yang tak bisa diungkapan dengan kata-kata hingga membuatnya menangis sesenggukan.
"Kakak, di mana kak Raisya?" tanya Syakila yang baru saja tiba.
Devan tak menjawab, pikirannya yang kalut tak mampu merespon apapun yang ada di sekitarnya, termasuk kehadiran beberapa orang yang ada di sekelilingnya.
Tangis kembali pecah saat Bunda Sabrina datang. Sebagai seorang Ibu, bunda merasa ikut berduka dengan kejadian ini.
"Bunda, ini semua salahku," rengek Syakila yang berhamburan memeluk bunda.
Afif masuk setelah mendapat panggilan dari dokter Ryan.
"Bagaimana keadaan Raisya?" Suara yang tak asing kembali menanyakan kondisi wanita cantik itu. Dokter Agung datang bersama bunda Sesil.
Devan hanya bisa duduk, merangkul kedua kakinya dan menenggelamkan wajahnya. Hatinya hancur berkeping-keping saat mengingat apa yang ia lakukan seharian ini.
"Masih ditangani dokter," jawab ayah Mahesa, meskipun ikut sedih, ayah Mahesa mencoba kuat, tak se rapuh istri dan anak-anaknya.
"Di mana Raisya?" Suara mama Aya yang terdengar, Devan masih diam, tak ada yang bisa ia lakukan selain berdoa dalam hati.
"Ada di dalam, Mbak. Kita doakan saja semoga dia baik-baik saja," jawab bunda Sabrina menenangkan.
"Bagaimana ini bisa terjadi, Van?" tanya ayah Randu yang tak kalah kacau.
Devan hanya mendongak menatap ayah Randu yang berdiri di depannya.
Belum sempat menjawab, David datang dengan wajah gelisah.
"Kakak di mana, Ayah?" tanya David.
"Ada di dalam," jawab Ayah Randu.
Ya Allah, jika ada yang harus di hukum itu seharusnya aku, bukan Raisya. Itulah hati Devan berbicara.
"Ini semua salahku, Yah. Aku yang membuat kakak kecelakaan."
"Apa maksud kamu?" tanya ayah Randu pada David.
__ADS_1
Sebelum kecelakaan terjadi
Setelah Syakila pergi dari restoran, Raisya menangis di pelukan suster Ely. Mengurai rasa sedih yang membuatnya terpuruk.
"Sus, menurut suster saya harus bagaimana?" tanya Raisya di sela-sela isakannya.
"Saya juga tidak tahu, Dok. Seandainya saya yang ada di posisi Dokter, belum tentu bisa menghadapi semua ini, jadi saya nggak bisa menjawab pertanyaan, Dokter."
Raisya mengangkat kepalanya dengan tegak dan mengusap air matanya.
"Saya terlalu cengeng, padahal ini hanya masalah sepele, tapi saya membesarkannya. Sekarang suster kembalilah, tolong urus data yang ada di ruangan, nanti saya nyusul."
"Tapi, Dok __"
"Sus, Saya sudah tidak apa-apa, lagipula dari sini ke rumah sakit kan dekat," ucap Raisya meyakinkan yang membuat suster Ely langsung keluar dari restoran.
Raisya merogoh ponselnya yang ada di saku jas dan menghubungi David.
"David, kamu bisa jemput kakak, nggak? Malam ini kakak pingin tidur di rumah mama," ucap Raisya tanpa salam.
"Aku masih di luar kota, Kak. Bagaimana kalau aku kirim supir?"
"Tidak apa-apa, aku ada di restoran samping rumah sakit ayah, cepat sedikit ya, kepalaku pusing."
"Iya, Kak."
Setelah menunggu lebih dari dua puluh menit, akhirnya mobil yang dikirim David datang.
"Silakan, Non!" Sang supir membuka pintu bagian belakang.
"Pak, aku mau nyetir sendiri, aku ingin jalan-jalan dulu."
"Kemanapun Non pergi, bapak akan antar."
"Tidak usah, lebih baik Bapak naik taksi saja," suruh Raisya meninggikan suaranya sembari menutup pintunya dengan keras.
Ini kali pertama supir itu melihat tingkah aneh Raisya, jika biasanya wanita itu lembut, kini Raisya nampak jengkel dan ketus.
Raisya masuk di bagian kemudi tanpa mendengarkan teriakan supir yang terus mengetuk-ngetuk pintunya.
Masalah yang menimpanya membuat Raisya tak fokus dengan jalanan yang ramai. Berkali-kali ia menyalip kendaraan yang berlalu lalang, bahkan laju kecepatannya pun lebih cepat dari biasanya. Hingga di sebuah belokan tajam, Raisya melihat motor yang berjalan pelan di depannya, karena terkejut Raisya membanting setir ke arah pinggir. Kakinya berusaha menginjak rem. Namun nahas, laju yang terlalau cepat membuat mobilnya terperosok menabrak pembatas jalan lebih dulu.
__ADS_1