Pelangi Senja

Pelangi Senja
Akad nikah


__ADS_3

Di kediaman Mahesa Rahardjo


Nampak tamu mulai memadati rumah mewah itu. Halaman yang luas sudah dipenuhi mobil yang berjejer rapi. Hari ini adalah hari yang ditunggu Syakila dan Afif, di mana mereka akan menjadi pasangan yang sah dalam sebuah ikatan sakral. Acara akad nikah dilakukan di rumah, sedangkan acara pesta nanti malam akan diselenggarakan di sebuah hotel  berbintang.


Bunda dan ayah sibuk menyambut tamu yang berdatangan, meskipun hatinya sedikit suram akan melepas putri tercintanya, setidaknya senyumnya masih terukir menghiasi bibir keduanya.


Tante Aida datang dengan keluarganya. Sebagai saudara, Bunda memberi sambutan yang spesial pada wanita itu. 


"Maaf ya, aku belum bisa menemani kamu," ucap bunda merasa bersalah, karena tak bisa bersama dengan tante Aida selama acara berlangsung. 


"Tidak apa-apa, Kak. Aku kan bisa dengan yang lain."


"Oh iya, di dalam ada mbak Aya dan Sesil,  kamu ke sana saja." Menunjuk ruangan khusus untuk kerabat.


Setelah tante Aida masuk, kini giliran Alisa yang mendekati bunda Sabrina.


"Kamu cantik sekali," puji bunda menangkup kedua pipi Alisa. Gadis itu memakai dress panjang yang berwarna abu-abu pemberian bunda. Meskipun tanpa hijab, Alisa mulai berpakaian tertutup seperti keinginan tante Aida.


Camelia pernah menorehkan luka yang mendalam. Akan tetapi Bunda tidak pernah dendam pada wanita itu, dan tetap menganggap Alisa anak dari Aida.


Alisa tersenyum lalu memeluk bunda dengan erat, satu buliran bening menetes membasahi pipi Alisa saat bunda menepuk punggungnya.


"Kamu yang sabar, jodoh itu di tangan Allah, kamu dan Devan adalah saudara yang tidak mungkin bisa bersatu. Bunda doakan semoga kamu cepat mendapatkan laki-laki yang dipilih Allah."


Alisa mengusap air matanya dan melepaskan pelukannya.


"Iya bunda,  sekarang aku ngerti kalau cinta tak harus memiliki."


"Sebentar."


Bunda mengambil tisu dan mengelap sisa air mata yang masih membasahi pipi Alisa.


"Syakila ada di kamar, kamu ke sana saja."


Alisa hanya mengangguk lalu beralih berdiri di depan ayah.


Sebagai orang tua yang bijak, ayah pun tak ingin egois dan mementingkan diri sendiri. Pria itu merentangkan tangannya lebih dulu, paham dengan wajah Alisa yang nampak takut untuk menyapa.


"Kamu nggak mau peluk ayah?"


Seketika Alisa mendongak, ia masih tak percaya dengan apa yang didengarnya.  Namun, saat melihat senyuman ayah, Alisa yakin bahwa ini adalah nyata.


"Boleh?" tanya Alisa dengan ragu.

__ADS_1


"Silakan!"


Alisa berhamburan memeluk ayah Mahesa, ia tak tahu harus mengucap apa karena sudah mendapatkan keluarga yang sangat menghangatkan.


"Anggap saja Devan kakakmu, lupakan apa yang pernah terjadi antara kamu dan dia, sekarang pergi temui Syakila."


Alisa mengedarkan pandangannya ke arah tamu-tamu yang bercakap, lalu menatap ke arah lantai dua.


Pasti Raisya juga ada di kamar Syakila.


Dari lubuk hati yang paling dalam, Alisa ingin ke atas, namun ia masih takut kehadirannya tidak diterima baik oleh yang lain, akhirnya Alisa bergabung dengan tante Aida.


Tak berselang lama, calon mempelai pria datang. Suasana yang tadi dipenuhi pembicaraan kecil, kini semakin bergemuruh. Semua tamu menempati tempat yang disediakan saat Afif masuk ke sebuah ruangan yang disiapkan untuknya.


"Mana mempelai wanitanya?" tanya penghulu yang dari tadi sudah berada di tempat.


Bunda mentap Alisa yang ada di belakangnya.


"Lis, tolong panggilin Syakila, ya!"


Alisa mengangguk dan beranjak dari duduknya.


Di kamar


Adik-adik yang lain berada di sofa dan di atas ranjang, mereka sibuk dengan ponsel masing-masing.


"Tidak usah takut,  aku juga pernah berada di posisi kamu, malahan waktu itu aku dan Kak Devan tak saling dekat seperti kamu dan mas Afif."


Raisya mengingat kembali kisah beberapa bulan yang lalu saat ia dan Devan dipertemukan dalam keadaan yang masih canggung. Saat Devan sedikitpun tak ingin melirik kecantikannya ataupun mempedulikannya. Bahkan Devan terus menghubungi Alisa saat hari bahagianya. Bukankah itu lebih mengerikan?


Alisa tiba di ujung tangga, di depan kamar ada Devan dan si kembar yang menatapnya.


"Kakak cari siapa?" tanya Daffa.


"Mau panggil Syakila, Afif sudah datang."


"Baiklah, aku panggilkan." Devan beranjak dari duduknya dan membuka kamar yang ada di samping kamarnya.


Nampak bidadari cantik itu saling bercanda, sedangkan istri dan adiknya berada di depan meja rias bersama MUA.


"Afif sudah datang, sekarang kalian turun."


Dada Syakila semakin berdetak dengan kencang dan tak bisa dikondisikan, antara takut dan gugup bercampur memenuhi dadanya.

__ADS_1


"Kakak bagaimana ini? Aku beneran takut." 


"Jangan takut, aku akan temani kamu." Raisya meyakinkan, meredakan rasa gelisah di hati Syakila.


Dengan mengumpulkan keberaniannya, akhirnya Syakila keluar dari kamar dengan Raisya dan adik-adiknya. Setibanya di ujung tangga, Raisya melepaskan pegangannya lalu menoleh ke belakang.


"Lis,  kamu temani Syakila ya, aku ada urusan sebentar."


Alisa mengangguk, meskipun ini bukan pertama kali mereka bertemu, Raisya masih sedikit canggung saat bertatap muka.


Alisa turun dengan yang lain, sedangkan Raisya menghampiri suaminya yang masih ada di depan kamarnya.


"Apa Kakak tidak mau turun, sebentar lagi acara dimulai, tapi kenapa masih di sini? Sebagai anak pertama seharusnya Kakak mendampingi Bunda, pasti beliau sedih."


"Iya kak,  kita turun yuk! Kasihan bunda, sebentar lagi kehilangan Kak Syakila," ajak si kembar. 


"Kalian turun dulu, aku nyusul."


Setelah Daffa dan Daffi menghilang di balik tangga, kini tinggal Devan dan Raisya. 


"Aku tahu, pasti karena Alisa," tebak Raisya. 


"Sok tahu, aku nungguin kamu," jawab Devan. 


Seperti ucapannya, Devan pun menggandeng tangan Raisya dan turun. Devan membelah kerumunan dan mendekati bundanya yang duduk tepat di belakang Syakila.


"Bunda nggak papa?" tanya Devan yang kini memilih duduk di sisi kiri bunda, sedangkan Raisya di sisi kanan.


Devan menggenggam tangan bunda yang sangat dingin.


"Syakila tidak akan kemana-mana, dia hanya mengubah status saja, dia tetap milik ayah dan Bunda," bisik Devan menarik tubuh Bunda dan memeluknya dari samping.


"Iya bunda, kak Devan benar. Syakila tetap putri bunda dan akan selamanya seperti itu," imbuh Raisya meyakinkan.


"Sudah siap?" tanya penghulu.


Syakila yang duduk di samping Afif itu memegang dadanya sejenak saat Afif menjawab dengan kata, siap.


Hening,  hanya ada lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an yang terdengar, dilanjutkan dengan sambutan Ayah yang mengharukan, setelah itu dilanjut dengan Khutbah nikah dimana itu adalah detik-detik akad dilangsungkan.


Ucapan ijab qabul pun akhirnya berlangsung dengan hikmah. Ayah dan Afif saling berjabat tangan dengan erat. Ayah mengucap ijab dengan sedikit gemetar, dilanjutkan Afif mengucap qabul dengan satu tarikan napas hingga suara sah mengiringi memenuhi ruangan itu.


Terakhir doa untuk sang mempelai. Bunda semakin terisak di pelukan Devan. Begitu juga dengan Raisya yang ikut terharu. Akhirnya semua indah, dan berharap hubungan Syakila dan Afif langgeng. 

__ADS_1


__ADS_2