
Boy beranjak dari duduknya dan pindah ke sebelah pak Ridwan dan rani hingga membuat mereka semua tertawa yang beranggapan Boy mencari bala bantuan karna hanya pak Ridwan yang tadi membelanya dan Rani yang hanya mendengarkan tanpa komentar. sebenarnya Rani sangat sedih karna harapannya pupus, Boy sudah memiliki wanita yang disukainya.
"pak, kira-kira Boy boleh tidak jadi menantu bapak" ucap Boy tiba-tiba yang membuat mereka semua tercengang termasuk pak Ridwan dan Rani
"maksudnya nak" tanya pak Ridwan bingung
"saya suka dengan anak bapak Rani" jawab Boy lantang membuat Rani terkejut. Belum habis rasa terkejutnya terdengar suara riuh tepuk tangan yang ramai dari semuanya
"oalah, jadi ceritanya melamar dadakan ya nak" goda pak Ridwan
"belum melamar kok pak, baru meminta saja pak" jawab Boy
"bapak sih terserah Rani nya saja, mau atau tidak sama nak Boy" ucap pak Ridwan
"Rani, mau tidak jadi istri abang, pacarannya nanti aja setelah nikah biar sekalian bisa sambil proses adonan" ucap Boy asal
"hus, mana ada nyatakan perasaan ga pake basa basi gitu" ucap mama
"ada ma, nih Boy barusan" ucapnya santai
"Rani, gimana, mau ya. Abang kan ganteng + mapan lagi" ucap Boy
"idih PD banget anda" ejek Nathan
"hus berisik, aku lagi nunggu jawaban Rani" kara Boy
"gimana Rani, apa kamu mau menikah dengan Boy" tanya papa
"sekali pun cuek dia penyayang kok nak" sambung mama
"Iya ma, pa Rani mau" jawab Rani malu-malu yang disambut dengan pelukan dari Boy dan langsung dimarahi oleh mama
"main seruduk saja anak orang, nikah dulu" ucap mama
"siap ma, besok kita nikah ya" jawab Boy sambil melirik genit kearah Rani yang masih syok karna dipeluk tiba-tiba oleh Boy
"huh kamu tu memang maunya" kata Rey dibalas gelak tawa yang lain
"Boy serius nih, kapan mau nikahnya" tanyanya
"ya nak Boy dan Rani sepakatnya kapan" kata pak Ridwan
"kalau Boy secepatnya dalam minggu ini" jawabnya
"Rani gimana" tanya papa
__ADS_1
"Rani ngikut saja pa, tapi Rani mau ijab saja seperti kak Nabila kemarin" jawabnya
"siap laksanakan tuan putri" ucap Boy
"ya sudah mulai besok kita persiapkan semuanya" kata mama
"oia Rey, aku sudah dapat info mengenai wanita tadi, ternyata dia adalah anak tuan Qian dan memang satu kampus dengan mu" jelas Nathan yang tadi sudah langsung meminta anak buahnya mencari tau tentang wanita itu melalui pesan singkat
"sisanya biar aku yang kerjakan nanti malam" jawab Boy
"ok, terimakasih" jawab Rey
"Rey, berhubung Cleo sudah sehat rencananya aku dan Rani akan mencoba mengajukan lamaran kerumah sakit" terang Nabila
"TIDAK BOLEH" jawab kedua pria yang tak lain adalah Nathan dan Boy
"Nathan dokter adalah cita-cita ku" jawab Nabila
"buka klinik sendiri saja yang lengkap" ucap Nathan
"aku mana punya modal sih sayang" jawab Nabila
"aku punya, nanti biar aku yang urus semua" kata Nathan dan Nabila pun tidak bisa berbuat apa-apa
"kamu juga ga boleh ya" ucap Boy pada Rani
"biar aku dan Nathan yang akan membuatkan kalian klinik" jawab Boy yang di jawab setuju oleh Nathan
"bagus juga, jadi kalian juga bisa lebih fokus dengan bapak, mama dan papa juga kami" kata Rey
Hari semakin malam mereka pun kembali ketempat mereka masing-masing. Boy menunggu Rani yang sedang berganti pakaian, setelah 30 menit Rani datang dengan menggunakan pakaian rumahan dan sudah wangi. Boy mengajak Rani menuju rumahnya yang terletak di paling belakang Rumah utama. Boy meminta Rani menunggunya sebentar untuk mandi, Rani duduk di ruang tamu sambil memainkan ponselnya, tak terasa 15 menit sudah berlalu dan Boy sudah selesai dengan ritual mandinya. Perlahan Boy menghampiri Rani lalu memeluknya dari belakang.
"lagi liat apa sih, serius banget" ucap Boy tepat di telinga Rani dan membuatnya merinding
"hanya lihat-lihat saja kok bang" jawab Rani, saat ini Boy sudah duduk di sebelah Rani, lalu memeluknya dengan erat
"sejak kapan kamu menyukai ku" tanya Boy
"sejak kapan ya, lupa bang" jawab Rani
"kalau abang sendiri sejak kapan" tanya Rani
"sejak pertama kali melihat mu di waktu meja makan" jawab Boy dan membuat Rani kaget
"tapi abang selalu cuek dengan ku" ucap Rani
__ADS_1
"bukan cuek sayang, kalau dekat-dekat kamu bawaannya mau meluk makanya jaga jarak" jawab Boy
"bohong banget" ucap Rani
"tidak sayang ku" jawab Boy lalu menarik Rani duduk di pangkuannya, perlahan Boy mencium bibir Rani dengan sangat bergairah.
"kamu benar tidak mau ada perayaan di pernikahan kita" tanya Boy sesaat setelah melepaskan pungutannya
"tidak bang, uangnya di tabung saja yang terpenting kan sah secara hukum dan agama" jawab Rani
"calon istri siapa sih pinter banget" goda Boy
"kamu tahu tidak sayang, aku kemarin sempat bingung gimana caranya menyatakan perasaan dengan mu, soalnya kamu jarang banget mau bicara dengan ku" cerita Boy
"bukannya terbalik ya. abang yang kalau liat Rani sudah seperti lihat hantu" jawab Rani
"habis kalau liat kamu bawaannya mau nyeret kekamar" ucap Boy di barengi dengan gelak tawanya
"iihhh tolong ada laki-laki mesum" kata Rani membuat Boy semakin tertawa di ikuti oleh Rani yang masih betah duduk di atas pangkuan Boy
"ternyata abang bisa tertawa juga ya, aku kira abang selalu serius sekalipun terkadang ada kata-kata yang aneh" ucap Rani
"ya bisa dong sayang, tapi hanya dengan orang-orang tertentu saja. keluarga ku disini dan kamu" Jawab Boy
"teman-teman selalu bilang aku ini kulkas 4 pintu, padahal tidak begitu juga" ucap Boy
"abang, istirahat sana sudah malam. Rani pulang dulu ya" kata Rani
"aku masih mau begini sayang" rengek Boy
"besok kita bisa ketemu lagi bang" terang Rani
"baik lah, tapi aku minta no handphone mu agar bisa menghubungi mu" ucap Boy seraya memberikan handphonenya.
"ini sudah bang" kata Rani mengembalikan handphone Boy
"foto sebentar sayang" pinta Boy dan dituruti oleh Rani ia bergaya centil dengan memeluk leher boy dan mencium pipi laki-laki yang akan menjadi suaminya. banyak foto yang mereka ambil dengan berbagai gaya, setelah dirasa puas Boy menjadikan salah satu foto yang menurutnya bagus sebagai wallpaper ponselnya.
"sudah ya bang, Rani pulang dulu" kata Rani
"nginep saja ya, pengen peluk trus" pinta Boy
"tadi kan tidak pamit sama bapak dan kak Nabila bang" jawab Rani yang akhirnya dengan terpaksa Boy mengantar sang kekasih ke rumahnya, setibanya di depan rumah Rani mengetuk pintu namun sampai setengah jam tidak juga ada yang membukakan.
"sayang, ayok tidur dirumah saja" ajak Boy yang dalam hatinya senang karna Rani tidak dibukakan pintu. akhirnya Rani pun menuruti permintaan Boy
__ADS_1
Sebelum Boy mengantar Rani ia sempat mengirim pesan singkat kepada Nathan untuk tidak membukakan pintu untuk Rani agar ia punya alasan untuk mengajak Rani menginap dirumahnya, dan cara itu berhasil.