
Syakila menatap rumah yang ada di depannya sekilas. Meskipun tak sebanding dengan rumah ayah yang jauh lebih megah, pemandangan di sekitarnya sangat asri. Banyak pepohonan mengelilingi yang membuat udara sejuk. Beberapa pot bunga berjejer rapi menghiasi pinggiran halaman yang luas. Ada beberapa mobil yang terparkir di samping mobilnya yang baru saja tiba.
Afif turun dari mobil dan membantu Syakila. Hari ini Syakila memutuskan ikut pulang ke rumah Afif, selain permintaan mama Ilma, pekerjaan juga menuntut Afif yang tak bisa lama-lama di luar kota.
"Ini rumahku." Afif merangkul pundak kecil Syakila yang berdiri di sampingnya.
"Maaf, tidak se bagus rumah Ayah."
Syakila tertawa lepas, hatinya merasa berdenyut mendengar ucapan Afif yang sangat merendah, padahal Syakila tak pernah memperdulikan itu.
"Tidak apa apa, yang penting mas mencintaiku. Kita masuk yuk!" Raisya melingkarkan tangannya di lengan Afif, sedangkan tangan Afif yang satunya menarik koper milik Syakila.
Afif membuka pintu diiringi dengan sapaan salam. Suara gemuruh memenuhi ruang tengah, mereka berhamburan menyambut kedatangan Afif dan Syakila yang sengaja menghentikan langkahnya di ambang pintu.
"Kenapa kalian tidak menelpon dulu," ujar mama Ilma seraya memeluk Syakila.
"Tadinya mau nelpon, tapi nggak jadi, biar surprize."
"Roman-romannya ada yang habis belah duren nih," goda salah satu saudara mama Ilma.
Mereka menatap penampilan Syakila dari atas sampai bawah, wanita itu tampak anggun dengan balutan gamis yang berwarna putih tulang dengan hijab yang senada.
Syakila menundukkan kepalanya menyembunyikan pipinya yang sudah merona malu.
Afif menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan tersenyum tipis.
"Mbak, ngapain dibahas sih, kasihan mereka, kalau bener itu berarti kita yang beruntung, sebentar lagi dapat cucu baru," timpal yang lainnya.
Semua hanya bergelak tawa mendengar ucapan Absurd ibu-ibu kepo.
"Kalian sendirian?" teriak papa Toha dari ruang tengah.
"Diantar supir. Tadi ayah dan bunda mau ikut, tapi aku dan Syakila buru-buru, jadi mereka belum bisa ke sini."
Setelah seharian jalan-jalan bersama Devan, Raisya serta adik adiknya, Syakila dan Afif kembali tidur di hotel, sebelum pulang mereka hanya mampir di rumah ayah mengambil baju Syakila yang akan dibawa.
Afif dan Syakila menghampiri papanya yang menemani cucunya bermain.
"Naina cantik, nggak mau kenalan sama tante?"
Bocah yang berumur lima tahun itu menatap Syakila dengan tatapan intens lalu memeluknya dengan manja.
"Naina ingat nggak, kemarin kita foto bareng lho." Syakila menoel pipi bocah itu.
Naina hanya diam menatap sekelilingnya bergantian, masih lupa-lupa ingat dengan wajah Syakila yang sedikit asing.
__ADS_1
"Papa apa kabar?" Syakila duduk lesehan di atas karpet saat mencium punggung tangan mertuanya.
"Alhamdulillah papa baik, selamat datang di keluarga kami, maaf kami hanya bisa menyambut kamu seadanya."
"Papa, ini sudah luar biasa buat aku, jadi tidak perlu repot-repot."
Banyak pasang mata yang memandang kagum pada Syakila. Pasalnya wanita itu sangat lembut, baik dari sikap maupun tutur sapa.
Mama Ilma memperkenalkan satu persatu kerabatnya pada Syakila, dari Keluarga suaminya dan juga saudara Afif yang masih sibuk di dapur.
"Masak apa, Kak?" Setelah puas di ruang tengah, Syakila beralih ke dapur, masih didampingi Afif yang membawakan tasnya.
"Hari ini banyak menu ikan laut, kata Afif kamu suka."
"Iya, sini Kak, aku bantu."
"Aku ke kamar dulu," pamit Afif mencium pelipis Syakila sebelum meninggalkan dapur.
Kini di dapur tinggal dua pembantu dan kakak Afif yang bernama Sisi.
"Kamu bisa masak juga?" tanya Sisi saat adik iparnya itu mencoba membalik ikan yang ada dalam wajan.
"Sedikit sih kak, kalau dirumah sering bantuin bunda juga sama kak Raisya."
Seketika Sisi menghentikan aktivitasnya dan meletakkan pisau yang dipegangnya.
"Sudah, keluarga kami sangat dekat. Ayahnya kak Raisya dulu katanya sekretarisnya ayah, karena ada suatu hal mereka menjodohkan kak Risya dan kak Devan."
Sisi hanya menganggukkan kepalanya mengerti.
Berarti benar apa kata Afif, semua sudah berlalu, Syakila juga baik dan tak jauh dari Raisya. apa Afif sudah cerita ke Syakila kalau Raisya itu mantannya?
"Sudah siap, Si?"
Suara mama Ilma membuyarkan lamunan Sisi.
"Sebentar lagi, Ma."
"Aku bantuin bawa ke meja makan, Kak.''
"Tidak usah, mendingan kamu susul Afif di kamar, biar aku dan bibi saja. Sekalian panggil dia untuk makan."
Terpaksa Syakila meninggalkan dapur dan menuju ke lantai dua.
Setibanya di ujung tangga, Syakila menghentikan langkahnya.
__ADS_1
Kamarnya nya mas Afif yang mana ya.
Bingung melanda, akhirnya Syakila mengetuk pintu kamar yang paling pinggir sampai tiga kali. Tak ada sahutan, Syakila beralih kamar yang sebelah. Sama, hampir lima kali tak ada sahutan juga, ia beralih yang ketiga. Baru saja satu kali ketukan, knop sudah memutar.
Ceklek
Betapa terkejutnya ada tangan kekar menarik tubuhnya masuk ke dalam, mendekapnya dengan erat hingga membuatnya tak bisa bergerak.
"Mas sudah mandi?" tanya Syakila saat menghirup aroma sabun di tubuh Afif.
"Hemmm, tapi belum ganti baju."
"Aku tahu," tukas Syakila, bahkan buliran bening masih menghiasi dada bidang Afif.
"Kamu gak ada niat buat gantiin?"
Syakila mengira hanya Devan dan si kembar pria yang sangat konyol, tapi ternyata suaminya sudah ketularan virus Kakaknya.
''Nggak, kamu kan bisa sendiri, aku juga mau mandi." Mendorong tubuh Afif hingga tersentak ke belakang.
Syakila melangkah kebat menuju kamar mandi, rasa malu yang membelenggu belum hilang dan ia tak mau menjadi bahan olokan keluarga Afif jika sampai pergumulan panas kembali terjadi saat ini.
Pintu tertutup dengan keras menandakan Syakila sedikit jengkel dengan sikap Afif, namun sang empu tak merasa, bahkan siasat-siasat jahil mulai memenuhi otaknya seketika.
Cara membuat wanita takluk itu gampang, kalau dia lagi marah kamu dekap saja, kalau bibirnya terlalu cerewet bungkam dengan ciuman pasti dia meleleh.
Ucapan Devan kemarin masih terlintas di otaknya, dan kemungkinan besar akan di praktekkan pada Syakila.
Afif duduk di tepi ranjang, ekor matanya terus melirik ke arah pintu kamar mandi yang tertutup rapat, suara gemericik air yang terdengar menandakan kalau Syakila sedang mandi.
"Kenapa aku bisa lupa bawa handuk," gerutu Syakila kesal, ia mengelilingi sekitar kamar mandi. Ternyata tak ada sehelai benang pun selain bajunya yang sudah berada di keranjang.
Terpaksa Syakila membuka pintunya dan menyembulkan kepalanya keluar.
Nampak Afif yang masih di posisinya tadi dengan ponsel di tangannya.
Kok mas Afif belum ganti baju.
Syakila menutup pintunya lagi, mencari cara lain selain mengusik macan tutul yang nampak sibuk. Akan tetapi ia tak menemukan jalan lain selain memanggil Afif.
"Mas," panggil Syakila dengan pelan.
Afif menoleh menatap wajah Syakila tanpa bertanya.
"Tolong Ambilin handuk! Aku lupa."
__ADS_1
"Ngapain pakai handuk? Kamu istriku, jadi tidak pakai baju pun tidak ada yang melarang."
Syakila berdecak, Afif yang sangat pendiam itu kini menunjukkan wujud aslinya yang tak jauh konyol dari Devan.