
Raisya tak bisa menahan tawa saat tangan Devan terus menyusup ke dalam bajunya. Sepertinya pria itu tak pernah bosan untuk terus melakukan aksinya yang berakhir dengan kelelahan.
"Kakak…" pekik Raisya seraya mendorong tubuh Devan hingga terhuyung dan berbaring di sampingnya. Ia kesal karena sedikit pun Devan tak membiarkannya tenang.
Devan mengabaikan suara manja itu. Pokoknya pagi ini ia harus mendapatkan jatah sebelum berangkat.
"Nanti kita terlambat."
Raisya menyibak selimut dan menggeser tubuhnya ke tepi, hampir saja turun dari ranjang, Devan menarik tubuh mungilnya dari belakang. Ia melingkarkan kedua tangannya di perut Raisya, bibirnya terus mencium bahunya, dan itu sukses membuat Raisya terbuai.
"Kak, nanti aku terlambat," ucap Raisya dengan pelan, ia menahan sesuatu yang bergejolak di bawah sana.
Devan menatap jam yang ada di nakas.
"Masih ada waktu satu jam, aku akan melakukannya dengan cepat," bisik Devan mengiba.
Mengingat aktivitas kemarin malam yang menghabiskan waktu satu jam lebih membuat Raisya takut terulang lagi.
Raisya membalikkan tubuhnya dan menatap lekat mata Devan yang dipenuhi dengan gairah. Ia tak mau mengecewakan suaminya dan akan terus menepati janjinya yang pernah di ucapkan dalam hati.
"Aku mau, tapi janji ya, hanya sebentar" jawab Raisya pelan sembari mengangkat dua jarinya.
Dengan sigap Devan melakukan aksinya, pria itu melakukannya sekilat mungkin karena waktu yang sangat minim untuk bermain-main.
Olahraga pagi yang luar biasa, Devan semakin lihai dengan gerakannya, dan kini ia tak lagi mendengar jeritan Raisya, yang ada hanya suara de*saham yang menggelora.
Tiga puluh menit berlalu, keduanya hanya bisa tergolek lemas seraya mengatur napas masing-masing, Devan membantu Raisya mengusap peluh yang masih membanjiri wajahnya.
•
Waktu yang semakin menyempit membuat Devan dan Raisya semakin gugup.
Raisya memakai hijab dan make up di mobil, ia juga membantu Devan merapikan penampilannya yang masih amburadul.
"Hari ini pertama Kakak kerja, tapi sudah terlambat. Aku yakin ayah bakalan marah," oceh Raisya seraya mengeringkan rambut Devan, sedangkan samg empu yang sibuk dengan setirnya.
"Mana mungkin ayah marah, kalau dia sampai melakukan itu, aku balakan bilang, di rumah juga sibuk," bantah Devan tak terima.
Jalanan semakin ramai membuat Devan berdecak kesal karena harus memelankan laju mobilnya. Sedangkan waktu tinggal lima belas menit lagi dan pastikan dia akan terlambat.
__ADS_1
Raisya mendengus, ia tak mengerti bagaimana cara bicara yang serius dengan suaminya, karena selama ini Devan selalu menanggapinya dengan candaan.
"Terus bagaimana kalau ayah tanya? "Kesibukan apa, bukankah kamu pengangguran?" Raisya menirukan suara berat ayah Mahesa.
Devan tertawa seraya meraih tangan Raisya, menautkan kelima jarinya lalu menciumnya.
"Itu gampang, aku tinggal bilang. Aku dan menantu kesayangan ayah sedang memproduksi cucu ayah dan bunda, dan waktu yang tepat itu di pagi hari saat mentari muncul."
Skak, Wajah Raisya yang tadinya meronna semakin memerah karena malu dengan Devan yang selalu menimpali ucapannya dengan jawaban absurd.
Raisya bernapas dengan lega, akhirnya mobil yang ditumpanginya sudah tiba di depan rumah sakit. Tak terima begitu saja dengan Raisya yang hanya mencium punggung tangannya, Devan meraih pergelangan tangan Raisya yang hampir membuka pintu mobil.
"Apa lagi, Kak?" tanya Raisya antisuas.
Devan mendaratkan jari telunjuknya di bibir, memberi kode Raisya untuk melakukan sesuatu yang akhir-akhir ini menjadi candu.
"Baiklah, anak bunda."
Raisya mencondongkan kepalanya dan mencium bibir Devan dengan lembut.
Setelah puas, beralih Devan yang mencium kedua pipi Raisya bergantian.
•
"Pak, ini kunci mobil saya." Devan melemparkan kunci mobilnya ke arah satpam yang berjaga, tak peduli dengan sapaan staf yang terus menggema, yang ada dalam benaknya saat ini adalah sang ayah yang bertanduk.
Semoga ayah khilaf dan tidak memarahiku.
Devan menekan tombol lift umum. Baginya tak ada perbedaan di antara mereka, meskipun ia adalah anak pemilik tempat itu, Devan tetap rendah hati seperti bundanya.
Pintu lift terbuka, Devan segera masuk, bersamaan dengan seorang wanita yang mengikutinya dari belakang.
"Pagi mas Devan," sapa Iyun, salah satu karyawan terbaik di kantor ayah Mahesa.
"Pagi juga." Devan melirik Iyun yang mendekap beberapa proposal di dadanya.
"Apa ayah sudah datang? tanya Devan basa-basi.
Iyun tersenyum tipis.
__ADS_1
"Sudah, Mas. Sekarang saya juga mau ke ruangan beliau," jawab Iyun dengan ramah, ia berdiri sedikit ke belakang, merasa tak enak sudah berada satu lift dengan calon bosnya.
Setelah lift terbuka, Devan langsung keluar menuju ruangan sang ayah, masih diikuti Iyun dari belakang.
"Assalamualaikum…" sapa Devan seraya mengetuk pintu ruangan ayahnya.
"Waalaikumsalam, masuk!" sahut ayah dari dalam.
Iyun tersenyum, ia kagum saat mendengar sapaan salam pria yang ada di depannya tersebut.
Devan membuka pintu dengan pelan, ada rasa takut yang tiba-tiba melanda, jantungnya terus deg-degan saat melihat sang ayah yang sedang sibuk dengan beberapa dokumen di depannya.
"Ayah kira kamu nggak jadi datang," ujar Ayah Mahesa tanpa menatap.
Devan duduk di depan ayahnya, sedangkan Iyun mematung di sisi meja.
"Maaf, Pak, ini ada beberapa dokumen yang harus di tanda tangani," ucap Iyun.
Ayah melepas kaca matanya dan melirik ke arah Devan yang menundukkan kepalanya.
"Mulai hari ini Devan yang akan bertanggungjawab, jadi semuanya aku serahkan ke dia."
Devan membulatkan matanya. Ia tak percaya, di hari pertamanya bekerja, sang ayah sudah memberikan amanah yang sangat besar.
"Ayah tidak mau ada kegagalan, teliti dulu sebelum kamu menandatanganinya!"
Demi sang istri yang terus mewanti-wantinya untuk patuh pada sang ayah, terpaksa Devan menjalankan perintah tersebut.
"Saya permisi, Pak." Iyun meninggalkan ruangan ayah. Kini hanya tinggal Devan dan Ayah Mahesa yang ada di ruangan itu.
Devan mulai membuka satu persatu map yang ada di depannya. Sesekali ia menanyakan pada sang ayah dengan sesuatu yang belum dimengerti.
"Masa kamu kalah sama si kembar, dia saja sudah jago dalam berbisnis," ejek Ayah Mahesa seraya menepuk bahu Devan dari samping.
Beberapa kali ayah mengawasi langsung kinerja kedua putranya itu, karena saat ini mereka masih magang di salah satu perusahaan miliknya, dan ayah pun mengajarkan Daffa dan Daffi untuk konsisten dan serius.
"Tidak apa-apa, yang penting aku lebih jago dalam urusan ranjang," ucap Devan pelan, namun masih bisa didengar ayah dengan jelas.
Ayah mengerutkan alisnya. Devan yang selama ini dikenal pendiam ternyata juga mewarisi jiwa mesumnya.
__ADS_1
Maafkan ayah, Van. Dari kandungan bunda sampai sekarang kamu harus mengalami kekerasan. Tapi Ayah lakukan semua ini demi kebaikan kamu, ayah hanya tidak mau kamu salah jalan seperti ayah dulu.