
Raisya bergelayut manja di pelukan mama Aya yang membuat Devan cemburu. Malam sunyi itu Raisya merasa hangat berada di tengah keluarga tercinta. Setelah menikah bisa dihitung hanya beberapa kali Devan mengajaknya main ke sana, dan ini waktunya melepas rindu.
"Kamu kok makin gendut?" Mama Aya melepas pelukannya dan memutar tubuh Raisya. Memandang aneh pinggulnya yang nampak datar. Sedikit pun tak ada lekukan, meskipun dibalut baju gamis yang panjang dan lomggar, mama Aya bisa menangkap perubahan yang terjadi pada putrinya tersebut.
Raisya menunduk, menatap bagian kaki dan melanjutkannya ke atas hingga ke dadanya, menyibak hijabnya sedikit dan mengamatinya.
Devan yang ada di belakang Raisya hanya mengatupkan kedua bibirnya. Ia tak bisa melihat bibir Raisya yang semakin mengerucut, semakin menggemaskan dan ingin ia gigit.
"Masa sih, Ma?" sangkal Raisya.
Meskipun tak hanya satu orang yang mengatakan seperti itu, Raisya masih saja mengelak, ia merasa biasa saja dan tak ada perubahan sedikit pun.
"Iya, ayah lihatnya juga gitu," imbuh Ayah Randu semakin membuat Raisya sebal dan menghentak-hentakkan kakinya. Bukan manja yang dibuat-buat, Raisya memang sangat jengkel dengan orang-orang yang terus memperhatikannya.
"Kakak belain aku dong." Raisya menarik tangan devan dan meminta bantuan dengan wajah melas.
Devan membulatkan matanya, bingung dengan bela seperti apa yang Raisya maksud.
Ehemmm
Akhirnya pria itu berdehem dan memasukkan kedua tangannya di saku celana sisi kiri dan kanan.
"Ayo dong, katakan pada ayah dan mama kalau aku __" Raisya memotong ucapannya dan mantap ayah dan mamanya bergantian. "Langsing," lanjutnya dengan nada rendah.
Akhirnya Devan tertawa terbahak-bahak, ia tak bisa lagi menahan geli yang menyeruak mendengar ucapan Raisya yang jauh dari fakta.
Hampir lima belas menit, suara tawa yang riuh itu berganti dengan hening. Devan mengusap sudut matanya yang berair, sedangkan Ayah Randu menutup wajahnya dengan koran yang dari tadi di pegangnya, mama Aya pergi ke belakang. Mereka tak bisa melihat ekspresi sedih di wajah Raisya. David yang ada di ujung tangga kembali ke kamar, ia tak mau ikut-ikutan menggoda kakaknya yang sudah menekuk wajahnya.
Merasa bersalah sudah membuat istrinya merengut, Devan mendekatinya dan memeluk tubuhnya dengan erat.
"Aku jelek ya," ucap Raisya dan membenamkan wajahnya di dada Devan.
"Siapa bilang, bukan berarti orang gemuk itu jelek, aku malah lebih suka kamu seperti ini, empuk. Kalau kurus nanti ayah bilang aku nggak bisa kasih makan kamu," ucap devan meyakinkan.
"Iya, Nak. Benar apa kata suami kamu, gendut bukan berarti jelek, malah imut, dan ayah yakin Devan akan semakin mencintai kamu."
__ADS_1
Raisya mendongak, menatap mata Devan. Keduanya saling bertukar pandangan.
"Apa Kakak mau berjanji, segendut apapun aku, Kakak tidak akan pergi meninggalkanku."
Seketika Devan mengangguk dan menghujani wajah Raisya dengan ciuman lembut. Jika dulu ia sempat berpikir pergi dari kehidupan Raisya, untuk saat ini sedikit pun dalam benaknya tak ada niat seperti itu.
"Sekarang kalian makan dulu," teriak mama Aya dari meja makan.
Raisya teringat kejadian di rumah Ayah Mahesa yang belum menghabiskan makanan, dan kali ini ia akan benar-benar menikmati santapannya.
"Sya, apa kamu sudah pernah periksa ke dokter kandungan?"
Raisya meletakkan gelas susu yang hampir saja menyentuh bibirnya.
"Belum, Ma. Lagi pula aku dan kak Devan kan baru __" Seketika Devan membungkam mulut Raisya, ia tak bisa membiarkan istrinya mengucap sesuatu yang akan membuatnya malu di depan mertuanya.
Mama Aya dan Ayah Randu mengerutkan alisnya melihat tingkah pasangan itu yang menurut mereka sangat aneh.
"Baru berencana," lanjut Devan tanpa melepaskan bungkamannya.
Memangnya apa yang ingin aku katakan? Apa kak Devan berpikir aku akan membocorkan malam pertama kita?
Tak henti-hentinya Mama Aya membujuk Raisya untuk segera bertindak.
Raisya menelan pelan makanan yang dikunyah, lalu minum susu hangat yang tersaji di depannya.
"Iya, Ma. Besok pagi aku akan tes."
Dari pada harus simpang siur dan banyak yang menerka, akhirnya Raisya mengalah.
Usai sholat Isya' berjamaah, Raisya dan Devan berbaring di ranjang, Raisya masih ingat dengan ucapan mama Aya yang menyuruhnya untuk tes.
"Kak…."
"Hemm…"
__ADS_1
"Tidak semua perubahan pada seorang wanita yang sudah menikah itu harus hamil lo," jelas Raisya yang langsung ditangkap Devan.
"Aku tahu."
"Terus kenapa kakak tadi diam. Kalau aku nggak hamil gimana, aku takut mengecewakan semua orang."
Raisya memiringkan tubuhnya dan meletakkan tangannya di dada bidang suaminya.
"Kenapa tadi kamu tidak jelaskan ke mama," ucap Devan sembari meletakkan ponsel di nakas.
"Nggak ah, aku takut mama tersinggung. Aku nggak mau menyakiti mama yang sudah merawatku dari kecil."
"Ya sudah, besok tinggal tes saja. Anak itu titipan Allah, kalau kamu belum hamil itu artinya belum rezeki."
Devan menyibak selimut yang membalut tubuhnya lalu terbangun.
"Aku ke kamar mandi dulu, kalau kelamaan kamu tidur duluan saja." Devan mengelus kening Raisya dengan lembut lalu berlari kecil menuju kamar mandi.
Benar saja, Devan yang baru saja keluar dari kamar mandi hanya mengerutkan alisnya saat menatap Raisya yang sudah memejamkan matanya. Padahal ia hanya sepuluh menit, tapi dengan mudahnya Raisya meninggalkannya ke alam mimpi.
Devan melepas jam yang melingkar di tangannya, selama ini ia tak ingin tahu dengan masa lalu Raisya. Namun, ucapan Tante Ilma membuatnya ingin tahu sejauh mana hubungan istrinya dan Afif dulu.
Devan membuka laci dengan pelan berharap ada sebuah bukti yang mengarah ke masa lalu istrinya. Ternyata tidak ada apapun di sana. Akhirnya Devan menghampiri rak buku yang ada di sudut kamarnya, tepatnya di samping lemari baju.
Beberapa jenis buku berjejer rapi, Raisya memisahkan antara buku agama dan cerita serta ilmu kedokteran dan lainnya. Devan dan memilih barisan paling bawah di mana itu adalah buku hiburan.
Tak sengaja ia menyentuh sebuah buku tanpa judul, isinya tebal dengan ukuran yang sedikit kecil.
"Apa ini buku diary Raisya?" tanya Devan pada diri sendiri.
Perlahan ia membukanya dan membaca tulisan pada lembar pertama.
Tanggal, hari, jam, bahkan tahun pun tercantum di atas larikan huruf yang berjejer rapi. Dan itu dipastikan empat tahun yang lalu.
Hari ini aku sangat bahagia. Ya Allah, rasanya aku ingin terus bersyukur sudah dipertemukan dengan orang baik. Mas Afif memberikan sebuah hadiah yang tak akan bisa kubalas. Semoga kami berjodoh.
__ADS_1
Devan langsung menutup bukunya, ia tak sanggup kalau harus membaca tulisan Raisya yang pasti itu adalah isi hati gadis itu.
Tanpa sengaja aku yang memisahkan kamu dengan Afif.