
Masih dalam kebingungannya, Raisya mengingat-ingat dengan apa yang terjadi, kepalanya yang berdenyut membuatnya mengeluh kesakitan. Bunda dan mama Aya memeluk dari samping kiri dan kanan, sedangkan ayah Randu dan ayah Mahesa berdiri di samping istrinya masing-masing.
"Bunda, aku ingin bertemu Syakila. Aku ingin minta maaf padanya," ucap Raisya yang masih merasa bersalah.
Devan merasa lega. Akhirnya ia masih mendengar suara lembut itu, suara manja yang menjadi ciri khas istrinya.
Bunda tersenyum dan mengusap pipi Raisya dengan lembut. Putri pertama sahabatnya yang berhati mulia.
"Minta maaf untuk apa? Semua ini salah Syakila, dia yang terlalu kekanak-kanakan. Tadi dia sudah menceritakan semuanya kepada bunda. Justru bunda yang minta maaf, karena Syakila, kamu jadi seperti ini."
Tak henti-hentinya bunda mendekap Raisya dengan kasih sayangnya.
Devan kembali mundur dan mengintip dibalik pintu kaca transparan. Ia belum sanggup menghadapi Raisya yang pasti kecewa dengannya seharian ini.
Raisya mengedarkan pandangannya, menatap satu persatu yang ada di ruangan itu.
Kak Devan ke mana? Apa sekarang dia bersama Alisa. Jika benar, itu artinya dia lebih penting daripada aku.
"Ma, aku haus?" Mama Aya mengambil segelas air putih sekaligus sedotan. Membantunya minum dengan keadaan yang terbaring lemah.
"Lain kali jangan nyetir sendiri, kalau tidak ada yang mengantar, kamu bisa hubungi ayah," tutur ayah Mahesa.
Raisya mengangguk kecil, meskipun itu tak mungkin ia lakukan.
Setelah meneguk setengah gelas air putih, Raisya merasakan ngilu di bagian kakinya yang luar biasa. Rasa sakit yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Raisya menatap ke arah kakinya yang terbujur kaku dan tak bisa digerakkan.
"Ma, bunda, kenapa kakiku sakit sekali, dan kenapa perbannya panjang sampai ke lutut?" tanya Raisya menahan rasa sakit yang menjalar hingga ke paha.
Seisi ruangan itu bingung dan saling tatap. tidak ada yang berani bicara, takut Raisya sok jika mengetahui kondisi yang sebenarnya.
"Kaki kamu cidera, Sayang," ucap Devan dari ambang pintu. Akhirnya dia memberanikan diri untuk keluar dan menghampiri Raisya yang berbaring di atas brankar.
Kak Devan, jika dia lebih peduli pada Alisa, kenapa harus ke sini.
Raisya memalingkan pandangannya ke arah lain, ia masih kesal dengan Devan yang sudah membohonginya.
"Bunda keluar dulu," pamit bunda diikuti ayah, begitu dengan mama Aya dan ayah Randu yang ikut keluar. Tangan Raisya seketika menggenggam erat, rasa sakit yang merata membuatnya sulit untuk bergerak.
Kini di ruangan itu hanya ada Raisya dan Devan.
"Ngapain kakak ke sini?" tanya Raisya dengan suara pelan. Meskipun begitu nada ketus bisa ditangkap oleh Devan.
__ADS_1
"Aku ingin minta maaf," ucap Devan menarik kursi dan duduk di samping ranjang.
Dari lubuk hati yang terdalam, Raisya belum bisa melupakan kejadian tadi siang yang membuatnya kacau.
"Maaf untuk apa?" Raisya masih menatap ke arah jendela yang tertutup tirai warna coklat.
"Maaf untuk tadi siang dan tadi pagi, seharusnya aku jujur sama kamu. Aku hanya ingin membantu Alisa, itu saja."
Raisya sedikit lega, setidaknya Devan tak menyembunyikan apapun darinya.
"Bagaimana kalau aku tidak mengizinkanmu membantu Alisa lagi," ucap Raisya dengan bibir bergetar, tangannya yang masih dihiasi jarum infus itu diangkat demi membersihkan cairan bening yang membasahi pipinya.
Devan meraih tangan Raisya dan menggenggamnya erat.
"Kalau begitu, aku tidak akan melakukannya lagi."
"Benarkah?" Raisya menoleh, menatap sorot mata Devan yang nampak serius.
Devan menganggukkan kepalanya lalu membungkuk, mendekatkan wajahnya tepat di samping kepala Raisya. Mencium kening wanita itu dengan lembut dan lama hingga buliran bening dari mata Devan membasahi pipi Raisya.
"Kakak menangis?" tanya Raisya mengusap pipinya, memastikan jika itu adalah air mata suaminya. Hatinya yang terlalu lembut seketika mencerna apa yang terjadi pada suaminya saat ini.
"Aku menangis bahagia karena mempunyai istri seperti kamu, jangan tinggalkan aku," ucap Devan dari hati.
Kini semua terjawab sudah, sebelum ditanyakan, Devan lebih dulu peka dan menceritakan semuanya tentang kejadian tadi pagi dan siang.
Raisya mengulurkan tangannya hingga menyentuh pipi kokoh Devan.
"Apa kakak mencintaiku?"
Devan mengerutkan alisnya, bagaimana Raisya bertanya seperti itu, saat mendengar dirinya kecelakaan saja Devan hampir melepas nyawanya. Bukankah itu adalah sebuah cinta?"
"Kamu tidak percaya padaku?" tanya Devan yang ikut naik ke atas pembaringan. Memiringkan tubuhnya dan melingkarkan tangannya di perut Raisya.
"Bukan tidak percaya, aku hanya ingin mendengarnya."
"Aku mencintaimu," jawab Devan seketika.
"Jangan pernah berpikir aku akan kembali pada Alisa, dia hanya masa laluku, tadi aku membantunya makan karena om Andre yang minta, dan tadi siang aku membelikannya bubur hanya karena rasa kasihan, tidak lebih."
Mendengar kata makan, tiba-tiba perut Raisya meronta-ronta, bahkan sesekali mengeluarkan bunyi kecil.
Devan menekan tombol yang menempel di dinding. Ia tahu apa yang dirasakan Raisya saat ini.
__ADS_1
" Permisi," sapa suster dari ambang pintu. Namun Devan, tak mengubah posisinya sedikit pun dan tetap memeluk Raisya.
"Tolong ambilkan makanan untuk istriku. Dia lapar,'' ucap Devan tanpa menatap.
"Suster," sapa Raisya malu-malu, ia mencoba melepas pelukan Devan, namun tenaga Devan yang lebih besar membuatnya kewalahan. Terpaksa Raisya diam menerima perlakuan pria itu meskipun malu.
"Bagaimana keadaan dokter?" tanya suster Ely dari jarak dua meter dari pembaringan.
"Alhamdulillah baik, Sus."
"Saya akan ambilkan makanan untuk Dokter. Mohon tunggu sebentar."
Di luar ruangan, semua masih berkumpul. ayah Mahesa duduk di antara anak-anaknya yang memenuhi kursi.
"Jangan ada yang bilang kalau kaki kak Raisya patah," pinta Ayah dengan tegas.
Semua mengangguk mengerti.
"Aku siap menggendong kak Raisya kemanapun dia pergi," cetus Daffa.
Semua mata tertuju pada Daffa yang sedang menggaruk kepalanya.
"Kalau kak Devan tahu, pasti kamu akan dicekik," ucap David menirukan gaya orang yang mencekik.
Daffa menelan ludahnya dengan susah payah, ia tahu ucapan David sembilan puluh lima persen pasti benar mengingat kacaunya Devan tadi.
Suster Ely kembali membawa makanan.
"Raisya minta makan?" tanya ayah Mahesa.
"Iya, Pak," jawab suster Ely singkat.
"Permisi." Seketika suster Ely menundukkan pandangannya saat ia melihat Devan hampir saja mendaratkan bibirnya di pipi Raisya.
Devan yang salah tingkah akhirnya mengusap bibir Raisya dengan lembut.
"Apa kakak yakin kalau kakiku hanya cedera?" tanya Raisya lagi saat rasa sakit kembali datang dengan hebatnya, hingga ia meringis.
"Iya, Memangnya rasanya bagaimana?" tanya Devan.
"Nyeri sekali, seperti patah."
Kaki kamu memang patah, Sayang. Maafkan aku." Nyatanya Devan hanya bisa mengucapkan dalam hati.
__ADS_1