
Setelah melewati beberapa drama, akhirnya Daffa dan Daffi berhasil membawa pak RT ke rumah Naimah. Jarum jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Mereka tak bisa mengulur waktu lagi, selain sudah terlalu larut juga tidak mau mengganggu warga yang lain. Bahkan ada beberapa orang yang sudah menguap karena kantuk.
David duduk di samping Naimah. Susan berada di pangkuan bunda Sesil. Bunda Sabrina di sisi ayah Mahesa. Ayah Randu berada tepat di belakang putranya. Dokter Agung duduk di samping Pak RT. Dua saksi pun sudah ada di sana, meskipun sudah membawa banyak orang, ayah Randu juga mengundang tokoh kampung yang tak lain adalah seorang Ustadz. Daffa pun tak lepas dari kembarannya. Nanda menjadi juru pemotretan dan merekam selama acara berlangsung.
Sebelum prosesi akad nikah dimulai, Ayah menyalakan ponselnya hingga nampak dengan jelas wajah Devan, Mama Aya serta Raisya yang ada di seberang sana.
"Adikku, yang semangat ya, kebahagiaanmu adalah kebahagiaan kakak," ucap Raisya lembut seraya menyentuh layar ponsel.
"David sayang kakak," jawab David seraya mengusap air matanya.
Sangat mengharukan, semua berderai air mata bahagia termasuk ayah Randu yang sesenggukan. Usai sudah perjuangannya membesarkan putra dari istri pertamanya, dan itu atas jasa Ayana Mira yang dengan ikhlas mau menjadi istrinya dan merawat kedua anaknya.
"Kak David harus bertanggung jawab, ini pertama kalinya aku dan Daffi menangis," cicit Daffa serta mengusap pipinya yang basah.
David hanya tersenyum melihat si kembar yang ikut larut dalam suasana.
Bunda menyodorkan tisu ke arah kedua putranya yang benar-benar menangis. Tak disangka suasana malam itu membuat semua orang terenyuh.
"Maafkan mama tidak bisa menemani kamu," ucap mama Aya selanjutnya.
"Tidak apa-apa, Ma. Di sini sudah banyak orang, kasihan kakak kalau sendirian."
Setelah puas berbincang, acara dimulai.
Kini semua fokus pada prosesi yang pertama hingga berlanjut pada prosesi yang selanjutnya hingga pada akad nikah.
Hening sejenak, David mengulurkan tangannya ke depan, menerima uluran tangan penghulu, semua menatap pria gagah itu.
"Sebentar, Pak." David melepas jabatan tangannya dan kembali mengusap air matanya, sekilas bayangan bunda Arum melintas dalam benaknya yang membuatnya kembali meneteskan air mata.
Bunda Sabrina menggeser duduknya dan mengelus punggung lebar David.
"Bunda Arum sudah tenang di alam sana. Dia sudah mendapatkan tempat terbaik. Meninggal saat melahirkan adalah salah satu mati Syahid, jadi jangan sedih lagi."
David memeluk bunda Sabrina dan bunda Sesil bergantian, setelah itu kembali fokus menghadap ke depan.
Ijab qabul di mulai, semua fokus pada David dan penghulu, tidak ada satupun yang bicara hingga acara sakral itu berjalan dengan lancar.
Terakhir doa dilantunkan seorang Ustadz untuk sang mempelai. Setelah itu David menyematkan cincin untuk Naimah lalu mencium keningnya dengan lembut. Begitu juga dengan Naimah yang melakukan hal yang sama.
Bunda Sesil dan bunda Sabrina mengambil nasi yang mereka bawa dari rumah.
"Maaf ya, Pak, hanya nasi kotak, tadi sangat dadakan jadi tidak sempat untuk menyajikan yang lebih mewah, tapi Insyaallah nanti kalau acara resepsi kami akan mengundang warga kampung sini," ucap Bunda Sabrina sembari membagikan nasinya.
Pak RT menerima satu kotak dan membukanya.
"Wah, ini mah udah istimewa, Bu. Biasanya kami hanya makan nasi rames sama es podeng."
__ADS_1
"Nanti kalau pak RT kawin lagi makannya prasmanan ya," goda Daffa.
Pak RT mengangkat jempolnya hingga membuat semua tertawa.
"Silahkan dimakan, Pak!" Ayah Mahesa dan yang lain pun ikut membuka nasi bersama yang lain untuk menghormati tamu undangan.
David beranjak dari duduknya dan keluar, ia mengambil sesuatu dari dalam mobil dan membawanya masuk lalu kembali duduk di tempat yang semula.
Naimah sibuk menyuapi Susan, hingga ia tak sadar saat David membuka kue ulang yang berukuran lumayan besar.
"Selamat ulang tahun," bisik David.
Naimah terpaku, ia menatap wajah David yang tampak berseri-seri.
"Siapa yang ulang tahun, Mas?" tanya Naimah polos.
"Kamu nggak ingat hari ulang tahunmu?" tanya bunda antusias.
Naimah menggeleng," Sejak kecil aku tidak pernah merayakan ulang tahun, jadi aku nggak pernah ingat, meskipun ingat aku hanya berdoa diberi panjang umur, itu saja."
"Mulai sekarang aku akan selalu mengingatnya, kita akan selalu merayakannya dengan sedekah. Berbagi pada sesama."
Kamu sangat mulia, Mas. Semoga Allah juga melapangkan rezekimu.
Tanpa rasa malu, David mencium pipi Naimah di depan semua orang yang membuat jiwa Si Kembar meronta-ronta.
Acara demi acara usai, warga kampung yang diundang sudah pulang, dan kini tinggal keluarga yang ada di sana.
"Vid, sudah hampir pagi, kami harus pulang," pamit bunda.
"Nggak mungkin kan kalau kami semua tidur di sini," ucap Ayah Mahesa menimpali.
"Maaf Yah, aku nggak bisa __"
"Nggak papa, besok kalian langsung pulang, kan?"
David mengangguk dan memeluk ayahnya secara bergantian.
"Sekarang kamu adalah seorang suami, Naimah dan Susan menjadi tanggung jawabmu sepenuhnya, sayangi mereka seperti kamu menyayangi dirimu sendiri," pesan ayah Randu.
"Terima kasih ayah, karena perjuangan kalian aku bisa seperti ini."
"Besok kamu pulang naik mobil yang ini." Dokter Agung menunjuk mobil miliknya. Itu adalah mobil yang baru dipakai saat ini.
"Kenapa, Yah?"
Bunda Sesil mendekat dan memeluk David. "Hadiah pernikahan kamu dan Naimah."
__ADS_1
Ucapan terima kasih David luncurkan berkali-kali untuk Dokter Agung dan Bunda Sesil.
"Kak, selamat atas pernikahan, Kakak," ucap Daffi dengan wajah melas. "Semoga kakak dan kak Naimah cepat mendapat momongan."
Tumben normal, tapi biasanya cuma pancingan doang.
"Makasih ya, adikku tercinta, acara tadi lancar karena bantuan kalian juga yang sudah mau menjemput pak RT."
Beralih Daffa yang kini memeluk David dengan erat.
Biang kerok, apa yang mau diucapkan.
"Selamat ya, Kak. Aku nggak nyangka sekarang kakak sudah menjadi suami, tapi jangan mulai ritual malam pertama di sini, takutnya nanti ranjangnya ambruk."
Seketika bunda menarik telinga Daffa hingga sang empu meringis.
"Bunda, aku cuma mau menyelamatkan kak David, kalau sampai itu terjadi kasihan kan, pasti cicak di dinding bakalan tertawa."
Nggak cuma cicak, aku pun tertawa, batin Daffi yang memilih menjauh menyembunyikan tawanya, takut kena marah bundanya.
Ayah Mahesa ayang ada di samping mobil hanya bisa geleng-geleng mendengar ucapan absurd putranya.
"Tapi jangan kenceng-kenceng juga dong, lihat wajah kak Naimah sudah merah."
"Maaf, Kak. Ini cuma peringatan saja kok. Terserah kalian juga."
Naimah mengangguk pelan.
Naimah dan David melambaikan tangannya ke arah bunda Sabrina dan yang lain sampai mobil itu keluar dari halaman.
Kini tinggal David dan Naimah serta Susan yang ada di gendongannya.
"Kita masuk yuk! Di luar dingin."
David merangkul pundak Naimah, keduanya masuk ke dalam, jika Naimah membawa Susan ke kamar, David membersihkan karpet depan.
Nggak mungkin mas David tidur di sini, nanti kalau runtuh lagi gimana?
Setelah Susan terlelap, Naimah ganti baju lalu mengambil satu bantal dan keluar menghampiri David yang membaringkan tubuhnya di bawah.
"Mas, apa nggak sebaiknya kamu tidur dengan Susan, biar aku yang tidur di sini," tawar Naimah.
David tersenyum, "Kamu saja yang di dalam, biar aku yang di sini."
Naimah kembali ke kamarnya. Namun beberapa menit kemudian, ia kembali dan membaringkan tubuhnya di samping David.
David memiringkan tubuhnya dan memeluk Naimah.
__ADS_1
"Aku akan menemani kamu tidur di sini."