Pelangi Senja

Pelangi Senja
Kembar 3


__ADS_3

Ucapan selamat Raisya terima dari seluruh keluarga dan semua orang yang bertugas di rumah sakit, baik secara langsung maupun tidak, mengingat kondisi Raisya yang tak memungkinkan bertemu orang banyak.


Suasana kamar yang sempat bergemuruh itu kembali tenang. Raisya merasa lebih baik setelah meminum obat anti mual yang di berikan oleh Dokter Mila. Devan pun mengalah, ia memilih mematung bersama yang lain, membiarkan bunda dan mamanya itu mendampingi istrinya.


"Van, kok kamu biasa saja, apa kamu nggak bahagia Raisya hamil?" tanya Bunda menyelidik. Pasalnya dari tadi Devan tidak menunjukkan ekspresi gembira seperti yang lainnya. Malah nampak tenang tanpa reaksi apapun.


"Bunda, jangan ingatkan kakak lagi, tadi di kamar mandi kakak memelukku sampai nggak bisa napas."


Devan hanya tersenyum kecil, benar apa kata Raisya, saat dua garis merah itu muncul, Devan langsung mendekap Raisya dengan erat. Bahkan ia mencium Raisya tanpa ampun. 


"Beneran, Van?"


"Iya, Ma. Sampai pipiku rasanya perih semua," cicit Raisya seraya menunjukkan pipinya yang memerah karena gesekan kulit Devan berulang kali.


"Lagian gemesin bund, Ma. Mau cek saja aku disuruh keluar, setelah itu ditutupi, katanya aku nggak boleh lihat, ribet."


"Kalau aku jadi Raisya pasti juga melakukan hal yang sama," timpal Bunda yang membuat Devan kesal.


Berulang kali ucapan syukur terus Raisya lantunkan, sebenarnya saat ini ia teringat dengan almarhumah bunda Arum. Akan tetapi, semua orang yang mengelilinginya itu memberikan lehangatan hingga rasa sedih itu menghilang.


Bunda, sebentar lagi bunda akan punya cucu, setiap hari aku selalu berdoa untuk bunda. Semoga Allah memberikan tempat yang paling indah.


"Permisi…" Dokter Mila datang, wanita itu terus mengulas senyum saat menyapa semua orang.


"Kita bisa lakukan USG sekarang, supaya mas Devan bisa melihat calon anaknya."


Raisya bangun lalu merapikan hijabnya. "Mau aku gendong, Kak?" tawar David.


"Nggak usah, aku bisa jalan." Raisya berdiri dengan bantuan tangan Devan, meskipun sudah makan beberapa biskuit khusus ibu hamil, tubuhnya masih sedikit lemas.


Raisya membaringkan tubuhnya, tanpa di suruh ia membuka jasnya dan menaikkan bajunya hingga perutnya yang rata nampak dengan jelas.


"Anak ayah baik-baik di sini, jangan bikin bunda sakit lagi." Devan mengelusnya dengan lembut. 


Dokter Mila mengoles gel dan meratakannya lalu mengambil alat untuk mencari letak janin yang diperkirakan baru  mampir dua minggu tersebut.


"Mas Devan harus fokus sama gambar di sana." Dokter Mila menunjuk ke arah monitor, "nanti biar tahu calon bayinya."


Raisya mendorong pipi Devan hingga menghadap ke depan. 


Hampir lima menit, Devan hanya mendengar suara berisik serta melihat bayangan hitam, tak ada sedikitpun tanda dari calon bayinya itu muncul. 


"Apa testpack tadi kurang akurat?"


Dokter Mila mengulas senyum. Ia tak mau meladeni Devan. Pasalnya, banyak orang yang bertanya seperti itu, akan tetapi Devan lah yang paling membisingkan di telinga Dokter Mila.


''Nah ketemu," ucap Dokter Mila sembari sedikit menekan perut Raisya.


Mata Raisya membulat sempurna, meskipun ia bukan dokter kandungan, sedikit banyak ia pun mempelajarinya hingga tahu gambaran janin yang ada layar monitor.

__ADS_1


"Dok, itu beneran calon bayi aku?" tanya Raisya antusias, ia seperti tak percaya melihat tiga titik yang nampak dengan jelas.


Jantung Raisya berirama lebih cepat, ia tak tahu harus bilang apa, rasanya terharu, bahagia semakin menggebu hingga membuatnya termangu.


"Iya Dok, selamat ya, saya nggak nyangka."


Devan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia semakin bingung dengan sikap Raisya dan dokter Mila.


Itu kan cuma air yang bergerak, bagaimana bisa mereka menyebut itu adalah calon anakku.


Devan menatap Dokter Mila dan istrinya yang saling berdiskusi, dan itu sukses membuat kepalanya pusing tujuh keliling.


Yang bodoh aku apa dokter Mila sih, gerutu Devan dalam hati.


"Bagaimana Mas Devan? Apa mas Devan sudah puas melihat calon bayinya?" 


Devan berdecak kesal, "Dok, dari tadi aku belum lihat calon anakku, puasnya dari mana?" kesal Devan.


Dokter Mila menunjuk monitor dengan jari telunjuknya.


"Ini, ini dan ini adalah calon anak Mas Devan." Menunjuk tiga titik bergantian.


"Anakku ada tiga?"


Raisya mengangguk cepat.


"Dokter salah kali, itu bukannya kacang atom?"


"Bukan, tapi kecebong milik kamu," timpal Raisya pelan.


Sebuah kecupan kembali mendarat di kening Raisya, entah saat ini Devan harus bahagia atau tidak, yang pastinya dalam hatinya ada secuil rasa gelisah yang mengendap.


"Dok, apa itu normal, tubuh istriku kecil, apa dia mampu mengandung tiga bayi sekaligus?" tanya Devan dengan nada rendah.


"Allah itu maha kuasa, Kak. Tidak ada yang tidak mungkin, juga tidak ada yang bisa membandinginya, termasuk menciptakan tiga bayi dalam satu rahim. Banyak orang mengalami sepertiku, dan aku yakin kalau aku bisa menjaga bayi ini sampai dia lahir ke dunia," sahut Raisya dengan tenang.


Mengingat bundanya yang meninggal dalam keadaan melahirkan, membuat Devan trauma.


Akhirnya Devan sedikit lega saat melihat senyuman istrinya yang terus mengembang.


Setelah mengucapkan terima kasih, Devan dan Raisya keluar dari ruangan Dokter Mila, menemui keluarganya yang lain.


"Gimana?" tanya Bunda dengan wajah berseri-seri.


"Rezeki nomplok, Bunda."


Bunda Sabrina menatap Raisya dan  Devan bergantian. Ia masih belum mengerti dengan maksud Devan.


"Maksud kamu apa, Van?" tanya Bunda yang selalu kepo.

__ADS_1


"Anakku kembar tiga."


Semua termangu mendengar ucapan Devan.


"Alhamdulillah ya Allah. Terima kasih ya, Nak. Akhirnya penantian kalian berdua tidak sia-sia, bahkan Allah memberikan yang lebih untuk orang sabar seperti kamu." Bunda menangkup kedua pipi Raisya dengan lembut.


Syakila ikut memeluk Raisya, "Sekali lagi selamat ya, Kak. Aku saja sampai iri lo, anakku satu, tapi anak kakak malah tiga."


"Wah, aku yakin yang satu mirip aku," ujar Daffa dari arah belakang dengan menaik turunkan alisnya.


"Dan yang satunya lagi mirip aku," sambung Daffi yang menyandarkan punggungnya di punggung Daffa.


"Yang satunya lagi mirip aku." Asyifa membelah tubuh kedua kakaknya dan memeluk Raisya.


"Boleh ya, Kak. Nanti kalau cewek mirip aku saja," pinta Asyifa dengan polos.


"Boleh dong, kan kamu juga cantik dan sholehah."


"Tapi aku protes." David mengangkat tangannya.


"Protes apa?"


"Kalau nanti kembar laki-laki jangan mirip mereka." Menunjuk  Daffa dan Daffi.


Wah wah wah, apa-apaan kak David, kenapa nggak boleh mirip aku, ternyata dia mau turunin pamor aku.


"Kenapa?" tanya Devan. 


"Nanti anak Kakak nggak jadi anak sholeh, yang ada malah slengehan." 


David meraih tangan Naimah dan berlalu meninggalkan Daffa dan Daffi yang nampak kesal.


Semua hanya bisa tertawa lepas melihat punggung Naimah dan David yang semakin menjauh.


****-


Rekomendasi bacaan untukmu


Judul: PURA-PURA MISKIN


Author: Momoy Dandelion


Blurb:


Pura-pura menjadi orang miskin malah mempertemukan Ruby dengan seorang pemuda kaya yang angkuh dan sombong bernama Melvin.


Lelaki itu tersenyum sinis seakan merendahkan, "Heran kampus bisa menerima mahasiswa jorok seperti ini. Miskin lagi. Ini kampus atau yayasan sosial. Mekanisme yang aneh."


"Hahaha.... Kata-katamu kejam sekali, Vin. Kasihan dia masih baru di sini. Nanti kena mental."

__ADS_1


Belum tahu saja mereka kalau orang yang sedang dihina juga anak seorang pengusaha besar.


__ADS_2