
Weekend adalah hari yang ditunggu Devan, hari ini ia bebas dari belenggu pekerjaan dan juga anak-anak. Sebelum berangkat ke Turki, ayah dan bunda sengaja memboyong semua cucunya untuk tinggal di rumah. Raisya sudah menyediakan asi untuk dibawa ke sana dan juga baby sitter.
Apa yang diharapkan Devan kali ini, hanya kebahagiaan dan menambah anak. Memberikan kenyamanan pada sang istri, menciptakan kehangatan untuk membuat keluarga yang lebih harmonis.
Keluarga yang diidam-idamkan lengkap, tiga orang anak dan istri yang sholehah, harta berlimpah, dan kini Devan semakin meningkatkan keimanannya untuk bisa mempertahankan anugerah yang diberikan Allah.
Devan yang dari tadi menatap langit-langit kamarnya itu menoleh menatap Raisya yang masih terlelap di sisinya.
"Sayang bangun!" Devan mengelus pipi Raisya dengan lembut lalu menyibak selimutnya. Seketika ia menelan ludahnya dengan susah payah melihat baju yang dipakai istrinya.
Sejak kapan dia pakai lingerie?
Devan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia mengingat-ingat sebelum keduanya berada di atas ranjang.
Kesempatan yang sangat bagus.
Ia turun dari ranjang dan menutup tirai jendela, setelah itu ia kembali membaringkan tubuhnya di sisi Raisya.
"Sayang, aku mau," ucapnya berbisik.
Raisya hanya melenguh dan pindah posisi, ia membenamkan wajahnya di dada Devan.
Tanpa aba-aba Devan memulai aksinya, ia mengungkung Raisya lalu menelusuri setiap jengkal wajah wanita itu dengan bibirnya.
Raisya membuka mata, ia menatap Devan yang sudah sibuk menjelajahi leher jenjangnya.
"Kak, pelan-pelan," ucap Raisya saat Devan menggigit bagian dadanya.
Setelah sekian purnama, akhirnya Raisya menerima perlakuan lembut Devan saat di atas ranjang. Ia tak bisa berbuat apa-apa selain diam.
Dalam hitungan menit, Devan sudah melucuti baju nya dan baju Raisya. Kini keduanya hanya membalut tubuhnya dengan selimut tebal.
"Kak, pelan-pelan," pinta Raisya lagi, entah kenapa ia merasa bergidik saat merasakan sentuhan itu, tak seperti dulu sebelum melahirkan, sekarang ada rasa takut saat Devan mulai merenggangkan kakinya.
"Kamu Kenapa?" tanya Devan seraya melihat kedua tangan Raisya yang mencengkram sprei dengan erat.
Raisya menggeleng tanpa suara, ia meraih ceruk leher Devan dan menyatukan bibirnya lagi.
Melihat wajah istrinya yang tampak pucat, Devan mengurungkan niatnya, ia kembali memberikan sensasi pada tubuh Raisya untuk menghilangkan rasa takut.
Akhirnya suara erotis yang ingin ia dengar itu meluncur dari bibir Raisya, hingga Devan melanjutkan aksinya.
Hampir setengah jam, akhirnya Devan tumbang di atas Raisya, ia menumpahkan benihnya kembali di rahim istrinya.
"Kakak, cepetan turun! Badan kamu berat."
Raisya mendorong tubuh kekar Devan.
Setelah menggeser tubuhnya dan berbaring di sisi Raisya, Devan menarik selimut hingga menutup seluruh tubuhnya.
__ADS_1
Keduanya saling mengatur napas, Devan mengusap peluh yang membasahi wajah Raisya lalu mengecup keningnya.
"Sekarang tidurlah, nanti aku yang akan jemput anak-anak, ujar Devan.
Raisya diam mengurai rasa perih yang menyeruak di bawah sana.
Setelah istirahat hampir satu jam, Raisya bersiap untuk keluar. Ia tak tega membiarkan Devan ke rumah Bunda sendirian. Apalagi ini pertama kali triplet pergi jauh darinya dan itu membuat Raisya tak tenang.
Sebelum ke rumah bunda, Devan dan Raisya mampir ke Mall, sudah lama mereka tidak menjernihkan pikiran, dan kali ini ingin berbelanja kebutuhan rumah tangga serta yang lain.
Devan dan Raisya masuk ke sebuah toko mainan anak, keduanya bak pengantin baru yang menikmati masa kebersamaannya.
Tak sungkan-sungkan Devan minum susu kotak sambil jalan, mereka seperti orang yang baru kasmaran dan memamerkan kemesraannya di depan publik, sesekali tangan Devan menunjuk baju mewah yang terpajang di manekin yang berjejer.
"Kak, aku lapar," ucap Raisya, ia tergiur saat melihat restoran seafood yang ada di dalam mall.
"Ya sudah, kita makan dulu, kan tadi sudah di sedot," ucap Devan nakal.
Raisya tak menghiraukan ucapan suaminya, karena jika semua itu terjadi pasti akan jadi panjang.
Devan dan Raisya duduk di tempat paling tengah, mereka langsung memesan dua porsi cumi asam manis kesukaannya.
Selang beberapa menit, waitress datang membawa pesanan Raisya. Namun, kali ini ia tak fokus pada makanannya, melainkan gadis cantik yang duduk di antara pengunjung yang lainnya
"Kak, itu seperti Syifa." Tangan Raisya menunjuk punggung gadis yang memakai gamis berwarna putih dan hijab hitam.
"Mana?" Devan menatap ke arah jari telunjuk Raisya menunjuk.
Devan beranjak dari duduknya, ia memastikan jika apa yang diucapkan Raisya benar.
"Apa aku salah lihat?"
"Nggak, dia memang Syifa, dan sepertinya itu Fadhil." Pertemuan yang hanya sekali membuat Devan sedikit lupa wajah pria itu.
Ngapain mereka berdua di sini, bukankah ayah sudah bilang kalau tidak boleh pacaran dulu.
"Sayang, kamu tunggu di sini, aku samperin mereka."
Seketika Raisya memegang pergelangan tangan Devan hingga menghentikan kakinya yang melangkah.
"Kakak jangan galak-galak, kasihan Asyifa, nanti dia malu dilihat orang."
Devan mengangguk mengerti.
Suara tawa renyah menembus gendang telinga Devan yang mematung di belakang adik bungsunya. Gadis itu nampak bahagia saat Fadhil meluncurkan kata-kata gombalannya.
Heeemmm
__ADS_1
Devan berdehem dan melipat kedua tangannya.
Asyifa Menoleh dan mendongak menatap wajah Devan yang nampak serius.
"Ka…. Kakak," sapa Asyifa gugup.
Fadhil beranjak dan menegakkan kepalanya, kedua tangannya saling menggenggam, wajahnya gagah berani saat berhadapan dengan Devan.
"Ngapain kalian di sini?" tanya Devan menyelidik.
Asyifa menggeser tubuhnya, menjaga jarak dari Fadhil.
"Kami cuma makan, Kak," jawab Fadhil dengan lugas. Ia mengumpulkan keberaniannya mengingat ada wanita yang harus ia lindungi.
"Kamu sudah izin pada ayah?" tanya Devan pada Fadhil.
"Sudah, Kak. Ayah mengizinkan, asalkan pulangnya nanti tidak terlalu siang," jawab Fadhil apa adanya.
Devan menepuk pundak Fadhil tiga kali lalu tersenyum.
"Kamu tahu konsekuensinya jika terjadi apa-apa dengan Asyifa?" ujar Devan memperingatkan.
Fadhil mengangkat tangannya tanda hormat.
"Siap, Kak. Saya berani bertanggung jawab atas keselamatan Asyifa," jawab Fadhil dengan jelas.
Ya Allah, calon suami idaman banget.
Asyifa menatap Fadhil dari samping, pria yang sangat dikagumi itu sudah berani membela nya di depan kakaknya.
"Tapi maaf, untuk saat ini keluarga belum bisa mengizinkan Asyifa bebas, dia masih sekolah dan harus kuliah."
Fadhil mengangguk mengerti.
"Kamu sekolah di mana?"
Fadhil mengeluarkan kartu dari saku kemejanya dan menyodorkan ke arah Devan.
Devan menerimanya lalu membacanya dalam hati.
Mahasiswa akademi militer angkatan udara.
"Ini beneran punya kamu?" tanya Devan memastikan.
"Lihat namanya, Kak. Fadhil Ibrahim, itu artinya itu punya saya."
Devan manggut-manggut.
"Semoga sukses, Devan mengulurkan tangannya ke arah Fadhil.
__ADS_1
Pria itu menerima uluran tangan Devan dan menciumnya.
"Terima kasih, kak."