Pelangi Senja

Pelangi Senja
Perubahan Naimah


__ADS_3

David menelan ludahnya dengan susah payah. Ia menepuk pipinya berulang kali, takut jika ia masih tenggelam di dunia mimpi.


Dia beneran Naimah, kan? Atau ini hanya mimpi saja. 


David mencubit tangannya sendiri lalu meringis setelah merasakan sakit yang luar biasa.


Ternyata ini nyata.


Naimah memakai baju yang diberikan David. Itu adalah gamis full brokat dengan style ala Mama Aya. 


Gamis berwarna pastel dengan model full brokat, produk keluaran salah satu desainer langganan mama Aya itu sangat cocok untuk Naimah. Gamis Model itu didesain dengan potongan A-line yang memiliki detail layer. Detail tersebut pun membuat Naimah tampak seperti sedang memakai atasan dan bawahan yang matching.


"Mas," panggil Naimah dengan suara pelan, namun masih bisa didengar oleh David.


"I…ya," jawab David gugup. Matanya masih terpana dengan pesona Naimah yang luar biasa. Tak hanya dari segi tampilan, semua terasa berbeda hingga mata David tak mau berpaling dari sana.


"Coba kamu berputar," pinta David.


Naimah memutar tubuhnya seperti keinginan David, lalu kembali menghadap ke arah pria itu.


"Aku aneh ya, Mas?" Naimah menunduk, entah apa yang di tempelkan di wajahnya tadi, Naimah merasa pipinya terlalu ketat, juga bibirnya terlalu tebal, belum lagi bulu matanya terasa kaku seperti sapu.


"Nggak sih, kamu lebih cantik seperti ini." Tanpa sadar David memuji Naimah yang membuat sang empu tersipu.


Cuma mas David dan almarhum suamiku yang bilang begitu.


Hening, Naimah mampu menghipnotis David sehingga pria itu tak bisa berbuat apa-apa.


Puas dengan wajah cantik itu, David beralih menatap kaki Naimah. Sontak ia mengerutkan alisnya saat melihat sandal yang dipakai wanita itu.


"Kok masih pakai sandal jepit?" tanya David sembari menaikkan sedikit baju Naimah.


Naimah mundur satu langkah dan tersenyum simpul.


"Tadi aku sudah coba pakai high heels, tapi nggak bisa."


David mengatupkan bibirnya, ia menahan tawa  melihat wajah Naimah yang ditekuk.


"Mbak, ajarin dia jalan pakai sepatu tinggi!" titah David pada salah satu pegawai yang ada di belakang Naimah.


"Siap, Mas."


Akhirnya Naimah mengikuti wanita cantik itu pergi, meskipun dari lubuk hatinya yang terdalam enggan, setidaknya ia  masih bisa memenuhi permintaan David.


Baru saja memakai sepatu itu, kaki Naimah gemetar, selama hidupnya ini pertama kali ia memakai seperti itu, dulu waktu menikah sepatunya pun tak setinggi dan semewah itu. Namun, kini setelah menjadi janda Ia harus mengikuti keinginan orang lain yang baru ia kenal.


"Pelan-pelan, Mbak. Jangan grogi."

__ADS_1


Aku harus bisa, aku tidak boleh mengecewakan mas David yang bersusah payah mengubah hidupku. 


Naimah lebih bersemangat, sedikit demi sedikit ia mulai bisa melangkah, meskipun masih kesulitan, setidaknya ada kemajuan dari usahanya.


"Om, ibu mana?" tanya Susan yang baru saja masuk bersama satpam.


David menunjuk ke arah Naimah yang ada di ruangan sebelah, karena pintunya terbuat dari kaca, Susan bisa melihat ibunya dengan jelas.


"Sebentar lagi ibu keluar, setelah itu kita makan."


Susan duduk di pangkuan David, matanya terus menatap ibunya yang tampak berbeda.


"Ibu pakai baju baru ya, Om?" tanya Susan dengan polos.


"Iya, dan setiap hari ibu akan memakai baju baru seperti Susan."


"Alhamdulillah, akhirnya ibu bisa beli baju baru."


Kenapa Susan bilang seperti itu, apa sebelumnya  ibunya tidak pernah memakai baju baru. 


"Susan, apa ayah kamu tidak pernah membelikan baju baru untuk ibumu?" tanya David dengan nada lembut.


Susan menggeleng, "Ayah sakit-sakitan, jangankan baju baru, untuk makan saja sulit. Setiap hari hanya bisa makan tempe dan tahu, ibu bilang kita harus bersyukur dan tidak boleh mengeluh."


David memeluk Susan dengan erat, matanya berkaca membayangkan nasib  Raisya waktu kecil, pasti dia pun seperti Susan. Hanya saja mereka berbeda, jika orang tua Raisya bergelimang harta, tidak untuk Susan yang terlahir dari keluarga miskin. 


"Mulai hari ini, Om akan membelikan apapun yang Susan inginkan."


Tak seperti yang ditebak David yang membuat  bocah itu akan berseri-seri dengan ucapannya, Susan justru nampak termenung memikirkan sesuatu.


"Tapi jangan bilang ibu ya, Om. Susan takut dimarahi."


David mengangkat jempolnya menandakan setuju. 


Naimah keluar dari ruangan itu menghampiri David dan Susan. Meskipun masih sedikit kaku, setidaknya Naimah sudah bisa berjalan dengan sepatu yang ber hak tinggi.


"Gimana, apa kamu sudah bisa?" tanya David antusias.


Naimah mengangguk tanpa suara.


"Tapi aku masih takut jatuh."


"Nanti kalau jatuh, aku gendong," jawab David asal sembari beranjak dari duduknya.


Untuk yang kesekian kali David membuat  Naimah tersipu malu dengan ucapannya. 


Seperti yang dijanjikan pada Susan, setelah dari salon, ia mengajak Naimah dan Susan ke sebuah restoran mewah yang terletak tak jauh dari kantor ayah Randu. Bahkan Randu tak segan-segan menunjukkan kantor ayahnya pada Naimah.

__ADS_1


Kenapa harus di tempat yang seperti ini, pasti makanannya aneh-aneh lagi. 


Mata Naimah menyusuri ruangan yang dipenuhi dengan tulisan-tulisan Jepang, berbagai gambar makanan yang asing pun terpampang jelas menjadi hiasan dinding di sana.


"Kamu pesan apa?" tanya David.


Naimah hanya melihat buku menu yang ada di meja tanpa ingin menyentuhnya.


"Aku ikut saja," jawab Naimah ragu.


David memesan tiga steak wagyu dan tiga kakigori, salah satu es serut ala Jepang yang mendunia.


Tak berselang lama, waitres datang membawakan pesanan David.


Benar saja, semua sesuai ekspektasi Naimah, makanan yang di pesan David hanya lauk saja tanpa ada nasinya. 


"Om, aku nggak bisa cara makannya?" tanya Susan.


"Baiklah, om ajari cara memotongnya, ya."


David memotong steak milik Susan hingga menjadi kecil-kecil. 


"Tinggal di tusuk pakai ini, mengangkat garpu, "langsung di makan." Tak lupa memberi contoh pada Susan cara memakan yang benar.


Naimah pun mengambil garpu dan pisau, ia mencoba memotong daging itu seperti yang dilakukan David, tapi apalah daya, ia tak selincah David hingga daging itu tak terbelah malah bergeser ke sana kemari.


"Kamu juga nggak bisa?" tanya David.


Naimah menggeleng pelan.


"Mas, lebih baik kita makan di rumah saja, aku bisa kok masak kesukaan kamu. Nggak di butik, nggak di salon, nggak di sini, aku tu malu-maluin terus."


David diam, ia terus memotong steak milik Naimah, hingga seperti punya Susan.


"Jangan ngomel terus, cepat dimakan!" titah David.


Aku harus bilang apa sih mas supaya kamu mendengar ucapanku.


Author punya rekomendasi bacaan lagi untuk kalian, sambil nungguin update, bisa mampir ke sini


Judul: Dendam


Author: Nazwa talita


Blurb


Setelah disiksa, dikhianati dan dibuang di suatu tempat dalam keadaan hampir tak bernyawa, Gendis bertekad Mengubah takdir demi membalas dendam pada Arga Demian, pria tampan berhati iblis yang pernah menjadi kekasih rahasianya.

__ADS_1


Akankah Gendis berhasil membalaskan dendam dan sakit hati pada pria yang selama ini terus bersemayam di hatinya? Ataukah dia justru kembali terjebak dan terjerat pada pesona Arga Demian dan kembali menjatuhkan hatinya pada pria itu.


__ADS_2