Pelangi Senja

Pelangi Senja
Fadhil pulang


__ADS_3

Usai subuh, Asyifa langsung bergegas ke kamar Devan. Hari ini adalah hari yang ditunggu setelah penantian panjangnya untuk bertemu sang suami.


Rasa rindu yang membelenggu sering membuatnya merasakan sesak yang mengendap di dada. Hanya beribadah pada Allah dan foto Fadhil yang menjadi obat disaat dirinya gundah memikirkan pria itu.


"Ada apa?" tanya Devan membuka pintu kamarnya. Ia masih memakai sarung dan baju koko. 


"Antarkan aku menjemput Kak Fadhil, hari ini dia pulang."


Devan mengerutkan alisnya, ia menatap jam yang menempel di dinding lalu menatap Raisya yang masih duduk di atas sajadah. Suasana di luar kamar juga masih sangat sepi, anak-anak pun belum ada yang bangun. Bunda dan Ayah juga belum keluar dari kamarnya, tapi Asyifa sudah heboh. 


Devan tersenyum dan mengelus kepala Asyifa yang dibalut hijab berwarna navy, itu adalah seragam bagi para istri untuk menyambut suaminya yang baru tiba dari tugas. 


"Fadhil bilang kan jam delapan, sedangkan ini baru jam lima, lebih baik sarapan dulu," ucap Devan. 


Asyifa menghentak-hentakkan kakinya lalu mengelus perutnya yang mulai membuncit, ia sengaja memakai jubah yang longgar untuk menutupi tubuhnya yang semakin berisi. 


Melihat adiknya yang nampak kesal, Devan mengajaknya masuk lalu mendudukkannya di tepi ranjang. 


"Apa Fadhil sudah tahu kalau kamu hamil?" tanya Devan merapikan mukena Raisya. 


"Belum, makanya aku mau kasih kejutan." 


Raisya berdiri dan mendekati Syifa yang tampak cemberut. Ia duduk di sisinya dan merangkul pundak adik iparnya. 


"Nanti ya, kita jemput Fadhil sama-sama, tapi setelah sarapan, sekarang lebih baik kamu siapkan sesuatu yang membuat Fadhil terkesan."


"Sudah, Kak. Aku mau nya kita berangkat sekarang, aku nggak mau telat."


"Baiklah, baiklah." 


Terpaksa Devan bersiap-siap menuruti permintaan adiknya. 


*****************


Devan memakan bekal yang ia bawa, sedangkan Asyifa terus menatap ke arah pintu masuk bandara sembari menerima suapan dari kakaknya. Lampu penerang jalan masih menyala, meskipun langit gelap mulai memudar, suasana  masih sedikit sepi, beberapa orang yang memakai baju seperti Asyifa mulai berdatangan, termasuk Maura yang mendapat kabar dari Devan. 


"Kakak…" Asyifa berhamburan memeluk kakak iparnya. 


"Sebentar lagi Fadhil datang, dia pasti senang mendengar kehamilan kamu." 

__ADS_1


Asyifa mengangguk, ia memang sudah kompromi dengan keluarga lainnya untuk merahasiakan kehamilannya, bahkan dari mereka tak pernah menyinggung soal itu jika mendapat telepon dari Fadhil. 


Sinar mentari mulai menyorot, Asyifa semakin tak sabar, wajahnya gelisah saat menatap jam yang melingkar di tangannya. 


Suara pesawat mendarat, dan ini yang ketiga kalinya selama Asyifa berada di bandara. Jantungnya berdetak tak karuan, keringat mulai bercucuran. Ia yakin jika ini adalah pesawat yang ditumpangi suaminya. 


Detik demi detik selalu ia hitung, matanya tak teralihkan dari pintu masuk. Fadhil maupun pasukan yang lain belum nampak, namun Asyifa sudah meneteskan air mata, ini pertama kali ia menjemput Fadhil setelah menjadi suaminya, dan itu membuatnya deg degan. 


Dari kejauhan, nampak dua orang pria memakai seragam dinas keluar dari bandara. Dia adalah Fadhil dan Azka, sang kakak. Akan tetapi, Asyifa malah bersembunyi di balik mobil. 


Maura dan putri bungsunya langsung berhamburan memeluk Azka, sedangkan putra sulungnya kuliah di luar kota tak bisa ikut menjemput ayahnya. Fadhil memeluk Devan dengan erat. 


Wajahnya yang sempat bahagia kini berubah redup saat tak mendapati istrinya di sana. 


Asyifa tidak ikut menjemputku, padahal orang yang paling aku rindukan adalah dia. 


Devan menepuk pundak Fadhil, ia melihat dengan jelas perubahan wajah pria itu. Meskipun tak menanyakan, Fadhil sangat kecewa dengan ketidak hadiran Asyifa. 


"Kita langsung pulang, sampai bertemu," pamit Azka pada sang adik yang berjalan ke arah mobil Devan. 


Hampir saja membuka pintu mobil, suara dari belakang membuat Fadhil terpaku. 


Itu suara Asyifa.


Fadhil berlari menghampiri Asyifa. Tanpa aba-aba ia mengangkat tubuh gadis itu dan memutarnya. 


"Kakak turunin, aku malu," ucap Asyifa yang sadar menjadi pusat perhatian semua orang. Bahkan, beberapa sahabat Fadhil bersiul melihat kemesraan keduanya.


Fadhil menurunkannya lalu mencium kening wanita itu dan memeluknya renggang, karena tangan Asyifa menahan dada Fadhil yang mampir mengenai tubuhnya. 


"Kamu semakin gendut, makan apa saja waktu aku pergi?" goda Fadhil menjawil dagu Asyifa.


"Apa saja kumakan, dan sepertinya mulai sekarang aku akan makan lebih banyak lagi." 


Keduanya melepas rindu, dan lagi-lagi membuat Devan yang menunggu sangat bosan. 


"Sayang, kamu capek?" tanya Devan mengelus perut Raisya yang sudah membuncit. 


Raisya menggeleng, "Sabar ya, Sayang. Harus perhatian pada om dan tante yang lagi pacaran."

__ADS_1


Devan membuka seat belt nya kembali lalu mengecup kedua pipi Raisya bergantian. 


"Terima kasih karena kamu sudah mau mengandung anak kita lagi."


Fadhil dan Asyifa tiba, keduanya langsung masuk dan duduk di jok belakang.


Setibanya di rumah, Fadhil langsung menemui bunda dan ayah. Setelah itu menyusul Asyifa yang sudah ke kamar lebih dulu. Selain capek, ia juga ingin menghabiskan waktunya hanya berdua saja bersama istri tercinta. 


Fadhil membuka pintu kamar menghampiri Asyifa yang duduk di tepi ranjang. 


"Aku punya sesuatu untuk kakak?" Asyifa menyodorkan sebuah kotak yang berukuran sedang. 


"Apa ini?" tanya Fadhil antusias, ia menerima kotak itu lalu membolak-balikkannya. 


"Buka saja," pinta Asyifa manja. 


"Bukan bom, kan?" tanya Fadhil menggoda. 


"Bukan dong," jawab Asyifa yang menyandarkan kepalanya di pundak Fadhil.


Sudah tiga kotak Fadhil buka, ia belum menemukan apapun hingga kotak yang ia buka itu semakin kecil.


"Sayang, kok kecil banget, jangan-jangan isinya kancing bajuku yang lepas."


Asyifa terkekeh, ia mencubit pinggang Fadhil hingga membuat sang empu meringis.


Fadhil kembali membuka kotak itu dengan serius, setelah melempar tutupnya, ia mengambil lipatan kertas yang ada di dalamnya.


"Ini bukan surat cerai, kan sayang?" tanya Fadhil menyelidik, dadanya bergemuruh hebat saat ia mulai membuka lipatan itu.


"Bukan, baca saja!"


Fadhil membaca tulisan yang paling atas, lalu melihat sebuah logo rumah sakit yang terpampang di bagian pojok kanan.


Fadhil membaca tulisannya kembali hingga,


Dari hasil pemeriksaan yang dilakukan dengan teliti, Adinda Asyifa Rahardjo dinyatakan positif hamil. 


Fadhil terbelalak, ia mengulang lagi bacaannya, setelah cukup jelas ia langsung memeluk Asyifa dengan deraian air mata. 

__ADS_1


Ya Allah, terima kasih atas semua yang Engkau berikan.


Ciuman bertubi-tubi mendarat di wajah Asyifa diiringi dengan ucapan Syukur atas nikmat dan hadiah yang ia terima. 


__ADS_2