Pelangi Senja

Pelangi Senja
Akad nikah


__ADS_3

Seperti pada umumnya, acara pernikahan sangat lekat dengan elegan, Anggun, mewah terutama untuk kaum wanita. Mereka berlomba-lomba mempercantik diri dengan kelebihan masing-masing. 


Sebuah ballroom yang luas itu disulap menjadi istana cantik yang penuh dengan bunga. Setiap sudut ruangan terdapat berbagai macam hiasan. Pelaminan yang memanjang sudah melambai-lambai menanti sang penghuni yang kini masih sibuk di dalam kamar. 


Acara akad nikah akan dimulai 30 menit lagi. Tamu undangan sudah memadati ruangan itu. Mereka antusias untuk menyaksikan pernikahan si kembar yang sedikit unik, bahkan ada yang bilang ini akan jarang terjadi mengingat anak kembar yang sangat langka. 


Seluruh keluarga pun sudah datang, mereka menempati tempat yang tersedia. Tak hanya dari kalangan papan atas, ayah juga mengundang seluruh karyawan dan anak panti. 


Daffa merapikan penampilannya di depan cermin. Lafadz qabul terus dihafalkan dalam hati, ia tak mau malu di depan seluruh tamu yang pasti akan menyaksikan pernikahannya nanti. 


Sebagai sang tuan rumah, ayah dan bunda menyambut kedatangan tamunya, sedangkan Devan dan David serta Nanda dan Alfan menemani Si kembar di kamar hotel. Raisya dan Syakila serta Asyifa dan Naimah ada di pihak Airin, Alisa dan Asena serta Anggia ada di pihak Alara yang juga ada di kamar lain.


Airin dan Alara tampak cantik dengan balutan ball gown yang akhir-akhir ini banyak dipilih para pengantin untuk tampil memukau di momen istimewanya. Gaun pengantin muslimah itu membuat Airin dan Alara seperti putri di kerajaan, model gaun yang satu ini cocok untuk mereka. Gaun berwarna emas itu memakai detail laces cantik. Tak ketinggalan, tampilannya sangat klasik dengan padanan tiara dan dan long laces veil yang berkelas.


Meskipun sangat dadakan, kedua baju yang sama itu sangat pas di tubuh masing-masing.


"Kamu sudah siap?" tanya Alfan menggoda. 


"Sudah," jawab Daffa dengan lugas.


Daffi duduk di tepi ranjang, jika Daffa nampak tenang, tidak dengan Daffi yang sangat gugup. 


"Kamu kenapa, Fi?" tanya Devan.


Daffi menggeleng, ia menahan detak jantungnya yang berirama lebih cepat dan  berusaha mengusir kepanikannya yang melanda. 


Devan tersenyum dan mengulurkan tangannya ke arah adiknya.


"Anggap saja kakak penghulu, dan mereka  ini," menunjuk semua orang yang ada di sekelilingnya, "tamu tak diundang."


"Terserah kamu, yang penting hari ini restoran aku untung besar karena di boking orang kaya."


Devan terkekeh. 


Daffi menerima uluran tangan Devan dan menatap wajah sang kakak dengan lekat. 


"Saya nikahkan dan kawinkan Ananda Daffi Rahardjo bin Mahesa Rahardjo dengan Alara Halim binti Emir Halim dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas lima puluh gram di bayar tunai."


"Saya terima nikah dan kawinnya Alara Halim binti Emir Halim dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."

__ADS_1


Sah 


Suara itu menggema dari bibir yang lainnya dan membuat dada Daffi lega, meskipun baru percobaan, setidaknya ia sudah bisa mengucapkannya dengan lancar. 


Jam sudah menunjukkan pukul delapan, akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu sudah tiba, mereka keluar dari kamar, Setibanya di depan kamar Airin, Daffa menghentikan langkahnya. 


Suara tawa pun ia dengar jelas, Daffa penasaran dengan wajah Airin yang tidak ditemui setelah foto wisuda kemarin. 


"Kak boleh nggak, aku ngintip?"


Alfan mendorong punggung Daffa hingga pria itu terhuyung. 


"Nggak sabaran amat, masih banyak waktu, tapi jangan sekarang."


Daffa berdecak, tapi tetap menurut dan kembali melanjutkan langkahnya menuju tempat acara. 


"Dek, acaranya sudah mau dimulai, kita keluar sekarang," ucap Raisya setelah mendapat pesan dari Devan. 


Tak hanya Airin, Alara pun keluar dari kamarnya, mereka duduk di lantai dua. Namun, masih bisa menyaksikan calon suaminya yang kini sudah berada di lantai dasar. 


Daffa dan Daffi membelah kerumunan, keduanya nampak tampan dengan balutan  jas warna yang senada dengan gaun pengantin wanita, banyak pasang mata kagum pada mereka yang jarang disorot oleh publik. 


Keduanya duduk di depan penghulu yang terus menggelengkan kepalanya. Pria tua yang memakai peci warna hitam itu masih ingat bagaimana saat Daffa dan Daffi  menculiknya, bahkan kedua pria kembar itu tak memberinya kesempatan untuk mandi terlebih dulu.


Daffa dan Daffi hanya tersenyum kecil. 


"Maaf Pak. Waktu itu kami khilaf," jawab Daffi. 


Acara segera dimulai, jantung Daffa dan Daffi berdetak dengan cepat, rasa gugup tiba-tiba melanda saat khutbah nikah mulai dilantunkan. Daffa mengelus dada Daffi, begitu juga dengan sebaliknya. 


"Jangan gugup," tutur Daffa dan Daffi. 


"Mau siapa duluan yang menikah?" tanya penghulu. 


"Saya duluan." Daffa mengangkat jari telunjuknya lalu menggeser tubuhnya dan duduk di depan ayah Randu. 


"Sudah bisa lafadznya?" tanya penghulu memastikan. 


"Insya Allah."

__ADS_1


Hening tercipta, semua tamu menghormati akad nikah yang segera dimulai. 


Untuk yang kesekian kali Ayah menenangkan bunda yang sesenggukan saat mendengar Daffa mengucapkan lafadz qabul. 


Setelah Daffa selesai, giliran Daffi yang beralih duduk di depan ayah Emir, seperti Daffa, Daffi pun mengucapkannya dengan lancar dengan satu tarikan napas hingga teriakan sah menggema untuk yang kedua kali. 


Doa dipanjatkan untuk mempelai, setelah itu tanda tangan buku nikah. 


"Sekarang jemput istri kalian masing-masing!" titah Ayah Mahesa. 


Sebelum berdiri, Daffa dan Daffi memeluk Bunda dan ayah bergantian. Keduanya menggenggam kotak cincin kawin yang akan di sematkan di jari istrinya.


Daffa dan Daffi berdiri bersejajar, mereka menatap Airin dan Alara dari kejauhan. 


"Alara, ayo tebak, mana suami kamu?" tanya Syakila menggoda. 


Alara menggeleng, berhubungan jarak jauh benar-benar membuatnya tak bisa mengenali wajah suaminya dengan benar. Pasalnya mereka kembar identik, dari rambut, pawakan wajah, dan juga postur  tubuh tidak ada yang berbeda sedikit pun, hanya sifat keduanya yang sedikit melenceng.


"Kok gitu sih, kamu harus tahu, bagaimana nanti kalau ketuker," ucap Raisya menegaskan. 


Airin tersipu, berbeda dengan Alara yang nampak bingung, ia sudah tahu mana Daffa dan mana Daffi.


Alara berjalan pelan menghampiri kedua pria itu.


Gimana nanti kalau salah


Alara menatap Daffa dan Daffi bergantian, ia memutari tubuh tegap si kembar yang berdiri di depannya.


Bismillah


Akhirnya Alara menyentuh pundak pria yang berdiri di bagian kiri lalu memejamkan matanya. 


Daffi menoleh dan memeluk Alara dengan erat, sedangkan Daffa tak mau kalah, ia pun berlari menghampiri Airin dan juga memeluknya.


"Cinta tidak akan pernah salah, aku mencintaimu." Daffi mengecup kening Alara dengan lembut.


Daffa menatap kakaknya yang ada di sisi Airin. Berbeda dengan Daffi yang mengungkapkan isi hatinya pada sang sitri, Daffa mempunyai niat jahil.


"Kita ke kamar, yuk!" ajak Daffa.

__ADS_1


Seketika Raisya dan Naimah berdiri di depan Airin.


"Turun lagi, atau malam ini kamu tidak akan tidur dengan adikku?" ancam Raisya.


__ADS_2