Pelangi Senja

Pelangi Senja
Cemburu buta


__ADS_3

Daffa turun dari mobil, disusul Daffi dari belakang. Hari ini adalah hari keempat bayi Fairuz lahir, mereka berdua pergi ke mall untuk membelikan kado sang keponakan.


"Mbak, baby shop di mana?" tanya Daffa pada salah satu pegawai mall yang ada di depan pintu. Ini kali pertama mereka datang secara langsung ke toko, karena selama ini mereka hanya mengandalkan online dan online.


Wanita itu mengantarkan Daffa dan Daffi ke lantai dua.


"Ini Mas, silakan!" Menunjuk toko besar dengan pintu transparan.


Di sana sangat ramai, banyak pengunjung yang datang mencari perlengkapan bayi. Kebanyakan para ibu-ibu dan bapak-bapak.


Mata Daffa menyusuri setiap sudut ruangan yang sangat luas itu, mulai dari peralatan makan, mandi, hingga baju dan lemari, semua khusus bayi dengan warna yang manis.


Daffa mengambil sepasang sepatu, keduanya saling adu pilihan, dan akhirnya keduanya membeli dengan warna dan model yang berbeda.


"Fi lihat deh, ini bagus ya?" Daffa menunjuk satu stel baju yang sangat lucu.


"Beli saja, duit kita nggak bakalan kurang. Kalau saja kurang tinggal telpon kak Afif suruh dia bayar tagihannya."


Seketika Daffa menepuk lengan Daffi yang bicara konyol.


"Namanya nggak kado dong."


Disaat keduanya asyik memilih barang belanjaan, suara tawa dari balik rak membuat Daffa menghentikan aktivitasnya.


Suara itu seperti tak asing di telinganya. 


Daffa berjalan pelan ke arah sumber suara, jika tadi saaling tertawa, kini suara itu terdengar saling bercakap.


"Memangnya siapa yang melahirkan?" tanya seorang laki-laki pada gadis yang ada di sisinya.


"Kakakku, anaknya laki-laki," jawab perempuan itu dengan menjewer baju di tangannya.


Mata Daffa membulat sempurna saat melihat seseorang yang ia kenal itu sedang bercanda dengan pria lain.


Itu kan Airin, dengan siapa dia? 


"Kamu penyayang juga ya, aku mau dong dibelikan hadiah." Pria itu bertanya dengan nada halus.


Daffa yang masih mendengarkan percakapan kedua orang itu mulai kesal, wajahnya berapi-api dengan kedua tangan mengepal, rahangnya mengeras dan mengeratkan giginya.


"Iyalah, aku sangat menyayangi kakak-kakakku, mereka semua baik banget sama aku."


"Kado itu pasti untuk aku, iya kan?"


Pria itu menunjuk paper bag yang ada di samping Airin.


Airin tertawa kecil.


Ternyata Airin seperti ini saat di belakangku, aku kira dia gadis baik-baik. Aku nggak nyangka dia berani bersama pria lain.


Daffa menghampiri Daffi  yang masih sibuk dengan beberapa pilihannya.


"Fi, aku sudah selesai, kita pulang."


Daffa mengambil beberapa baju dan meletakkannya di troli lalu keluar.


"Nggak boleh, memangnya kamu siapa aku?" ucap Airin dengan ketus, karena sahabatnya itu terus mengikutinya.


"Aila," panggil Airin pada sahabatnya yang ada di sisi kanan.


"Iya, sebentar." 

__ADS_1


 "Kita pulang yuk! Aku sudah dapat."


Airin dan Aila keluar masih diikuti pria yang tadi.


Sesampainya di kasir, Airin melihat Daffa dan Daffi yang juga lagi ngantri di sana.


"Kakak," teriak Airin dari arah belakang.


Daffi langsung menoleh ke arah Airin, sedangkan Daffa yang sudah mendengar pura-pura cuek.


"Airin, kamu di sini juga?" Daffi menghampiri Airin, sedangkan Daffa membayar belanjaannya lalu ikut ke belakang.


"Kak Daffa."


Airin melambaikan tangannya di depan Daffa, namun pria itu tak mengindahkannya dan memilih menatap pria yang ada di belakang Airin.


Kak Daffa kenapa, tidak biasanya dia cuek padaku?


"Fi, kita harus pulang sekarang, pasti bunda sudah nungguin."


Tanpa pamit, Daffa berlalu meninggalkan tempat itu.


Ada yang tidak beres.


"Rin, aku pergi ya, sampai ketemu di rumah kakak."


Airin mengangguk tanpa suara, ia menatap punggung Daffa yang sudah tiba di ujung tangga.


Kak Daffa kenapa? Sepertinya dia marah padaku, memang apa salahku.


Airin mengangkat paper bag yang ada di tangannya.


Tadinya aku mau kasih ini ke kakak, tapi karena kakak marah, aku akan simpan.


"Kamu kenapa sih? kasihan Airin," tanya Daffi duduk di samping Daffa.


Daffa mendengus, ia memijat pelipisnya dan memejamkan mata.


"Tidak ada apa-apa, aku cuma capek saja."


Bunda datang membawa dua gelas jus jambu di tangannya. 


"Mana kado untuk dedek Fairuz?" tanya Bunda memberikan gelas ke arah masing-masing putranya.


Taaraaaam


Daffi menunjukkan paper bag yang menumpuk di samping sofa.


Daffa diam, sedikit pun tak ingin bicara, apalagi bercanda.


"Wah, banyak sekali, pasti kakak suka," Bunda membuka satu persatu isi paper bag itu, dan ternyata si kembar sangat pintar dalam memilih.


"Bunda, aku ke kamar dulu," pamit Daffa setelah gelas yang ia pegang itu kandas. 


"Kenapa dengan Daffa?" tanya Bunda antusias. 


Daffi mengangkat kedua bahunya, ia pun melihat perubahan kembarannya. Dalam perjalanan Daffa pun tak bicara apa-apa dan memilih tidur. 


"Fi, kamu tanyain, jangan sampai diamnya kebablasan, bisa gawat." 


Daffi menyusul Daffa, meninggalkan bunda yang masih dipenuhi banyak tanda tanya.

__ADS_1


Di kamar


Daffi mengunci pintunya, ia menatap Daffa yang sudah meringkuk di pembaringan.


Daffi duduk di tepi ranjang, keduanya saling memunggungi. 


"Kamu kenapa dari tadi diam saja?" tanya Daffi.


Hening, tak ada jawaban. Daffa memejamkan matanya. 


"Aku cemburu." Jawaban itu meluncur sepuluh menit kemudian.


"Cemburu sama siapa?"


"Tadi aku lihat Airin bersama laki-laki di baby shop."


"Laki-laki yang ada di belakangnya?"


"Iya."


Keduanya menatap langit-langit kamarnya. Daffi tersenyum tipis dan menoleh ke arah Daffa.


"Mungkin dia temannya."


"Kalau temannya ngapain mereka berdua saja, dan aku melihat laki-laki itu sangat agresif, kenapa juga Airin harus meminta teman laki-lakinya, apa dia tidak punya teman perempuan, seharusnya dia memintaku untuk mengantarnya. Bukan pria tadi," ucap Daffa dengan sewot.


"Ya sudah, kalau gitu kamu bicarakan saja sama dia, nanti malam pasti Airin juga datang ke rumah kakak."


Ponsel berdering dari balik saku celana Daffa, ia merogohya lalu menatap layarnya. Tanpa ingin mengangkat, Daffa meletakkannya di nakas.


Daffi turun dari ranjang dan melihat benda pipih milik saudara kembarnya.


"Kenapa nggak diangkat?" 


"Malas." 


"Kalau sudah diambil orang baru tahu rasa."


"Saudara kembar, kenapa nyumpahin yang jelek, nanti aku juga baikan lagi."


Belum jadi tunangan sudah cemburu tingkat dewa, bucinnya nggak ketulungan.


Seketika Daffa menimpuk punggung Daffi dengan guling.


Daffi yang sudah tiba di belakang pintu membalikkan tubuhnya menatap Daffa yang sudah dipenuhi dengan amarah. Ia menengadahkan kedua tangannya.


"Ya Allah, bukalah pintu hati saudaraku, jangan biarkan dia cemburu buta."


Kali ini bukan bantal yang melayang, melainkan sandal. Untung Daffi sigap dan keluar, al hasil ia tidak terkena sasaran empuk Daffa.


*****


Rekomendasi bacaan untukmu


Judul: MAFIA STORY Kemabalinya Anak Tak Berguna


Author: Warnyi


Brurb:


Fitnah telah membuatnya terusir dari rumah dan keluarganya, hingga suatu kejadian mempertemukannya dengan seorang pemimpin mafia terbesar dan menjadikannya sebagai penggantinya.

__ADS_1


Agra kembali setelah meraih kesuksesan, dengan tujuan ingin membalas dendam. Diwarnai dengan kisah percintaan dengan gadis masa kecilnya. Akankah Agra bisa membalaskan dendamnya dan mengalahkan para musuhnya?


__ADS_2