Pelangi Senja

Pelangi Senja
RPL?


__ADS_3

Devan hampir tak kuat menopang kata 'rindu'. Perpisahannya dengan Raisya mengajarkan banyak hal, termasuk pentingnya kehadiran seseorang dalam hidup,  merasa kehilangan, iya. Ia merasa apa yang dilakukan hanya sia-sia tanpa orang yang dicintainya. Hingga terkadang membuatnya malas untuk melakukan apapun.


Harapan yang besar membuncah memenuhi ubun-ubun Devan. Tiga bulan Raisya meninggalkannya, sekalipun wanita itu tidak ingin menelponnya atau sekedar bicara sepatah kata padanya, dan itu sukses membuat Devan semakin kangen.


''Bagaimana, Van? Apa pekerjaan kamu sudah selesai?" tanya Ayah yang baru saja masuk.


Devan membuka beberapa dokumen yang ada di depannya.


"Belum, Yah. Kalau ayah masih sibuk, nanti aku antar ke ruangan ayah."


Nyata nya, ayah memilih masuk daripada kembali ke ruangannya.


Tangan lincah Devan mengutak-atik lembar demi lembar kertas putih itu,  jari lentik nya terus bergerak di sana dengan sebuah pena yang menemani.


Kesibukannya sebagai pemimpin perusahaan sang ayah membuat Devan bisa melewati hari-harinya yang sunyi. Seakan pekerjaan itu tak ada habisnya hingga Ia memilih tinggal di kantor.


Ayah ikut memeriksa dokumen yang sudah rapi.


"Kerja bagus, Van. Ayah tidak salah memilih kamu," puji ayah dengan mata yang terus tertuju pada map yang ada di tangannya.


Devan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi dan memutarnya hingga matanya menatap jendela yang menghubungkan langsung dengan pusat kota.


Sudah tiga bulan kamu meninggalkanku, dan selama itu aku banyak memetik pelajaran. Ternyata sabar itu sangat sulit, tapi aku akan tetap bertahan demi kamu. 


Tak terasa buliran bening luruh membasahi pipi Devan.


Ayah mengulas senyum dan menepuk bahu Devan yang membuat sang empu terkejut.


''Tenanglah,  ayah yakin Raisya akan segera kembali," ucap Ayah yang bisa membaca pikiran Devan.


"Permisi, Pak," sapa sekretaris Devan dari ambang pintu.


"Ada apa?" tanya Devan tanpa membalikkan tubuhnya.


"Nanti malam ada meeting dengan perusahaan RPL, dan Bapak dimohon datang."


Devan menoleh, menatap ayah Mahesa yang masih sibuk dengan map di tangannya.


"Kenapa ayah tidak bilang?" tanya Devan dengan dahi yang berkerut.


"Mendadak, Van. Ayah lupa." Ayah Mahesa nampak abai dengan pekerjaannya saat ini dan menggantungkan semua pada Devan.


"Jam berapa?" tanya Devan antusias.


"Jam delapan, di hotel bintang lima."


Devan memejamkan matanya, terpaksa ia harus membatalkan janjinya dengan si kembar yang akan balapan malam ini. Ya, balapan dengan saudaranya adalah salah satu aktivitas Devan untuk menghilangkan jenuh setelah kepergian Raisya.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan datang."


Setelah sekretaris itu keluar dan menutup pintu, Devan menghampiri Ayah Mahesa.


"Yah, malam ini aku ada janji dengan si kembar. Apa ayah tidak bisa mewakilinya?"


Ayah menutup dokumennya dan beralih duduk di sofa, meminum kopi milik Devan yang hanya tinggal sedikit,  hingga cangkir itu tandas meninggalkan serbuk hitam pekat.


"Tidak bisa, ayah juga ada janji sama bunda, mau antar dia ke mall."


Tiba-tiba saja nama ayah Randu melintas di otaknya, dengan tidak sopannya Devan menghubungi mertuanya.


"Ada apa, Van?" tanya ayah Randu.


Tawa cengengesan menyambut ayah Randu yang ada di seberang telepon.


"Yah, malam ini ada rapat dengan perusahaan RPL, apa ayah mau membantuku?"


Terdengar helaan napas panjang dari seberang sana.


"Tidak bisa, Van. Nanti malam ayah ada janji sama mama Aya,  mau antar dia ke mall."


Devan mengerutkan alisnya, menatap ayah Mahesa yang sedang sibuk memainkan ponselnya.


"Mama Aya janjian sama bunda?" tanya Devan memastikan.


"Iya."


Devan beranjak dari duduknya dan berjalan masuk ke kamar. Menutup pintunya dengan keras menandakan jengkel.


Padahal malam ini adalah final. Yang menang akan mendapatkan hadiah motor sport, tapi pekerjaan lagi-lagi menggagalkannya.


Devan menghempaskan tubuhnya dan memejamkan matanya.


"Ayah, di mana Devan?" Suara bunda membuat Devan membuka matanya dan terhenyak  lalu keluar. Ia menyambut kedatangan wanita itu dengan pelukan hangat sebagai seorang anak.


"Van, ini ada titipan dari mama Aya, katanya kamu harus minum."


Bunda menyodorkan botol yang berukuran kecil itu di depan Devan.


"Ini jamu apa?" pekik Devan mengendus-enduskan hidungnya, ia tak tahan dengan bau yang menyeruak masuk ke dalam rongga hidung.


"Jamu kesehatan, akhir-akhir ini kamu kan sering lembur, jadi mama aya membuatkan jamu tradisional untuk kamu."


Devan langsung meneguk minuman itu dan menghabiskannya.


"Tapi bukan racun kan, Bunda?" Devan melempar botol kosong itu ke dalam tong sampah.

__ADS_1


"Masa bunda meracuni kamu sih?"


Bunda menepuk lengan Devan yang bicara ngawur.


Semburat senja sudah nampak indah, Bunda dan ayah pulang. Setelah sholat Ashar, Devan kembali membaringkan tubuhnya di atas ranjang menunggu Adzan maghrib.


Si kembar datang dengan wajah lelahnya.  Seperti biasa, setelah selesai kuliah, mereka langsung mengunjungi kantor untuk menemani sang kakak yang merasa kesepian.


"Kak, malam ini kita jadi, kan balapannya?" tanya Daffa sembari melepas sepatunya. 


"Tidak, aku ada meeting," jawab Devan tanpa turun dari ranjang.


Daffi yang menyandarkan tubuhnya di samping pintu hanya berdecak.


"Halah, bilang saja kalau kakak takut kalah," ejek Daffi.


"Terserah kalian, kalau tidak percaya tanya ayah." Devan meringkuk memeluk guling yang ada di sampingnya.


"Kalau begitu deal ya, kakak kalah. Motor yang di beli ayah kemarin untuk aku dan Daffi.


Devan membulatkan matanya lalu terbangun. 


"Tidak bisa begitu dong, kita kan sudah sepakat, siapa yang menang, dia yang dapat. Kita belum balapan, masa main serobot saja," protes Devan tak terima.


"Salah kakak sendiri tidak mau melawan kita."


"Ya sudah, nanti setelah meeting. Jam sembilan aku datang ke sirkuit."


Terpaksa Devan menyetujui permintaan kedua adiknya yang selalu menjadi parasit itu. Bukan karena motor, tapi Devan ingin membuktikan jika dirinya memang lebih unggul daripada mereka.


Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Devan merapikan penampilannya, memakai jas casual dan celana jeans adalah pilihannya malam ini. Selain nampak santai, Devan juga terlihat lebih tampan. Ini bukan pertama kali ia bertemu klien. Namun, nama perusahan itu sangat asing di telinganya.


"Sudah siap, Pak?" Dodi menyambut Devan yang baru saja keluar. 


"Sudah, apa kamu sudah menyiapkan berkas-berkasnya?" Tanya Devan menatap Dodi yang tidak membawa apa apa. Bahkan kedua tangannya saling terpaut.


"Kata sekretaris perusahaan itu, Bapak harus datang sendiri, ini tempatnya." Dodi menyodorkan kertas kecil yang bertuliskan sebuah nomor kamar hotel.


Kamar nomor 333


"Ini wanita panggilan atau apa? Kenapa harus di dalam kamar?" tanya Devan menyelidik.


"Datang saja, tidak akan ada apa-apa. Memang seperti itu kak, terkadang klien ingin tempat yang tertutup," sahut David yang baru saja datang.


Sebagai senior yang sudah dua tahun menggeluti dunia bisnis, David lebih tahu semuanya, dan itulah yang membuat Devan langsung percaya.


"Good luck." David menepuk bahu Devan dan berlalu.

__ADS_1


mampir juga ke karya temen aku



__ADS_2