
Setelah Fadhil pulang, Devan memutuskan untuk tinggal di rumah bersama keluarga kecilnya. Ketiga anaknya selalu memberikan kejutan disaat dirinya pulang kerja, seperti saat ini. Bahkan ia tak bisa memasukan mobilnya ke garasi karena mereka sudah berjejer rapi di depan pintu gerbang. Terpaksa Devan turun dan memeluk ketiganya secara bersamaan.
"Bunda di mana?" tanya Devan seraya mencium Farid, Farhan dn Farida bergantian.
Mereka menunjuk rumah minimalis yang ada di sisi taman, meskipun tak sebesar rumahnya, tempat itu tak kalah mewah, fasilitas lengkap serta halaman luas dan dipenuhi dengan bunga.
Setelah sekian lama, akhirnya ia mendirikan klinik mata gratis. Selain membantu warga yang kurang mampu, Devan juga ingin Raisya bekerja di rumah.
"Sekarang kalian masuk, nanti masuk angin, ayah mau periksa mata dulu," bisik Devan mengedipkan matanya.
Hujan lebat telah berlalu, kini menyisakan gerimis kecil yang membuat udara dingin.
Setelah anak-anak masuk, Devan langsung berjalan ke arah rumah itu.
Ia duduk di teras, berjejer dengan beberapa pasien yang mengantri.
"Kenapa bapak di sini? Kenapa tidak masuk saja," sapa salah seorang yang bingung melihatnya membaur.
"Tidak apa-apa, sesuai nomor antrian, berarti saya yang terakhir."
Pria itu langsung diam dan menerka-neraka dengan sikap aneh Devan.
"Pasien selanjutnya, silahkan masuk!" seru suster yang ada di belakang pintu.
Satu orang keluar dari ruangan, dan ada satu lagi yang masuk, begitu seterusnya hingga kini di teras itu hanya ada Devan yang sibuk dengan ponselnya.
Hampir lima belas menit, akhirnya pasien yang terakhir keluar dengan kantong kresek yang menggantung di tangannya.
"Mbak, apa masih ada pasien di depan?" tanya Raisya pada suster yang membantunya.
"Ada, Bu. Masih satu," ucapnya.
"Panggil saja, nanti keburu ayah anak-anak pulang."
"Silakan masuk, Pak." ucap suster itu dengan ramah.
Devan memasukkan kedua tangannya di saku celana. Ia mematung di ambang pintu, menatap Raisya yang sibuk menulis.
Kebiasaan, kalau kerja nggak ingat aku, keluh Devan dalam hati.
Tanpa mengucap, Devan duduk di kursi khusus pasien.
"Keluhannya apa, Pak?" tanya Raisya tanpa menatap.
__ADS_1
"Tidak ada keluhan, tapi saya bingung kenapa mata saya ingin melihat Bu dokter terus-menerus, apa ada kelainan?"
Raisya mengatupkan bibirnya, ia meletakkan pulpen lalu menatap pria yang duduk di depannya itu.
"Mafa ya, Pak. Di sini klinik khusus penyakit mata, dan saya rasa mata bapak cukup normal, untuk masalah kenapa bapak ingin melihat saya, itu karena saya memang cantik, Pak," cetus Raisya. Ia beranjak lalu mencium punggung tangan suaminya.
Devan terkekeh dan menarik tubuh Raisya hingga jatuh ke pangkuannya.
Keduanya saling tatap dan saling tersenyum.
"Aku ingin mengucapkan terima kasih."
"Untuk apa?" tanya Raisya.
"Untuk semuanya yang kamu berikan padaku. Aku tak menyangka rumah tangga kita akan bahagia, kamu memberikan segalanya, anak, kebahagiaan dan cinta. Kamu menghadapiku dengan sabar dan tulus."
"Apakah ini hanya rayuan supaya aku mau memberikan jatah untuk nanti malam?" cetus Raisya.
Devan menggigit lengan Raisya dengan mesra.
"Sekarang aku tidak perlu merayu lagi. Kan, setiap malam kamu yang minta."
Raisya memanyunkan bibirnya kesal, meskipun tak ada orang, ucapan Devan sangat memalukan, terlebih dirinya selalu dianggap agresif saat mereka bergulat.
"Kita ulang nanti malam ya, kamu yang mimpin."
"Kakak…" teriak Raisya menepuk dada bidang Devan.
Devan mengangkat tubuh Raisya dan membawanya keluar, seperti biasa suster yang berjaga itu langsung mengunci pintunya. Setibanya di taman, Devan menurunkan tubuh Raisya, keduanya menatap langit yang berwarna jingga cerah.
Seperti sebuah keajaiban, pelangi muncul melengkapi keindahan langit sore hingga membuat Raisya kagum.
"Masya Allah, indah sekali, Kak."
"Itulah kenapa aku selalu menyebutmu pelangi senja. Dia selalu memberi warna yang berbeda, membuat mata terpana akan keindahannya."
Devan memeluk Raisya dari belakang, menyandarkan dagu di pundak wanita itu.
Sebuah puisi indah berjudul pelangi Senja ia lantunkan dengan merdu. Itu adalah simbol dari isi hatinya saat ini. Cinta tiada batas dan kebahagiaan yang tak bisa diukur dengan apapun.
Setelah puas menikmati keindahan alam, Devan dan Raisya masuk dari pintu samping, ia langsung menghampiri ketiga anaknya yang sedang bermain bersama pengasuh masing-masing.
"Mbak, kalian siapkan baju triplet, besok kita liburan."
__ADS_1
Devan menjewer beberapa tiket di depan Raisya.
"Saya juga ikut, Pak?" tanya asisten yang bertugas di dapur.
"Semuanya. Kita akan berlibur dengan keluarga besar ayah. Tidak ada yang ketinggalan satu pun," jelas Devan.
Asisten yang ada di belakang Devan itu nampak komat-kamit dan menekuk jarinya.
"Yang keras, Bi, biar semua denger."
Dengan senang hati wanita itu mengulang ucapannya.
"Nyonya, Tuan Mahesa, Den Daffa, Den Daffi, Non Airin, Non Alara, Den Fadhil, Non Asyifa, Bu Syakila, Tuan Afif, Bu Naimah, Pak David, Tuan Randu, Nyonya Aya, Den Nanda, Dokter Agung juga?" tanya Bibi sembari memegang jarinya.
''Iya, sama om Andre juga ikut, keluarga Afif dan Fadhil,"
jawab Devan. Entah siapa lagi, saking banyaknya keluarga, ia sedikit lupa.
"Dokter Agung, Nyonya Sesil, pak Alfan, Bu Alisa, Non Anggia, Tuan Andre, nyonya Aida, Non Mayra, Den Ryan __"
"Sudah Bi, jangan disebutkan semua, nanti lidah bibi berbusa," potong Raisya.
Semua tertawa melihat bibi yang menghitung hingga menggunakan jari kakinya.
"Ya sudah, kalian siap-siap saja, tidak usah khawatir, ada uang sakunya juga. Bibi dandan yang cantik, siapa tahu di Turki ada duda yang nyantol," goda Devan.
"Turki, kita mau ke Turki?"
"Betul sekali."
Seketika tubuh bibi panas dingin, ia seperti berada di alam mimpi.
Selain berlibur, ayah dan bunda memang sengaja ke Turki untuk silaturrahmi ke rumah ayah Emir, satu-satunya besan yang jarang kunjungi karena tempatnya sangat jauh.
Devan dan Raisya ke kamar untuk beristirahat sejenak sebelum melaksanakan kewajibannya. Seperti biasa, Devan dan Raisya membaringkan tubuhnya mengurai rasa lelah dan saling cerita tentang masa-masa yang pernah terlewati.
Tak semuanya yang kita inginkan akan kita dapatkan. Namun, jika semua dijalani dengan penuh kesabaran dan doa, ketulusan dan perjuangan akan terasa indah. Tidak ada yang kebetulan karena Allah sudah menciptakan makhluknya berpasang-pasangan.
Pelangi Senja mengajarkan kita tentang menanti waktu yang tepat. Menanti waktu dimana dirimu telah siap dan mampu untuk menghadirkan indah dan bahagia.
Pelangi Senja akan selalu memberikan cerita tentang kesabaran dalam menanti, mengajarkan tentang bagaimana menggunakan waktu untuk terus mempersiapkan diri, hingga kelak ketika waktu tersebut datang untuk menemui, keindahan itu akan terjadi, dan semesta kan berbahagia bertasbih memuji sang Illahi.
Tamat
__ADS_1