Pelangi Senja

Pelangi Senja
Cemburu


__ADS_3

Malam semakin larut, namun tak menyurutkan keramaian di pesta pernikahan Syakila dan Afif yang malah semakin meriah dengan acara-acara yang unik.


Setelah turun dari panggung, Devan dan Raisya banyak mendapatkan sambutan dan berbagai hadiah dari sahabat dan orang-orang yang mengenal mereka.


"Gemeees…" Salah satu ibu-ibu yang berpenampilan glamour itu mencubit kedua pipi Devan bersamaan hingga membuat sang empu meringis. Bahkan dari mereka yang mempunyai anak gadis berharap mendapat menantu seperti Devan, dan sebaliknya.


"Sayang, sepertinya kita harus kabur, ternyata cubitan ibu-ibu lebih menyakitkan daripada cubitan kamu," keluh Devan mengusap pipinya yang memerah sembari membelah kerumunan yang sangat padat. Meninggikan suaranya menendang gemuruh musik yang membisingkan telinga.


"Nggak mau, aku mau nungguin doorprize nya dulu, siapa tahu motor matic itu nanti aku yang dapat." Raisya tak kalah lantang supaya Devan bisa mendengar suara cemprengnya.


Raisya menunjuk beberapa hadiah yang ada di sisi panggung yang sangat menggiurkan, meskipun ia bisa membeli apapun, rasanya ingin mendapatkan hadiah, karena baginya yang gratis pun lebih menarik. Ia mengedipkan matanya dengan cepat yang membuat Devan semakin tak tahan untuk meluapkan rasa cintanya. Dan sudah dipastikan malam ini bukan Syakila dan Afif yang akan terkapar, tapi mereka juga.


Terpaksa Devan menuruti permintaan Raisya untuk tetap berada di acara itu,  meskipun hadiah tak mungkin didapatkan karena dari pihak keluarga.


"Wih,  ternyata kamu punya suara emas kenapa aku nggak pernah dengar?" goda Alfan yang baru datang.


Devan menggeser duduknya di samping Raisya, sedangkan Alfan di depannya.


"Aku takut para penyanyi tersaingi, nanti mereka nggak laku," ucap Devan asal yang sukses membuat Raisya terkekeh.


Sedangkan Alfan memicingkan bibirnya mendengar kesombongan sahabatnya.


Devan menggenggam tangan Raisya dan menautkan jari-jarinya, memamerkan kemesraannya di depan Alfan yang masih saja betah menyandang status jomblo akut.


Beberapa acara sudah terlewati dengan sukses,  kini semua tamu mengantri untuk memberi ucapan selamat pada sang mempelai. Banyak keluarga dekat yang memenuhi kursi ruangan khusus yang tersedia.


Masih seperti tadi, Raisya berada di samping Devan, wanita itu terus bergelayut manja di lengan suaminya dan sesekali memperlihatkan baju yang ia sukai dari sosmed. Sedikit pun tak membiarkan Devan untuk pergi, namun itu adalah keberuntungan Devan yang memang ingin selalu dekat dengan Raisya.


Alisa masuk bersama dengan Mayra. Matanya menatap Devan yang sibuk dengan layar ponselnya. Raisya yang menyadari kedatangan Alisa pun melepas tangannya yang melingkar di lengan suaminya lalu memasukkan ponselnya ke dalam tas. 


"Mbak Alisa cari siapa?" tanya Raisya.


Devan menoleh sekilas, lalu kembali ke arah benda pipihnya. Ia memilih cuek dan acuh tak acuh daripada menimbulkan kesalahpahaman.


"Aku cuma mau nungguin mama, dan katanya disuruh ke sini."


Raisya manggut-manggut mendekati Alisa yang masih mematung di ambang pintu.


"Silakan duduk, Mbak! Aku temani ya," tawar Raisya mengikuti langkah Alisa menuju sofa yang ada di sebelah Devan.


"Sya, aku lupa, tadi kamu pesan makanan apa?" tanya Alfan tiba-tiba.


"Kak Alfan itu masih muda, kenapa sudah pikun?" ejek Raisya.

__ADS_1


Devan hanya menahan tawa saat mendengar ejekan istrinya pada sahabatnya itu.


Mata Alfan menatap Alisa yang menundukkan kepalanya. "Ada Alisa juga hehe."


Alisa hanya tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya.


"Steak sama jus alpukat." Suara Raisya membuyarkan lamunan Alfan yang hampir melayang.


"Baiklah, aku  pergi dulu."


Baru saja membalikkan tubuhnya, Raisya kembali memanggilnya, terpaksa Alfan menoleh.


"Bawakan juga untuk mbak Alisa dan Mayra." 


"Tidak usah, aku bisa ambil sendiri."


"Nggak papa, Mbak. Kita makan bareng."


Hening tercipta, Devan masih bergeming, sedikitpun matanya tak berpindah dari benda pipihnya yang membuat Raisya merebut benda itu. 


"Sayang, kenapa di ambil, itu sudah hampir finish."


Devan mengulurkan tangannya ke arah ponselnya yang ada di tangan Raisya, namun nihil, wanita itu malah memasukkan ha ke dalam tas. 


Rasa canggung masih saja melekat di diri Devan saat bertemu Alisa, meski kini bukan lagi gadis itu yang menempati ruang hatinya, namun masa lalu yang sangat indah tak bisa hilang begitu saja dan terkadang sekelebat masih melintas dalam otaknya. 


Alisa tersenyum tipis tanpa suara. Menahan rasa cemburu yang mengendap di dadanya saat melihat Devan merengkuh pinggang Raisya. 


"Bunda…" teriak Raisya saat ia melihat seseorang yang tak asing itu berjalan ke arahnya. Ingin sekali menyambut kedatangan wanita cantik itu, namun Devan tak juga melepasnya, terpaksa Raisya diam dan hanya melambaikan tangannya.


"Bunda Sesil gangguin saja," cetus Devan ketus, membenamkan wajahnya di bahu Raisya.


"Bunda hanya ingin mengucapkan selamat untuk kalian yang sudah mempersembahkan lagu kesukaan bunda."


Devan menengadahkan tangannya tanpa ingin membuka wajahnya dari balik punggung Raisya.


"Apa?" tanya bunda Sesil. 


"Hadiah?" jawab Devan yang mengusap-usap wajahnya di belakang Raisya.


"Kurang apa kamu, seharusnya bunda yang dikasih hadiah."


Seketika Devan membenarkan duduknya dan tersenyum malu.

__ADS_1


"Ada bunda juga." Alfan datang membawa nampan yang berisi beberapa menu, disusul laki-laki tampan yang juga membawa nampan yang berisi berbagai minuman dan gadis cantik yang tersenyum di sisinya. 


"Kamu masih ingat dia nggak?" Alfan menyungutkan kepalanya ke arah Devan yang mengerutkan alisnya. 


"Itu kan Anggia, titisan ayah Agung dan Bunda yang paling centil."


Anggia memanyunkan bibirnya. Sebal dengan kata centil yang disematkan Devan untuknya.


Ckckck


Alfan berdecak kesal, andaikan saja tak ada bunda dan harus menjaga sopan santunnya, Alfan sudah menoyor kepala Devan dan membekuk tubuh sahabatnya itu sampai guling-guling.


"Bukan adik, tapi yang ini."


Alfan menarik laki-laki yang nampak asing di mata Raisya.


"Masa kamu nggak ingat sama aku, Sya?"


Mata Devan pun membulat sempurna, gigi atas dan bawah saling mengerat. Rahangnya mengeras serta kedua tangannya mengepal saat pria itu tersenyum ke arah Raisya.


Melihat suaminya yang memendam amarah, Raisya pun meraih tangannya dan mengurai kepalannya. 


"Maaf, kamu siapa? Sepertinya kita memang nggak saling kenal."


Laki-laki itu tersenyum dan mengulurkan  tangannya di depan Raisya, namun dengan cepat Devan yang menerima uluran tangannya dan menggenggam dengan erat hingga urat di punggung tangannya menonjol. 


"Aku Devan, suami Raisya Putri Laksana," ucap Devan menegaskan.


Ternyata Devan sangat mencintai Raisya, buktinya dia sangat cemburu saat orang lain menyapa istrinya. 


"Alvino," ucap pria itu menahan rasa sakit karena cengkraman tangan Devan.


O, ternyata dia Alvino, pantes dia kenal sama Raisya.


Devan melepaskan tangannya dan mengusapkan di celana bagian paha. 


"Alvino yang __" Raisya memotong ucapannya saat Devan mendaratkan jari di bibirnya. 


"Anaknya tante Aci. Sudah, nggak usah dibahas lagi, mendingan kita makan," sahut Devan. Menarik pinggang Raisya dengan posesif.


"Bunda, Mama Aya ke mana?" Mendengar nama tante Aci, Raisya teringat mamanya yang tak nampak dari tadi.


Bunda menunjuk mama Aya dan Ayah Randu yang sibuk berpose dengan pengantin.

__ADS_1


__ADS_2