
"Kok rasanya semriwing?"
Raisya meraba selimutnya saat udara dingin menembus pori-porinya, lengannya yang terekspos itu terasa kedinginan. Matanya yang sudah terasa berat tak sanggup lagi untuk dibuka hingga beberapa kali Raisya salah memegang sesuatu.
Raisya memiringkan tubuhnya, entah kenapa, hatinya mulai waswas saat selimut yang dipakainya turun lagi. Seketika bulu halusnya berdiri mengingat kamar hotel yang ia tempati sekarang.
Jangan-jangan kamar ini angker?
Raisya hanya bisa mengucap dalam hati.
Takut melanda, Raisya terus melantunkan doa dalam hati, ia tak mau terlalu larut dengan godaan yang belum pasti hingga tetap berusaha tenang.
Apa aku nyalain lampu lagi, ya?
Raisya turun dari ranjang dan berjalan menuju ke arah saklar. Sebelum sampai, tiba-tiba ada tangan yang merengkuhnya dari belakang.
Sontak Raisya menjerit dengan kencang dan menghentak-hentakkan kakinya.
"Lepaskan aku!" teriak Raisya sembari memukul-mukul tangan yang melingkar di perutnya.
Tak melepaskan, tangan itu beralih meraih pinggang Raisya dan memutar tubuhnya. Raisya memejamkan matanya saat samar-samar ia melihat bayangan hitam mematung di depannya. Tangannya bergetar saat tubuh tegap tinggi itu menggiringnya menuju ke arah dinding.
Lampu menyala terang, masih dalam ketakutannya, Raisya menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia tak mau melihat sosok seperti saat lampu gelap tadi.
"Buka mata kamu!" Suara berat itu membuat Raisya kaget bukan kepalang. Raisya menghentikan gerakannya dan mulai mengatur napasnya.
Meskipun sudah berpisah selama tiga bulan, suara itu tak pernah dilupakan.
Kak Devan, apa ini hanya mimpi, kalau nyata, bagaimana dia bisa masuk ke sini?
"Buka mata kamu!" ulang lagi suara yang sama dengan nada lembut.
Perlahan Raisya membuka matanya dan mendongak, menatap wajah seseorang yang ada di depannya.
"Kakak!" pekik Raisya.
Devan tersenyum tipis. Entah apa yang mereka berdua rasakan saat ini, yang pastinya Raisya dan Devan benar-benar tak percaya dengan pemandangan yang ada di depannya.
__ADS_1
Devan meraih pinggang Raisya dan mendekapnya, mencium pucuk kepalanya berulang kali. Mengurai rindu yang terus menyesakkan dada.
Raisya mendaratkan kepalanya di dada bidang Devan, ia ikut melingkarkan tangannya di punggung pria itu, bahkan Raisya bisa mendengar dengan jelas cepatnya irama jantung suaminya.
"Kenapa kamu lama sekali? Aku kangen," ucap Devan dengan suara lirih, ia mendekap tubuh Raisya dengan erat hingga wanita itu sulit untuk bernapas.
"Maafkan aku," kata Raisya dengan mata berkaca. Seperti yang diinginkan semenjak berpisah, itulah yang ingin di ucapkan saat pertama berjumpa.
"Aku tidak akan memaafkanmu. Kamu harus membayar rinduku selama ini," sindir Devan dengan santainya.
Aku juga sudah tahu kalau itu yang akan kakak ucapkan.
Raisya menghirup dalam-dalam bau keringat khas suaminya, saat itu juga ia menyadari jika Devan tidak memakai baju. Tak hanya itu, kaki Raisya yang tak tertutup kain pun merasakan sentuhan langsung dari kulit Devan.
Raisya sedikit menunduk, dan benar saja kalau Devan saat ini hanya memakai boxer.
"Kakak, kenapa hanya memakai itu?"
Raisya menunjuk area sensitif Devan yang tampak menonjol. Ia mendorong tubuh Devan hingga pria itu tersentak ke belakang, Raisya kembali berjalan menuju ranjang dan membaringkan tubuhnya, meninggalkan Devan yang tertawa puas.
Devan kembali mematikan lampu hingga ruangan itu hanya dihiasi lampu temaram.
Devan naik ke atas ranjang dan melingkarkan tangannya di pinggang Raisya.
"Begini lebih nyaman," ucap Devan dengan suara parau, ia tak bisa menahan hasrat yang dari tadi mengendap.
"Sayang, aku merindukanmu," ucap Devan pelan, bahkan nyaris tak terdengar.
Raisya tak menjawab, ia mulai merasakan tangan nakal suaminya yang sudah menyusup ke dalam bajunya.
"Bagaimana dengan kakimu?" tanya Devan, mengingat jalannya Raisya yang tak pincang sedikit pun.
"Alhamdulillah, tapi terkadang masih sakut kalau aku terlalu capek.''
"Jangan khawatir, aku siap membantumu kapanpun."
Semakin lama Devan semakin liar, tangan yang tadinya hanya mengelus perutnya kini sudah merayap ke atas hingga menyentuh dua benda kenyal yang menggoda iman.
__ADS_1
"Kak," keluh Raisya, ia merasakan sesuatu yang beda, sama seperti Devan, ia pun merindukan sentuhan-sentuhan lembut dari suaminya, hingga suara lenguhan itu lolos seketika.
"Kamu mengizinkan aku, kan?" tanya Devan tanpa rasa ragu. Pertanyaan Devan tak salah, hanya saja itu menekankan Raisya dengan satu jawaban.
Terpaksa Raisya membalikkan tubuhnya hingga ia dan Devan saling berhadapan.
Raisya menatap lekat mata Devan yang dipenuhi dengan gairah, ia tahu kalau suaminya sudah memendam rasa rindu dengan berat, hingga ia tak tega untuk menolak.
"Aku mengizinkan, Kakak. Lakukan apa saja yang Kakak mau, aku akan membayar hutangku selama ini."
Lampu hijau menyala, Devan menyatukan bibirnya dengan bibir Raisya. Ia melahapnya dengan rakus hingga membuat wanita itu mencengkeram erat bahunya. Tak lupa tangannya pun terus aktif menjalankan perannya.
Setelah puas dengan tautan bibirnya, Devan memulai aksinya, ia melucuti baju yang melekat di tubuh istrinya. Meskipun lampu ruangan itu sedikit gelap, Devan masih bisa melihat dengan jelas tubuh polos Raisya.
Tak ada ampun untuk Raisya, Devan bersemangat dengan aktivitasnya malam ini. Setelah sekian lama berpuasa, kini ia akan berbuka, menunjukkan kembali betapa ganasnya senjata yang ia miliki. Ditambah jamu yang diminum tadi sudah mulai bereaksi membuat Devan lebih bertenaga.
Keringat Devan maupun Raisya mulai bercucuran. Kamar mewah itu menjadi saksi bisu pergulatan mereka hingga suasana yang dingin berangsur hilang dan berganti menjadi panas.
Beberapa menit kemudian, Devan ambruk di atas tubuh Raisya, ia merenggangkan kakinya agar tidak menindih kaki Raisya yang pernah terluka.
Devan menempelkan keningnya di kening Raisya.
''Aku mencintaimu, jangan tinggalkan aku lagi, kalau kamu sampai melakukan itu, aku bisa gila," ucap Devan dengan napas ngos-ngosan.
Raisya menitihkan air mata. Antara terharu dan senang, akhirnya ia dan Devan bisa bersatu lagi. Kini rasa nyeri di bagian pangkal paha tak setara dibandingkan rasa bahagianya.
"Aku juga mencintai, Kakak. Terima kasih karena kakak sudah bersabar menungguku. Aku janji, cukup sekali saja kita hidup saling berjauhan."
Devan menggeser tubuhnya, meletakkan tangannya di bawah kepala Raisya dan menarik selimut hingga menutupi tubuh keduanya.
Malam semakin sunyi, namun itu tak menyurutkan Devan dan Raisya yang saling berbincang menceritakan apa yang mereka alami saat berpisah.
Sesekali Raisya memukul lengan kekar Devan saat pria itu cerita dengan judul yang konyol, bahkan pria itu semakin membual dan menciptakan tawa bagi keduanya.
Raisya menguap, matanya mulai menyipit dan pendengarannya pun berkurang, merasa tak di pedulikan, Devan kembali mencium pipi Raisya. Tak ada respon dari wanita itu hingga membuat Devan menjahilinya.
Devan mendaratkan sebuah ciuman lagi, kali ini tak hanya di pipi melainkan di bibir dan setiap jengkal wajah Raisya.
__ADS_1
"Sayang, jangan tidur dulu, aku mau lagi," bisik Devan.
Raisya menjawab dengan anggukan kepala.