Pelangi Senja

Pelangi Senja
Curiga


__ADS_3

Seorang wanita cantik yang memakai seragam menyambut kedatangan Devan yang baru saja masuk.


Mata Devan menyapu ruangan depan. Tidak ada yang aneh, suasana hotel masih sama seperti biasanya, banyak yang keluar masuk, bahkan ada pula yang berbincang di ruang tamu yang ada di sebelah tempatnya berdiri.


"Katanya ada klien dari perusahaan RPL yang mengadakan meeting di sini?" tanya Devan, ia menunjukkan kertas kecil yang diberikan Dodi.


"Apa tamunya sudah datang?" tanya Devan lagi.


Wanita itu tersenyum dan mengangguk. "Sudah, Mas. Saya tidak bisa mengantar karena sudah ada yang bertugas, Mas ikuti anak panah saja, pasti nanti sampai tujuan."


Devan mengerutkan alisnya, ia mulai mencium bau yang tidak sedap saat wanita itu mengucap kata 'anak panah'.


Ini kan hotel bukan gunung, kenapa harus pakai anak panah, hotel macam apa ini? gerutu Devan dalam hati.


Devan meninggalkan wanita itu dan masuk melanjutkan langkahnya. Benar saja, setibanya di sudut lorong, ia menemukan anak panah yang mengarah pada lift. Tak hanya itu, di sana juga ada penjaga yang mengantarkannya.


Sebenarnya siapa klien itu, apa dia adalah mafia, atau jangan-jangan dia orang yang paling tersohor di kota ini. Kalau memang benar, kenapa nama perusahaannya tidak masuk dalam list orang terkaya.


Seperti petunjuk, Devan naik ke lantai dua. Setelah keluar dari lift, Devan kembali mengikuti anak panah yang mengarah ke sebuah lorong lagi. Sepi, hanya ada beberapa pegawai yang melintas dan beberapa pengunjung yang masuk.


Anak panah terpampang jelas di depannya, dan kali ini Devan sudah geram dan mencabut tanda itu. Akan tetapi ia tetap melangkah mengikutinya ke sebuah lift.


"Pak, kalau harus ke lantai tiga, kenapa tadi tidak langsung, kenapa harus ke lantai dua dulu." Devan membentak penjaga yang ada di sisinya.


Pria itu tersenyum dengan tangan saling terpaut, dengan jelas ia melihat guratan kekesalan di wajah Devan hingga membuatnya tak berani membantah.


"Awas saja kalau disuruh naik lantai empat, aku obrak-abrik juga ini hotel, bikin kesel." 


Devan keluar dari lift, lagi-lagi pemandangan yang tak asing sudah ia lihat di sana.


Devan terus melangkah mengikuti anak panah itu hingga tiba di sebuah kamar yang paling pojok. Ia melihat nomor cantik yang menempel di pintu itu dan seketika membuatnya tersenyum.


Penjaga menghampirinya, "Silakan masuk, Mas. Tamunya sudah menunggu di dalam," ucap pria itu dengan ramah.


Bulu halus Devan merinding, kamar itu jauh dari kamar yang lainnya dan juga sangat mewah dan terkesan mahal.


"Di dalam tidak ada yang mau membunuhku, kan?" tanta Devan menyelidik. 


"Tidak, Mas. Saya jamin mas akan keluar dari sini dalam keadaan sehat wal afiat," jawab pria itu  meyakinkan, disusul dengan senyuman kecil.


Siapa pemilik perusahaan itu, sampai meeting pun di tempat seperti ini?


Devan hanya bisa mengucap dalam hati.

__ADS_1


Pria itu membukakan pintu untuk Devan, dan dari sinilah rasa curiga itu hilang seketika.


Devan masuk, matanya menyusuri sudut ruangan yang nampak mewah, lampu menyala terang, namun ia tidak menemukan siapapun di sana.


"Pak…." Devan menoleh, ternyata pria yang tadi sudah tidak ada di sana, ia menatap pintu yang sudah tertutup rapat.


Devan memegang knop dan mencoba membukanya. Namun nihil, sepertinya pintu kamar itu di kunci dari luar.


"Sialan," umpat Devan dalam hati, ia merasa kesal karena merasa dibodohi pria tadi.


"Buka pintunya!" teriak Devan sambil menggedor-gedor pintu.


Tak ada sahutan dari luar, hingga ia mendengarkan suara gemericik air dari dalam kamar mandi.


"Halo, apa ada orang di sini?'' Devan mulai menyapa, meskipun rasa takut dan cemas itu mulai menyeruak, Devan tetap tenang dan berpikir positif.


Devan menatap pintu kamar mandi. Suara sentuhan air dan lantai itu masih terdengar jelas di telinganya.


Bukankah jadwal meeting jam tujuh, kenapa sudah hampir jam delapan orang itu belum siap?


Devan menatap jam yang melingkar di tangannya.


Hampir sepuluh menit ia menunggu, kakinya mulai terasa lentur sehingga Devan memilih duduk di sofa.


Pintu kamar mandi terbuka


Wanita cantik yang memakai handuk melilit di dadanya dengan panjang hanya sampai ke paha itu keluar dari sana.


Devan menoleh ke arah wanita yang berjalan memunggunginya, sepertinya wanita itu memang tak menyadari kehadiran  dirinya. 


Dan betapa terkejutnya saat ia bisa melihat wajah wanita itu dengan jelas dari pantulan cermin. 


Raisya, dia Raisya, kan?


Nyatanya, ucapan itu tertahan dalam hati, karena ujung lidahnya terasa kelu untuk bicara.


Dada Devan berdebar, jantungnya meloncat-loncat melihat kemolekan tubuh wanita itu hingga beberapa saat mampu menghentikan waktu.


Ckckck


Raisya menutup pintu lemari dengan kasar, tak ada baju di sana selain beberapa lingerie yang menggantung rapi.


"Masa Iya malam ini aku pakai baju laknat itu."

__ADS_1


Merasa masih sangat aman, Devan merosot dan duduk di lantai, ia bisa melihat dengan jelas kesalnya Raisya saat tak menemukan baju yang tertutup.


 


"Ponsel ketinggalan di mobil,  baju basah, kenapa nasibku seperti ini?"


Devan hanya bisa menahan tawa, sebenarnya saat ini ia ingin memeluk, mendekap, mencium dan tak ingin melepaskan wanita itu lagi, tapi waktu masih belum mendukungnya sehingga ia harus berpikir keras untuk mengambil langkah selanjutnya.


Terpaksa Raisya membuka lemari lagi dan mengambil baju tipis yang berwarna hitam pekat.


Terima kasih Ya Allah, akhirnya istriku kembali, dan kali ini aku tidak akan membiarkan dia pergi lagi. 


Devan lega, meskipun mereka belum menyambung hubungan baru, setidaknya wajah manis itu sudah ada di depan matanya.


Akhirnya Raisya memakai baju itu dan mengeringkan rambutnya, tak lupa ia memakai bedak tipis serta parfum.


"Ini sebenarnya ada apa sih, kenapa mama dan bunda menyuruhku menginap di sini?" gumam Raisya yang juga mulai curiga.


Meskipun mama Aya mengatakan rumahnya sedang direnovasi, helai demi helai rasa aneh itu mulai muncul dalam benaknya. 


Mengingat tubuh putih nan mulus dengan tonjolan di bagian dada membuat Devan tak tenang, ia merasakan sesuatu yang sudah mengembang hingga membuat celananya sesak.


Kapan aku bisa memelukmu lagi.


Hati Devan meronta-ronta


Raisya melangkah menuju pintu, ia memastikan kalau pintunya sudah terkunci.


Devan mundur,  ia masih belum siap menerkam harimau betina itu. Meskipun sabarnya sudah mulai menipis, ia ingin malam ini menjadi malam yang spesial untuk mereka berdua.


Raisya menghentikan langkahnya, ia mengendus-enduskan hidungnya saat mencium aroma yang tak asing baginya.


Seperti aroma parfum Kak Devan?


Raisya menepis perasaannya dan kembali.


Mungkin aku hanya kangen sama dia, apakah kakak juga merindukanku?


Raisya mematikan lampu yang terang itu dan menggantinya dengan lampu temaram, lalu naik ke atas ranjang dan membaringkan tubuhnya. 


Rekomendasi bacaan untuk kalian silakan mampir


__ADS_1


 


__ADS_2